Archives

Kiko Sujaryanto 10

Ini adalah kelanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan diikatnya tangan dan  kaki Kiko serta kaki dan kepala  Kiko yang diikat ke pohon semalaman. Semalaman ia pun  tidak bisa tidur. Alih-alih tidur, senjatanya malah digigit anjing. Sehingga semalaman ia merasakan bekas gigitan anjing di senjatanya.  Pagi-pagi apa yang diharapkannya yaitu pembebasannya dari acara penyiksaan ternyata masih belum berakhir. Rombongan Sri ternyata mau naik ke bukit yang ada didekat vila. Kiko segera dibuka ikatan tali di kepala dan kakinya, tapi ikatan tangannya mereka biarkan.

Setelah itu mereka pun naik ke bukit dan memaksa Kiko ikut serta. Terlebih dahulu mereka malah memaksa Kiko memakai sandal hak tinggi. Sesudah itu  Sri mendorong Kiko untuk melangkah. Tapi Kiko diam saja. Maka Sri mengikatkan tali ke leher Kiko, hingga Kiko terpaksa ikut melangkah kalau tidak mau terjerat lehernya. Rupanya Kiko sudah tidak kuat lagi menerima siksaan ini. Kondisi badannya sudah lemah setelah 2 malam nyaris tidak tidur. Maka setelah mendaki beberapa langkah. Tiba-tiba…gabrruukkk !! Ternyata Kiko pingsan dan menggelinding. Para rombogan segera menghentikan pendakiannya dan menolong Kiko.

Kiko 10-1

Ketika sadar, Kiko sudah berbaring diranjang sebuah rumah sakit dengan pakaian Kiko sendiri. Piyama tidur. Seluruh badannya sakit. Beruntung ia cuma mengalami memar yang tidak terlalu banyak dan berat serta serius.  Setelah menjalani perawatan beberapa hari, ia sudah diperbolehkan pulang.

Setibanya di rumah Kiko sekarang jadi berpikir dua kali untuk meminta isterinya merias dan mendandaninya dengan kain kebaya. Ia masih trauma dengan pengalamannya di villa yang berakhir di rumah sakit. Belum lagi pengalaman dipaksa menelan senjata sesama pria.

Kiko sekarang jadi kikuk,  berhati-hati dan serba salah kalau melihat-lihat foto-foto wanita cantik memakai kain kebaya. Begitu isterinya memergoki, Kiko segera menutup fofo-foto itu. Maka Sri menarik kesimpulan kalau suaminya sudah jera memakai kain kebaya lagi. Kesimpulan yang sebetulnya tidak salah, tapi juga tidak 100 persen betul.

Setelah beberapa kali memergoki Kiko sedang melihat-lihat foto-foto wanita memakai kain kebaya, Sri akhirnya menawari Kiko untuk memastikan apakah betul-betul  Kiko sudah kapok memakai kain kebaya lagi. Kata Sri, “Kamu kok sering lihat-lihat foto-foto wanita pakai kain kebaya. Emang kepingin banget ya ? Sudah ngebet ? Yuk, aku bantu”. Sambil dirangkulnya Kiko. Kiko segera menggeleng-gelengkan kepala. Padahal dalam hatinya Kiko sebetulnya kepingin banget. Maka Sri jadi yakin kalau Kiko sekarang benar-benar sudah kapok.

Kendati demikian  suasana rumah tangga Sri dan Kiko sudah terlanjur dingin dan tidak harmonis.  Selain itu Sri sebenarnya juga tidak tahu persis apa yang ada didalam pikiran Kiko. Setelah pulang dari vila, Kiko memang kapok. Tapi kapoknya hanya bersifat  sementara, karena badannya capai, sakit dan babak belur serta dipaksa menelan senjata si Macho.  Selebihnya Kiko ternyata masih belum kapok memakai kain kebaya dan masih senang memakai kain kebaya. Cuma kesempatannya yang boleh dibilang tidak ada.

Kalau mau memakai kain kebaya dirumah sewaktu isterinya pergi keluar kota, ia pernah melakukannya dan isterinya akhirnya memergokinya. Kiko lalu berpikir untuk memakainya di luar kota, tapi Kiko pun juga pernah melakukan hal itu dan hasilnya Sri mengetahuinya ketika Kiko pulang ke rumah. Pikiran Kiko jadi suntuk.

Beberapa lama kemudian Kiko akhirnya mendapatkan jalan keluar. Ia bermaksud membeli sendiri kain batik, kebaya, bra, sanggul dan peralatan cding  lainnya termasuk kosmetik. Ia memberanikan diri untuk membeli barang-barang tersebut sendiri, karena menurut pemikirannya cuma itulah jalan satu-satunya. Rencananya sesudah ia berhasil membeli komplit barang-barang itu, ia akan menginap diluar kota.

Sekarang tinggal mencari alasan  kenapa membeli barang-barang itu untuk berjaga-jaga kalau penjualnya menanyakan. Pertama, Kiko kepikiran untuk saudaranya. Tapi Kiko tidak mempunyai saudara perempuan yang sudah dewasa atau kurang lebih seusia isterinya. Lagi pula kota tempat tinggal Kiko adalah kota kecil yang penduduknya kebanyakan saling kenal satu sama lain. Lalu Kiko berpikir untuk temannya, tapi ia tidak mempunyai teman akrab wanita selain teman-teman wanita yang kurang akrab. Pikiran Kiko jadi buntu. Akhirnya ia nekat untuk mengatakan membelikan isterinya bila ditanya penjualnya. Sempat ragu-ragu dan maju mundur dengan rencananya, akhirnya Kiko nekat melakukannya.

Apa yang dikuatirkan Kiko waktu membeli barang-barang tersebut terjadilah. Ia ditanya penjualnya waktu membeli kebaya, Kiko pun terpaksa mengeluarkan senjata pamungkasnya. Kiko pun berbohong dengan menjawab bahwa ia bermaksud memberikan kejutan kepada isterinya dengan diam-diam. Penjual yang lain pun juga bertanya hal yang sama dan Kiko jadi sudah terbiasa berbohong dengan berkata untuk isterinya. Tapi Kiko tidak tahu kalau ada penjual yang menyampaikan hal itu kepada isterinya, karena mereka akrab dengan isterinya.

Begitu mengetahui hal itu dari beberapa penjual yang barang-barangnya dibeli Kiko, Sri jadi kaget dan marah. Tapi tak lama kemudian ia segera sigap. Sri berpikir, cerdas betul suamiku. Sesudah kapok lantaran dibully sesama pria dan tidak bisa mengambil pakaianku, ia sekarang membeli sendiri semua pakaian dan perlengkapannya dengan alasan untuk isterinya. Licin betul. Terus mau kamu  pakai diluar kota kayak dulu lagi. Ya kan ? Kamu mau menghindar dariku, tapi sambil  tetap terus memakai kain  kebaya ? Tunggu saja tanggal mainnya. Kamu pikir kamu lebih licin dari aku. Aku juga bisa lebih licin dari kamu. Ditenangkan dan didinginkannya pikirannya sambil menyusun rencana untuk membuntuti Kiko dan menangkap basah Kiko. Sri pun bersikap cuek seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan tidak mengetahui hal itu. Sri bahkan tidak berusaha mencari dimana Kiko menyembunyikan barang-barang pembeliannya.

Beberapa hari kemudian Kiko mengutarakan niatnya untuk menginap diluar kota, Sri tidak kaget. Karena sudah menduga bahwa Kiko akan beralasan pergi menginap diluar kota. Sri pun dengan enteng mengiyakan. Kiko jadi lega dan sama sekali tidak menaruh curiga, bahkan tidak mengetahui kalau beberapa penjual menyampaikan hal itu kepada isterinya. Segera sesudah Sri mendapat kepastian kapan Kiko keluar kota, maka Sri mengkontak komplotannya. Mereka bermaksud membuntuti dan menangkap basah Kiko.

Tibalah harinya Kiko pergi. Hatinya senang bukan main. Ia sudah lama tidak melakukan hal itu. Maka ia jadi tidak sabar dan sekarang ia juga sudah tahu cara-cara berias dan memakai kain kebaya dengan lebih baik. Tapi Kiko tidak mengetahui kalau ia dibuntuti oleh Sri dan teman-temannya. Celakanya lagi ia tidak mengetahui kalau mobilnya dipasangi GPS oleh isterinya. Hingga dengan mudah Sri dapat melacak keberadaan Kiko.

Sesudah tiba di hotel tempat menginap dan mandi bersih, Kiko segera beraksi. Ia berdandan dan memakai makeup dengan lebih baik daripada dahulu. Setelah merasakan kenikmatan memakai kain kebaya, bergaya sejenak di depan cermin dan duduk-duduk serta jalan-jalan dikamar hotel, Kiko merasa sudah mentok, karena tidak ada tantangan. Maka ia coba-coba memberanikan  untuk unjuk diri di muka umum walaupun  dengan deg-degan. Pertama, ia duduk-duduk diteras kamar. Sesudah itu ia masuk lagi ke kamarnya. Sebentar kemudian ia jalan-jalan dilorong kamar-kamar hotel dan akhirnya ia sampai di lobby hotel. Kebetulan hotel tempat Kiko menginap tidak begitu ramai. Ia pun duduk di sudut lobby hotel. Matanya jelalatan, kedua tangannya diletakkan dipangkuannya memegang dan memijit-mijit senjatanya yang menegang. Kiko merasakan kenikmatan yang luar biasa sementara hatinya dag dig dug kalau ada yang memergokinya.

Tapi Kiko tidak tahu kalau sudah sejak dari tadi ketika ia mulai muncul di lobby, ia diperhatikan oleh beberapa orang yang ternyata adalah rombongan Sri yang tidak dikenali Kiko. Setelah beberapa lama dan hampir kepuncaknya, Kiko segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kembali ke kamarnya sambil merasakan senjatanya yang menegang. Kiko bermaksud menahan dan menunda orgasme selama mungkin sehingga ia bisa berlama-lama merasakan kenikmatan ini.

Didalam kamar, Kiko ternyata juga sudah menyiapkan camera dan handycam. Ia mengambil foto-foto dan video dirinya sendiri.  Tapi tengah enak-enaknya ia beraksi di depan camera, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Kiko kelabakan, tapi didalam  keadaan terdesak malah timbul ide gilanya. Kiko nermaksud langsung membukakan pintu tanpa terlebih dahulu berganti pakaian ataupun membiarkan bel pintu berbunyi tanpa dibukakan pintunya. Karena ia berpikir kalau tidak ada orang yang tahu kalau ia menginap disini dan tidak ada orang yang dikenalnya disini. Paling cuma room service. Ia malah penasaran pingin mengetahui reaksi room service waktu melihat dirinya memakai kain kebaya.

Kiko pun segera menuju ke pintu dan dibukanya pintu. Ci luk ba! …. Begitu pintu dibuka Kiko, yang masuk seorang wanita cantik mengantarkan hidangan. Si wanita itu melihat sejenak ke Kiko dan berkata dengan pelan dan lembut, “Hidangannya,… bu !”. Si wanita itu berusaha tetap sopan dan hormat memperlakukan tamu hotel. Hati Kiko melonjak kegirangan, karena baru pertama kali ini ia dipanggil ibu oleh seorang wanita dengan sopan.  Kiko mencoba menjawab dengan suara sangat pelan yang mungkin saja tidak didengar oleh si wanita, “terimakasih”. Si wanita itupun pergi keluar ruangan. Sementara Kiko masih duduk dan merasakan senjatanya terangsang dan sedikit mengeluarkan cairan. Maka ia menekan-nekan senjata itu hingga senjata itu semakin mbekér-mbekér. Sesudah itu ia baru sadar kalau ia belum mengunci pintu, maka buru-buru ia bangkit untuk  mengunci pintu.

Tapi belum sempat Kiko mengunci pintu…. mendadak wajah Kiko jadi pucat….

Pintu sudah terlebih dulu dibuka dan yang muncul dibelakang pintu adalah Sri dan teman-temannya termasuk si Macho serta beberapa pria lain. Serentak Kiko berusaha sekuat tenaga menutup pintu, tapi ia kalah kuat dibandingkan para tamunya. Maka para tamu itupun berhamburan masuk.

Sri kemudian menggeleng-gelengkan kepala dan menuding-nudingkan jari telunjuknya. Kiko mengkeret, ia mundur beberapa langkah. Sri mulai berpidato, “Kamu memang suamiku yang cerdas. Sudah berani beli kain jarik, kebaya sama perlengkapannya sendiri. Sudah bisa dandan dan make up sendiri. Pintar memang kamu. Terus nyari hotel diluar kota buat melampiaskan hawa nafsumu”. Lalu diperhatikannya Kiko dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sri berkata lagi, “Sekarang kamu sudah bisa pasang sanggul sendiri”. Dipegangnya konde Kiko dan digoyangkan sedikit. Lalu ia memegang dagu Kiko dan berkata, “Make up kamu juga lebih rapi.”. Kemudian tangan Sri turun ke bawah memegang kain wiron Kiko dan berkata, “Kain wiron kamu juga rapi, ujungnya juga meruncing ke bawah. Sempurna !”.

Sejenak kemudian setelah Sri berhenti berpidato, Kiko baru sadar kalau ia terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkannya. Dan pikir Kiko mumpung tangannya masih bebas belum diikat, maka ia segera cepat-cepat membuka kancing kebaya. Tapi Sri dengan sigap berkata, “Sudah dandan-dandan cantik gitu kok mau dibuka kebayanya. Jangan dong !”. Dan ia memberi kode kepada teman-teman prianya untuk mengikat Kiko.

Setelah Kiko diikat tangannya, ia didudukkan di kursi. Sri mengancingkan kembali kebaya Kiko sambil berkata, “Kebaya kamu sangat indah, sayang. Halus. Pasti mahal harganya”. Dirabanya kebaya Kiko. Lalu Sri meraba-raba kain jarik Kiko hingga mengenai adik Kiko yang ternyata sudah bangun dan berkata, “Seleramu bagus, sayang. Jariknya juga halus”. Lalu Sri mengambil peralatan make up yang ada disitu sambil berkata, “Peralatan make up kamu juga mahal dan mewah. Kamu sudah sempurna sebagai seorang wanita, sayang. Sekarang tugas kamu adalah melayani para pria sahabatku ini”.

Lalu kedua lengan Kiko dipegang oleh 2 pria di kanan kirinya dan mereka merebahkan Kiko  di ranjang. Kiko jadi ketakutan dan spontan berteriak sambil meronta-ronta, “Ampun, Sri ! Ampun, Sri ! Ampun !”.

Sri yang mendengar teriakan itu kaget. Karena inilah pertama kalinya Kiko berteriak minta ampun ketika Sri menjadikannya budak. Sri berkata dalam bahasa Jawa, “Rasakno saiki ! Kapokmu kapan. Terusno terusno kono yo sing ngedan ! Ngéné iki nék jenengé kapok lombok. Selot kapok, tapi selot diterus-terusaké “. Lalu dihampirinya Kiko dan Sri berkata sambil meletakkan telunjuk di mulut Kiko, “Kamu jangan berontak, sayang ! Enak, kok rasanya ! Nanti pasti kamu semakin ketagihan. Selamat menikmati, sayang !”. Dan diciumnya Kiko. Lalu ditinggalkannya Kiko.

Giliran pertama adalah giliran si Macho. Ia membuka celananya dan naik ke ranjang. Segera sesudah itu dibukanya mulut Kiko dengan paksa dan dimasukkannya senjatanya. Sri yang masih didekatnya melihat kalau senjata Kiko juga menegang, maka ia membetotnya keras-keras. Kiko kesulitan bernafas, karena badannya ditindih oleh si Macho. Belum lagi senjatanya dibetot oleh Sri. Dunia rasanya mau kiamat bagi Kiko. Posisi ini lebih buruk daripada waktu di villa, karena badan Kiko ditindih oleh si Macho. Belum lagi senjatanya yang dipites, dibetot oleh Sri. Selain itu ia masih megap-megap menelan senjata si Macho.

Kiko 10-2

Begitulah Kiko habis-habisan dibully oleh Sri dan teman-temannya. Sehabis Macho, masih  ada beberapa pria lagi yang tubuhnya juga tidak kalah besar dan kekarnya. Maka setelah selesai permainan itu, Kiko pun pingsan di ranjang. Tapi Sri semakin gila, ia menyuruh teman-temannya menggotongnya dan menceburkannya ke kolam.

Byuuurr !!! Suara air bergolak ketika tubuh Kiko mereka lemparkan ke kolam. Dan blekutuk … blekutuk …. blekutuk.. Gelombang air pun mulai bermunculan…

Kiko 10-3