Busana nasional, sebuah renungan

Melihat perkembangan busana nasional kita sekarang ini semestinya kita tidak perlu merasa terlalu kuatir. Melihat desainer-desainer seperti Anne Avantie,  Adjie Notonegoro,  Ramli dan lain-lainnya sepertinya busana nasional kita, kebaya tidak akan pernah mati. Modelnyapun semakin berkembang. Mulai dari yang masih tradisional asli seperti kebaya dengan kutubaru, kebaya Kartini, kebaya encim  sampai kebaya Sunda. Kemudian dimodifikasi dari sedikit demi sedikit seperti menjadi kebaya dengan ekor putri duyung, kebaya Shanghai, kebaya offshoulder  sampai  tidak terlihat  seperti kebaya lagi.

Bawahannya pun juga tidak mesti kain batik asli yang dipakai dengan meruncing ke bawah dan di wiru dibagian depannya ataupun sarung batik.  Tapi sudah berkembang, mulai yang pemakaiannya tidak diwiru dan dipakai dengan longgar. Kemudian kain batik yang sudah dijahit sehingga pemakaiannya lebih praktis.  Ada pula yang lebih terang-terangan dibuat sebagai rok dengan potongan melebar kebawah. Atau malah dipadu padankan dengan rok sampai dengan celana panjang. Pelengkapnya dibagian kepala pun tidak harus sanggul tradisional lagi, tapi sudah sanggul  modern atau bahkan tanpa sanggul.

Dengan kondisi seperti diatas sebetulnya busana nasional kita seperti dipersimpangan jalan. Disatu sisi mengalami perkembangan dan bisa mengikuti jaman sehingga tidak perlu kuatir kalau ditinggal oleh pemakainya yaitu para wanita Indonesia. Disisi lain sepertinya semakin menjauh dari akar atau pakemnya. Sudah tidak tradisional lagi. Terus apakah istilah “nguri-uri busana tradisional” masih sesuai dengan keadaaan ini ?.

Kalau dulu setiap perayaan hari Kartini di sekolah-sekolah selalu ramai dengan para siswi yang berpakaian tradisional, sekarang boleh dikatakan sepi. Bahkan di suatu sekolah akhir-akhir ini kalau perayaan Kartini siswinya cukup memakai baju batik. Demikian juga kalau dulu kontes pemilihan putri Kartini yang diadakan di supermarket selalu banyak pesertanya dan juga penontonnya, belakangan ini kelihatannya juga sudah berkurang baik peserta maupun penontonnya. Ssebuah superamarket bahkan meniadakan acara ini di suatu tahun.

Di acara-acara pernikahan yang mengusung adat Jawa pun akhir-akhir ini para penerima tamu yang cewek  sudah memakai busana kebaya modifikasi dengan bawahan yang tidak berupa kain wiron asli tapi sudah berupa rok.  Lucunya saya pernah melihat para penerima tamu di suatu acara pernikahan yang cewek memakai kebaya modern dengan rok batik tapi yang cowok masih memakai blangkon, beskap dan kain wiron. Bagaimana ini ? Cowoknya masih tradisional asli, tapi ceweknya sudah setengah modern. Tidak matching, kalau menurut saya.

Yang lebih parah lagi saya pernah melihat di televisi swasta, dimana mc atau pembawa acaranya berpasangan dua orang  satu cewek satu cowok.  Cowoknya berbusana tradisional Jawa asli, blangkon, beskap dan kain wiron. Ceweknya berbusana kebaya modern dengan sanggul modern dan bawahan long dress dan kesannya jauh dari tradisional. Padahal acara ini  ditonton oleh seluruh pemirsa di nusantara.

Yang paling saya kuatirkan nantinya adalah kalau suatu ketika nanti di acara tertentu akan ada kejadian seperti ini.  Cowoknya berbusana tradisional Jawa dengan blangkon, beskap dan kain wiron,  tapi ceweknya berbusana kebaya modern dengan bawahan berupa celana panjang. Kalau kita bayangkan keadaannya  jadi seperti  terbalik. Cowoknya memakai kain wiron, tapi ceweknya memakai celana panjang. Crossdressing in public ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s