Dari saputangan menjadi tissue

Waktu aku masih duduk di taman kanak-kanak, aku ingat suatu permainan yang selalu dilakukan tiap hari di waktu pelajaran kelas. Namanya “sapu tangan”. Permainannya dilakukan di halaman sekolah, kami para murid jongkok melingkar membentuk sebuah lingkaran. Salah seorang murid yang jadi akan berjalan mengitari sebelah luar lingkaran  sambil memegangi sebuah saputangan. Para murid kemudian menyanyikan lagu seperti ini “sapu tanganku putih, terbuat dari kain, wanginya bukan main, siapa yang belum punya harus mengejar saya”. Diakhir lagu itu kemudian anak itu harus menjatuhkan saputangannya di atas kepala anak yang berjongkok yang berada paling dekat dengannya. Kemudian anak yang kejatuhan saputangan itu harus berdiri dan berlari mengejar anak yang menjatuhkan saputangan serta mendapatkannya. Bila tidak berhasil, maka posisinya didalam lingkaran digantikan oleh anak yang tadi menjatuhkan saputangan. Demikian terus berulang-ulang.

Aku sendiri mempunyai kesan yang khusus terhadap saputangan. Waktu kecil aku merasa geli terhadap benda itu. Mungkin karena bentuknya yang relatif lebih kecil jika dibandingkan celana atau baju apalagi yang namanya saputangan wanita.

Tapi sekarang keberadaan saputangan sudah berubah, para wanita lebih suka memakai tissue daripada saputangan. Saputangan sekarang sudah jarang dipakai para wanita. Tapi para pria masih suka memakai saputangan daripada tissue.

Para pemakai tissue mungkin mempunyai alasan kepraktisan. Tissue tidak usah dicuci, dikeringkan dan disetrika jika sudah kotor. Tapi cukup dibuang dan kita bisa langsung mengambil tissue yang baru lagi. Sedangkan saputangan perlu dicuci, dikeringkan dan disetrika jika sudah kotor.

Dari segi ekonomis, saputangan lebih ekonomis daripada tissue.Tapi akhir-akhir ini ada gerakan yang ingin kembali memasyarakatkan saputangan dan menggalakkan kembali pamakaian saputangan dengan alasan go green atau issue sadar lingkungan. Saputangan dinilai tidak menyebabkan limbah yang lebih banyak daripada tissue. Padahal tissue sendiri juga dibuat dari kertas yang notabene lebih mudah hancur daripada plastik.

Pada jaman dahulu, aku masih ingat dan sering melihat para wanita jika bepergian selalu membawa saputangan. Jika mereka malu atau karena hal lain, maka mereka akan menutupi mulut mereka dengan saputangan. Suatu pemandangan yang indah dan romantis. Karena saputangan biasanya mempunyai corak dan warna. Beda dengan tissue yang selalu polos dan berwarna putih.

Soal saputangan ini, aku pernah melihat suatu pemandangan yang agak aneh di tempat ibadah. Sepasang suami isteri yang sudah cukup berumur masing-masing membawa saputangan. Tapi si isteri memakai saputangan pria yang ukurannya besar, sedang si suami memakai saputangan wanita yang ukurannya kecil.

Mungkin si isteri punya alasan berhubung saputangan pria lebih besar ukurannya daripada saputangan wanita. Jadi kalau untuk membersihkan bisa lebih maksimal. Dan jika untuk membersihkan keringat, maka akan lebih lama untuk menjadi basahnya.

Sedang si suami mungkin punya pemikiran berhubung saputangan wanita lebih kecil ukurannya daripada saputangan pria, maka lebih praktis untuk dibawa dan dikantongi.

Tapi fenomena ini sering aku lihat, jadi bukan hanya untuk sekali itu saja. Dan kelihatannya para wanita yang memakai saputangan pria itu normal saja perilakunya. Demikian juga dengan para pria yang memakai saputangan wanita itu berperilaku normal saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s