Moyok mondok

Ini adalah posting yang sebetulnya harus dipublish sebelum postingku yang berjudul “gara-gara selimut”.

Kata orang tua jaman dulu jangan suka moyok  nanti mondok. Dalam bahasa Indonesia artinya jangan mengejek nanti  malah jadi ikutan sendiri. Tapi dasar masih anak kecil, aku tidak menggubris perkataan itu. Dulu kalau lihat wanita pakai kain kebaya, sebelum aku menyenangi pakaian itu, aku sering mengejek dengan kata-kata seperti ini  “ndeso, kampungan, mlakuné kserimpet-srimpet”. Kami adalah 3 bersaudara. Aku dan salah satu kakakku paling sering mengejek dengan kata-kata itu. Tapi ternyata setelah dewasa, aku dan kakakku itu yang suka pakaian kain kebaya.

Almarhum ibu waktu itu juga tahu soal aku dan terutama kakakku kalau kami  suka mengejek pakaian kain kebaya, hingga menyindir dan mengancam begini. Kalau kakakku tidak menurut perintah ibu, ibu sendiri akan memakai kain sama kebaya waktu pergi dengan kakakku. Untuk diketahui, ibu tidak pernah memakai kain dan kebaya. Kalau sudah seperti itu, maka kakakku akan meminta-minta supaya ibu jangan pakai kain kebaya. Kadang-kadang ibu juga suka mengejek kakakku dengan mengatakan kakakku akan diberi  pakaian tradisional Jawa kalau ada acara di sekolah.

Tapi entah siapa yang memulainya dahulu, aku atau kakakku. Siapa yang lebih dulu menyenangi pakaian kain kebaya, aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu bagaimana alur pikiranku sehingga akhirnya aku jadi malah fanatik sama kain kebaya. Cerita awalnya mengenai aku mulai menyenangi pakaian kain kebaya bisa dibaca di posting “gara-gara selimut“.

Aku masih ingat waktu itu kakakku yang lain yang tidak suka ikut mengejek pakaian kain kebaya pernah berkata begini, “ojo moyok engko mondok”. ( “jangan mengejek, nanti malah jadi ikutan sendiri”). Mungkin ini betul-betul yang namanya moyok mondok.

Setelah aku dan kakakku menyenangi pakaian kain kebaya, pada awalnya kami seolah-olah menutup-nutupi kalau kami senang akan pakaian itu. Aku berusaha menyembunyikan kesenanganku akan pakaian kain kebaya di hadapan kakakku dan semua keluarga. Demikian juga dengan kakakku.

Kemudian kakakku mulai sering  menggodaku jika aku mulai memandang orang atau gambar orang pakai kain kebaya. Kebetulan waktu itu dikampung sering juga diselenggarakan pernikahan dengan adat Jawa.  Dia pernah berkata begini, “gawat, gawat”.

Tapi setelah itu, kakakku mulai memperlihatkan dengan terus terang dihadapan ibuku waktu ia memakai kain sama kebaya. Dan biasanya ibu akan berkata “njeléhi, koyo mbok-mbok” artinya menyebalkan seperti ibu-ibu. Tapi selebihnya ibu akan diam saja.

Sedang aku sampai sekarang masih berusaha menutupi dan menyangkal di hadapan keluargaku kalau aku suka pakaian kain kebaya. Tentu saja alasan utamanya kalau kupikir adalah malu dan takut.

Tapi sampai sekarang aku sebenarnya ragu apakah keluargaku sudah mengetahui hobbyku ini atau tidak. Dalam hati kecilku aku berkata mereka mungkin sudah mengetahui, tapi mereka tidak mau membicarakannya dan membiarkannya. Ada beberapa kejadian yang mengarah ke hal itu.

Waktu itu aku ke pasar tradisional bersama ibu. Dikios pakaian wanita yang menjual kain batik sama kebaya, aku pernah ditawari apakah mau pakaian itu ? Aku setengah kaget dan ( pura-pura ) berkata “untuk apa ?”. Ibu pun menjawab, “ya untuk dipakai toh”.

Selain peristiwa diatas, masih ditambah  lagi dengan kain batik dan kebaya yang setelah kupakai secara sembunyi-sembunyi langsung ku kembalikan ketempatnya tanpa dicuci. Terutama kain batik yang ku wiru dan setelah selesai kupakai wirunya kubuka lagi, tapi masih terlihat bekas lipatannya.

Dari kejadian diatas aku jadi  bertanya-tanya pada diriku sendiri bagaimana  jika waktu itu aku mengiyakan tawaran ibu dan ia betul-betul membelikan aku kain batik sama kebaya ? Baru saja ketika menulis artikel ini, aku punya pikiran jangan-jangan ibu akan mengerjai aku atau akan menghukum aku dengan menyuruh atau memaksa aku memakai kain kebaya dihadapan orang banyak. Atau lebih ekstrimnya ia akan mengikat tangan dan kakiku setelah aku memakai kain dan kebaya, hingga aku tidak bisa melepaskan  pakaian kain kebaya itu. Supaya aku malu dan kapok. Atau ibu betul-betul seorang yang lugu dalam hal psikologi dan sexual serta membiarkan anaknya memiliki kelakuan menyimpang. Ibuku memang pendidikannya rendah seperti umumnya ibu-ibu jaman dahulu yang tidak kaya.

2 thoughts on “Moyok mondok

  1. Pingback: Gara-gara Supermoon, Kawasan Wisata Ini Terendam Banjir | makanenak.info

  2. During the Proclamation of Independence by President Sukarno on August 17, 1945, the only woman in attendance, Ibu Trimutri was wearing kain kebaya. This image helped transform the kebaya from mere traditional dress, elevating it to the status of national dress for Indonesia women.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s