Cerita seputar e-KTP

Issue e-KTP sekarang masih hangat-hangatnya. Ada  kecamatan yang sudah selesai proses pengambilan foto, iris mata, sidik jari dan tanda tangan dan mungkin juga ada yang belum melakukan proses pemanggilan warganya untuk pengambilan foto, iris mata, sidik jari dan tanda tangan.

Banyak teman-teman di kantor dan lingkungan kantor yang sudah diambil foto, iris mata, sidik jari dan tanda tangan mereka di kecamatan mereka masing-masing. Cerita mereka pun berbeda-beda. Ada yang cerita kalau petugasnya sangat keras dalam artian warga yang mau diambil fotonya harus berpakaian dan dandan rapi. Atasan harus berupa baju yang berkerah, tidak boleh memakai kaos. Tapi teman di kecamatan lain berkomentar kalau petugasnya lebih bebas dan tidak seperti yang diceritakan di atas. Bahkan ada yang bilang kalau harus menunjukkan bukti lunas PBB.

Saya sendiri sempat was-was mengenai soal ini. Saya pikir jangan-jangan saya kelewatan, padahal tidak ada undangan dari RT saya di rumah. Tapi akhirnya undangan itu pun akhirnya saya terima juga. Ternyata undangannya jatuh di hari kerja. Jadi saya terpaksa kerja 1/2 hari, baru kemudian ke kecamatan.

Untuk itu saya memberitahu rekan kerja yang seruangan dengan saya. Tapi apa jawaban dari rekan kerja saya yang seorang wanita. Dia bilang begini, “Lha rambutmu ? Karo aku malah dhowo rambutmu. Lanang opo wedhok ?”. Saya menjawab gini, “Malah enak to, iso enggo malsu”.

Bahasa Indonesianya kurang lebih begini, “Lha rambutmu ? Sama aku malah panjang rambutmu. Laki atau perempuan ?”.  Saya menjawab gini, “Malah enak to. Bisa buat malsu”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s