Penolakan

Ini adalah untuk pertama kalinya aku menolak untuk ngadi salira ngadi busana dengan kain kebaya. Waktu itu aku sedang berlintas busana dengan memakai mini dress dan aku berpikir untuk menyambung dan memvariasikannya dengan pakaian kain kebaya, tapi entah mengapa aku bisa menolak hasratku sendiri untuk nguri-uri busana nasional kita.

Padahal waktu itu aku sudah memancing-mancing dengan membuka-buka kain jarik baruku seperti yang kuceritakan di posting sebelumnya. Ada 2 lembar kain jarik yang waktu itu aku buka-buka dan aku paskan di badanku, walaupun tidak aku buka sampai penuh. Dan si adik pun sempat bangkit sebentar gairahnya. Bukan itu saja, tapi aku juga memancing-mancing dengan selendang tari, selendang cinde dan selendang gendong baru yang aku beli kemarin setelah aku membeli kain jarik. Tapi hasilnya hasratku tetap saja melemah dan mungkin akal pikiranku yang mengambil kendali. Hingga aku bisa berkata pada diri sendiri, “aman, aman … pokoké kalau pakai rok mini dijamin aman”. Hawa nafsuku yang menggebu-gebu dapat kukalahkan sendiri walaupun aku tetap saja berlintas busana dengan mini dress. Tapi aku laksana menjadi seorang gadis yang masih hijau yang belum mengerti apa itu hawa nafsu. Seperti diketahui kalau aku punya kebiasaan berlintas busana yang dapat digolongkan dalam 3 kategori dan masing-masing punya sensasinya sendiri seperti yang kuceritakan di postingku terdahulu.

Adalah kebiasaanku juga jika aku sudah berlintas busana dengan pakaian western modern, hawa nafsuku biasanya menuntut untuk dipuaskan secara tuntas dengan cara ngadi salira ngadi busana dengan kain kebaya. Tapi entah mengapa hal ini tidak terjadi pada hari itu. Sepertinya aku puas menghilangkan dan mengganti hawa nafsuku dengan kehijauan, keluguan, kesucian atau kemurnian seorang gadis belia yang belum mengerti apa itu hawa nafsu. Atau mungkin aku sudah bosan dengan ngadi salira ngadi busana, karena 2 hari sebelumnya aku sudah melakukannya.

Bagaimana menurut anda ? Aku sudah berbuat bodoh dengan menolak untuk menguri-uri busana tradisional kita dan tentu saja dengan bgitu  juga menolak sebuah kenikmatan yang tiada tara atau aku sudah berbuat benar dengan membiarkan akal pikiranku mengendalikanku dan memilih menjadi gadis yang masih muda belia  serta tidak mengerti apa itu hawa nafsu ?

One thought on “Penolakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s