Derita seorang ibu

Ini adalah kisah tentang sepasang suami isteri muda. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain. Yang wanita cantik jelita dan tubuhnya sangat aduhai. begitu juga dengan sang pria. Wajahnya tampan bisa membuat wanita tergila-gila. Mereka baru saja menikah dan tinggal di sebuah kota kecil di Jawa. Nama si wanita itu Sujari Sisri.

Tak berapa lama sang isteri pun hamil, tentu saja sang suami sangat bahagia. Setelah 9 bulan, sang isteri pun akhirnya melahirkan seorang anak. Mereka berdua bahagianya bukan main. Apalagi proses melahirkannya terhitung normal dan lancar.

Sesudah melahirkan, ternyata mertua wanita sang isteri atau ibunda dari sang suami sangat perhatian tidak saja terhadap cucunya, tetapi juga terhadap menantunya. Ia sangat perhatian bukan saja terhadap kesehatan menantunya, tapi juga bentuk tubuh menantunya sesudah melahirkan. Karena ada banyak wanita setelah melahirkan, tubuhnya menjadi bedah melar dan tidak bisa kembali singset seperti semula sebelum melahirkan. Maka ia mendesak menantunya untuk rutin minum jamu, memakai parem, tapel dan pilis. Tidak itu saja tapi yang paling aneh dan meyusahkan menantunya adalah ia harus memakai kain batik (jarik) dan stagen selama 40 hari dengan maksud untuk menghindari jongkok.

Kalimat terakhir sang mertua terasa sangat menjengkelkannya. Karena ia sangat tidak suka memakai kain jarik. Bahkan waktu pernikahannya pun ia tidak memakai kain batik yang masih asli lembaran sebagai bawahannya. Tapi ia memakai kain batik yang sudah berupa rok longgar sebagai bawahannya. Untungnya ia tidak memiliki satu lembar jarik batik pun, hingga ia bisa berdalih kalau ia tidak punya kain jarik walaupun cuma satu lembar. Hatinya jadi  cukup tenang dan dalam pikirannya pasti sang mertua akan menyerah dan tidak akan memaksanya memakai kain jarik.

Tapi sebentar kemudian setelah sang mertua berdiam sejenak  dan berpkir,  akhirnya sang mertua menjawab.  Dan apa jawaban dari sang mertua ?  Terasa khiamatlah dunia ini bagi sang menantu begitu mendengar jawaban  sang mertua. Ternyata mertuanya mempunyai persediaan kain batik yang cukup banyak lengkap dengan stagen serta kebayanya. Dan yang paling fatal bagi sang menantu adalah sang mertua akan meminjamkan semuanya kepadanya. Sehingga sang menantu tidak perlu repot-repot membeli pakaian dan perlengkapan seperti itu.

Dalam hatinya sang menantu sangat gregetan terhadap mertuanya. Tapi ia tidak bisa membantah perkataan mertuanya, karena hormat selain tentu saja rikuh. Maka ia mengiyakan perkataan mertuanya itu. Selanjutnya sang mertua segera mengambil barang-barang itu dari rumahnya.

Di hari pertama sang mertua memakaikan sendiri kain batik dan stagen itu ke tubuh sang menantu. Ia memakaikannya dengan sangat rapat, hingga secara tak sadar sang menantu mengeluh.  Walaupun cuma pelan, tapi sang mertua mendengar keluhan itu. Maka ia berkata, “Sri, kamu tidak usah mengeluh. Memang susah pakai jarik sama stagen apalagi kalau belum biasa. Tapi ini semua kan demi kamu sendiri. Supaya tubuhmu bisa kembali singset seperti semula. Kamu tidak mau kan kalau tubuhmu bedah setelah melahirkan dan tidak bisa kembali singset lagi ? Makanya kamu yang nurut saja. Belajar pakai jarik sehari-hari. Sekalian nguri-uri busana tradisional Jawa dan ngadi salira ngadi busono”. Sesudah itu ia memakaikan kebaya kepada sang menantu.

Maka mulailah kesusahan sang menantu. Ia dalam hati mengeluh, “Duh, susahnya pakai jarik. Kalau jalan kesrimpet-srimpet”. Dan ia mulai belajar jalan dengan hati-hati. Sang mertua yang melihat menantunya kesulitan berjalan dengan memakai jarik bertanya, “Sri, apa kamu tidak pernah pakai jarik sama sekali dalam hidupmu ?”. Sang menantu menggeleng. Mertuanya bertanya lagi, ” waktu kamu wisuda dulu ?”. Sang menantu ( selanjutnya kita sebut saja  Sri ) menjawab, “saya pakai jarik yang sudah dijahit jadi rok dan tidak sesempit ini bawahnya”.  Sang mertua pun mengangguk-angguk dan berkata, “oh, pantesan. Ya sudah, kalau begitu kamu belajar membiasakan diri sehari-hari memakai jarik . Jalannya pelan-pelan saja. Langkahnya kecil-kecil. Lihat segi positifnya, nanti kamu kan jadi kelihatan lebih anggun. Lebih njawani. Suamimu pasti lebih senang”. Sambil dicubitnya Sri.

Sesudah itu Sri bercermin, dilihatnya dirinya dalam balutan kain kebaya. Rambutnya yang panjang diikat ke belakang. Dalam hati ia berkata, “Ah, payah. Aku jadi kelihatan seperti ibu-ibu ndeso. Ya nasib.” Sesudah itu ia berputar ke kiri  dan ke kanan serta diperhatikannya tubuhnya. Dalam hati ia berkata, “Tapi memang iya sih, lekuk tubuhku jadi kelihatan jelas. Payudara, pinggang, pinggul. Sexy. Apa suamiku jadi lebih senang ya kalau aku berpakaian seperti ini ?”.

Dan itulah hari pertama penderitaan Sri. Momong bayinya sambil memakai jarik, belum lagi nyuci pakaian anaknya. Suaminya yang melihat hal ini jadi lebih sering mengamatinya. Sri sendiri tidak memperhatikan hal itu. Ia juga tidak memperhatikan ketika suaminya berada didekatnya, suaminya seperti mengendus-endus atau membaui sesuatu dari bagian bawah tubuhnya.

Malam harinya ketika mau tidur, Sri bermaksud hendak mengganti pakaiannya dengan daster.  Supaya ia bisa lebih leluasa bergerak. Tapi ibu mertuanya melarangnya dengan berkata, “Kamu jangan ganti pakaianmu dengan daster. Nanti waktu tidur kamu tidak sadar terus posisi kakimu jongkok. Biar saja jarik sama kebayanya dipakai terus.  Kamu jangan curi-curi kesempatan ya mumpung tidak dilihat mertua.” Kemudian dipanggilnya anaknya dan disuruhnya mengawasi Sri supaya tidak mangganti pakaian kain kebayanya dengan pakaian selain kain kebaya. Sri pun mengeluh dalam hati , “Sialan. Mau tidur masih juga terus disuruh pakai jarik”.

Besok paginya Sri sudah bangun dan mandi. Sesudah itu ia dengan terpaksa memakai jarik lain lagi. Ia memakainya dengan asal-asalan hingga jadinya seperti rok yang melebar dibagian bawahnya. Kebetulan mertuanya melihatnya, maka ia segera berkata kepada Sri, “Sri, kamu makai jariknya jangan kayak gitu ! Itu sama saja dengan pakai rok. Kamu makainya harus singset, meruncing ke bawah biar bentuk tubuhmu bisa kembali singset lagi. Kalau kamu masih belum bisa, biar ibu yang memakaikan. Jarik sama stagennya sekarang  kamu lepas lagi dulu saja. Nanti ibu bantu memakaikan”.

Sri menggerutu dalam hati, “Sial betul, sudah dituruti pakai jarik sama stagen masih belum betul juga. Dasar ! Rewel banget sih”. Kemudian dilepasnya stagen sama jarik itu. Dan sang mertua kemudian memakaikannya kembali ke tubuh Sri sambil mengajarinya cara memakai jarik supaya bisa meruncing di bawah. Tapi Sri tidak mau  mendengarkannya. Dalam hatinya ia berkata, “Masa bodoh. Kalau gitu biar mertuaku saja yang memakaikan jarik itu ke aku tiap pagi. Sekalian biar tambah kerjaan.”

Sepanjang hari itu  suaminya semakin sering mengamat-amatinya. Sri yang jadi merasa aneh diperhatikan secara berlebihan oleh suaminya kemudian bertanya, “Ada apa sih ? kok kamu ngeliati aku sampai kayak gitu. Oh, pasti lantaran aku pakai jarik sama kebaya ya ? Gimana ? Aku kayak ibu-ibu ndeso ya ?”. Sempat dilihatnya suaminya mengendus-endus bagian bawah tubuhnya.  Suaminya jadi malu sendiri dan cuma bisa tersenyum simpul sebelum melengos dan pergi ke ruang lain. Tapi Sri sempat bertanya, “Kamu kok sering membaui aku seperti anjing mengendus-endus ?”. Suaminya sambil ngeloyor pergi berkata, “Bau harum batik yang kamu pakai itu enak sekali”. Itulah hari kedua Sri menjalani keharusan untuk memakai jarik oleh mertuanya. Sri pun sempat berpikir bagaimana kalau ia berterus terang bahwa ia tidak mau memakai jarik. Tapi keinginan itu hanya tinggal keinginan yang ada dalam pikirannya. Karena ia sendiri ragu-ragu dan tidak berani untuk mengutarakannya kepada mertuanya. Begitulah sepanjang hari ia harus bersabar dalam penderitaannya hingga pergi tidur di malam hari.

Keesokan harinya kembali Sri memakai jarik dengan asal-asalan dengan hasil sama seperti kemarin, kedodoran. Dan tak lama kemudian mertuanya datang serta melihat. Maka ia berkata, “Sri, kok kamu makainya jarik masih sama seperti kemarin ? Apa kamu masih tidak bisa juga makai sendiri ? Kan ibu kemarin sudah memberitahu kamu caranya makai jarik biar bisa singset. Kamu ini gimana sih”. Sri pun jadi tersinggung dan merasa tertekan oleh perkataan mertuanya sekalipun mertuanya tidak berkata dengan nada tinggi atau marah kepadanya. Serta merta dilepasnya kebaya, stagen dan jariknya. Karena ia tahu kalau mertuanya akan memakaikannya. Dan memang betul mertuanya memakaikannya ulang sambil panjang lebar menguraikan cara untuk memakai jarik supaya bisa singset dan meruncing ke bawah.  Di akhirnya sang mertua berkata, “Nah, begitulah caranya. Kaki dirapatkan terus jarik diputar sambil ditarik biar nggak kedodoran. Besok sudah bisa makai sendiri kan  ?”. Sri hanya diam.

Hari itu dilalui Sri dengan pikiran tentang mertuanya yang terus memaksanya memakai jarik dan keinginannya untuk membantah keinginan mertuanya serta suaminya yang bertambah sering melirik dan memperhatikannya. Ia pun berpikir jangan-jangan suamiku semakin tertarik kepadaku lantaran aku memakai pakaian yang aneh ini yang membuat lekuk tubuhku semakin terlihat jelas.

Keesokan harinya kembali Sri berusaha memakai jarik dengan cara yang seperti dikatakan mertuanya. Hasilnya tetap saja masih kedodoran. Diulang beberapa kali, hasilnya tetap saja sama. Ia pun marah dan jarik itu dibuka serta dilempar ke lantai. Ia menggerutu dalam hati, “Jarik sialan ! Dipakai ditarik-tarik tetap saja nggak bisa singset. Masa bodoh. Peduli amat.”. Kemudian ia malah memakai tank top dan bawahan hot pant.

Tak lama kemudian mertuanya datang. Maka meledaklah kemarahan sang mertua demi melihat Sri tidak memakai jarik tapi malah memakai celana pendek dan singlet. “Sri, kamu itu gimana sih ? Sudah dibilangi jangan pakai celana nanti bentuk tubuhmu bisa-bisa tidak bisa kembali singset malah pakai celana pendek ! Ayo lepas.  Biar ibu yang makaikan kamu jarik kalau kamu masih tidak bisa”. Sri pun jadi keder, mau mengutarakan kalau ia tidak mau pakai jarik jadi takut. Maka ia terpaksa mematuhi perkataan mertuanya. Kembali lagi sang mertua memakaikan jarik kepada menantunya. Entah karena masih marah atau emosi, maka sang mertua kali ini memakaikan jariknya lebih ketat lagi. Itulah yang dirasakan Sri. Kaki Sri yang biasanya disuruh merapat, kali ini disuruh bersilang dan hasilnya jarik jadi lebih rapat dan singset. Sri pun semakin kesulitan berjalan.

Sesudah selesai, sang mertua memerintahkan suami Sri untuk mengemasi semua pakaian Sri selain daleman, jarik dan kebaya. Pakaian-pakaian itu kemudian dimasukkan ke dalam koper-koper dan dibawa pergi oleh mertuanya. Sang mertua sebelumnya terlebih dahulu berkata, “Sri, semua pakaian kamu selain jarik dan kebaya ibu ambil. Besok kalau sudah waktunya ibu kembalikan lagi.”. Sri pun melongo melihat pakaian-pakaian kesayangannya disita oleh mertuanya. Tapi ia tidak berani protes. Ia berkata dalam hati, “Melayang sudah kesempatanku untuk curi-curi kesempatan memakai pakaian itu. Nasibku punya mertua kolot yang sok ngatur.”.

Setelah mertuanya pergi, suaminya melihat Sri cemberut. Maka dihiburnyalah Sri. Sambil memeluk Sri, suaminya berkata, “Sri, Sri. Ini memang sudah jadi nasibmu. Harus jarikan terus tiap hari. Persis seperti nama kamu, Sujari Sisri.  SUsahnya JARIkan SIngset  keSRImpet-srimpet.”. Kemudian suaminya tertawa-tawa kecil dan diciuminya Sri. Sementara Sri hanya bisa tersenyum kecut dan dicubitnya suaminya. Suaminya memanasi Sri, “Bu, jangan nyubit-nyubit to, bapak sakit ini”. Katanya bergaya seperti seorang bapak dalam drama. Sri pun jadi semakin gemes dan dipukulinya suaminya dengan manja. Sang suami bukannya lari menjauh, tapi malah didekapnya Sri dengan sangat erat dan diciuminya sambil berkata, “Tau nggak ? Kamu keliatan berbeda lho kalau pakai kain kebaya seperti ini. Kamu jadi kayak ibu-ibu desa. Tapi lebih cantik dan anggun serta dewasa.”. Sri jadi kaget. Sekarang taulah sebabnya kenapa hari-bari belakangan suaminya semakin sering melirik dan memperhatikannya.

Sepanjang hari itu hati Sri dalam keadaan bingung. Ia baru saja mengalami dimarahi mertuanya dan semua pakaiannya disita sehingga tidak bisa tidak ia harus memakai kain kebaya yang tidak ia sukai. Tapi disisi lain  ternyata suaminya jadi semakin senang dan tergila-gila kepadanya lantaran ia memakai kain kebaya.

Keesokan harinya seperti biasa sang mertua datang untuk memakaikan jarik. Tapi hari itu mertuanya mendapati kalau Sri juga sudah mulai berusaha untuk ikut memahami cara memakai jarik  dengan rapi dan singset. Sri mencoba-coba sendiri memakai jarik itu sementara sang mertua memperhatikan dan membenarkan kalau salah. Maka senanglah hati sang mertua. Diciumnya Sri sambil berkata, “Nah, gitu. Usaha terus, jangan menyerah !”. Kebetulan suaminya berada didekat mereka. Tiba-tiba suaminya ikut nimbrung katanya, “Bu, besok Sri disuruh pakai jarik yang ada wirunya saja, bu ! Biar tambah keliatan cantik. Terus pakai selendang sama disanggul !”. Sri pun kaget mendengar perkataan suaminya. Ia memelototkan matanya dan mengacungkan tinjunya kepada suaminya sementara mertuanya sedang berpaling kepada suaminya.  Mertuanya berkata, “Nah, betul kan Sri ? Suamimu  paling senang lihat wanita pakai kain kebaya. Makanya yang rajin pakai kain kebaya. Besok belajar sanggulan sama mewiru kain ya.”.

Hari itu ada perubahan dalam pikiran Sri. Pikirannya sekarang jadi lebih senang. Ternyata pengorbanannya dalam bersusah payah  berkain kebaya terbayar impas dengan suaminya yang semakin tergila-gila padanya. Tidak sia-sia ia kesulitan berjalan dengan kesrimpet-srimpet atau terpaksa berlari-lari kecil dengan telapak kaki yang sedikit jinjit bila terpaksa terburu-buru melangkah. Ia juga heran dengan suaminya yang agresif dan menggebu-gebu terhadap dirinya. Suaminya yang biasanya lemah lembut dan sopan. Tapi ia menyukai keadaan ini.

Ia sempat bercermin sambil dipegang-pegangnya dan ditariknya ujung kebaya ke bawah dengan maksud merapikannya. Kemudian ia berputar sambil terus merapikan kebayanya. Dalam keadaan membelakangi cermin ia sempat menoleh ke cermin dan  merapikan bagian belakang kebaya serta memegang-megang pantatnya yang menyembul. Kemudian ia kembali menghadap ke cermin.  Ia tersenyum sendiri dan berbisik, “Ala mak, sexynya aku !”. Ia berpikir, “Beruntung juga aku. Dapat pinjaman kebaya masih bagus dan cukup halus. Begitu juga dengan kain batiknya masih bagus dan halus.”.

Kemudian diambilnya sebuah  majalah wanita dan dibukanya halaman yang berisi foto besar seorang wanita cantik  memakai kain wiron dan kebaya lengkap dengan sanggul, selendang serta sandal jinjit. Ia pun mulai membandingkan dirinya dengan foto wanita itu. Tentu saja ada perbedaan pokok yang cukup mencolok. Pertama, rambutnya hanya diikat ke belakang, sedangkan foto wanita itu bersanggul. Kedua, ia tidak memakai selendang, sementara foto wanita itu berselendang. Ketiga, kain batiknya tidak diwiru, sementara wanita yang ada di foto itu memakai kain wiron dengan wiru yang sangat rapi dan indah. Terakhir. ia tidak memakai sandal jinjit dengan hak yang cukup tinggi. Ia jadi minder sendiri, ternyata dirinya masih kalah jauh bila dibandingkan dengan wanita yang ada di foto itu.  Walaupun sama-sama memakai kain kebaya. Tapi tak lama kemudian ia bisa menenangkan hatinya sendiri dan berkata dalam hati. Besok aku pun juga akan memakai sanggul. Bahuku besok akan disampiri selendang kayak kamu juga. Sambil ditudingnya foto wanita itu. Wiron kamu yang indah, besok aku pun juga punya yang sama seperti wiron kamu. Sambil dipegang-pegangnya ujung luar jariknya. Sekarang memang ujung jarikku masih  polos tanpa wiru kayak orang udik, kalau kena angin apa jalan tidak bisa membuka menutup kayak kipas. Tapi besok aku juga akan pakai kain wiron kayak kamu,  Kemudian ia menantang foto wanita itu dengan berkacak pinggang sambil berkata lirih, “Ayo besok kita buktikan siapa yang lebih cantik ?”. Dan sejak saat itu ia jadi tidak sabar menunggu hari berganti.

Hari yang ditunggu-tunggu  Sri pun tiba. Tidak seperti biasanya, hari itu ia tidak sabar dan sangat antusias menunggu mertuanya datang. Sebentar kemudian sang mertua pun datang. Beruntung bagi Sri, karena sang mertua tidak menganggap sepi permintaan anaknya dan memenuhi permintaan anaknya dengan membawakan kain batik yang sudah diwiru, sanggul dan selendang. Mata Sri pun jadi berbinar-binar. Kebetulan sang mertua melihatnya, maka ia berkata, “Sri, kamu sudah tidak sabar ya memakai kain wiron dan sanggul ?”. Sri hanya bisa diam, karena malu. Mukanya sempat memerah. Kemudian sang mertua mulai ritual rutin memakaikan kain wiron kepada menantunya. Setelah berpakaian lengkap, terakhir sang mertua menyanggul rambut Sri dan sebagai ekstranya sang mertua merias wajah Sri.

Setelah selesai, Sri mematut-matut didepan cermin. Sementara mertuanya meringkasi peralatan make up di dekatnya . Dipandanginya dirinya mulai dari kepala sampai kaki. Majalah yang kemarin masih ada disitu dan terbuka di halaman yang ada fotonya wanita berkain kebaya. Sri kemudian memegang-megang sanggulnya dan berkata dalam hati, “Nah, sekarang aku pun juga punya sanggul yang indah. Mantap dan besar. Tidak seperti sanggul kamu yang agak kecil, tanggung”. Katanya kepada wanita yang ada di foto. Kamudian tangannya meraba selendangnya. “Aku juga punya selendang kayak kamu”. Terakhir dipegang-pegangnya wiru kainnya dan dibuka sedikit lalu dilepaskan hingga membuka dan menutup dengan indahnya. “Nih, kainku juga ada wirunya !”. Lalu dihitungnya wirunya, ternyata ada 13. Pertanda bahwa tubuhnya cukup langsing. Maka ia berkata dalam hati, “Nih wiruku ada 13. Banyak kan ? Tanda kalau langsing. Wirumu berapa ?”. Mertuanya yang melihat itu dari jauh  tersenyum senang.

Sesudah itu sang mertua memanggil anaknya. Sang suami begitu melihat Sri berdandan lengkap dengan pakaian adat Jawa terperangah melongo hingga ibunya mengagetkannya, “Héh !, kok kamu ngeliat isterimu sampai ndomblong kayak gitu.” Suaminya jadi tersadar dan malu, kemudian berkata, “Sri sangat cantik, gandes luwes, singset ! Persis puteri Solo. “. Mertuanya kemudian berpaling kepada Sri sambil berkata, “Nah, betul kan ? Kamu jadi tambah cantik kalau pakai kain kebaya.”. Sri jadi malu dan memerah wajahnya. Kemudian ditinggalkannya mereka berdua.

 Begitu ditinggal ibunya, sang suami mulai timbul keagresifannya. Diraihnya isterinya, dipegangnya kaki dan bahu isterinya kemudian dibopongnya Sri sambil diciuminya serta diayunnya ke kiri dan ke kanan. Sri pun jadi kaget dan menjerit-jerit. Tapi dalam hatinya ia senang dan bahagia. Suaminya sempat berkata, “Duh, puteriku. Kamu kelihatan cantik banget kalau pakai pakaian kayak gini. Jangan pernah kau lepaskan pakaianmu ini sampai kapanpun !”. Karena mertuanya datang mendengar jeritan Sri, maka serta merta diturunkannya Sri.

Itulah hari dimana Sri sangat merasa bahagia, sekalipun ia ribet dengan pakaian dan atributnya. Tapi ia tidak mau melepaskan sanggul dan selendangnya. Walaupun ia masih harus momong bayinya dan mengerjakan tugas hariannya. Sang suami pun hari itu tidak pergi ke mana-mana, tapi sibuk membuntuti isterinya sambil  mengambil foto-foto dan video isterinya. Isterinya yang jadi risih berkata, “Mas, pergi kerja sana ! Masak kemana-mana mbuntuti aku terus ! Ngambil foto sama video. Buat apa ? Kayak gak punya kerjaan.”. Walaupun dalam hatinya Sri ada perasaan senang  terhadap perlakuan suaminya yang memperlakukannya seperti bintang film. Tapi ia tidak mau menunjukkannya.  Ia bahkan kadang mengusir suaminya dengan tangannya untuk pergi menjauh, tapi sang suami tetap saja cuek.

Setelah beberapa kali Sri berlagak mengusir suaminya, akhirnya sang suami berkata, “Sri, terus terang saja. Aku membuat video kamu karena aku terkagum-kagum sama kecantikan wajah dan keindahan tubuhmu waktu memakai kain kebaya ini. Apalagi kalau kamu jalan, pantatmu bisa bergoyang-goyang. Belum lagi kalau kamu lagi terburu-buru hingga terpaksa lari-lari kecil dengan telapak kaki yang sedikit jinjit, pantatmu bisa njentat-jentit. Kamu jadi kelihatan genit. Aku jadi semakin gemes sama kamu. Apa kamu tidak merasakannya sendiri ? Apa  kamu tersiksa memakai kain kebaya ini ? Jalanmu jadi tidak bisa cepat dan langkahmu tidak bisa lebar-lebar. Tapi ekspresi wajahmu akhir-akhir ini menunjukkan kalau kamu bahagia. Hayo, terus terang saja. Kamu sekarang senang kan pakai pakaian kain kebaya seperti ini ? Inilah yang  namanya sengsara membawa nikmat”,  Sambil ditaboknya pantat Sri hingga Sri menjerit kecil.

Malamnya Sri menggoda suaminya dengan duduk dipangkuannya. Sri bisa merasakan senjata suaminya yang menegang dan membesar dengan cepat. Mengerti hal ini, Sri menggosok-gosokkan pantatnya di pangkuan suaminya. Suaminya berkata lirh  dengan setengah mengeluh, “Sri, Sri. Aku sudah tidak tahan lagi, Sri. Jangan kau teruskan. Bau harum  kain batik yang kau pakai semakin merangsangku, Sri”. Suaminya kemudian meraba-raba pantat Sri yang terbalut kain batik. Mereka saling  berciuman. Setelah beberapa lama, akhirnya sang suami melepaskan celananya dan menyemburkan air maninya ka kain batik Sri. Setelah itu ia menyemburkan ke seluruh tubuh Sri hingga isterinya hampir basah kuyup oleh air mani suaminya.  Maka Sri bermaksud ganti pakaian, tapi suaminya menghalanginya dan menyuruh Sri untuk berjalan dengan kain batik yang basah kuyup. Sri menurutinya. Suaminya mengambil handy cam dan mengambil videonya sambil berkata, “Sri, gimana rasanya jalan dengan kain batik yang basah kuyup ? Semakin lengket dan susah kan ? Nikmaat …”

Hari berikutnya jika suaminya di rumah, maka ia selalu membuntuti Sri sambil tak lupa mengambil gambar dan video isterinya. Kemudian timbul ide gila di dalam otaknya. Isteriku memang betul-betul penuh pengertian dan mencintaiku. Sekalipun ia sudah cukup beban momong bayi dan dipaksa pakai jarik oleh mertuanya, tapi ia tetap taat dan setia. Betapa menderitanya dia. Tapi justru dalam penderitaan dan kepasrahannya inilah tampak kesabaran dan keanggunan serta pancaran kebahagiaannya. Ia  semakin menarik perhatianku dalam keadaan seperti ini. Bagaimana kalau penderitaannya aku tambah supaya dia lebih bahagia lagi

Kemudian timbullah ide untuk bermain BDSM dengan isterinya. Ia tentu saja akan berperan sebagai dominannya, sedangkan isterinya akan berperan sebagai submissive. Maka mulailah ia mencari tali yang cukup banyak untuk mengikat isterinya dan juga peralatan-peralatan lainnya. Tapi dalam pikirannya masih ada keraguan apakah isterinya akan menuruti kemauannya atau menolak mentah-mentah.

Tibalah saatnya sang suami mencoba mempraktekkan idenya untuk bermain BDSM. Waktu itu adalah malam hari, Sri sedang bermesraan dengan suaminya. Suaminya mencoba memancing, “Sri, apa kamu tidak menderita dengan keadaan seperti ini ? Sudah mengurus rumah tangga, momong bayi, masih harus pakai kain kebaya.” Isterinya diam saja. Wajah mereka saling berdekatan. Tangan suaminya memegang dagu Sri dan menolehkan sedikit ke arahnya. Ia berkata, “Kalau kulihat  walaupun sangat menderita, tapi engkau kelihatannya sangat bahagia”. Sri menjawab, “Mas, ini memang sudah jadi tugasku sebagai isteri dan ibu rumah tangga. Aku rela dan tulus iklas melakukannya. Bagaimanapun sebagai seorang isteri, aku harus tunduk pada suami”.Merasa mendapat angin, suaminya mencium Sri sambil berkata, “Tapi bagaimana bila penderitaanmu bertambah ? Apakah kamu masih bisa berbahagia ?”.  Sri tidak menjawab, tapi malah mencium suaminya. Mereka berdua pun saling berciuman.

Karena berpikir kalau isterinya sedang mabuk kepayang oleh rayuannya, maka suaminya bertindak cepat. Kedua tangan Sri diraih dan ditarik ke belakang, kemudian diikat dengan kencang. Mereka berdua masih saling berciuman. Tapi sebentar kemudian Sri sadar kalau tangannya diikat kebelakang oleh suaminya dan suaminya tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Maka Sri bettanya, “Kenapa tanganku kau ikat ?”. Suaminya menjawab, “Inilah tambahan penderitaanmu, Sri”.  Sri pun mencoba membuka ikatan tangannya, tapi tidak bisa. Suaminya berkata, “Ingat ! Kamu sendiri yang bilang seorang isteri harus tunduk pada suami”.  Karena tidak bisa membuka ikatan tangannya, maka Sri memohon-mohon pada suaminya, “Mas, lepasin ikatan tanganku !”. Bukannya membuka ikatan tangan isterinya, suaminya malah mengambil video dan merekam dari depan. Maka Sri mencoba menendang kaki suaminya. Tapi kakinya tidak bisa membuka lebar, karena sempitnya kain jarik yang dipakainya. Ia lalu menjejakkan kedua kakinya serempak ke depan, tapi malah ditangkap olah suaminya dan tanpa ampun diikatnya kadua kaki Sri dengan kencang.

Sri jadi gusar. Ia jadi tidak sabar dan berkata dangan nada tinggi, “Mas, apa-apaan kamu ini ? Ayo lepaskan ikatan tangan dan kakiku !”. Suaminya tidak menuruti permintaan Sri. Tapi malah menjambak rambut Sri dan menariknya keatas hingga Sri jadi berdiri. Suaminya berkata, “Inilah hukumannya kalau kamu tidak menuruti perkataan ibuku. Disuruh pakai jarik, membantah. Sekarang rasakan akibatnya !”. Ditamparnya pantat Sri dengan keras berulang-ulang dengan sebilah kayu. Sesudah itu dilepaskannya rambut Sri sambil didorong ke depan hingga Sri jatuh terjerembab telungkup di lantai. Sri mulai menangis sambil memohon-mohon, “Ampun, mas. Aku sakit betulan. Tolong lepaskan tangan dan kakiku”. Tapi suaminya malah sibuk mengambil video isterinya. Keadaan ini berlangsung beberapa lama, hingga akhirnya Sri terdiam, berhenti menangis dan memohon-mohon.
SujariSisri1
SujariSisri2
SujariSisri3

One thought on “Derita seorang ibu

  1. Pingback: Derita seorang ibu 2 | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s