Hanging on the telephone

This slideshow requires JavaScript.

This article is written in 2 languages : English and Indonesian. Artikel ini ditulis dalam 2 bahasa : Inggris dan Indonesia.

English

One  complement of crossdressing is female voice. For me, it’s the most difficult part of crossdressing. Change our voice into a female voice. It’s almost like impossible to me. I have seen the video of it on internet. It takes months and years. Yes sometimes I also practice it, but my voice is still too far from perfect. It still likes falsetto. I have funny stories about it.

It was when I recently opened an account in facebook. I still didn’t dare to upload my photos until my face. I just upload my photos until my neck. And one of my male friend maybe because he thought that I am a girl, wanted to call me on the phone. But when I answered his call in my normal voice, he said “a male ?”.

Before that, because of boring and want some variations while crossdressing, I called any places with my female voice. The reactions that I got are varied.

When I called a radio station, a female radio broadcaster received my call and said “Miss, are you cold ? Your voice is trembling”. I couldn’t reply her. I was just hanging on the telephone for a while. Then I put the phone. My heart beat faster. It was totally failed.

The other time  I called another radio station, the radio broadcaster knew that I am male. So he said “Sir, not madam, right ? Please, admit it. Don’t be afraid”. Once again I couldn’t do anything. Just hanging on the telephone and my heart beat faster again. It didn’t get better than the first.

One day I got an idea to pretend asking about cloth at a shop. But unfortunately when I made a call, apparently a relative of the owner is my friend and she coincidently who received my call. I know exactly from her voice, so I put the phone immediately.

When my electricity at home was off, I called the state electricity company. The operator was a female. She tried to be polite to me and said “Is it madam, right ?”. She continued to ask me where was my position, my address with polite and suggested me to wait in patience  while the technicians fix it. I was so satisfied that time though I didn’t know the truth whether she knew me that I am a male or not.

It happened again another time when I was crossdressing. My electricity was off, so I called  the state electricity company with my female voice again.  And I got  the same respond from them. They tried to be polite to me and call me “madam”.

When I called a salon and asked how much the cost and whether they can dress me up in a traditional Javanese costume called kain kebaya with hair bun. The operator that a female answered my call with polite. She asked “For what event ?”. I answered “Family event”. After she said a certain amount then she said “We can do it, madam. Just come here “. That time I felt a sensation and happy.Although it never done, because I just do it fad.

After I read my own article, I get a conclusion. Companies or institutions that don’t receive any financial from us don’t respect us as those that will receive any financial from us.

Bahasa Indonesia

Salah satu pelengkap crossdressing adalah suara wanita. Bagi saya, itu bagian paling sulit dari crossdressing. Mengubah suara kita menjadi suara wanita. Hal ini seperti tidak mungkin untuk saya. Saya telah melihat videonya di internet. Perlu waktu berbulan-bulan  dan bertahun-tahun. Ya kadang-kadang saya juga berlatih, tapi suara saya masih terlalu jauh dari sempurna. Masih seperti falsetto. Saya punya cerita lucu tentang hal ini.

Ketika saya baru saja membuka account di facebook. Saya masih tidak berani meng-upload foto saya sampai ke wajah. Saya hanya meng-upload foto saya sampai leher. Dan salah satu teman laki-laki saya mungkin karena dia berpikir bahwa saya seorang gadis, ingin menelepon saya. Tapi ketika saya menjawab panggilannya dalam suara normal saya, ia berkata “laki-laki ?”.

Sebelum itu,  karena bosan dan ingin beberapa variasi waktu crossdressing, saya menelepon suatu tempat dengan suara wanita saya. Reaksi yang saya dapatkan bervariasi.

Ketika saya menelepon sebuah stasiun radio, seorang penyiar radio perempuan menerima telepon saya dan berkata “Nona, apakah anda kedinginan ? Suara anda gemetar”. Saya tidak bisa menjawabnya. Saya hanya menunggu dengan gagang telepon di tangan sebentar. Lalu saya meletakkan telepon. Jantungku berdetak lebih cepat.  Gagal total.

Di lain waktu saya menelepon stasiun radio yang lain, penyiar radio tahu bahwa saya laki-laki. Jadi ia berkata “ini bapak kan ?, bukan ibu.  Akui saja.  Jangan takut.”.  Sekali lagi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menggantungkan gagang  telepon di tangan dan jantung saya berdetak lebih cepat lagi. Tidak lebih baik dari yang pertama.

Suatu hari saya mendapat ide untuk berpura-pura bertanya tentang kain di toko. Tapi sayangnya ketika saya membuat panggilan, ternyata kerabat pemilik adalah teman saya dan dia kebetulan yang menerima panggilan saya. Saya tahu persis dari suaranya, jadi saya langsung meletakkan telepon.

Ketika listrik di rumah mati, saya menelepon perusahaan listrik negara. Operatornya seorang wanita. Dia mencoba untuk bersikap sopan kepada saya dan berkata “Ini ibu, ya?”. Dia terus bertanya kepada saya di mana posisi saya, alamat saya dengan sopan dan menyarankan saya untuk menunggu dengan sabar sementara para teknisi memperbaikinya. Saya begitu puas saat itu meskipun saya tidak mengetahui kebenarannya apakah dia tahu saya bahwa saya seorang laki-laki atau tidak.

Itu terjadi lagi lain waktu ketika saya crossdressing. Listrik saya mati, jadi saya menelepon perusahaan listrik negara dengan suara wanita lagi. Dan saya menerima  respon yang  sama dari mereka. Mereka mencoba untuk bersikap sopan kepada saya dan memanggil saya “ibu”.

Ketika saya menelepon salon dan bertanya berapa biayanya serta apakah mereka dapat mandandani saya dengan pakaian wanita Jawa  yang disebut kain kebaya dengan rambut disanggul. Operator yang seorang wanita menjawab panggilan saya dengan sopan. Dia bertanya “Untuk apa acara?”. Saya menjawab “Acara keluarga”. Setelah ia mengatakan jumlah tertentu kemudian dia mengatakan, “Kami bisa melakukannya, ibu.  Datang saja di sini.”. Waktu itu saya merasakan sebuah  sensasi dan saya sangat senang. Meskipun tidak pernah kejadian, karena saya hanya melakukannya dengan iseng.

Setelah saya membaca artikel saya sendiri, saya mendapatkan kesimpulan. Perusahaan atau lembaga yang tidak menerima uang dari kita tidak menghormati kita sebagaimana mereka  yang akan menerima uang dari kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s