Gong Xi Fa Cai 2564

Selamat Tahun Baru Imlek ! Semoga tahun ini kita semua diberkati dengan rejeki yang melimpah.

Untuk imlek tahun ini aku ingin membagikan video diatas. Video ini sangat menarik perhatianku. 2 orang chef Indonesia dan seorang bintang tamu pakar kuliner yang keturunan Tionghoa  membuat masakan yang bernuansa inlek. Resepnya dapat di baca di situs lovelytoday di link ini.

Memang imlek identik dengan makanan dan makan besar selain upacara sembahyang. Dan dibawah ini adalah kenang-kenangan seseorang  akan imlek di masa kecilnya.

Waktu kecil dulu aku dan keluargaku boleh dibilang hidup serba pas-pasan, tapi tidak kekurangan dan kami tetap mensyukuri apa yang kami punya. Ketika imlek tiba, kami pun mengadakan upacara sembahyangan dirumah kami. Upacara itu untuk menghormati orang tua dari ayah kami. Aku ingat waktu itu sekolah kami selalu diliburkan pada hari imlek. Sehari sebelum imlek, orang tua kami mencicil belanja sebagian bahan makanan dan buah-buahan untuk upacara sembahyang keesokan harinya. Sisanya kueh-kueh basah seperti kuehku, wajik dan kueh moho. Buah-buahan seperti jeruk bali, manggis dan sawo serta ayam dibeli pada pagi harinya. Satu bahan makanan yang menyengat baunya yaitu rebung dibeli sehari sebelumnya dan direndam semalaman, aku dan mungkin juga semua orang tidak suka akan bau pesingnya .

Aku ingat waktu itu ibu dan seorang pembantu serta sering juga seorang sepupu perempuanku yang datang ke rumah begitu sibuk memasak. Sebaliknya aku dan saudara-saudaraku tidak membantu memasak, karena kami masih kecil. Aku dulu pernah punya kebiasaan iseng mengaget-ngageti atau manakut-nakuti ayam yang masih hidup dan kedua kakinya diikat. Biasanya sesudah aku takut-takuti, ayam itu akan berontak dan mengepak-ngepakkan sayapnya serta berkeok-keok dengan keras. Sekali dua kali, aku lancar dan sukses dengan keisenganku. Tapi sesudah itu kemudian orang tuaku menegur aku, sehingga  akhirnya aku berhenti  melakukan keisengan itu.

Walaupun aku tidak membantu memasak, tapi aku juga ikut membantu membuat mainan perahu-perahuan dari kertas. Bagiku itu hal mudah, karena begitu aku diajari cara membuatnya aku langsung sudah bisa membuatnya. Tapi perahu kertas itu cara melipat dan membuatnya berbeda dengan  yang diajarkan di sekolah. Perahu kertas yang kami buat dirumah mirip dengan cara membuat selongsong untuk  lontong.

Ketika acara sembahyang tiba, pertama kali aku disuruh sembahyang oleh orang tuaku, aku menolak. Karena aku tidak tahu apa yang akan diucapkan waktu sembahyang. Barulah beberapa tahun berikutnya aku mulai ikut sembahyang setelah orang tuaku mengajarkan aku bagaimana bersembahyang dan apa-apa yang diucapkan waktu berdoa.

Daftar makanan yang biasanya ada di acara sembahyangan kami antara lain adalah buah jeruk bali, manggis,  sawo, salak, wajik, kuehku, kueh moho, ayam engkung, sambal goreng ati ampela, sop bakso rambutan, babi kecap, rebung dan juwi pihi serta tak ketinggalan kueh keranjang. Tapi tidak ada bakmi, yang ada adalah so’un yang dimasukkan kedalam sop bakso rambutan. Waktu kecil dulu aku tidak suka makan daging babi,  ayam engkung juga aku tidak suka. Favoritku dulu adalah sambal goreng ati ampela dan didih ayam serta sop bakso rambutan.

Tapi tradisi acara sembahyangan itu akhirnya berhenti juga setelah bertahun-tahun kami melakukannya. Waktu itu ayahku sendiri yang memutuskan, mungkin karena sehubungan dengan abu dari orang tua ayah yang akhirnya dilarung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s