Kisah si lesbi

Ini adalah lanjutan dari kisah Domina dan Sumi. Setelah sebelumnya mereka dikerjai oleh Lesbi dan kawan-kawan, Domina dan Mini sepakat untuk membalas dendam kepada Lesbi. Apalagi Lesbi orangnya maskulin banget dan tidak pernah pakai rok, tapi selalu memakai celana. Dalam pikiran mereka tentu sangat lucu dan menyenangkan untuk bisa melihat dan mengerjai Lesbi dengan bersanggul dan memakai kain kebaya. Maka Domina dan Mini mengatur siasat. Sumi, mereka ajak juga. Karena mereka perlukan terutama untuk memakaikan kain wiron dan stagennya ke tubuh Lesbi serta menyanggul rambutnya.

Mereka mengatur waktu supaya pas di saat ibu Domina ada peragaan tata rias make up tradisional dan Domina serta Sumi tidak kebagian tugas, Lesbi mereka ikutkan dengan  paksa. Skenarionya mereka atur supaya ibu Domina sudah berangkat dulu dari rumah. Baru Lesbi datang ke rumah. Kemudian mereka bertiga akan melucuti pakaian Lesbi dan menggantikannya dengan kain kebaya serta menyanggul rambutnya. Rencana pun mereka susun dengan matang dan teliti.

Tibalah hari H nya. Lesbi mereka undang ke rumah Domina dan Mini juga sudah ada disana. Tapi begitu Lesbi datang, pintu ruang tamu mereka kunci dan Lesbi mereka sergap dari belakang. Tangan Lesbi dipegang oleh Domina dan Sumi. Mulut Lesbi mereka lakban. Lalu mereka membawa Lesbi ke ruang dalam. Di ruang dalam Mini kebagian membuka celana panjangnya. Lesbi biar pun meronta-ronta tapi tidak bisa melepaskan diri. Setelah celana panjang dan sepatu dilucuti, kemudian giliran baju Lesbi dilucuti. Lesbi pun tinggal memakai pakaian dalam.

Barulah setelah itu tangan dan kaki Lesbi mereka ikat kencang-kencang dan Sumi kemudian mulai merias wajah serta memasang sanggul di kepala Lesbi. Tapi Sumi bingung, karena mulut Lesbi dilakban jadi tidak bisa di makeup. Maka Sumi bertanya kepada Domina bagaimana dengan mulutnya. Kemudian Domina membuka lakban di mulut Lesbi, tapi sebelumnya Domina sudah mengancam akan menampar mulutnya jika Lesbi berteriak.

Ketika Lesbi sudah selesai dimakeup dan disanggul  Domina kemudian berkata, “Tibalah saatnya memasuki tahap memakaikan pakaian yang membuat seorang wanita menjadi demikian anggunnya yaitu kain kebaya”. Kemudian Sumi mulai memakaikan sandal jinjit dan kain wiron ke kaki Lesbi yang terikat rapat. Dilanjutkan dengan memakaikan stagen dan korset. Tapi waktu akan memakaikan kebaya, terpaksa tangan Lesbi mereka buka dari ikatannya untuk memasukkan lengan kebaya ke lengan Lesbi.  Domina dan Mini jadi bingung, karena hal ini dapat membuka peluang bagi Lesbi untuk melawan. Tapi sebentar kemudian mereka mendapat akal. Sebelum mereka membuka ikatan tangan Lesbi, mereka mengikatkan tali ke masing-masing tangan Lesbi. Lalu Domina dan Mini masing-masing memegang ujung tali yang lain . Sehingga dengan demikian mereka masih bisa mengendalikan tangan Lesbi. Sesudah itu barulah lengan kebaya dimasukkan ke lengan Lesbi dan kebaya dikancingkan. Kemudian tangan Lesbi mereka ikat kembali ke belakang punggungnya. Dengan demikian sebetulnya kaki Lesbi masih terikat. Cuma karena tertutup oleh kain wiron, maka kaki Lesbi tidak kelihatan diikat.

Lesbi1

Lesbi2

Lesbi3

“Selesailah sudah. Engkau sekarang menjadi seorang wanita Jawa yang sempurna anggunnya”, demikian kata Domina mengejek Lesbi dan memutar badan Lesbi menghadap cermin besar. Katanya lagi, “Lihat dan perhatikan baik-baik dirimu di dalam cermin, Lesbi !. Engkau sekarang adalah seorang aristokrat Jawa. Rambutmu sekarang bermahkotakan sanggul. Mahkota yang harus engkau tanggung beban beratnya”. Sambil dipegangnya sanggul Lesbi dan digoyang-goyangkannya sedikit. “Pinggangmu sekarang menjadi ramping”. Dan digerayanginya pinggang Lesbi. ” Gundukan payudaramu menyembul sempurna” .  Diraba-rabanya payudara Lesbi. “Pinggulmu sekarang menjadi montok dan membesar persis seperti gitar”.  Dipegangnya pinggul Lesdi , diremasnya dan ditaboknya kedua pantat Lesbi. Lesbi jadi merinding. “Ini semua berkat pakaian luhur wanita Indonesia, kain kebaya”. Domina lalu membiarkan Lesbi memandang dirinya sendiri didalam cermin.

Lesbi jadi cemberut dan memandangi dirinya sendiri dari kaki sampai ke kepalanya berulang-ulang lewat cermin yang ada di hadapannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Lalu tibalah saatnya bagi Lesbi untuk memohon ampun dan belas kasihan. Katanya, “Ina, Mini, Sumi. Aku mohon maaf atas perbuatanku kapada kamu bertiga. Aku mohon lepaskan aku dari pakaian kain kebaya ini. Soalnya aku sama sekali tidak menyukainya dan juga sama sekali tidak pernah memakainya sebelum ini. Jangankan pakai kain kebaya, pakai rok pun aku tidak pernah. Aku tidak bisa bernafas dan bergerak kalau pakai ini. Please, please”. Kata Lesbi sambil berjongkok di hadapan Domina, Mini dan Sumi. Domina malah menjawab, “Lesbi, jangan kuatir nanti kamu juga kita ajari cara laku ndodok, berjalan sambil berjongkok. Kamu memang betul-betul berbakat untuk menjadi wanita aristokrat Jawa. Coba sekarang kamu mulai jalan jongkok dari sini dari ruang tengah ke ruang depan ruang tamu”. Lesbi pun diam saja.

Domina yang tadinya hanya berkata tanpa sengaja sekarang jadi dapat ide, diambilnya tali dan dibuatnya lasso serta dikalungkannya ke leher Lesbi. Lalu Domina mendahului Lesbi melangkah perlahan-lahan menuju ruang depan sambil sesekali menoleh kebelakang untuk melihat Lesbi dan berkata, “Ayo, mulai mlaku ndodok !”. Lesbi pun terpaksa mulai berjalan, tapi terlebih dahulu ia bermaksud untuk berdiri supaya bisa berjalan dengan berdiri. Tetapi ketika ia akan berdiri, Domina menyentakkan sedikit  dan menarik talinya kebawah sehingga Lesbi tidak jadi berdiri. Domina kemudian berkata, “Awas, kalau coba-coba berdiri. Talinya akan kusentakkan dan kutarik kuat-kuat !”. Terpaksalah Lesbi mlaku ndodok. Sementara Mini dan Sumi jadi tertawa.

Lesbi4

Setelah sampai diruang tamu, Domina berlagak seperti ibunya sendiri yang sedang menasehati dirinya,  Domina. Katanya, “Lesbi, sebetulnya kami tidak bermaksud untuk mengikat tangan dan kaki kamu. Tapi kalau kami lepaskan ikatan kaki dan tangan kamu. Kamu pasti membuka pakaian kamu itu. Padahal sebagai wanita Indonesia, mestinya kamu harus belajar mencintai busana nasionalnya. Jadi supaya kamu bisa belajar mencintai busana nasional kita, terpaksa tangan sama kaki kamu kita ikat. Sorry lho ya”. Kemudian disuruhnya adiknya menelpon ibunya untuk memberitahu bahwa mereka siap meluncur ke acara peragaan tata rias tradisional dengan membawa seorang sukarelawati.  Maka Sumi segera menelpon ibunya, “Ma, kami mau pergi ke acara peragaan tata rias. Kebetulan ada teman yang bersedia jadi model. Dia sudah aku dandani. Apa bisa kita ke sana ?”. Ibunya menjawab kalau mereka boleh pergi ke acara peragaan tata rias.

Lesbi yang tahu kalau dia bakal dijadikan model tata rias memprotes, “Ya, ampun. Jangan jadikan aku model tata rias. Ampun ! Lebih baik aku kamu sekap di sini saja daripada aku ditonton orang banyak pakai pakaian kayak begini”.  Domina menjawab, “Ya, ampun Lesbi. Masak pakai pakaian nasionalnya sendiri malu. Mestinya bangga dong, kalau pakai bikini didepan orang banyak baru boleh kamu malu. Ayo, kita berangkat”.

Tapi sebelum berangkat, kaki Lesbi mereka buka ikatannya. Walapun  sebetulnya dibuka atau tidak hampir tidak ada bedanya, karena kaki Lesbi juga terbelit dengan ketatnya oleh kain wiru. Setelah kaki Lesbi dibuka ikatannya, Domina berkata, “Nah, sekarang ikatan kakimu sudah kami buka. Jadi kamu bisa melangkah dengan bebas, sayang” sambil dielusnya dagu Lesbi. Lesbi menjawab, “Melangkah dengan bebas gimana ? Lha wong kakiku dibelit sama jarik yang ketatnya kayak begini gitu kok”. Tapi tangan Lesbi tidak mereka buka ikatannya. Dan untuk menutupi tangan Lesbi  supaya tidak kelihatan terikat, maka mereka menutupinya dengan selendang yang mereka kalungkan dileher Lesbi ke belakang punggungnya. Mereka segera berangkat ke tempat acara peragaan tata rias.

Lesbi5

Setelah sampai di tempat peragaan, barulah tangan Lesbi mereka buka ikatannya. Tapi Domina, Sumi dan Mini tetap terus menjaga , memegangi dan mengawalnya dari kini, kanan dan belakang.

Ternyata di tempat peragaan itu Domina juga sudah mengundang teman-teman Lesbi yang juga merupakan teman Domina yang dulu juga ikut mengerjainya. Domina mengundang mereka dengan maksud untuk mempermalukan Lesbi. Begitu mereka melihat Lesbi bersanggul dan memakai kain kebaya, maka riuh rendahlah mereka mengejek, menyoraki dan menepuki Lesbi serta bersiul-siul. “Nah, gitu dong. Yang insaf, sadar. Jadi wanita betulan”. “Cailé, sekarang sudah jadi ibu-ibu, Pakai kondé sama jarikan”, “Wah, sekarang feminin banget déh kamu”. “Néng, ati-ati néng kalau jalan. Entar kesrimpet sama kainnya”. “Bisa jalan nggak nih ? Apa perlu kita gendong ?”. Semakin merah padamlah Lesbi mendengar ejekan teman-temannya. Sementara itu semakin banyak orang yang berlalu lalang mendadak jadi berhenti sebentar untuk melihat apa yang terjadi. Tapi Domina sengaja tidak segera membawa Lesbi masuk ke dalam gedung dan membiarkan teman-teman mereka mempermalukan Lesbi di depan umum.

Setelah humiliation ( penghinaan ) dirasa cukup oleh Domina, barulah mereka mengajak  Lesbi masuk ke dalam gedung. Di belakang panggung Sumi membisiki ibunya. Rupanya ia memberitahu ibunya  bahwa temannya yang bernama Leslie Arimbi sangat amat kepingin tampil di atas panggung. Padahal itu hanyalah akal-akalan dari Domina, Sumi dan Mini untuk mengerjai Lesbi. Bagaikan gayung bersambut, rupanya si ibu meluluskan permintaan anaknya. Domina, Sumi dan Mini senang bukan main. Sebaliknya Lesbi jadi semakin dongkol dan tersiksa.

Begitu nama Leslie Arimbi  diumumkan, maka Domina, Sumi dan Mini segera menggeret Lesbi menuju pintu masuk ke atas panggung hingga sampai persis di ambang pintu.  Lesbi sudah tidak dapat berbalik dan menolak lagi, karena ia sudah terlihat oleh penonton termasuk teman-teman Lesbi sendiri. Maka mereka sekali lagi riuh rendah  berteriak-teriak dan bertepuk tangan. Lesbi pun berjalan dengan susah payah dan terhuyung-huyung. Wajahnya menunduk. Sebelah tangannya memegang wiron kainnya. Ia harus berjuang mati-matian supaya tidak terpeleset jatuh karena sandal jinjitnya dan supaya tidak kesrimpet kain wironnya. Untungnya setelah berjalan beberapa langkah, ibu Domina dan Sumi membimbingnya.

Ibu Domina kemudian berkata di microphone yang semakin membuat Lesbi menjadi malu. Katanya, “Rupanya adik kita yang satu ini belum terbiasa memakai kain kebaya. Jadi kelihatan kalau kesulitan waktu berjalan. Yah, semua memang harus dimulai dari nol. Tapi kalau Arimbi sudah bisa mencintai busana nasional kita, maka itu sudah merupakan suatu awal yang baik. Terus terang ibu sangat senang dengan perubahan ini, Arimbi yang biasanya selalu memakai celana sekarang sudah mulai belajar memakai kain kebaya. Tinggal belajar membiasakan diri memakai kain kebaya.  Arimbi harus sering-sering memakai kain kebaya setiap ada kesempatan yang tepat”. Sumi yang berada disebelah Lesbi membumbui dengan membisikinya sambil mencubit, “Tuh, dengerin. Harus sering-sering pakai kain kebaya biar terbiasa. Nanti jalannya jadi nggak kesrimpet sama terhuyung-huyung sampai mau jatuh kayak gini”.

Di panggung Lesbi disuruh berputar untuk memperlihatkan bagian belakang kondenya. Kemudian ibu Domina memegang kain wironnya dan menarik serta membuka sedikit ujung kainnya untuk memperlihatkan arah ujung luar kain wironnya. Untungnya Lesbi tidak terlalu lama dipanggung. Setelah itu Lesbi dipersilahkan meninggalkan panggung. Lesbi pun kembali harus berjalan sambil kesrimpet-srimpet dan terhuyung-huyung untuk meninggalkan panggung sambil disoraki dan ditepuki oleh penonton.

Di belakang panggung Lesbi sudah merasa sedikit lega, karena gilirannya untuk tampil di panggung sudah lewat. Tapi di akhir acara ternyata para model harus kembali tampil di panggung secara bersamaan. Jengkellah Lesbi, tapi ia berusaha menyembunyikan kejengkelannya di depan semua orang lain. Tapi di akhir acara ini ia harus berjalan sendiri tanpa dibimbing Sumi atau orang lain, karena semua model berjalan berurutan seperti berbaris.

Sesudah acara selesai, maka cepat-cepat Domina, Sumi dan Mini menunggu tepat di ambang pintu panggung. Kuatir kalau Lesbi melarikan diri. Dan begitu Lesbi tiba di ambang pintu, maka mereka bertiga menyeretnya ke kamar kecil. Di kamar kecil, mereka kembali mengikat tangan Lesbi ke belakang punggungnya dan menutupinya dengan selendang yang mereka sampirkan di leher Lesbi ke belakang punggungnya. Sesudah itu mereka segera membawanya ke dalam mobil.

Sesampai di rumah, Domina kembali mengerjai Lesbi. Ia mengalungkan tali lasso di leher Lesbi. Kemudian Lesbi disuruhnya turun persis di gerbang halaman rumah dengan tali yang masih mengikat di lehernya dan ujung yang lain dipegang oleh Domina di dalam mobil. Ia memerintah, “Lesbi, sekarang kamu turun. Terus tolong bukakan pintu pagarnya”. Lesbi tidak ada pilihan lain, diturutinya perintah Domina. Dibukanya pintu gerbang lebar-lebar dengan tangan yang masih terikat di belakang. Kemudian mobil itu masuk ke halaman dan berhenti tepat di depan pintu halaman. Domina berkata lagi, “Tolong tutup rapat-rapat pagarnya !”. Lesbi kembali menuruti perintah Domina. Tapi setelah itu mobil kembali melaju tanpa memberi kesempatan kepada Lesbi untuk masuk kedalamnya. Terpaksa lah Lesbi lari terbirit-birit sambil kesrimpet-srimpet mengikuti mobil supaya lehernya tidak tercekik tali. Padahal halaman rumah Domina cukup panjang juga. Di dalam mobil Domina, Sumi dan Mini malah tertawa terkekeh-kekeh. Kata Domina, “Lari-lari biar sehat ! Men sana incorpore sano. Tapi hati-hati, non ! Jangan sampai kesrimpet jarik !”. Lesbi lari lintang pukang dan karena takut keseleo sandal jinjitnya, maka dilepasnya sandal jinjit itu sambil terus berlari. Tapi karena kakinya dibebat kain jarik yang sempit, maka tetap saja ia tidak  bisa melangkah lebar-lebar.

Lesbi6

Sesampainya di teras karena dilihatnya sandal jinjit yang dilepas dengan dilempar begitu saja, maka Domina punya alasan untuk menghukum Lesbi. Katanya, “Lesbi, sandal  yang kamu pakai itu mahal harganya masak kamu buang begitu saja. Bisa rusak dong kalau kamu lempar-lempar”. Lesbi jadi tidak enak, lalu menjawab, “Habis daripada resiko keseleo”.  Domina lalu menyuruh  Lesbi untuk kembali mengambil sandal yang dilemparnya.

Sesudah itu mereka membawa Lesbi masuk ke kamar. Karena mereka bermaksud menghukum Lesbi dengan mengikatnya dalam posisi hogtied. Lesbi yang belum pernah dihogtied sebelumnya memberontak dan berteriak-teriak. Maka Domina menutup mulut Lesbi dengan lakban. Tak lama kemudian Lesbi sudah terikat dengan posisi hogtied. Domina lalu berkata, “Ini hukuman buat kamu karena melempar sandal. Tapi ini belum selesai. Kamu akan kusabet”. Lalu diambilnya mistar dari logam dan disabetkannya ke pantat Lesbi berulang-ulang. Lesbi pun jadi kelejotan dan kejét-kejét. Melihat reaksi Lesbi, Domina segera menghentikan sabetannya dan membiarkan Lesbi beristirahat sebentar dengan maksud supaya ia bisa memulihkan tenaganya untuk siksaan berikutnya.

Rupanya derita Lesbi masih berlanjut, karena ternyata dendam Domina cs masih belum terlampiaskan sampai tuntas. Selanjutnya giliran Mini yang diberi kesempatan untuk menghukum Lesbi.  Ternyata Mini sudah mempersiapkan alat kejut listrik. Ia segera memperlihatkan benda itu di depan mata Lesbi. Mata Lesbi jadi membelalak dan ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tetap saja Mini menempelkan alat itu di telapak kaki Lesbi. Lesbi pun jadi kejang-kejang dan kelojotan. Beberapa kali Mini melakukan hal itu hingga Lesbi jadi lemas. Barulah sesudah itu ia menghentikan siksaannya.

Sesudah membiarkan Lesbi beristirahat sebentar, mereka membuka lakban di mulutnya dan mendudukkannya dalam posisi bersimpuh di lantai. Kemudian Mini berkata, “Lesbi, sayang. Tahu nggak kalau kami kasihan banget  sama kamu. Tentu tenaga kamu sudah habis lantaran disabet sama distrum. Maka kami bawakan buah untuk mengisi kembali energimu. Ini nih pisang yang bukan main besarnya”. Lalu diunjukkannya pisang itu ke mulut Lesbi. Tentu Lesbi menolak dan memalingkan kepalanya. Tapi Domina dan Sumi dengan sigap memegangi tubuh Lesbi, memutar kembali lehernya ke depan dan membuka mulutnya dengan paksa. Lalu Mini segera menjejalkan pisang itu ke mulut Lesbi.

Lesbi7

Setelah selesai dengan pisang, mereka membawakan Lesbi sebuah minuman yang sangat istimewa yaitu jamu tanpa gula dan madu. Kata Mini, “Lesbi sayang. Kalau habis makan tidak minum kan tidak enak. Makanya aku bawakan kamu minuman istimewa untuk pelepas dahagamu”. Walaupun Mini tidak menyebut kalau minumannya itu jamu, Lesbi bisa membauinya. Maka ia pun kembali menolak dan memalingkan kepalanya. Tapi sekali lagi Domina dan Sumi dengan sigap memegangi tubuh Lesbi, memutar kembali lehernya ke depan dan membuka mulutnya dengan paksa.  Jamu pun digelogokkan ke dalam mulut Lesbi.

Lesbi8

Selang beberapa saat ketika Lesbi mulai pulih tenaganya dan disaat ketiga penghukumnya masih memikirkan hukuman selanjutnya, tiba-tiba ada suara mobil masuk ke halaman. Mereka segera tahu kalau itu ibu Domina. Maka mereka segera melepaskan ikatan Lesbi. Tapi bersamaan dengan itu Domina memerintah Sumi untuk mengguyur pakaian yang dipakai Lesbi dari rumah dengan air supaya Lesbi tidak bisa ganti pakaian. Kemudian mereka merapikan sanggul dan kain kebaya Lesbi yang acak-acakan serta sedikit merias ulang wajahnya.

Setelah selesai merias Lesbi, mereka berempat segera keluar untuk menyambut ibu Domina. Ibu Domina kaget, karena Lesbi ternyata ada di rumahnya dan masih memakai kain kebaya. Ia pun bertanya, “Ari, kamu masih disini ? Kamu tidak ganti pakaian ?”. Domina mendahului menjawab, “Ya, ma. Ia baru belajar membiasakan diri memakai kain kebaya”. Sesudah itu mereka bertiga pamitan pada ibu Domina untuk mengantarkan Lesbi ke rumahnya.

Sesampai di rumah Lesbi, mereka disambut ibu Lesbi. Ibu Lesbi kaget bukan alang-kepalang melihat puterinya berdandan cantik sangat feminin dengan sanggul dan kain kebaya. Dipeluk dan diciumnya anaknya itu sambil berkata, “Nduk, kamu kok tiba-tiba berubah 180 derajat begini. Ibu sangat senang lho nduk. Kamu jadi feminin, dewasa dan keibuan. Ibu jadi pangling “. Lesbi diam tidak bisa menjawab apa-apa. Dalam pikirannya mungkin ia mendongkol.

Melihat Lesbi hanya diam saja, maka kesempatan ini segera digunakan oleh Sumi. Ia segera berkata, “Ya, bu. Arimbi sekarang sudah berubah. Ia tadi ikut peragaan tata tradisional, jadi model. Besok bulan depan tanggal 15 akan ada acara seperti itu lagi. Apa Arimbi boleh ikut ?”. Si ibu tanpa pikir panjang segera mengiyakan permintaan Sumi. Katanya, “Ya, nak. Tentu saja boleh. Besok pas tanggalnya tolong ibu diingatkan. Nanti biar ibu yang mengingatkan dia”. Bertambah dongkollah Lesbi. Sesudah itu Domina, Sumi dan Mini segera berpamitan untuk pulang.

Setelah teman-temannya pulang, Lesbi segera masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar ia segera membuka dan melemparkan sanggul, sandal  serta pakaiannya sambil menangis karena jengkel dan dongkol. Kedua kakinya dijejak-jejakkannya di lantai. Tapi ibunya  sebentar kemudian juga ikut masuk ke kamarnya. Kemudian dipeluknya anaknya itu sambil berkata, “Memang sangat sulit dan berat untuk memakai pakaian yang belum pernah kamu pakai sebelumnya. Ibu mengerti kalau kamu jadi jengkel dan menangis, apalagi kalau kamu tadi diejek sama teman-teman kamu yang tidak suka sama pakaian yang kamu pakai. Tapi kamu kan sudah besar jadi mestinya kamu sudah bisa mengendalikan emosimu dan tindakanmu mulai belajar memakai kain kebaya itu sudah benar. Ibu bangga karena kamu bisa sadar dan  mulai mengenali busana nasionalmu tanpa ibu paksa. Kamu tinggal membiasakan diri. Kamu harus bisa ikut acara semacam ini bulan depan. Ibu akan dukung penuh kamu”. Lalu diciumnya anaknya itu.

Dalam hati Lesbi berpikir. Sungguh ekstrim kejadian yang menimpanya  hari ini. Sampai tadi pagi ia belum pernah sama sekali memakai pakaian kain kebaya. Tiba-tiba dengan mendadak ia dipaksa oleh teman-temannya sendiri untuk memakai kain kebaya. Itu belum seberapa, ia yang sebelumnya tidak pernah menjadi submissive di hari itu dikerjai habis-habisan oleh teman-temannya. Diikat kaki dan tangannya, dipermalukan di depan umum, di hogtied, di sabet, di setrum, dicekoki pisang dan jamu. Ia yang tidak pernah tampil feminin dan selalu tampil maskulin dalam sehari ini harus tampil feminin. Bahkan ia sampai terpaksa menangis sekalipun tanpa diketahui  oleh teman-temannya. Ini semua karena perbuatan ketiga temannya itu. Tapi bagaimana ia bisa membalas dendam atas semuanya ini ? Teman yang mengerjainya berjumlah 3 orang dan lagi pula mereka semua juga sudah pernah memakai kain kebaya serta pernah dikerjainya menjadi submissive. Tentu hal ini tidak akan menjadi begitu surprise lagi bagi mereka. Sementara itu ia harus menghadapi suatu event yang akan memaksanya untuk memakai kain kebaya lagi. Atau haruskah ia menerima semuanya ini dengan pasrah dan bersyukur, karena ibunya jadi senang dan bangga kepadanya. Haruskah ia mulai belajar mengenali sisi-sisi feminin dalam dirinya ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s