Kiko Sujaryanto 4

Ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya yang berakhir dengan diikatnya kaki dan tangan Kiko oleh Sri serta dipukulinya Kiko sebelum ditinggal tidur. Dalam hati, Sri berkata, “Biar kapok !” dan berpikir bahwa suaminya akan jera. Tapi Sri tidak mengetahui apa yang ada dalam hati dan pikiran Kiko. Selain malu, tidak berdaya, tertekan, tersiksa, kesakitan  dan teraniaya, rupanya Kiko juga bisa merasakan kepasrahan dan kesenangan,

Keesokan harinya, Sri membuka ikatan tangan dan kaki Kiko. Sri tidak menyesali perbuatannya ataupun meminta maaf kepada suaminya. Begitu juga dengan Kiko.

Setelah peristiwa itu, Kiko merasakan keanehan dalam dirinya. Ia sering kali terkenang akan peristiwa itu. Tapi bukannya malu, penyesalan, kapok   atau tersiksa yang memenuhi pikirannya. Melainkan rasa tidak berdaya, pasrah yang akhirnya menimbulkan rasa senang dan bahagia. Ia berpikir, betapa anehnya diriku. Dipermalukan, dikerjai, dibentak, diperintah, dipaksa dan  diikat serta dipukuli bukannya tmbul rasa marah lalu melawan. Tapi malah menurut, pasrah dan senang. Apakah begini juga perasaan isteriku dulu waktu aku kasari ? Tapi mengapa ia jera dan tidak mau lagi melakukannyai ? Jangan-jangan aku mengalami kelainan jiwa. Aku memang masih senang melihat wanita-wanita cantik. Apalagi yang berkain kebaya, tapi nafsuku lebih besar kalau yang memakai kain kebaya itu aku sendiri dan kemudian disiksa oleh isteriku.

Lalu apakah yang akan diperbuat isteriku jika ia mendapati aku memakai kain kebayanya lagi ? Apakah ia akan menyiksaku dengan lebih kejam lagi ? Atau ia akan menceritakan kelainanku pada setiap orang yang dikenalnya ? Atau ia akan mengusirku dari rumah ?

Kemungkinan pertama, Sri akan menyiksaku dengan lebih kejam lagi. Kiko mulai menganalisa tiap kemungkinan yang ada.  Inilah yang aku nantikan, bagaimana rasanya jika aku disiksa dengan kejam oleh isteriku setelah terlebih dulu ia mendandaniku habis-habisen seperti yang dilakukannya dulu. Didandani dengan kain kebaya yang ketat dan singset. Alangkah nikmatnya.

Kemungkinan kedua, Sri menceritakan kelainanku pada setiap orang dikenalnya. Semoga bukan ini yang akan Sri lakukan. Lagi pula dengan menceritakan kelainanku pada orang lain, bukankah ia juga membuka aib rumah tangganya sendiri. Kemungkinan ini sangat kecil dilambil oleh Sri.

Kemungkinan ketiga, Sri mengusirku dari rumah. Kalau memang ini yang akan ia lakukan, aku bisa mulai lagi dari awal. Lagi pula hal ini pernah ia lakukan,  tapi kemudian ia menerimaku lagi di rumah.  Apa lagi kami sudah mempunyai momongan. Jadi kemungkinan paling besar yang akan ia lakukan adalah Sri akan menyiksaku dengan lebih kejam lagi.

Memikirkan kemungkinan paling besar yang akan diterimanya dari Sri yaitu ia akan disiksa dengan lebih kejam , Kiko jadi malah penasaran dan nafsunya terpacu.  Tapi dalam hati kecilnya ia berkata, mengapa aku malah suka jadi banci dan diperlakukan semena-mena oleh isteriku ? Dimana kejantananku dulu ? Kejantananku hanya sebatas senjata yang masih bisa dikokang. Mengapa aku sudah tidak nafsu lagi pada isteriku sendiri ?

Masa bodoh dengan kemungkinan ia menceritakan kelainanku pada orang lain. Masa bodoh kalau ia akan mengusirku dari rumah. Yang penting aku bisa menemukan hasrat dan gairahku lagi walaupun dengan cara yang aneh.  Lalu mulailah Kiko merencanakan perangkap supaya isterinya bisa marah dan semakin sadis menyiksa dirinya. Malang-malang putung rawé-rawé rantas. Begitulah akhirnya Kiko sudah sampai pada kebulatan tekadnya. Kalau tidak ada wanita yang mau berkain kebaya dan disiksa, maka biarlah aku menjadi wanita itu dan disiksa oleh isteriku sendiri. Biarlah ia puas memaki aku dan mengasari aku. Biarlah ia mengatakan aku banci, aku bencong. Yang penting aku bukan banci atau bencong. Entah nanti kalau keterusan.

Lagi pula kalau isteriku bisa melampiaskan nafsu dan kemarahannya kepadaku. Syukur-syukur kalau ia bisa lebih berbahagia. Semakin gila Kiko membenarkan jalan pikirannya sendiri dengan alasan lebih membahagiakan isterinya,  maka semakin bersemangatlah Kiko.  Tapi Kiko berusaha berhati-hati agar isterinya tidak tahu kalau ini semuanya adalah perangkap.

Setelah lama Kiko menunggu-nunggu.  Kesempatan itu datanglah, Sri kembali harus ke luar kota untuk beberapa hari. Kiko segera mengatur siasat. Pada hari kedua, Kiko sengaja menyampaikan kebohongan kepada ibunya atau mertua Sri yang berkesan supaya Sri segera pulang. Sri yang rikuh terhadap mertuanya segera menuruti perkataan mertuanya.

Sementara itu Kiko dirumah kembali beraksi memakai kain kebaya isterinya lengkap dengan stagen, bra, sandal jinjit dan selendang serta ia tidak ketinggalan  juga merias wajahnya dengan peralatan make up Sri. Sebelum itu ia terlebih dahulu memutar langgam Jawa, supaya lebih nyamleng. Kiko  sengaja memutarnya dengan cukup keras. Supaya ia tidak mendengar kalau sewaktu-waktu isterinya pulang, sehingga Sri bisa memergokinya. Karena memang itulah yang diharapkan Kiko.  Setelah selesai berdandan, ia bercermin dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ada yang kurang, pikir Kiko. Rambutku belum bersanggul. Maka ia segera menguncir rambutnya dengan karet dan mengambil sanggul isterinya serta jepitan rambut yang cukup banyak. Kiko lalu mulai berusaha menjepit sanggul itu ke rambutnya, tapi ternyata cukup sulit dan tidak bisa. Berulang-ulang Kiko berusaha menjepit sanggul itu ke rambutnya. Tapi hasilnya tidak rapi dan sangat kendor serta mudah lepas.

Disaat itulah Sri masuk dan memergoki Kiko. Muka Sri merah padam menahan amarah. Kiko diam mematung dan menghentikan menjepit konde ke rambutnya. Kedua tangan Kiko masih memegang konde. Dalam hatinya, Kiko berkata pucuk dicinta ulam tiba. Dag dig dug hati Kiko menantikan reaksi Sri. Tapi rupanya Sri berhasil menahan amarahnya, hingga ia bisa berkata dengan lembut, “Yaang, kamu belum bisa masang sanggul ya ? Sini aku bantu”. Direbutnya konde yang ditangan Kiko dan ia membalikkan badan Kiko serta memasang konde ke rambut Kiko. Sesudah itu ia berkata, “Kamu sudah cantik kok. Sekarang kamu keluarin semua pakaian kamu yang ada di lemari. Masukkan ke dalam koper. Kamu sudah tidak memerlukannya lagi kan ?”. Kiko bingung mendengar perkataan isterinya. Kiko berpikir jangan-jangan semua pakaiannya akan disita isterinya dan ia tidak boleh memakainya lagi.  Sama seperti yang dilakukan ibunya terhadap Sri dulu. Tapi pikiran jernih dan akal sehatnya telah tertutup oleh nafsu gilanya.  Maka Kiko menuruti kemauan isterinya. Kiko malah membayangkan betapa nikmatnya dalam beberapa hari dipaksa memakai kain kebaya.

Begitulah semua pakaian Kiko dimasukkan kedalam koper-koper. Sri juga ikut membantunya, hingga yang tersisa hanya celana dalam. Sesudah itu hal yang tidak disangka oleh Kiko terjadilah. Sri berkata, “Sekarang kamu jadi ibu rumah tangga yang baik. Momong bayi kita”. Lalu Sri memasukkan koper-koper itu ke bagasi mobil  dan ia masuk ke dalam mobil sambil berkata, “Selamat tinggal !”. Kiko pun jadi melongo. Ia tidak mengira akan ditinggal isterinya dan disuruh momong bayi mereka.

Lenyap sudah semua fantasy dan kesenangan Kiko. Ia jadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, karena ditinggal isterinya den disuruh momong bayi mereka. Belum lagi semua pakaian-pakaiannya disita. Segala angan-angan akan nikmatnya memakai kain kebaya lenyaplah sudah. Ia kini jadi bingung bagaimana caranya ia keluar rumah kalau yang ditinggalkan isterinya hanya celana dalam ?

One thought on “Kiko Sujaryanto 4

  1. Pingback: Kiko Sujaryanto 5 | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s