Tradición

Qué alegria si senor…
Aqui cont toda mi gente,
Y con gran admiracion,
Brindo est celebracion,
De mis raices trascendentes.

Yo les traigo un güagüanco,
Para que nunca te olvides,
De este ritmo sin igual,
Y con eso despertar
El orgullo de tu origen…

Qué alegria si senor…
De mi cuba a todo el mundo,
Yo no sé quien lo empezo,
Para aquel que le invento,
Yo le rindo est tributo;
Y aunque el tiempo pasara,
Es nuestra responsabilidad,
A traves de la cancion,
Servir como educacion,
Y seguir le tradicion…
Que siga la tradicion.

Bahasa Indonesia

Aku sangat senang, ya tuan
di sini dengan semua orang saya
dan dengan penuh kekaguman
Saya menawarkan perayaan akar saya
Aku membawakan  Anda guaguanco ini
Hingga Anda tidak akan pernah melupakan ritme yang tidak biasa
dan untuk membangkitkan kebanggaan Anda dalam asal Anda
Aku sangat senang, ya tuan
dari Kuba ku ke seluruh dunia
Saya tidak tahu bagaimana mulainya
tapi untuk siapa pun yang menciptakannya
Saya sekarang menawarkan persembahan ini
dan meskipun waktu akan berlalu
itu tanggung jawab  kami, melalui lagu,
untuk melayani sebagai pendidikan dan
untuk melanjutkan tradisi
biarlah  tradisi berlanjut.

Tradisi bisa disebut sebagai akar suatu bangsa. Bangsa yang kuat biasanya mempunyai tradisi yang kuat. Dari situlah kebanggaan terhadap bangsanya sendiri berasal, dibangun dan dibina. Bangsa yang besar selain menghormati pahlawannya juga menghormati tradisinya sendiri. Seperti tumbuhan  yang akarnya  tercabut dari tanah demikianlah suatu bangsa mungkin akan mengalami keadaan seperti ini jika melupakan tradisinya sendiri.

Contoh bangsa Brasil dengan tradisi sepak bolanya yang kuat juga melahirkan banyak pemain sepak bola yang handal  dan terkenal. Tidak itu saja tapi mereka juga berhasil menjadi juara dunia sepak bola sebanyak 5 kali dan sekaligus terbanyak di dunia.

Demikian juga dengan Gloria Estefan yang dengan bangga memperkenalkan dan mempopulerkan musik tradisional Cuba kepada dunia. Lalu bagaimana dengan bangsa Indonesia ? Masihkah akar tradisi melekat kuat pada dirinya ?

Tradisi kebudayaan Indonesia tampaknya semakin terkikis oleh globalisasi. Dari mulai musik tradisional sampai busana tradisional kita. Belum lagi hal-hal yang lainnya.

Akhirnya sebagai seorang  wanita Indonesia, ijinkan saya bertanya, apakah kita masih dengan bangga memperkenalkan dan mempopulerkan busana nasional kita kain kebaya kapada dunia ? Atau kebanggaan itu sudah terhalang dan tertutup oleh kepraktisan dan globalisasi ? Hingga kita memakainya secara terpaksa untuk acara-acara khusus yang tidak bisa dihindari dan pakaian yang kita pakai pun sudah dimodifikasi terlalu jauh bahkan kadang sampai tidak terlihat lagi sebagai kain kebaya ? Batik yang sudah diakui sebagai warisan budaya UNESCO sekarang sudah diklaim oleh Malaysia. Mereka pun juga punya kebaya. Bukankah keadaan ini sebetulnya sudah cukup kritis bagi bangsa Indonesia jika membiarkannya.

English

I’m so happy, yes sir
here with all of my people
and with great admiration
I offer this celebration of my roots
I bring you this guaguanco
So you’ll never forget this unusual rhythm
and to awaken your pride in your origins
I’m so happy, yes sir
from my Cuba to all the world
I don’t know how it began
but to whoever invented it
I now offer this tribute
and although time will pass
it’s our responsability, through song,
to serve as an education and
to continue the tradition
may the tradition continue.

Tradition can be referred to as the root of a nation. Strong nation usually have strong traditions. From there the pride of the nation itself came, built and nurtured. Great nation beside honoring heroes also respecting its own traditions. Just like a plant which it roots unplugged from the ground,  so a nation may experience a situation like this if forgetting its own tradition.

Examples Brazilian nation with a strong football tradition also produced many football players that are reliable and reputed. Not only that but they also succeeded to become world champion football 5 times and at the same time the most frequent in the world.

Likewise, Gloria Estefan who is proud to introduce and popularize the traditional music of Cuba to the world. Then what about the people of Indonesia? Still the  roots of tradition is strongly attached to her?

The tradition of Indonesian culture seems increasingly eroded by globalization. From traditional music to our traditional clothing. Not to mention other things.

At last as an Indonesian woman, let me ask, whether we are still proud to introduce and popularize our national dress kain kebaya  to the world ? Or the pride was already blocked and covered by the practicality and globalization? Until we are forced to wear it in special events that can not be avoided and the clothes we wear also been modified too much sometimes until to look no further as kain kebaya? Batik which is already recognized as a UNESCO cultural heritage now been claimed by Malaysia. They also have kebaya. Is not this situation has actually been quite critical for Indonesia if we let it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s