Nyalon

Nyalon bisa berarti pergi ke salon untuk perawatan rambut atau wajah maupun badan. Ini adalah hal yang sudah umum dan lumrah bukan saja untuk kaum wanita, tapi juga untuk kaum lelaki.

Tapi nyalon juga bisa berarti mencalonkan diri untuk suatu jabatan, kalau di Indonesia terutama untuk jabatan-jabatan pemerintahan. Yang lagi ngetrend adalah artist yang nyalon jadi kepala pemerintahan atau caleg.  Dan terakhir yang paling sensasional adalah seorang raja yang nyalon jadi presiden.

Raja mau nyalon jadi presiden ? Apa tidak terlalu sulit itu ? Bukankah bentuk suatu negara kalau bukan kerajaan ya berarti republik ? Jadi tidak mungkin suatu negara mempunyai bentuk republik tapi sekaligus juga kerajaan atau kerajaan tapi sekaligus juga republik. Bagaimana bisa seorang raja yang kepala negara kerajaan nyalon jadi presiden yang kepala negara republik ? Bukankah dengan demikian ia harus berganti kewarganegaraan atau beremigrasi dari suatu negara kerajaan ke suatu negara lain yang berbentuk republik. Apakah ini tidak memerlukan waktu yang relatif lama untuk mendapatkan kewarganegaraan baru.

Tapi di Indonesia hal ini bisa terjadi. Karena di negara ini paling tidak ada  2 kerajaan didalam negara Indonesia sendiri. Keraton Solo dan Yogyakarta. Cuma dalam hal ini bukan itu yang terjadi. Bukan raja dari keraton Solo atau Yogya yang nyalon jadi presiden, tapi seorang “raja dangdut” yang namanya sudah terkenal sejak  beberapa dekade lalu. Dia adalah Rhoma Irama.

Diwawancarai di acara “Hitam putih” Trans7 kemarin hari Jumat tanggal 15 Februari tahun 2013. Ia menjawab bahwa ia mencalonkan diri jadi presiden, karena ada suatu desakan dan ia dalam posisi dimana ia tidak bisa mengelak lagi. Tapi ketika diwawancarai pada segmen “question of life”,  akhirnya ketahuan juga kalau  ia masih lebih  berat dan lebih memilih jadi seniman daripada jadi presiden  waktu ditanya mau jadi presiden atau penyanyi.

Acara “Hitam putih” pun jadi agak serius. Si host “Hitam putih” kelihatan tidak berani mencandai capres kita. Kalah tua, kalah abu atau takut kalau kualat. Bahkan walaupun sudah ada bintang tamu kedua, serorang artis yang juga komedian Dicky Chandra.  Baru  ketika  bintang tamu ketiga dan terakhir, seorang komedian Jarwo Kwat muncul, acara ini jadi lumer. Penuh banyolan dari Jarwo Kwat.

Bisa-bisanya ia, Jarwo Kwat  membanyol kalau ternyata yang menyelamatkan bangsa  Indonesia dari kehancuran  bukannya seorang satria piningit seperti yang diramalkan, melainkan seorang “satria bergitar”. ( “Satria bergitar” adalah judul film yang dibintangi oleh sang capres ). Jarwo  masih melanjutkan lagi dengan berkata kalau capres kita ini adalah satu-satunya capres yang telah berhasil menahan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia sehingga dari dulu cuma “135 juta”. ( “135 juta” adalah judul lagu hits dari sang capres ). Jarwo malah juga memberi masukan motto pada sang capres, mottonya “pilih aku kalau mau maju, kalau tidak pilih aku sungguh terlalu”. ( “terlalu” adalah ucapan khas dari sang capres yang banyak ditiru oleh para pelawak ).

Memang sungguh terlalu komedian yang satu ini, masak capres yang serius gitu masih dibanyoli juga.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s