the show must go on

English

After I read a posting about a crossdresser who let himself get caught when he’s  doing crossdressing, I like to share my experience about it too.

Truly I  also have a curious feeling what if someone see me in a women’s dress with makeup too. I also have a thinking that I will confess it to my older sister. The one that  who I already have told you many times in my postings. But I’m still not sure about telling the truth to my sister.

But several times I ever did show myself when doing crossdressing in front of  my former neighbour. He’s a boy  who has a mental disorder, mental retardation.

First I want to say sorry to all of children who have mental disorder. I do not mean to insult, ridicule or disparage them.  I even have sympathy for them. But I just think practically, because I presume that the boy will not be a valid eyewitness  of me when I’m doing crossdressing.

Beside that I never bother him at all when I am showing myself in women’s dress. I even never say something that ridiculed him. But the fact is the other way around of course. He ridiculed me and said that I am a sissy. He shouted among others, “sissy, sissy, beautiful, sissy !”. The other time when I wore orange blouse, he shouted “yellow !, yellow !, sissy !”.  My feeling was not mad or angry, but I was a little glad. His words even turned me on. It burned my lust a little bit. Funny ! It happened when I was wearing traditional Javanese dress called kain kebaya.

One thing that makes me wonder is he knew that I am sissy. Thus,  did he know the real me ? Did he know that I was one of his neighbours ? Did he know and recognize me when  I wear my normal clothing ? Did he know that the person who wears normal clothing  is the same person who wears women’s dress ?

Maybe I should question myself about that and think all of  the possibilities. What if he knew the real me and said it to his parents ? What if his parents believed him ? But in fact, I almost don’t think about it  at all. Rather than think about it, I think  that  the show must go on.

When I showed myself doing crossdressing in front of  that boy, I did several things like this :

  1. I liked to walk and sway  flirtatious on purpose with  direction that approached him. That time  we only separated by my front yard. He was on the street in front of my house.
  2. I smiled and waved him.
  3. I pretended to be shy and covered my mouth with woman handkerchief when he shouted at me ” sissy ! sissy ! beautiful ! sissy !”.
  4. I just stood in sexy position. A position that can show my curves.

Beside showing myself to a boy that I tell you above, I ever did show myself to people who pass in front of my house. That time it was still daylight. I was in front of my front door. And I did it on purpose.  It happened when I was wearing traditional Javanese dress called kain kebaya.

The first one is a younger man who is an itinerant food trader. He turned his face and saw me for a while, showed me no expression except normal expression, no surprise. Then he  passed my house.

The second one is a woman  who looks  older than me.  She showed me the same expression as the first one. No expression, except normal expression,  no surprise. Then she passed my house.

But the other times I also ever get caught when I was crossdressing by my neighbours. These times I didn’t do it on purpose. Even I mean to do it carefully so I didn’t get caught by others while I am doing crossdressing.  It happened when I was wearing traditional Javanese dress called kain kebaya.

It was still early morning, I was standing  on my porch. But the lights and the moon is enough to illuminate the situation around my house. Suddenly, my neighbour, a male who’s older than me appear behind the wall that separate my house and his house. He seemed to look at me. Altough I was not very sure, but his face looked at my direction. My heart beat faster that time. He stared at me for a while, then he’s gone. After he’s gone, I dared to move and enter my house.

Then I thought, what happened the next time I meet him. In fact, he didn’t change. He still talked to me as nothing happened. But when I  was about to move house, he gave me advices  ” Don’t like to be alone. Gathered with your neighbours and get married. It’s not good for yourself. It can hurt yourself”. Did he know the truth about me ? One funny thing about him is he advised me to get married, but he himself was not married yet. It’s like an old saying that says “easier said than done”.

But the show must go on. When I just moved to my new house. It was evening when I did crossdressing on my porch, but the lamp was enough to illuminate my porch. Suddenly the servant of my front house appeared and we only separated by the street. I think she saw me dressed in women’s dress.

Then I worried, what will happen the next days ? But, there’s nothing happened the next days.

Finally, early in this year, my crossdresser club held a gathering. But I can’t attend that gathering. I feel sorry for myself, because I want to meet my friends who have the same hobby with me face to face. All this time I only knew them only via a social network on internet  But I can’t do it. I hope when they hold the next gathering , I will be able to attend that event.

Bahasa Indonesia

Setelah saya membaca sebuah posting tentang seorang crossdresser yang membiarkan dirinya tertangkap basah ketika dia melakukan crossdressing, saya ingin berbagi pengalaman saya tentang hal itu juga.

Sesungguhnya saya juga memiliki perasaan ingin tahu bagaimana jika seseorang melihat saya dalam pakaian perempuan dengan make up juga. Saya juga memiliki pemikiran bahwa saya akan mengaku kepada kakak perempuan saya. Seorang yang saya sudah  ceritakan kepada anda banyak kali di posting-posting saya. Tapi saya masih tidak yakin tentang mengatakan yang sebenarnya kepada kakakku.

Tapi beberapa kali pernah saya melakukan menunjukkan diri ketika melakukan crossdressing di depan mantan tetangga saya. Dia anak yang memiliki gangguan mental, keterbelakangan  mental.

Pertama saya ingin mengatakan maaf kepada semua anak yang mengalami gangguan mental. Saya tidak bermaksud untuk menghina, mengejek atau meremehkan mereka. Saya bahkan memiliki simpati untuk mereka. Tapi saya hanya berpikir praktis, karena saya menganggap bahwa anak itu tidak akan menjadi saksi mata yang valid dari saya ketika saya melakukan crossdressing.

Selain itu saya tidak pernah menganggu dia sama sekali ketika saya memamerkan diri dalam pakaian perempuan. Saya bahkan tidak pernah mengatakan sesuatu yang mengejek dia. Tetapi kenyataannya adalah sebaliknya tentu saja. Dia mengejek saya dan berkata bahwa saya banci. Dia berteriak antara lain, “banci, banci, cantik, banci!”. Waktu yang lain ketika saya mengenakan blus oranye, dia berteriak “kuning, kuning!!, Banci!”. Perasaan saya tidak marah, tapi saya sedikit senang. Kata-katanya bahkan membangkitkan gairah saya di. Nafsu saya terbakar sedikit. Lucu ! Itu terjadi waktu saya mengenakan pakaian tradisional Jawa yang disebut kain kebaya.

Satu hal yang membuat saya heran adalah dia tahu bahwa saya banci. Jadi, tahukah dia diriku yang sebenarnya? Apakah dia tahu bahwa saya adalah salah satu tetangganya? Apakah ia tahu dan mengenal saya waktu  saya mengenakan pakaian normal? Apakah dia tahu bahwa orang yang memakai pakaian normal adalah orang yang sama yang memakai baju perempuan?

Mungkin saya harus mempertanyakan diri sendiri tentang itu dan berpikir mengenai semua kemungkinannya. Bagaimana jika dia tahu diriku yang sebenarnya dan mengatakan kepada orang tuanya? Bagaimana jika orang tuanya percaya padanya? Namun pada kenyataannya, saya hampir tidak berpikir tentang hal itu sama sekali. Daripada berpikir tentang hal ini, saya berpikir bahwa pertunjukan harus terus berjalan.

Ketika saya menunjukkan diriku sendiri melakukan crossdressing di depan anak itu, saya melakukan beberapa hal seperti ini:

  1. Saya suka berjalan dan bergoyang genit dengan sengaja dengan arah yang mendekatinya. Waktu itu kami hanya dipisahkan oleh halaman depan. Dia berada di jalan di depan rumah saya.
  2. Saya tersenyum dan melambai padanya.
  3. Saya pura-pura malu dan menutup mulutku dengan sapu tangan wanita ketika dia berteriak pada saya “banci, banci! cantik! Banci!”.
  4. Saya hanya berdiri dengan posisi seksi. Sebuah posisi yang dapat menunjukkan lekuk tubuh saya.

Selain memamerkan diri didepan anak yang saya katakan di atas, saya pernah memang menunjukkan diri kepada orang yang lewat di depan rumah saya. Waktu itu masih siang hari. Saya berada di depan pintu depan saya. Dan saya melakukannya dengan sengaja. Itu terjadi waktu saya mengenakan pakaian tradisional Jawa yang disebut kain kebaya.

Yang pertama adalah seorang pria muda yang adalah seorang pedagang makanan keliling. Dia memalingkan wajahnya dan melihat saya sebentar, tidak ada ekspresi kecuali ekspresi normal, tidak terkejut. Kemudian dia melewati rumah saya.

Yang kedua adalah seorang wanita yang terlihat lebih tua dari saya. Dia menunjukkan ekspresi yang sama seperti yang pertama. Tidak ada ekspresi, kecuali ekspresi normal, tidak terkejut. Kemudian dia melewati rumah saya.

Tapi kali lain saya juga pernah tertangkap ketika sedang crossdressing oleh tetangga saya. Kali ini saya tidak melakukannya dengan sengaja. Bahkan saya bermaksud untuk melakukannya hati-hati sehingga saya tidak tertangkap oleh orang lain saat saya melakukan crossdressing. Itu terjadi waktu  saya mengenakan pakaian tradisional Jawa yang disebut kain kebaya.

Hari masih pagi, saya berdiri di beranda saya. Tapi lampu dan bulan sudah cukup untuk menerangi situasi di sekitar rumah saya. Tiba-tiba, tetangga saya, seorang laki-laki yang lebih tua dari saya muncul di belakang tembok yang memisahkan rumah saya dan rumahnya. Dia tampak menatapku. Meskipun saya tidak terlalu yakin, tapi wajahnya menatap ke arah saya. Jantungku berdetak lebih cepat waktu itu. Ia menatap padaku selama beberapa saat, kemudian dia pergi. Setelah dia pergi, saya baru berani bergerak dan masuk kedalam rumah saya kembali.

Lalu aku berpikir, apa yang terjadi lain kali aku bertemu dengannya. Ternyata, ia tidak berubah. Dia masih berbicara dengan saya seperti tidak ada yang terjadi. Tapi ketika saya hendak pindah rumah, ia memberi saya nasihat “Jangan suka menyendiri.  Berkumpullah dengan tetangga  dan menikahlah. Ini tidak baik untuk dirimu sendiri. Ini bisa merugikan dirimu sendiri”. Apakah dia mengetahui kebenaran tentang saya? Satu hal lucu tentang dia adalah dia menyarankan saya untuk menikah, tetapi ia sendiri belum menikah. Ini seperti pepatah lama yang mengatakan “lebih mudah berkata daripada melakukan”.

Tapi pertunjukan harus terus berjalan. Ketika saya baru saja pindah ke rumah baru saya.Itu adalah malam ketika saya crossdressing di teras saya, tapi lampu cukup untuk menerangi terasku. Tiba-tiba pelayan rumah depan saya muncul dan kami hanya dipisahkan oleh jalan. Saya pikir dia melihat saya mengenakan pakaian perempuan.

Lalu saya khawatir, apa yang akan terjadi hari-hari berikutnya? Tapi, tidak ada yang terjadi hari-hari berikutnya.

Akhirnya, di awal tahun ini, klub crossdresser saya menyelenggarakan acara Gathering. Tapi saya tidak bisa menghadiri pertemuan itu. Saya merasa kasihan pada diriku sendiri, karena saya ingin bertemu teman-teman saya yang memiliki hobi yang sama dengan saya muka dengan muka. Selama ini saya hanya tahu mereka hanya melalui jaringan sosial di internet Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya berharap ketika mereka menyelenggarakan pertemuan berikutnya, saya akan dapat menghadiri acara itu.

2 thoughts on “the show must go on

  1. Pingback: Kapok lombok « priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s