Merias kakak

Ini adalah cerita lanjutan dari Domina dan Sumi. Dimana setelah adiknya di hogtied dan menangis tapi berhasil ditenangkan, akhirnya Domina melepaskan adiknya dari ikatannya. Karena kuatir ibunya akan pulang. Dan memang betul, begitu Domina selesai melepaskan ikatan Sumi, ibu mereka datang.

Ibu mereka kemudian menghampiri kedua anaknya sambil berkata, “Sumi, kamu masih pakai kain kebaya mama ?” .  Dan karena dilihatnya Domina juga ada disitu serta memandang Sumi karena takut adiknya akan mengadu, maka si ibu pun berkata, “Ina, kenapa kamu memandang adikmu seperti itu ? Apa kamu kepingin juga pakai kain kebaya ?”. Tapi tanpa menunggu jawaban dari anaknya, si ibu berlalu. Maka kesempatan ini segera dimanfaatkan oleh Sumi, ia berkata, “Iya, ma. Kakak kepingin pakai kain kebaya lagi. Biar Sumi yang mendandani dia”, Sumi kemudian berbisik lirih di telinga Domina, “Awas, kalau kakak menolak akan ku adukan sama mama”. Domina tidak bisa menjawab. Si ibu tanpa menoleh  bertanya, “Apa betul Ina ?”.  Sumi pun mencubit lengan kakaknya sambil mengiyakan pertanyaan ibunya, “Iya, betul kan, kak ?”. Karena Domina diam saja, maka adiknya semakin memperkeras cubitannya, hingga akhirnya Domina terpaksa mengiyakan.

sumicubit

Sumi pun segera melepas pakaian dan sanggulnya dengan maksud untuk memakaikannya ke kakaknya. Domina jadi cemberut, wajahnya ditekuknya. Adiknya kemudian merajuk dan mengelus dagu kakaknya sambil berkata, “Duh, duh, duh. Kok kayak gitu sih, kak. Masak mau dirias malah cemberut kayak gitu. Senyum yang manis dong”. Tapi wajah Domina tetap saja cemberut.

Sumi mulai memberi aba-aba dan mengarahkan kakaknya. Pertama, kakaknya disuruhnya membuka pakaiannya hingga tinggal memakai pakaian dalam. Sesudah itu ia mulai dengan memakaikan sandal hak tinggi. Kemudian Sumi berkata, “Kak, kakinya dirapatkan. Yang kiri maju sedikit”.Maka mulailah ia memakaikan kain wiron kepada kakaknya. Ujung kain ditempelkan dipinggang kiri kakaknya dan kakaknya disuruhnya memegangi ujung kain itu. “Kakinya kurang rapat, dirapatkan lagi sedikit”. Domina menuruti perintah adiknya. Sumi segera memutar kain wiron itu sekeliling pinggang Domina. Percobaan pertama,  ujung luar wironnya terlalu ke kiri, maka ia membuka lilitan kain dan menggeser serta mengulangi lagi memutar kainnya. Percobaan kedua, ujung luar wironnya jatuh di tengah pas masih kurang ke kanan sedikit. Kakaknya jadi tidak sabar, lalu berkata, “Cepetan dong, dik”. Baru pada percobaan ketiga ujung luar wironnya jatuh di tengah agak ke kanan sedikit. Tapi kakaknya berkata, “Dik, kok rapet banget. Ntar kalau kakak nggak bisa jalan, kakak minta gendong kamu ya”. Sumi lalu mengikat pinggang kakaknya dengan tali kencang-kencang. Kakaknya mengeluh, “Dik, jangan kencang-kencang ngikatnya”. Sumi menjawab, “Ya, harus kencang, kak. Biar nggak melorot kainnya”. Sumi kemudian memakaikan stagen. Kakaknya mengeluh, “Dik, nggak usah pakai itu, dik. Nanti kakak nggak bisa nafas”. Adiknya menjawab sambil meremas pantat kakaknya dan kemudian menepuknya, “Ya, kakak… harus pakai ini dong. Biar pinggangnya jadi ramping terus pinggulnya jadi bahenol”. Domina tidak bisa menyembunyikan senyumnya mendengar rayuan adiknya. Sumi yang melihat kakaknya tersenyum berkata, “Nah, gitu dong, kak. Tersenyum”. Sesudah korset, kemudian kebayanya dipakaikan ke kakaknya. Terakhir kakaknya dimintanya duduk untuk disanggul rambutnya dan dirias wajahnya.

Setelah selesai, Sumi memanggil-manggil ibunya untuk memperlihatkan hasil pekerjaannya. Tapi ternyata ibu mereka ada dilantai atas rumahnya. Maka Sumi mengajak kakaknya naik tangga. Domina pun beranjak dari kursi dan mencoba berjalan, tapi ia merasakan kain wironnya terlalu sempit sehingga ia hampir tidak bisa melangkah. “Wah dik, kamu memakaikan kain wironnya terlalu sempit. Kakak jadi tidak bisa jalan. Kamu gendong kakak ya”, katanya sambil merangkul adiknya dari depan dengan kedua tangannya dan mulai menmindahkan berat badannya ke pundak adiknya. Adiknya jadi tertawa dan Domina pun ikut tertawa. Sumi lalu berkata, “Yah, kak. Masak minta gendong. Sumi nggak kuat nggendong kakak. Belajar melangkah pakai kain wiron kayak  gadis Jawa, dong. Langkahnya yang kecil-kecil sama sempit-sempit. Jangan main cincing jarik”.

Kakaknya mulai melangkah dengan langkah yang sempit dan kecil. Adiknya mengomentari, “Nah, gitu kak. Kayak dulu waktu kakak di wisuda apa pas jadi among tamu. Masak kakak lupa”. Domina kemudian bertanya kepada adiknya, “Kita mau ke mana ?”. Adiknya menjawab, “Kita naik ke loteng, Sumi mau nunjuki mama hasil dandanan Sumi”. Domina balik menjawab, “Naik loteng ? Ampun ! Nggak déh. Kamu mau ngerjain kakak ya ? Buat melangkah saja sulit, apalagi buat naik tangga. Bisa jatuh kesandung tangga”.  Adiknya menjawab, “Nanti Sumi tuntun. Kakak tenang saja. Tapi kainnya jangan dicincing, kak. Nggak boleh. Caranya kakak jalan miring sambil mata kakak melihat anak tangga”.  Domina pun menuruti kemauan adiknya. Ia berjalan miring dengan kepala menunduk dan mata melihat anak tangga. Setelah lama, barulah mereka sampai di lantai atas.

naiktangga

Di lantas atas setelah melihat Domina, sang ibu berkata, “Sumi, kamu sudah pintar merias dan mendandani kakakmu dengan kain kebaya. Ina, kamu juga tampak cantik dengan pakaian itu”. Kemudian ibu mereka melayangkan pandangannya ke bawah melalui jendela luar sehingga tidak  lagi memandang kedua anak itu sambil berkata, “Kebetulan mama beberapa hari lagi  ada acara demo tata rias tradisional.  Mama perlu assisten untuk merias. Bagaimana kalau kamu, Sumi jadi assisten rias mama. Sementara kakakmu, Ina jadi modelnya”. Domina jadi merasa seperti terjebak. Ia diam saja. Hanya Sumi yang mengiyakan perkataan ibunya. Maka Sumi mencubit kakaknya sambil memberi kode dengan mengangguk-angguk. Tapi karena kakaknya diam saja, maka Sumi semakin memperkeras cubitannya. Hingga akhirnya Domina terpaksa mengiyakan perkataan ibunya. Dalam hatinya Domina berkata kalau ia dikerjai adiknya.

Sesudah itu kedua kakak beradik itu meninggalkan ibu mereka. Setelah di kamar, Domina tidak kepikiran lagi untuk segera menanggalkan kain kebayanya , karena emosinya sudah  mendidih dan segera mendamprat adiknya habis-habisan, “Dik, kamu mau mengerjai kakak habis-habisan ya. Kakak sudah kamu suruh pakai kain kebaya, masih kamu paksa naik tangga. Terus besok masih mau kamu jadiin model lagi. Kamu seneng ya, puas ya lihat kakak tersiksa pakai pakaian macam begini”. Adiknya menjawab, “Yah, kak. Kan kakak sendiri tadi yang bilang ya waktu ditanya mama kepingin pakai kebaya apa nggak. Terus kakak sendiri juga yang bilang ya waktu mama tanya apa besok bisa jadi model rias tradisional”. Kakaknya  emosi dan menjawab sambil menuding adiknya, “Itu semua kan akal-akalanmu, dik. Kakak kamu cubit sampai sakit, jadi kakak terpaksa bilang ya”. Adilknya menimpali, “Tapi tadi kan Sumi sudah bilang kalau Sumi mau merias kakak pakai kain kebaya. Kakak juga bilang ya”. Kakaknya semakiin emosi dan menjawab dengan berteriak, “Dasar akal bulus !”. Adiknya menjawab, “Kak, ini bukan akal bulus. Sumi cuma mau kakak bisa belajar mencintai busana nasional kita. Lagi pula kan Sumi nggak ngiket-iket tangan sama kaki kakak. Nggak seperti kakak ngiket-iket tangan sama kaki Sumi”.

Meledaklah amarah Domina, Sumi didorong ke belakang hingga jatuh. Kemudian ia menjatuhkan diri ke atas badan Sumi dan memukulinya. Sumi pun menjerit-jerit sambil menahan pukulan kakaknya dengan kedua tangannya. Serta merta ayah yang kebetulan juga barusan pulang dan ibunya menghampiri mereka serta melerai mereka. Marahlah kedua orang tua mereka. “Ina, kau apakan adikmu ? Apa sebabnya hingga kamu berdua berkelahi ?” . Kedua anak itu tidak bisa menjawab pertanyaan orang tuanya. Tapi sebentar kemudian ibu mereka berbisik kepada suaminya dan memberitahukan bahwa sebelumnya ia juga memergoki Domina mengikat adiknya.

inahhitsumi

Kemudian orang tua mereka mengintrogasi Domina. Terlebih dahulu Domina disuruh  bersimpuh di lantai. Semakin jengkellah Domina, karena ia disuruh bersimpuh dengan kain jarik yang ketat membebat kakinya dan stagen yang kencang dipinggangnya. Ia mau minta ijin untuk berganti pakaian terlebih dahulu, tapi takut kepada kedua orang tuanya. Ia jadi setengah menyesal kenapa ia tadi tidak ganti pakaian terlebih dahulu sebelum memarahi adiknya. Tapi Domina tetap diam seribu bahasa, karena mengetahui kalau dirinya berada dalam posisi yang salah. Akhirnya ayah mereka menghukum Domina dengan mengikat tangan Domina ke belakang. Lalu disuruhnya Domina tetap bersimpuh di lantai. Domina jadi cemberut dan masam serta kesal wajahnya, dalam hatinya ia berpikir memangnya ia sinden disuruh bersimpuh terus di lantai sementara tangannya terikat dengan kencang di belakang punggungnya. Ia pun mulai merasakan kakinya pegal dan kesemutan.

inadihukumpapa

Inilah akhir dari cerita kali ini. Akhir yang merupakan happy end bagi Sumi, karena ia berhasil memenuhi keinginannya yaitu merias dan mendandani Domina dengan kain kebaya. Tapi merupakan sad end bagi Domina, karena sekali lagi ia harus menerima hukuman diikat tangannya dan tidak bisa menikmati menjadikan adiknya model submissive. Walaupun sudah 2 kali ia mencoba melakukannya, tapi semuanya terganggu. Pertama, ia kepergok ibunya ketika hampir selesai mengikat adiknya dalam posisi hogtied. Kedua, adiknya bertingkah dan menyulitkan dirinya serta menangis ketika akan dihogtied.

One thought on “Merias kakak

  1. Pingback: Jadi model tata rias | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s