Jadi korban apa jadi bintang ?

Ini adalah kelanjutan dari cerita tentang 2 gadis bersaudara yang pergi resepsi. Tapi terlebih dahulu ijinkanlah kami untuk memperkenalkan  mereka. Si kakak bernama Domina Nancy, si adik bernama Sumi Sylvia.

Di cerita yang terdahulu karena terpaksa, si adik pergi dengan pakaian kain kebaya, sementara si kakak pergi dengan strapless mini dress. Sesudah resepsi selesai, mereka berdua bukannya pulang, tapi malah pergi ke rumah seorang teman Domina. Rumahnya besar dan mewah. Di sana ada banyak teman-teman Domina, semuanya cewek cantik berbody sexy. Semuanya berpakaian mini dan sexy serta tentu saja tidak ada yang berpakaian kain kebaya seperti Sumi Sumi pun jadi minder dan malu jika melihat pakaian yang dipakainya serta membandingkannya dengan pakaian yang dipakai orang-orang disekitarnya.

Belum hilang rasa bingung dan mindernya, Sumi sudah diajak masuk kedalam sebuah ruangan yang tertutup oleh Domina dan teman-temannya.  Di dalam Domina berkata kepada adiknya,, “Dik, kamu mau ya jadi model buat di foto. Tolong kakak ya”. Si adik pun bingung, karena malu dan merasa belum siap. Tapi si kakak malah semakin menyemangati, “Nanti kakak beliin kamu pakaian-pakaian bagus, kosmetik, asesories sama gadget-gadget baru.  Apa kamu minta uang mentahan ?”. Si adik malah bingung antara mau dan menolak, karena ada iming-imingnya.

Belum hilang rasa bingungnya,  tiba-tiba tangannya dipegang oleh seorang teman Domina dari belakang dan ditarik kebelakang dengan paksa serta diikat kencang-kencang dengan tali sambil berkata, “Dik, kamu jangan melawan. Yang pasrah saja. Kamu tidak diapa-apain kok. Cuma diikat.  Kalau kamu berontak malah jadi lama.”. Seorang taman Domina yang lain berjongkok didepan Sumi dan merapatkan kedua kaki Sumi serta mengikatnya dengan tali sambil berkata, “Permisi ya dik. Kakinya mau saya ikat. Boleh ya”. Sementara teman Domina yang berada dibelakangnya yang sedang mengikat tangan Sumi menggerakkan kakinya sedikit ke depan untuk menahan kaki Sumi supaya dalam keadaan rapat sambil  berkata, “Ayo, kakinya yang rapat biar bisa diikat”. Sumi jadi takut dan kepingin menangis. Tapi kakaknya membesarkan hatinya, “Teman-teman kakak memang nakal-nakal, dik. Nanti biar kakak jewer mereka semua satu-satu. Tapi kamu yang patuh saja  sama kakak. Satu hal lagi, kamu jangan cerita ini sama mama ya.  Tapi kalau mau cerita ke mama juga boleh kok. Kan mama belum tentu percaya sama ceritamu, Senyum dong, jangan cemberut. Kamu kan mau di foto dan jadi foto model”.

Sumi masih tidak mengerti kenapa jika mau dijadikan  model, tapi kok malah diikat kaki dan tangannya. Ini mau jadi korban apa jadi bintang model ?  Dan inilah penjelasan yang keluar dari mulut Domina, “Dik, ini bukan apa-apa lho dik. Bukannya kakak dendam sama adik, kakak sayang banget sama adik, Dan kenapa bukan teman-teman kakak yang dijadikan model. Karena pakaian kamu paling cocok untuk  seseorang yang dalam kaadaan tunduk dan terikat serta tidak berdaya. Istilahnya submissive.  Kain kebaya yang kamu pakai itu cukup menghambat dirimu. Stagen dan korset yang kamu pakai menghambat pinggangmu, terus kain jariknya  menghambat kakimu. Sempurna sudah jika ditambah dengan tali untuk  mengikat tangan dan kakimu. Coba kalau pakaian seperti yang dipakai kakakmu, mini dress. Itu kan tidak menghambat kaki kakak untuk melangkah, jadi tidak cocok untuk karakter submissive. Lagi pula kami sudah cukup sering dapat model submissive dengan pakaian mini. Kelihatannya kurang total, kurang tidak berdaya dan sehijau serta se innocence kamu”.

Tak lama kemudian berhubung teman-teman Domina sudah bersiap-siap dengan kamera masing-masing untuk mengambil gambar adik Domina, maka Domina mengakhiri penjelasannya dengan berkata, “Dik, yang penting sekarang kamu rileks, jangan tegang apa cemberut, pasrah saja dan tersenyum. Nikmati saja pengalaman yang baru ini”. Lalu Domina mencium adiknya, tapi tetap saja Sumi cemberut. Setelah itu, jepret jepret suara kamera mengambil foto . Byar byar lampu blitz berulang kali hidup mati. Sesekali terdengan suara aba-aba untuk sang model. “Kanan sedikit”. “Kiri sedikit”. “Wajahnya menunduk sedikit”. “Wajahnya mendongak sedikit”, “Membungkuk sedikit”, “Senyumnya mana”. “Bibirnya agak dibuka sedikit”. “Jangan cemberut terus dong”. “Jangan kaku kayak gitu”. “jangan tegang” dan sebagainya. Karena Sumi ngambek, maka mereka pun harus repot memperbaiki posisi Sumi berulang kali dan juga menyetel wajah Sumi.

Begitulah mereka mengambil gambar sang bintang  atau lebih tepatkah jika  dikatakan sebagai korban atau obyek yang terikat, tidak berdaya dan pasrah menyerah.

tiedup

Nah, apakah Sumi, si adik Domina dalam hal ini bertindak sebagai  sang bintang, model untuk sessi foto atau malah menjadi korban karena diikat dan dipaksa tunduk serta pasrah menyerah ? Bagaimanakah perasaannya sewaktu di foto dalam keadaan seperti itu ? Di foto dalam keadaan terikat tangan dan kakinya serta sama sekali belum pernah mengalami hal itu ? Akan traumakah ia ? Atau malah jadi ketagihan ?

2 thoughts on “Jadi korban apa jadi bintang ?

  1. Pingback: Wisuda | priajelita

  2. Pingback: Alter ego | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s