Kiko Sujaryanto 2

Ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya. Dimana akhirnya Sri menerobos masuk ke kamar pada saat suaminya beraksi dengan kain kebaya kepunyannya dan merekam semuanya. Sri berhasil menumpahkan semua emosi dan dendamnya. Menjatuhkan suaminya di lantai dan menginjaknya dengan kaki sebelahnya. Meludah dan membuat senjata suaminya memuntahkan isinya. Bahkan ia sampai kebablasan memaki suaminya sebagai banci. Cuma satu hal inilah yang ia sesali, tapi ia berhasil mengerém nafsunya untuk menggampar dan melakukan kekerasan fisik pada suaminya. Memikirkan peristiwa itu, timbul kepuasan dalam diri Sri.  Sekaligus ia jadi memegang satu kunci yang dapat dipakai sebagai senjata bila suaminya sudah keterlaluan kepadanya.

Sementara itu Kiko sendiri menyesali kejadian itu. Betapa bodoh dan gegabahnya dirinya melakukan hal semacam itu tanpa memastikan kepergian isterinya untuk waktu yang lama. Sekarang yang ada hanyalah penyesalan dalam diri Kiko, selain rasa was-was jangan-jangan isterinya nekat menyebar luaskan rekaman itu atau menceritakan kelainan dirinya kepada orang-orang terdekatnya.

Setelah peristiwa itu, Kiko memenuhi permintaan isterinya untuk mencuci pakaian isterinya yang dipakainya meliputi selendang, kebaya, stagen dan kain batik. Pada waktu mencuci pakaian-pakaian itu, isterinya memandangi Kiko dengan tatapan mata sinis dan bibir yang ditarik kebawah mencibir serta kepala yang sedikit dianggukkan ke atas.

Sejak peristiwa itu pula, hubungan mereka jadi dingin dan renggang.  Hubungan mereka menjadi sebatas suami isteri formal tanpa berhubungan sexual. Sri sekarang merasa diatas angin. Sementara Kiko kehilangan muka dan menjadi frustasi. Usahanya juga mengalami kemunduran. Sementara usaha isterinya malah mengalami kemajuan. Kiko pun jadi semakin minder dengan keadaan ini.

Sial bagi Kiko, disaat sulit seperti ini justru nafsunya semakin menjadi-jadi. Kegilaannya terhadap kain kebaya tidak bisa direm, tapi malah semakin menggebu-gebu. Tapi sayangnya tidak ada jalan keluarnya. Sekarang ia tidak berani lagi memakai kain kebaya isterinya dirumahnya sendiri sekalipun isterinya sedang pergi. Pikiran Kiko jadi buntu.

Kiko jadi depressi. Ia tidak bisa berkonsentrasi. Setelah pusing memikirkan jalan keluarnya, akhirnya ia berhasil mendapatkan sebuah  jalan keluar. Ia bermaksud mengambil sebuah kebaya, selendang, stagen dan kain batik isterinya tanpa sepengetahuan Sri serta membawanya keluar rumah dengan alasan pergi menginap keluar kota. Di luar kota  Kiko akan menyewa hotel dan ia akan beraksi di kamar hotel.  Setelah memikirkan ide ini , ia pun tersenyum puas.

Tinggallah pelaksanaannya. Pertama-tama, ia harus sembunyi-sembunyi mengambil pakaian isterinya. Ia pun dengan tidak sabar menunggu kesempatan yang tepat yaitu di saat isterinya pergi keluar rumah. Dipandanginya isterinya pergi naik mobil dari halaman depan rumahnya sampai mobil itu menghilang dari pandangannya. Kemudian ia pun dengan panas dingin dan sedikit gemetar membuka lemari pakaian isterinya. Ia sempat berpikir, jangan-jangan lemarinya dikunci. Tapi untunglah ternyata kunci pintu lemari masih menggantung di tempatnya. Ia pun dengan buru-buru mengambil kebaya, selendang, stagen dan kain batik masing-masing sebuah. Tapi secara tidak sengaja tiba-tiba matanya melihat perlengkapan isterinya yang sangat privat yaitu bra. Entah ada setan dari mana tiba-tiba ia pun juga menyambar sebuah bra isterinya. Pikirnya dalam hati, lumayan semakin komplit.

Sesudah isterinya pulang kembali ke rumah, suaminya memberanikan diri untuk mengutarakan kebohongannya. Kiko berkata, “Sri, besok aku mau keluar kota beberapa hari”. Isterinya tanpa menoleh menganggukkan kepala. Lega hati Kiko, karena langkah kedua dari rencananya sudah tercapai. Malamnya Kiko jadi sulit tidur, karena  membayangkan dirinya bisa memakai lagi pakaian yang bisa membangkitkan hasrat dan gairahnya tanpa perlu kuatir dipergoki isterinya.

Esok harinya tibalah, Kiko pun berangkat keluar kota. Sementara isterinya tingaal di rumah. Ketika Kiko sudah pergi, Sri diam-diam juga rindu untuk memakai kain kebaya lagi. Karena ia berpikir mumpung ada kesempatan dimana suaminya tidak dirumah dan pergi keluar kota untuk beberapa hari. Tidak itu saja ia juga sangat kepingin untuk melihat semua koleksi kain batik dan kebayanya. Maka dibukalah lemari dimana kain batik dan kebayanya disimpan.

Satu hal yang tidak diperhitungkan suaminya adalah bahwa Sri menghitung semua kebaya, selendang, stagen dan kain batik pemberian mertuanya. Maka ketika dihitungnya satu persatu, ia jadi kaget.  Karena jumlahnya kurang satu. Baik untuk selendang, stagen, kebaya maupun kain batiknya. Ia pun mengulangi lagi menghitung pakaian-pakaian itu. Ternyata serelah diulang beberapa kali hasilnya tetap sama kurang satu semuanya. Ia pun mulai mecoba mengingat-ingat kebaya warna dan motif apa yang hilang, demikian juga dengan kain batiknya dan selendang serta stagen warna apa yang hilang. Akhirnya sambil melihat kebaya, kain batik, selendang dan stagen satu demi satu diingatlah selendang, stagen, kebaya dan kain batik yang hlang.

Ia lalu mulai berpikir kemungkinan hilangnya.  Akhirnya ia sampai pada kesimpulan kalau semua pakaiannya yang hilang dibawa suaminya keluar kota dan suaminya keluar kota untuk melampiaskan nafsu gilanya, karena suaminya takut kalau sampai ketangkap basah lagi dirumah. Sri jadi gregetan, dibukanya sedikit bibirnya dan menyeringai serta ditekannya gigi atasnya ke gigi bawahnya sambil dikepalkannya kedua tangannya. Sri berkata, “Dasar banci ! Awas kalau kamu pulang !”.

Sementara itu Kiko telah tiba di kota tempat tujuannya menginap. Ia langsung menuju ke hotel dengan tidak sabar dan setelah memesan kamar, ia pun masuk ke kamarnya.  Begitu tiba di kamar, nafsunya bergejolak. Ia bermaksud untuk langsung melampiaskan hawa nafsunya yang sudah sekian lama terpendam. Tapi kemudian durungkannya, karena badannya masih bau dan kotor. Ia kuatir kalau akan membekas di pakaian isterinya. Maka ia terlebih dahulu mandi. Selelah mandi, barulah ia beraksi.

Kiko berkata dalam hati, “Sri, sekarang lihat siapa yang lebih jenius ?”. Diambilnya kain batik isterinya, diciumnya sambil menghela nafas panjang, “Nikmaaat !”.  Setelah itu berulah dibuka lipatannya hingga terbuka penuh. Selanjutnya ia merapatkan kedua kakinya. Tidak terasa senjatanya tau-tau sudah berdiri dan menegang.  Ia pun mulai melilitkan kain batik isterinya ke kakinya dengan sangat rapat dan kuat. Selanjutnya ia memakai stagen. Giliran berikutnya ia memakai bra. Satu hal yang baru pertama kali ini ia lakukan. Barulah setelah itu ia memakai kebaya dan menyampirkan selendang dibahunya.

Lalu mulailah Kiko bercermin didepan kaca. Ia memegang-megang dadanya yang memakai bra yang berbusa dan berkawat sehingga nampak menyembul walaupun tidak ada isinya. Ia terangsang dan tersenyum sendiri. Giliran berikutnya ia memegang pantatnya yang terbalut kain batik. Sehingga yang diraba adalah kain batik dengan terkstur yang khas. Kemudian ia meraba senjatanya sendiri. Aduh besar dan perkasanya adikku, katanya dalam hati.

Ia lalu berlenggang-lenggok didepan cermin. Setelah itu ia duduk di depan cermin. Tapi baru sebentar, tiba-tiba crot ! Air maninya sudah muncrat keluar mengenai celana dalam dan kain batik isterinya. Seketika itu juga buyarlah segala fantasi dan kesenangannya serta kenikmatannya. Ia langsung berdiri didepan cermin dan jijik kepada dirinya. Kiko sang lelaki perkasa sekarang menjadi banci. Sialan ! Kenapa aku jadi begini ya. Buru-buru dibukanya semua pakaian isterinya dan ia sekali lagi membersihkan diri di kamar mandi. Ia lalu mencuci kain batik isterinya dengan cepat-cepat untuk menghilangkan air maninya sebelum dibawa ke laundry.

Kikonani

Setelah itu ia rebahan di ranjang sambil berpikir kenapa segalanya berlalu dengan cepat. Kesenangan yang sudah ia rencanakan dengan matang berhari-hari lamanya. Sekarang tau-tau sudah berlalu hanya dalam sekejap. Padahal ia  pingin berlama-lama memakai kain kebaya isterinya mumpung diluar kota untuk beberapa hari. Bahkan ia bisa memakainya sampai ia tidur di malam hari dan dilanjutkan esok harinya. Ini semua gara-gara senjataku yang tau-tau sudah menumpahkan isinya dan berahhir sudah semua kesenangan itu.  Setelah melewati puncak hawa nafsu, semuanya seperti  berubah 180 derajat.  Jika sebelumnya kalau bercermin rasanya anggun dan cantik, sekarang rasanya jadi lucu, aneh dan menjijikkan. Apakah sekarang aku mengalami ejakulasi dini ?

Besoknya Kiko mencoba lagi melampiaskan hawa nafsunya. Tapi ia teringat bagaimana bila air maninya tumpah lagi di kain batik isterinya ? Padahal ia sudah mau pulang ke rumah. Akhirnya ia mendapat ide untuk menyelubungi senjatanya itu supaya air maninya tidak tumpah di kain batik isterinya. Maka ia mengulangi lagi memakai pakaian isterinya dan senjatanya sudah mulai menegang ketika kain batik isterinya mulai dililitkan di kakinya. Setelah mengenakan kain kebaya lengkap, ia mulai berlenggang-lenggok lagi. Kali ini ia tidak hanya berlenggang-lenggok didepan cermin saja, tapi ia mencoba  berjalan dengan genit lebih jauh lagi jaraknya sambil dipegang-pegangnya senjatanya. Ia pun melenguh di dalam kenikmatan, “ooh, ..oooh…”. Setelah itu ia bermaksud beristirahat dengan duduk di kursi, tapi tak lama kemudian senjatanya yang tertekan kembali menumpahkan isinya. Dan itulah akhir dari kenikmatan bagi Kiko.

Ketika esok hari tiba, itulah harinya Kiko harus pulang ke rumah dengan meninggalkan sejuta kenangan manis. Ia pun dengan enggan berkemas. Tapi ia tidak tahu apa yang akan dihadapinya setibanya di rumah.

Tibalah Kiko di rumah, di depan pintu masuk Sri sudah berkacak pinggang. Kiko masih tidak mengira kalau bakal ada musibah yang akan menimpa dirinya. Ia berpikir ini sudah wajar. Karena isterinya akhir-akhir ini memang jadi agak angkuh lantaran berada di atas angin. Sri berkata dengan dingin, “Coba kamu buka kopermu itu dan keluarkan semuanya isinya !”. Kiko jadi kaget dan takut. Tamatlah sekarang riwayatnya, karena ia memang membawa pulang semua pakaian isterinya. Ia masih takut untuk membuang semua pakaian isterinya, karena ia tahu bahwa itu adalah milik ibunya sebelum diberikan kepada Sri.

Kiko tidak berkutik, dengan lemas dan perlahan ia membuka penuh kopernya. Tapi semua isinya masih tertumpuk dengan rapi di dalam koper, sehingga yang terlihat hanya yang diatas saja. Sri jadi semakin gregetan, “Sekarang kamu keluarkan semua isinya satu persatu dan taruh di atas lantai !”. Sri sekarang sudah tidak pernah lagi memanggil “mas” kepada Kiko.

Kiko jadi semakin takut dan ia semakin perlahan-lahan meletakkan satu persatu barang bawaannya di atas lantai sambil berpikir bagaimana caranya dapat lolos dari perangkap ini. Kiko bermaksud untuk menumpuk kain batik Sri dibawah pakaiannya. Demikian juga dengan selendang, stagen dan kebayanya. Sehingga tetap tidak terlihat walaupun sudah tergeletak di lantai. Akibatnya Sri jadi gusar, diraihnya koper Kiko dan dibalikkannya sehingga semua isinya tertumpah keluar ke lantai. Sri pun mengaduk-aduk semua barang dan pakaian suaminya hingga didapatinya apa yang dicarinya. Stagen, selendang, kebaya dan kain batiknya !. Tapi ia tidak mendapatkan bra kepunyaannya, kerena Kiko telah membuangnya. Diambilnya keempat barang itu dan diunjukkannya tepat kemuka suaminya yang ketakutan.

Ia pun berkata dengan lantang, “Kamu mengambil pakaian-pakaianku tanpa setahuku ya ? Lantas kamu pakai di hotel tempat kamu menginap ! Dasar banci ! Kamu pikir aku tidak tahu semua perbuatanmu ini dan kamu bisa lolos ! “. Kemudian dilemparkannya keempat pakaiannya ke muka suaminya yang masih ketakutan dan bersimpuh di lantai.

Sesudah itu Sri segera masuk ke dalam dan segera keluar lagi dengan membawa celana dalam, bra dan sandal jinjit serta tas tangan kepunyaannya sendiri. Dilemparkannya semuanya itu ke suaminya. Suaminya berusaha menangkap sandal jinjitnya, karena kuatir akan mengenai mukanya. Sri berkata lagi, “Nih, bawa semua barang-barang itu biar lengkap sekalian ! Dan jangan pulang lagi “. Kiko jadi kaku tidak berdaya mendengar perkataan isterinya dan mengalami peristiwa ini. Dan sebentar kemudian ternyata isterinya sudah kembali lagi dari dalam dan membawa kecrékan ( tamborin ) dan seperangkat alat makeup bekasnya. Ia berkata, “Nih, sekalian aku modali buat nyari duit. Tamborin sama kosmetik. Sana, pergi ngamen sambil dandan yang cantik pakai kain kebaya ! Dasar bencong !”.

 

One thought on “Kiko Sujaryanto 2

  1. Pingback: Kiko Sujaryanto 3 | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s