Wisuda

Ini adalah cerita lanjutan tentang Domina dan Sumi. Di cerita sebelumnya, Sumi ditoto dengan berpakaian kain kebaya dan terikat tangan serta kakinya.

Sesudah pemotretan itu, hubungan antara sang kakak dan adik tetap berjalan lancar. Karena memang Domina dan teman-temannya menepati janji mereka, bahwa mereka tidak akan menyakiti Sumi dan hanya mengikat kaki serta tangannya untuk diambil foto-fotonya. Selain itu Domina juga membelikan Sumi imbalan barang-barang seperti yang dijanjikannya. Di lain pihak, Sumi juga tidak bercerita mengenai kejadian itu kepada mamanya.

Hari-hari berlalu, Domina telah lulus kuliah dan segera akan diwisuda. Sebagaimana umumnya acara wisuda di Indonesia, para wisudawati selalu mengenakan busana nasional kain kebaya sebelum mengenakan toga. Domina yang sebelumnya belum pernah mengenakan kain kebaya pun jadi gelisah dibuatnya. Ia segera mencari busana kain kebaya yang sudah dimodifikasi dan bentuk bawahannya tidak meruncing ke bawah melainkan melebar seperti rok. Dengan demikian pikirnya ia tidak kesulitan waktu melangkah.

Tapi celakanya sang ibu punya koleksi kain batik  dan kebaya yang cukup banyak. Serta tidak ada satupun dari kain batiknya yang sudah dijahit menjadi semacam rok atau sarimbit. Sang ibu memang seorang wanita yang mencintai kain kebaya. Berbeda dengan kedua gadisnya yang sama sekali tidak menyukai kain kebaya. Mengetahui anaknya sedang mencari kain kebaya modern, maka si ibu melarang anaknya dengan keras. Dengan kata lain Domina harus memakai kain batik dan kebaya ibunya yang masih asli tradisional. Apalagi si ibu tidak menyukai pakaian kain kebaya yang dimodifikasi dengan bawahan lebih menyerupai rok. Karena menurut pemikirannya,  pakaian kebaya dengan bawahan yang longgar  mirip rok sudah tidak mirip lagi dengan busana nasional Indonesia dan menjadi tanggung serta lebih baik memakai rok sekalian.

Dilarang keras oleh ibunya untuk membeli kain kebaya modern, Domina pun menjadi kecut hatinya Dalam hatinya  mulai kepikiran kalau ia akan mengalami kesulitan seperti yang dialami adiknya waktu memakai kain kebaya pada waktu resepsi dulu. Karena ia melihat sendiri pada waktu ibunya memakaikan kain wiron, stagen dan korset kepada adiknya. Ibunya memakaikannya dengan sangat ketat tanpa menghiraukan adiknya yang meminta dan merengek kepada ibunya untuk mengendorkan sedikit kekencangan baik pada waktu memakaikan kain wiron, stagen maupun korset.

Maka setelah selesai inilah akibatnya. Mulai dari kegerahan, perut yang dihimpit dengan sesaknya oleh stagen sampai kaki yang harus melangkah sambil terhuyung-huyung dan kesrimpet-srimpet. Ia pun tidak akan bisa santai pada waktu acara wisuda nanti.  Dalam hatinya masih mendingan adiknya dulu waktu berkain kebaya , karena  masih ada kakaknya yang memegangi atau bisa dibuat pegangan waktu berjalan.

Adiknya yang ikut mendengar pada waktu ibunya mewejangi Domina,  tersenyum-senyum penuh arti seolah-olah mengejek kakaknya. Domina pun jadi mangkel dan kegi melihat pandangan adiknya terhadap dirinya. Tapi ia tidak berkutik dan tidak bisa membantah keputusan ibunya.

Singkat cerita, hari wisuda pun tiba. Domina bangun pagi-pagi dan siap didandani oleh ibunya. Si adik juga ikut bangun pagi, karena juga ikut datang ke wisuda kakaknya. Acara penyiksaan pertama bagi Domina pun dimulai, rambut disasak dan disanggul. Sesudah itu datang penyiksaan yang lebih berat lagi, memakai kain wiron. Adiknya yang berada didekatnya seolah-olah mengejek Domina. Sumi tiba-tiba berkata kepada ibunya, “Mam,  kainnya yang nyempit ke bawah. Biar nggak kayak sarung”. Entah ucapan itu memang disengaja untuk mengejek si kakak atau ucapan yang jujur, tapi bagi Domina kata-kata itu seperti mengejek dirinya dan seperti balas dendam adik kepada dirinya. Apalagi pada saat itu si adik memakai pakaian santai kaos dan jeans. Sesudah kain wiron selesai dipakai, maka ibunya mengikatkan seutas tali ke pinggang Domina untuk menahan kainnya. Lagi-lagi adiknya menyela, “mam, ngikat talinya yang kencang. Biar kainnya tidak melorot”.  Panas lah hati Domina mendengar omongan adiknya yang seperti membumbui. Setelah itu ibunya mulai memakaikan stagen di perut dan pinggang Domina.  Sekali lagi adiknya menyela, “Mam, narik stagennya yang kencang. Biar pinggang kakak kelihatan ramping”. Makin panas lah hati Domina mendengar omongan adiknya. Setelah memakai korset, dan  kebaya,  sempurnalah sudah dirinya menjadi tawanan dari pakaian kain kebaya yang dipakaikan ibunya.

Setelah selesai berdandan dan berpakaian, ibunya memandangi Domina dengan cermat dari atas sampai ke bawah kuatir kalau ada yang masih kurang rapi atau tidak beres. Setelah itu ibunya meninggalkan kedua anaknya di dalam kamar. Sumi jadi iseng dan menggoda kakaknya. Katanya, “Bu, kalau jalan pelan-pelan. Ntar kesrimpet jatuh”. Maka si kakak pun marah dan mengambil bantal serta beranjak dari kursinya untuk melempar adiknya dengan bantal. Tapi si adik sudah buruan lari  keluar kamar sambil berkata, “kalau bisa, coba kejar “. Domina yang mau mengejar adiknya, begitu melangkah jadi sadar kalau ia memakai kain wiron yang sangat sempit di bagian bawahnya. Akhirnya ia membatalkan niatnya dan kembali duduk setelah sempat terhuyung dan hampir jatuh. Tapi tak lama kemudian adiknya masuk ke kamar dan mendekati serta merajuk kakaknya lagi untuk berbaikan.

Ketika tiba saatnya, acara wisuda pun berlangsung dengan lancar dan aman. Bagi para wisudawan dan wisudawati mungkin acara wisuda berlangsung terlalu cepat. Tapi tidak demikian halnya dengan Domina, waktu seakan berjalan begitu lambat. Dirinya merasa tersiksa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kepalanya terbebani oleh beratnya sanggul, badannya dihimpit oleh stagen dan korset, kakinya dibebat oleh sempitnya kain wiron dan masih harus memakai sandal jinjit. Belum lagi cuaca yang gerah membuat  sapu tangan wanita Domina yang kecil  jadi basah. Beruntung  tadi pagi ibunya memasukkan beberapa helai sapu tangan ke dalam dompetnya. Selamatlah Domina, sampai di akhir acara ia tidak sampai kesrimpet kain wironnya.

Sehabis wisuda, Domina bermaksud langsung pulang ke rumah. Karena ingin segera berganti pakaian. Tetapi belum sampai terlaksana maksudnya, teman-teman karibnya muncul dan memaksa ia bermain ke rumah salah seorang teman. Terpaksa, Domina menuruti kemauan teman-teman karibnya. Dalam hatinya ia sama sekali tidak mengira akan ada suatu rencana konspirasi yang telah direncanakan oleh teman-teman karibnya.

Sampailah mereka di rumah salah seorang teman mereka. Sumi juga ikut bersama Domina. Tapi setelah basa-basi dan minum-minum sebentar, tiba-tiba seorang teman Domina berkata, “Ayo, Domina. Sekarang giliran kamu jadi foto model”, Dan degan sigap seorang teman Domina mengikat tangan Domina dengan tali ke belakang, sementara seorang yang lain mengikat kaki Domina. Domina pun marah, “Apa-apaan ini ? Dik, kamu yang merencanakan semua ini ya ? Kamu mau balas dendam ya ?”.  Sumi menjawab, “Tidak, kak. Ini rencana mereka sendiri”, Domina pun berontak. Tapi begitu melihat Domina berontak, teman-teman yang lain pun ikut ramai-ramai memegangi seluruh tubuh Domina. Karena Domina terus menerus berkata-kata dan menolak serta berontak, maka salah seorang teman Domina menutup mulutnya dengan lakban dan mengikatnya dalam posisi hogtied supaya ia tidak banyak bisa berontak melainkan hanya bisa berguling ke kiri atau ke kanan. Tangan Domina diikat dibelakang punggung dan kakinya diikat dalam keadaan terlipat mendekati pantat. Kemudian ikatan tangan dan kaki saling dihubungkan dengan tali yang pendek sampai kaki dan tangannya hampir saling bersentuhan.

Sumi yang melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri jadi bingung, pucat pasi dan tegang serta seperti mau menangis. Salah seorang teman Domina mendekati Sumi dan menenangkannya. Sementara teman yang lainnya berkata, “Ayo, dong Domina. Yang rileks dan pasrah saja. Jangan berontak. Kamu kan tahu kalau kami teman-temanmu sendiri. Kamu kan juga tahu kalau kami tidak bakal macem-macemin kamu. Seperti yang sudah kami perbuat kepada adikmu. Kami hanya mau mengambil fotomu dalam keadaan terikat. Masak kamu kalah sama adikku sendiri. Malu dong”. Rupanya perkataan ini bisa sedikit menenangkan Domina. Memang Domina juga sama sekali belum pernah menjadi model submissive. Kemudian temannya masih menambahi, “Tolong ijinkanlah kami menjadikan kamu model submissive sekali ini saja. Mumpung kamu pakai kain kebaya. Pakaian yang kata kamu sendiri paling cocok untuk karakter submissive. Soalnya baru 2 kali ini kami dapat model submissive yang memakai kain kebaya. Kapan lagi ?”. Domina pun semakin tenang. Tapi teman-temannya masih terus membesarkan hatinya, “Nah, begitu dong.  Kayak adikmu dulu. Masak kamu yang nasihati adikmu sendiri supaya tenang dan rileks sekarang tidak bisa menjalani sendiri. Nikmati saja pengalaman baru ini”.

Entah apa yang ada dalam pikiran Domina, tapi karena ia melihat sendiri kalau adiknya jadi ketakutan dan hampir menangis, maka ia jadi kasihan pada adiknya. Karena mulutnya masih di lakban, maka Domina memberi kode pada adiknya dengan mengangguk-angguk supaya adiknya mendekatinya. Adiknya yang tahu apa yang dimaksud Domina segera mendekat dan membuka dompet kakaknya serta mengambil sapu tangan untuk mengelap mukanya. Sumi berkata dengan lembut, “Kak, jangan berontak ya. Biar saja mereka mengambil foto kakak. Kakak juga jangan teriak-teriak, biar Sumi minta mereka membuka lakban di mulut kakak.”. Si kakak hanya bisa mengangguk-angguk. Air matanya menetes setitik dua titik, demikian juga dengan si adik. Setelah itu salah seorang teman Domina setuju untuk membuka lakban di mulut Domina. Tapi karena lipstik dan rias muka Domina jadi luntur dan belepotan, maka mereka merias ulang wajah dan menata ulang rambut Domina dalam keadaan telungkup dan dihogtied. Setelah selesai, mereka bersiap-siap untuk mengambil gambar Domina. Akhirnya si adik memberi kecupan pada kakaknya sambil berkata, “Bergaya yang manis ya kak, kayak Sumi dulu. Sekali-kali ngrasain jadi submissive. Nikmati pengalaman baru kayak omongan  kakak sendiri”.

Dan “Lights, camera, action” seorang teman Domina memberi aba-aba kalau sesi pengambilan foto sudah dimulai. Si adik sekarang yang jadi repot untuk mengatur posisi si kakak yang masih ngambek dan tentu saja tidak bisa bergaya karena di hogtied.

Setelah berulang kali pengambilan foto, derita Domina rupanya masih belum berakhir. Teman-temannya menghendaki ia di foto dalam keadaan sudah tidak dihogtied, tapi masih dalam keadaan terikat tangan dan kakinya. Maka meraka membuka tali penghubung antara ikatan tangan dan kaki Domina. Domina yang mengira kalau sesi foto sudah selesai jadi kecewa. Karena masih ada sesi foto yang kedua dimana ia akan diambil fotonya dalam keadaan terikat tangan dan kakinya tapi tidak dihogtied.  Tapi karena kain jarik yang dipakainya jadi lungset dan tidak rapi serta wironnya agak berantakan, demikian juga dengan kebayanya jadi tidak rapi.  Maka memerlukan waktu yang agak lama untuk Sumi membetulkan dan merapikan kebaya dan kain jarik serta wironnya.

Sesudah itu sekali lagi terdengar aba-aba, “lights, camera, action !”. Domina pun pasrah mematuhi perintah mereka untuk berdiri, duduk,, menggeletak di lantai dan sebagainya. Sumi sekali lagi membantu kakaknya untuk berpose. Mereka bahkan meminta Sumi untuk memakaikan toga dan topi wisuda kepada Domina. Domina pun berpikir dalam hatinya mungkin inilah yang namanya pemotretan  wisuda dalam bentuk yang lain. Atau ini yang namanya diwisuda menjadi submissive. Seorang temannya menyeletuk, “Ini namanya di wisuda jadi submissive”. Domina pun tersenyum kecut mendengarnya. Ya nasib. Tidak pernah jadi submissive, sekali jadi submissive dikerjai habis-habisan. Atau apakah ini yang namanya hukum karma. Habis ngerjain adiknya sekarang ganti dirinya sendiri  yang dikerjai teman-temannya. Tapi pikirnya masih mendingan adiknya dulu waktu jadi submissive, soalnya cuma diikat tangan dan kakinya. Tidak sampai di lakban mulutnya dan dihogtied.

Setelah selesai, akhirnya mereka berdua pulang kembali ke rumah. Di dalam perjalanan Sumi sempat bertanya begini pada kakaknya, “Gimana kak rasanya jadi model submissive ?  Sumi dulu takut sekali. Kakak takut nggak ?”. Domina tidak menjawab, ia hanya diam dan matanya memandang kosong ke depan. Dari tadi ia membisu, mulutnya ditutupnya dengan saputangannya hingga saputangannya membekas lipstick. Tapi adiknya merajuk dan menyenderkan kepalanya ke bahunya, hingga akhirnya melorot sampai ke pangkuannya. Domina pun jadi mengelus-elus rambut dan kepala adiknya. Hingga akhirnya keduanya saling berpelukan.

Dominahog

4 thoughts on “Wisuda

  1. Pingback: Among tamu | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s