Archives

Kiko Sujaryanto 5

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya. Dimana Sri kabur dari rumah dengan membawa semua pakaian Kiko,  setelah mendapati suaminya memakai kain kebaya lagi

Setelah ditinggal pergi isterinya, bingunglah Kiko. Ia menyesali perbuatannya, karena ternyata memancing reaksi  berbeda dari yang diharapkannya dari isterinya. Perangkap yang ia pasang tidak berhasil memerangkap mangsanya.  Justru ia sendiri sekarang yang terjebak dalam situasi sulit.

Maka ditelponnya Sri dari rumah dan kembali Sri menutup telponnya begitu mengetahui yang menelpon suaminya.  Keesokan harinya kembali Kiko menelpon isterinya, tapi hasilnya sama.  Tapi dalam hati kecil Kiko tetap optimis. Kiko berpikir  paling isterinya akan kembali ke rumah. Karena mana mungkin Sri tega meninggalkan anak kandungnya sendiri.

Sementara itu Sri menginap di hotel. Ia kepikiran suaminya yang ternyata tidak jera dan masih melakukan hal yang sama. Sri tidak berminat untuk mengerjai dan mengasari suaminya lagi. Karena memang bukan sifat aslinya. Di dalam kebingungannya, Sri mencari tahu tentang suami yang mengalami kelainan seperti suaminya. Dan didapatinya kalau  selain ada suami yang suka berlaku sadis terhadap isterinya, ternyata memang ada juga suami yang suka diperlakukan secara sadis oleh isterinya. Sri jadi maklum dan berencana akan membawa suaminya ke psikiater. Tapi ia ragu apakah suaminya akan mau bila diajak konsultasi ke psikiater.

Akhirnya ia menjalin hubungan dengan kelompok BDSM via internet. Ia mengaku kalau mempunyai suami yang kelihatannya menyukai BDSM dengan posisi sebagai submissive, tapi dengan pakaian wanita berupa kain kebaya. Kelompok BDSM itu ternyata kelompoknya Domina, Mini dan Lesbi. Bak gayung bersambut, Sri seperti mendapat teman untuk bercakap dan kelompok BDSM itu juga mendapat obyek submissive yang sebelumnya belum pernah mereka dapati.  Yaitu seorang submissive pria yang berpakaian wanita dan pakaiannya pun istimewa kesukaan kelompok BDSM Domina cs yaitu kain kebaya.

Entah siapa yang mulai dahulu.  Sri yang menyodorkan suaminya kepada kelompok itu dengan harapan suaminya betul-betul malu dan jera atau kelompok BDSM itu yang terlebih dahulu menyodorkan ide itu.  Setelah Sri maju mundur dan ragu-ragu. Akhirnya Sri jadi menyodorkan suaminya, setelah menimbang kalau ke psikiater belum tentu suaminya mau dan mengeluarkan ongkos.  Sedangkan jika ia menyodorkan suaminya, selain tanpa ongkos, ada kemungkinan suaminya bisa jadi jera. Dan jika memang suaminya tetap tidak jera tapi makin menjadi-jadi bagi Sri tidak masalah, karena suaminya sekarang memang sudah mengidap kelainan. Kedua belah pihak sepakat dan mereka pun memasang perangkap.

Setelah beberapa hari, Sri pun kembali ke rumah dengan membawa serta semua pakaian Kiko yang disitanya. Kiko merasa menang, tapi ia berusaha menyembunyikan kegembiraannya. Hari-hari berikutnya, hubungan mereka kembali lagi seperti sebelumnya renggang dan dingin.

Tapi beberapa hari kemudian, Kiko seperti mendapat durian runtuh. Ketika Sri mendekatinya dan bertanya, “Apa kamu masih kepingin memakai kain kebaya lagi ?”. Kiko bingung, mau menjawab ya atau tidak. Mau berterus terang dengan mengatakan ya atau berbohong dengan mengatakan tidak. Kiko kuatir kalau ia berkata ya, maka Sri akan mencak-mencak dan kabur dengan membawa serta anak mereka. Tapi kalau ia berkata tidak, padahal dalam hatinya ia masih senang dan ngebet untuk memakai pakaian itu lagi. Karena Kiko diam saja, maka Sri mendesaknya, “Mas, kamu tidak usah takut apa malu. Aku tidak akan marah kalau kamu memang masih kepingin memakai kain kebaya lagi”. Kiko kaget mendengar Sri memanggilnya “mas” setelah sekian lama ia tidak pernah dipanggil dengan sebutan itu. Tapi Kiko tetap diam  tidak bereaksi. Sehingga Sri berkata, “Aku tahu kamu masih suka kain kebaya dan masih kepingin memakainya lagi. Ya kan ? Tidak usah mungkir”. Akhirnya Kiko mengangguk dan menantikan reaksi Sri.

Sri berkata, “Gak apa-apa kok, kalau cuma kepingin  mau pakai kain kebayaku. Apa kamu mau memakainya sekarang ?”. Kiko mengangguk perlahan. Sri berkata lagi, “Ayo, sini aku bantu !”. Digeretnya Kiko ke kamar dan didandaninya Kiko dengan kain kebaya lengkap dengan segala atributnya. Sandal jinjit, selendang, sanggul dan make up. Hati Kiko mongkok .  Apalagi Sri kemudian meraba-raba senjatanya sambil berkata, “Iih, besar banget déh !”.  Kiko jadi  greng tersetrum sampai ke ujung kepala. Lalu diciumnya Kiko. Tapi ia tidak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Ia mengira isterinya telah berubah dan bisa menerima serta tidak keberatan dengan kelainan yang dideritanya.

Sesudah selesai berdandan, Sri menuntun suaminya duduk di  ruang tamu dan sebentar kemudian ada tamu datang. Maka Kiko segera bangun dari tempat duduknya dan hendak masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba Sri mencegahnya dan berubah perangainya serta berkata dengan membentak sambil menghalangi suaminya masuk, “Héh, kenapa kamu mau masuk ? Sudah disini saja. Tidak usah malu. Yang datang itu taman-teman aku sendiri kok. Malu ya kamu ketahuan pakai kain kebaya ? Nggak apa-apa. Itu bencong-bencong di jalanan saja nggak malu pakai pakaian wanita”. Kiko pun jadi merah padam mukanya. Ia masih berusaha melawan isterinya dengan mendorong Sri ke samping, hingga ia bisa masuk. Tapi karena Kiko  mamakai kain yang sempit dibawahnya, maka ia sendiri jadi ribet dan tidak bisa berbuat banyak. Hingga akhirnya tamu-tamu Sri masuk ke dalam ruangan. Ternyata yang datang adalah kelompok BDSM Domina, Mini dan Lesbi cs.

Kiko jadi malu, salah tingkah dan diam berdiri mematung serta menundukkan kepalanya disebelah Sri. Tangannya ngapurancang memegang sekaligus menyembunyikan senjatanya yang masih menegang.  Sri mengenalkan Kiko kepada teman-temannya. “Ini lho suamiku yang  aku ceritakan. Dia itu tergila-gila banget sama kain kebaya, apalagi kalau dijadikan submissive. Namanya Kiko Sujaryanto, nama dinasnya Kiki Sujaryanti”.  Teman-teman Sri mulai saling berbisik dan tersenyum serta berusaha menahan tawa cekikikan mereka. “Éh, kamu kok menunduk melulu sih. Yang jantan dong, hormati tamu kita. Éh, keliru ya ? Jantan apa betina sih kamu ? “.  Para tamu pun semakin ramai cekikikan mendengar lelucon Sri. Tiba-tiba tangan Sri memegang tangan Kiko yang masih ngapurancang dan membukanya hingga terlihat benjolan senjatanya. Katanya lagi, “Sudah nggak usah diumpetin tuh senjata. Kan ada surat-surat resminya. Besar kan jeng  senjata suamiku ?”.  Makin ramailah ketawa para tamu itu. Kemudian dipegangnya dagu Kiko dan didongakkannya muka Kiko sambil berkata, “Lihat nih, ngganteng kan mukanya ? Éh, masa ngganteng sih, kan  pakai kain kebaya.  Cantik kan ?”. Sri lalu memutar tubuh Kiko,  dari menghadap ke depan sampai membelakangi dan kembali lagi menghadap ke muka. “Bodynya cukup aduhai kan ?”. Kiko jadi semakin malu, dirinya merasa seperti barang dagangan yang sedang ditawar-tawarkan isterinya.  Kiko melihat teman-teman isterinya yang semuanya wanita ternyata cukup cantik-cantik. Mereka kemudian saling berbisik, tersenyum-senyum dan cekikikan. Kiko memandang dari ujung sebelah kiri sampai ke ujung sebelah kanan dan diulangi lagi. Pandangan matanya jadi berkunang-kunang berputar-putar, pusing rasanya mendengar bisik-bisik dan ketawa diantara mereka.  Karena tidak kuasa menahan rasa malu, Kiko berencana melarikan diri dengan mencincing jariknya tinggi-tinggi. Tapi  Kiko  merasa seperti  mau limbung. Untungnya kemudian isterinya mengajak Kiko dan para tamunya duduk di ruang tengah yang cukup luas.

Salah satu diantara mereka kemudian bertanya, “Ngomong-ngomong, manggilnya apa ya ? Bener, nih. Mau jadi submissive ?” . Pertanyaan itu ditujukan untuk Kiko,  tapi yang bersangkutan diam saja. Campur aduk perasaan Kiko antara malu, tegang, penasaran apa yang akan dialaminya selanjutnya  dan senang karena berada didalam situasi unik dimana ia berkain kebaya diantara wanita-wanita cantik yang malah memakai pakaian mini yang sexy. Isterinya yang menjawab, “Sudah, nggak usah ditanya. Langsung saja sudah. Kalau mau manggil, panggil saja Kiki !”. Sri pun kemudian tertawa disusul oleh para tamunya. Sementara Kiko tertawa dalam hati.

Kemudian Lesbi berkata kepada Sri, “Sri, kamu saja yang ngikat suami kamu. Ikat tangannya di belakang punggung. Sesudah itu ikat kakinya. Biar aku lihat kencang apa tidak ikatanmu”.  Sri mulai mengikat tangan Kiko. Sementara Kiko pasrah selain mulai dapat mengatasi rasa malu dan canggungya serta semakin menikmati ketidakberdayaannya. Setelah itu Lesbi berkata, “Sekarang baringkan dia di lantai dengan posisi telungkup. Lalu ikat kakinya”.  Kiko pun pasrah menurut seperti kerbau yang dicucuk hidungnya ketika ia dituntun oleh Sri dan Lesbi untuk berdiri dan kemudian berbaring telungkup di lantai. Dalam posisi telungkap ini senjata Kiko tergesek oleh lantai, hingga terangsang. Kiko pun diam-diam semakin menikmati posisi ini.  Sri lalu mengikat kaki Kiko.  Sehabis itu Lesbi bertanya kepada Sri, “Selain mengikat kaki dan tangan suamimu, apakah kamu pernah juga mengikat dia dalam posisi hogtied ?”. Sri menggeleng. Lesbi menjawab, “Kalau gitu aku praktekkan dan kamu perhatikan baik-baik ya”. Lesbi mulai mengikat seutas tali ke ikatan kaki Kiko dan mengangkat kaki Kiko mendekati pantatnya. Kiko yang merasakan posisi kakinya tidak nyaman jadi berusaha untuk meluruskan kembali kakinya, hingga Sri ikut membantu menahan posisi kaki Kiko merapat ke pantatnya dan Lesbi mengikat tali itu ke ikatan tangan Kiko.

Setelah selesai, Lesbi berkata kepada Sri, “Dalam keadaan seperti  ini si submissive semakin lebih tidak berdaya lagi bila dibandingkan dengan kalau hanya diikat tangan dan kakinya. Ya, kan ? jeng… Kiki “.  Lesbi dengan canggung menyebut Kiko dengan panggilan Kiki seperti yang diusulkan Sri. Setelah berusaha menarik-narik tangan dan kakinya serta menggoyang-goyangkan tangan, kaki dan badan dengan maksud untuk mengendorkan ikatan, Kiko pun mengangguk-angguk, tapi sebentar kemudian ia sadar bahwa Sri memperhatikannya.  Kiko jadi merasa salah tingkah. Sebentar kemudian Kiko berguling ke kanan dan ke kiri. Setelah itu Sri mendekati Kiko dan  menabok pantat Kiko beberapa kali sambil berkata, “Éh, mau kemana kamu ? Kok ngguling ke kiri, ngguling ke kanan. Sudah diam saja di sini, telungkup yang manis.  Gimana rasanya ? Enak kan ? Nikmaaat !”. .Ia menirukan perkataan suaminya dulu. Kemudian diciumnya pipi kiri dan kanan suaminya. Sementara itu terdengar suara jeprat jepret ! Ternyata teman-teman Sri yang lain pada mengambil foto dan video. Kiko jadi kaget dan melihat ke sekelilingnya. Wajahnya jadi tegang. Tapi Sri menenangkannya sambil berkata, “Tenang, tenang ! Gak apa-apa. Itu buat dokumentasi. Sama seperti dulu waktu kamu mengambil dokumentasi aku”. Tapi dalam hatinya Sri berkata, “Rasain ! Kapok nggak ?”.

Setelah itu Lesbi berkata kepada Sri, “Apa kamu mau melanjutkan dengan aksi fisik ?”. Sri jadi kesenangan dan mengiyakan. Diambilnya seutas tali dan dicekiknya leher Kiko hingga Kiko kesulitan bernafas dan tersengal-sengal. Setelah itu Sri mengambil sebilah kayu dan dipukulnya Kiko berkali-kali. Kiko pun mengaduh kesakitan. Tapi Sri malah berbisik di telinga Kiko, “Malu, ah. Lelaki kok cengeng. Dilihat orang banyak tuh !”. Kemudian Sri mengulangi lagi memukul Kiko dengan lebih keras. Hingga Lesbi menghentikannya, karena kuatir dengan model submissivenya yang masih harus menjalani beberapa sessi pemotretan lagi.

Kiko5-1

Sehabis mereka membiarkan Kiko beristirahat di lantai dengan tangan dan kaki yang masih terikat, mereka memasukkan sebatang besi dibawah lutut Kiko. Kiko mendadak jadi takut, karena berpikir mereka akan melakukan kekerasan fisik kepadanya, Ia pun meronta-ronta. Tapi Sri menenangkannya dengan mencium dan membelai kepalanya sambil berbisik, “Éh , banci ! Tenang, tenang ! Semakin tersiksa, semakin nikmat kan ? Rasain sekarang, kapok nggak ?”. Mereka kemudian beramai-ramai mengangkat Kiko dalam posisi terbalik dengan kepala dibawah. Waktu mengangkat badan Kiko, salah seorang dari mereka yaitu Domina secara tidak sengaja menyenggol senjata Kiko yang langsung  menegang. Karuan saja Domina jadi melompat-lompat sambil  menjerit-jerit dan setelah sadar Domina lalu jadi tertawa cekikikan diikuti dengan yang lainnya. Sementara muka Kiko jadi memerah. Ternyata mereka menggantung Kiko dengan sebatang besi yang diikatkan ke bawah lututnya dan posisi kepala dibawah.  Kiko jadi gelagapan, sulit bernafas. Maka mereka membiarkan Kiko sejenak untuk beradaptasi. Baru kemudian mereka mulai mengambil foto dan video.

Sebentar kemudian Domina mendekati Sri dan berkata, “Kamu tau nggak kalau suamimu bisa sit up dalam keadaan tergantung lho ?”. Sri pun bingung dan menggeleng. Maka Domina mendekati Kiko dengan membawa tongkat yang runcing ujungnya. Ditusukkannya benda itu ke punggung Kiko, hingga secara refleks Kiko berusaha menghindari tusukan itu dengan mengangkat badannya ke depan seperti orang sit up. Sri yang melihat hal itu jadi geli dan direbutnya tongkat itu serta ditusukkannya ke punggung Kiko berulang-ulang, Maka Kiko pun seperti melakukan sit up. Mereka pun tertawa melihat hal ini sementara Kiko jadi keringatan.

Kiko5-2

Kiko5-3

Lalu Mini mendekati Sri sambil membawa cambuk dan berkata, “Kamu mau mencambuki suamimu ?”. Sri segera mengambil cambuk itu dari tangan Mini.  Sri mulai beraksi. Ia terlebih dahulu mencoba cambuk itu beberapa kali ke lantai dengan keras hingga berbunyi cetaar ! cetaar !. Kiko yang melihatnya jadi kéder dan giris. Ia jadi gemetaran. Wajahnya ketakutan. Kiko sekali lagi meronta-ronta dan berusaha untuk melepaskan diri dari gantungan. Badannya diangkatnya hingga horizontal, tapi tetap saja ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tangan dan kakinya terikat.  Sri setelah melihatnya malah mengejek dengan mencibir sambil berkata, “Uji nyali ! Kalau kamu memang benar-benar jantan pasti kamu nggak ketakutan kayak gitu.  Ya kan teman-teman ?”. Lalu mulailah Sri mencambuki Kiko. Kiko pun menjerit kesakitan dan tubuhnya kejang-kejang kelojotan menahan rasa sakit. Belum terpuaskan nafsu  Sri untuk mencambuki suaminya, kembali Lesbi menghentikannya. Tapi Sri tidak mau dicegah hingga Lesbi terpaksa merangkulnya dan Mini merebut cambuk itu dari tangan Sri. Segera mereka menurunkan Kiko dari gantungan dan  melepaskan besi itu dari lututnya serta melepaskan tali yang menghubungkan ikatan kaki dan tangannya. Kiko mereka geletakkan berbaring di sofa.  Salah seorang dari mereka mau memberi Kiko minum, tapi Sri menghalanginya hingga Lesbi berkata, “Sudah, biarkan suamimu minum. Kasihan kan”.

Kiko5-4

Beberapa saat mereka membiarkan Kiko terbaring di sofa. Setelah itu mereka membuka ikatan tangan dan kaki Kiko. Maka plonglah hati Kiko, “Akhirnya berakhirlah sudah segala penderitaanku. Penderitaan yang membawa sejuta kenikmatan”, kata Kiko dalam hati. Tapi ternyata Kiko salah, karena selanjutnya mereka membawa Kiko ke sebuah tiang yang ada diruangan itu dan mengikat tangan dan kaki Kiko ke tiang itu. Sri kemudian mendandani ulang Kiko. Sesudah itu Lesbi memberikan kembali cambuk itu kepada Sri sementara mereka kembali mengambil foto dan video Kiko. Terulang kembalilah kesengsaraan Kiko, sementara Sri dan teman-temannya malah menikmati pemandangan yang sadis ini. Setelah beberapa kali mencambuk, cambukan Sri tiba-tiba mulai mengarah ke sanjata Kiko. Tapi Sri mencambuknya dengan tidak keras dan senjata Kiko mulai bereaksi hingga salah seorang dari mereka mendekat untuk mengclose upnya. Sekali lagi Sri mencambuk senjata Kiko dengan perlahan, ternyata senjata Kiko makin membesar. Dan yang terjadi selanjutnya mungkin tidak diperkirakan oleh mereka yang ada disana. Sri meletakkan cambuknya dan kemudian berjongkok di depan Kiko. Sri menyelentik ( menjentik ) senjata Kiko beberapa kali, senjata Kiko nampak bergetar dan bereaksi. Sri kemudian mengambil alat strum listrik dan ditempelkan ke senjata Kiko, senjata Kiko pun kembali bergetar. Belum puas, Sri kemudian mengambil  jarum suntik dan menyuntikkannya ke senjata Kiko. Ternyata dari tadi Sri memperhatikan dan mendengar kalau Kiko melenguh dan merintih perlahan-lahan. Mungkin itulah yang membuat Sri  semakin bernafsu. Hingga akhirnya dipegangnya senjata Kiko,  Dibetotnya senjata Kiko kuat-kuat dan tak lama kemudian tiba-tiba.. crooottt !!!.

Kiko5-5

Kiko5-6

Kiko5-7