Archives

Kiko Sujaryanto 11

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan diceburkannya Kiko ke dalam kolam. Ketika sadar, Kiko sudah terbaring di ranjang.

Keesokan harinya setelah badan Kiko pulih, Sri menceramahinya. “Kamu itu beli-beli kain batik, kebaya  sama peralatan makeup mahal-mahal belum lagi nginap di hotel.  Apa kamu tidak mikir berapa uang yang kamu keluarkan ?”.  Kiko tidak berani menjawab, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. “Belum lagi usaha kamu sekarang hampir tidak jalan. Terus mau dapat duit dari mana ? Kamu bukannya nyari uang, tapi malah menghambur-hamburkan uang !”.

Sesudah diceramahi isterinya, pikiran Kiko jadi sumpek. Ia berpikir kalau dirinya sedang sial dan apes. Rencana yang sudah diatur dengan sedemikian rapi dan matang, tau-tau bisa ketahuan isterinya. Yang lebih aneh lagi, isterinya bisa tahu dengan cepat tempat dirinya menginap.

Setelah berpikir cukup lama, Kiko menduga mungkin mobilnya dipasangi GPS. Maka keesokan herinya, Kiko pergi ke bengkel untuk menanyakan apakah betul mobilnya dipasangi GPS dan jika betul maka ia ingin membongkarnya.  Sialnya,  bengkel tempat Kiko pergi adalah juga bengkel tempat Sri memasang GPS.  Dan si pemilik bengkal juga akrab dengan Sri, maka ia pun memberitahu soal itu kepada Sri.

Begitu beres dengan mobilnya, sekali lagi Kiko membeli kain batik, kebaya dan perlengkapan lainnya. Karena kain batik, kebaya dan perlengkapan lainnya yang dulu dibelinya sudah diambil isterinya. Kemudian Kiko mengepak pakaian termasuk kain batik dan kebaya serta perlengkapan cdingnya kedalam koper. Ia bermaksud untuk berbohong keluar kota lagi untuk menebus kegagalannya yang sebelumnya. Kiko pun pamit kepada Sri dengan alasan urusan pekerjaan.

Tapi Sri tidak menjawab, ia segera merebut koper Kiko dan dibuka serta diaduknya isi koper dengan tangannya hingga didapatkannya apa yang dicarinya. Kebaya, kain batik dan perlengkapan cding lainnya. Kiko jadi pucat pasi. Sri berkata, “Kamu mau ngibuli aku lagi ya ? Kamu itu nyari uang nggak bisa, bisanya cuma menghambur-hamburkan uang ! Sekarang kamu pakai saja di rumah, tidak usah keluar kota “.

Oleh karena Kiko hanya diam saja, maka Sri  berkata, “Ayo, cepat ! Sekarang kamu buka pakaian kamu. Terus pakai kain kebaya sama dandan yang cantik. Aku mau lihat sampai dimana ketrampilan kamu”. Perlahan-lahan Kiko mulai menanggalkan pakaiannya satu peraatu dan mulai memakai kain batik dan kebaya serta diteruskan dengan berdandan,  sementara  Sri mengamatinya.

Setelah Kiko selesai berdandan, Sri berkata, “Sekarang begini saja. Usaha kamu kan boleh dibilang sudah mandek. Daripada kamu nganggur, kamu sekarang jadi pembantu rumah tangga saja. Sekalian ngirit tidak usah pakai pembantu. Tugas kamu sehari-hari momong, nyuci, masak, nyapu, ngepel, bersih-bersih rumah”. Kiko yang mendengar perkataan Sri menganggap enteng omongan isterinya. Ia berpikir paling isterinya sedang emosi dan asal ngomong serta tidak serius. Maka Kiko diam saja, tidak menggeleng ataupun mengangguk.

Sri  kemudian melanjutkan, “Biar kamu semakin feminin dan semakin menghayati peran kamu sebagai PRT, kamu harus pakai kain kebaya. Nanti pakaian-pakaian kamu, aku sita semua. Yang bagus mau aku jual. Yang masih layak dipakai mau aku sumbangkan. Sekalian buat kompensasi kamu beli-beli kain batik, kebaya, peralatan makeup sama ongkos kamu nginap di hotel”.

Kiko bukannya takut, tapi malah bergairah dan terangsang. Mungkin karena nafsunya yang sudah di kepala, ia jadi tidak mengkuatirkan kemungkinan kalau ia bisa dibully sesama pria lagi. Karena Kiko diam saja, maka Sri bertanya, “Gimana ? Mau kan kamu ?”. Kiko diam saja. Sri jadi gusar dan berkata, “Ditanya baik-baik malah diam saja. Jawab dong !”. Akhirnya Kiko mengangguk. Sri menjawab, “Nah, gitu dong. Sekarang kamu jaga rumah, aku mau keluar sebentar”. Sri kemudian pergi keluar rumah.

Sebentar kemudian bel pintu berbunyi, ternyata ada orang datang. Maka Kiko buru-buru membuka pakaiannya. Tapi Sri  sudah keburu datang dan menemui tamu itu. Tak lama kemudian tamu itu pergi. Sri pun masuk ke dalam rumah dan mendapati Kiko sudah membuka kebaya dan kamisolnya serta mulai membuka stagennya. Sri jadi marah, “Éh, siapa yang suruh kamu ganti pakaian ? Ayo dipakai lagi !”. Kiko pun menurut. Begitu selesai, Sri kemudian berkata, “Kamu mau ingkar janji ya ?. Baru ditinggal sebentar saja sudah mau ganti pakaian”. Lalu dimabilnya tali dan diikatnya tangan Kiko ke belakang.

Sesudah itu Sri mulai membuka lemari pakaian Kiko dan memilah-milah pakaian Kiko. Pakaian Kiko dikeluarkannya dari dalam lemari dan disortir sementara Kiko menatapnya. Sri pun bergaya dengan menempelkan pakaian Kiko ke tubuhnya dan mengejek Kiko. “Sekarang kamu boleh mengucapkan selamat tinggal pada pakaian-pakaian kesayanganmu”. Perasaan Kiko campur aduk. Pertama ia kecewa dan marah, karena ternayata Sri kelihatannya serius dengan omongannya. Pakaian-pakaian kesayangannya akan dijual dan disumbangkan oleh isterinya. Lalu bagaimana ia akan keluar rumah kalau tidak punya pakaian ? Tapi kemudian pikiran itu tertutup oleh nafsu gilanya. Pakai kain kebaya terus ? Feminin, anggun dan nikmat rasanya !! Alaamak, si adik tiba-tiba berdiri.

Sehabis menyortir pakaian Kiko, Sri membuka ikatan tangan Kiko dan menyuruh Kiko mengerjakan tugas yang biasa dikerjakan oleh seorang  pembantu. Menyapu, mengepel, mencuci pakaian. Kiko pun menikmati pekerjaan itu. Ia tidak mengira kalau Sri akan membuka ikatan tangannya dan membiarkannya bekerja dengan tangan yang bebas. Baru ketika ia disuruh memasak, Kiko jadi gelagapan. Karena ia tidak pernah memsasak, kecuali masak air dan mie instan. Sri pun mengajari dengan setengah kasar dan membentak-bentak tidak sabar. Kiko jadi setengah tersinggung dan hilang sudah kenikmatan bekerja sebagai seroang wanita anggun yang berkain kebaya.

Sri waktu itu membuat pepes ikan bakar. Celakanya lagi masakan yang dibuat Kiko yaitu pepes ikan ternyata gosong sehabis dibakar. Maka meledaklah amarah Sri begitu melihat pepesannya gosong,  karena ia bermaksud memberikan sebagian sebagai hantaran untuk orang tuanya. Kepala Kiko pun dijengggungnya ( diayun dengan tangan ) berulang kali sambil marah-marah. “Dasar gebleg ! Diajari mbakar pepesan saja nggak bisa ! Jadinya malah gosong !”. Kiko menjawab, ” Sri, tadi kan kamu ngajarinya cuma sepintas lalu sambil kamu tinggal-tinggal”. Sri semakin marah, “Alasan !. Tau nggak, pepesan ini rencanya mau aku berikan pada orang tuaku. Sekarang malah kamu gosongin”.

Sri lalu mengambil tali dan diikatnya kaki dan tangan Kiko sambil berkata, “Sekarang kamu aku hukum”. Kiko diam saja, karena sudah biasa diikat kaki dan tangannya. Sesudah itu mulut Kiko dilakban.

Tapi berikutnya adalah hal yang belum biasa bagi Kiko. Sri keluar dari ruangan dan membawa beberapa lembar kain batik. Ia membungkus seluruh tubuh Kiko rapat-rapat dengan kain batik dari ujung kaki sampai ujung kepala sambil berkata, “Sekarang rasakan bagaimana rasanya dipepes sampai gosong !”. Sesudah membungkus tubuh Kiko rapat-rapat dengan kain batik, Sri pergi keluar ruangan meninggalkan Kiko.

Detik-detik pertama Kiko dibungkus rapat dengan jarik, Kiko justru merasa terangsang walaupun sudah mulai kegerahan. Sesudah itu ia mulai merasa kegerahan dan nafasnya mulai tersengal-sengal.  Tapi Sri sebentar kemudian kembali masuk ke ruangan sambil membawa lilin. Lilin itu kemudian ia nyalakan dan ia teteskan ke tubuh Kiko yang tertutup jarik. Karuan saja Kiko menggeronjal-geronjal merasakan panasnya lelehan lilin. Sri malah betkata, “Rasakan sekarang rasanya kalau kepanasan !”. Dan tak lupa Sri menetesi senjata Kiko dengan lelehan lilin. Disaat itulah Kiko serasa berada diantara sorga dan neraka.Ia terangsang, tapi juga tersiksa.  Setelah puas mengerjai Kiko, barulah Sri meninggalkan Kiko.

kiko-11-2

kiko-11-1

kiko-11-3