Kiko Sujaryanto 6

Ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya yang berakhir dengan croott !! Setelah itu pandangan Kiko jadi gelap. Tau-tau Kiko sudah berbaring telentang di ranjang dengan masih memakai pakaian kain kebaya lengkap dengan sanggulnya yang sudah kendor. Dirasakannya seluruh badannya terasa sakit semua.  Digerak-gerakkannya kadua kaki Kiko, ternyata tidak terikat. Kemudian dia menoleh ke kiri dan ke kanan, tangannya juga sudah tidak terikat. Setelah itu ia sedikit bangun dan melihat ke arah senjatanya. Ternyata air maninya sudah kemana-mana mengenai kain batik. Serta merta ia bangun dari tempat tidur, karena merasa jijik. Bukan hanya karena air maninya yang tumpah dan berbau. Tapi juga jijik terhadap dirinya sendiri yang merasa seperti banci. Suatu perasaan yang selalu menghinggapi Kiko begitu selesai melewati puncak orgasme dengan memakai kain kebaya  .

Tapi begitu sudah berdiri di samping ranjang, Kiko baru sadar kalau  ternyata isterinya mengamatinya sejak tadi  dari luar bersama beberapa temannya yang tadi mengerjainya. Sri dan teman-temannya pun beranjak pergi begitu mengetahui Kiko bangun dari tempat tidur. Setelah menghilang dari pandangan Kiko, Sri masih menanti apa yang akan diperbuat Kiko. Apakah Kiko akan segera berganti pakaian dengan pakaian Kiko sendiri atau tetap memakai kain kebaya yang sudah terkena air maninya.

Sebentar kemudian Sri masuk kembali ke kamarnya dan mendapati suaminya sudah melepas semua pakaiannya dan selesai membersihkan diri serta hanya memakai celana dalam. Kiko sedang membuka lemari pakaian dan mengambil kaosnya sendiri. Sri segera berkata dengan lembut dan merayu, “Yaang, kamu mau pakai kain kebaya lagi nggak ? Sini aku bantu pakaikan ! Tuh temen-temenku sudah nunggu diluar. Kita main-main lagi yuk ! Seneng kan jadi yang paling cantik diantara cewek-cewek cantik. Tau nggak, kamu paling anggun lho kalau pakai kain kebaya diantara kita semua. Paling feminin diantara kita semua”. Dihampirinya Kiko dan Sri memeluknya dari belakang serta merebut kaos yang dipegang Kiko. Tapi  Kiko buru-buru menggelengkan kepala. Ia kapok, badannya capai dan babak belur. Sri berusaha menggeret Kiko menuju lemarinya yang berisi kain batik dan kebaya, tapi Kiko menjejakkan kakinya kuat-kuat ke lantai dan terus menggeleng hingga akhirnya Sri berkata, “Betul, mggak mau lagi nih ? Nggak nyesel, nanti nyesel lho kamu. Lha wong enak kayak gini kok ditolak” Sri pun keluar kamar sambil ngomel, “Banci, banci. Baru main sekali saja sudah kapok. Dasar pengecut ! “. Sebentar kemudian terdengar suara mobil meninggalkan rumah mereka. Itu adalah mobil teman-teman Sri. Setelah peristiwa itu Sri jadi yakin kalau suaminya kapok.

Beberapa lama setelah kejadian itu Sri dan Kiko harus menghadiri acara pernikahan keluarga dekat mereka. Sri pun memakai kain kebaya. Sri senang mendapat kesempatan memakai pakaian itu diluar rumah. Ia pun berdandan dengan cantiknya. Kain batik yang dipakainya diwiru dan dipakainya dengan singsetnya. Tak ketinggalan rambutnya disanggul dengan konde yang besar. Sri melihat suaminya berulang kali menatapnya dari atas ke bawah. Perasaan Sri jadi bingung antara mengharapkan suaminya mencumbunya lagi dengan gairah yang berapi-api dan kuatir jangan-jangan kebrutalan atau kelainan suaminya jadi kambuh lagi. Syukurlah begitu sampai dirumah, suaminya tidak berlaku macam-macam terhadapnya.  Tapi disamping itu ia juga kecewa, karena suaminya tidak mau mencumbunya dan bergairah kepadanya.

Tak lama sesudah Sri dan Kiko pergi kondangan, tiba-tiba Kiko menanyakan dokumentasi dari teman-teman Sri sewaktu ia jadi submissive dulu. Sri pun jadi was-was. Jangan-jangan lantaran melihat aku memakai kain kebaya, kelainannya kumat lagi. Sesudah itu Sri juga memergoki dari belakang Kiko sedang melihat-lihat foto-foto wanita cantik pakai kain kebaya di gadgetnya.

Kiko memang masih tergila-gila kain kebaya dan juga masih ingin memakainya. Peristiwa ia kepergok isterinya sedang melihat-lihat foto-foto wanita berkain kebaya di gadgetnya ternyata di sengaja dengan maksud memancing-mancing isterinya. Siapa tahu isterinya bisa jadi  jengkel, marah dan kembali memaksanya memakai kain kebaya serta mengundang teman-temannya. Peristiwa yang selalu dikenangnya. Dimana ia dipermalukan, ditawan dan dikasari oleh isterinya serta disiksa dan dilihat oleh teman-teman isterinya yang cantik-cantik. Betapa malu, tidak berdaya dan tersiksa serta teraniayanya dirinya. Tapi dibalik semuanya itu justru timbul kepasrahan dan kesenangan serta kebahagiaan yang luar biasa bagi Kiko. Walaupun harus berakhir dengan pingsannya dirinya.

Sebaliknya kesimpulan Sri berbeda, ia berpikir kalau suaminya betul-betul sudah kapok memakai kain kebaya. Karena hal ini bisa memancing dirinya untuk bertindak kasar, bahkan mempermalukannya di depan teman-temannya. Sekalipun suaminya masih tertarik waktu  melihat dirinya memakai kain kebaya lagi, tapi ternyata suaminya tidak berani lagi bertindak brutal kepadanya. Kesukaan Kiko  akan kain kebaya hanya sebatas memandanginya saja seperti yang Kiko lakukan dengan melihat-lihat foto-foto wanita-wanita berkain kebaya di gadgetnya.

Hingga akhirnya suatu hari Kiko mendekati Sri dan berkata dengan kikuk serta terbata-bata, “Sri”. Sri hanya berkata, “heem” tanpa menoleh. Kiko mengulangi lagi, “Sri, Sri”. Isterinya jadi agak jengkel, karena tidak biasanya Kiko memanggilnya berulang-ulang sebelum mulai berbicara kepadanya. Sri jadi mulai curiga jangan-jangan ada maksud tertentu. Sri lalu menoleh sambil berkata, “Ada apa sih ?”. Kiko lalu mulai berkata dengan kikuk dan suara pelan serta wajahnya tidak berani menatap isterinya. “Kamu dulu kan pernah nawari aku mau pakai kain kebaya lagi nggak, ya kan ?”.  Sri berlagak bodoh atau memang lupa dengan perkataan yang pernah diucapkannya dulu dan bertanya, “Apa ? Kapan ?” sanbil memandang wajah Kiko. Kiko yang dipandang dengan tatapan mata tajam jadi keder dan mengkeret. Ia menundukkan kepalanya. Sri setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan dari mulut suaminya. Sri berkata, “Coba kamu ulangi ucapanmu barusan”. Kiko jadi takut. Ia tidak segera mengulangi ucapannya barusan. Tapi Sri masih terus menatapnya dan menunggu Kiko. Kiko pun dengan takut-takut mengulangi ucapannya, “Kamu dulu kan pernah nawari aku mau pakai kain kebaya lagi nggak”. Sri bertanya, “Kapan itu ?”. Kiko menjawab, “Itu waktu ada temen-temen kamu yang ngambil video sama foto aku”,

Mendadak sontak terperanjat kagetlah Sri. Ia serta merta bengkit berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang. Mukanya merah padam menahan amarah, ia berkata, “Haah ??!!”. Sri berpikir dalam hati, ternyata kesimpulannya selama ini salah. Kesimpulan kalau suaminya sudah kapok untuk memakai kain kebaya lagi, karena bisa mendatangkan kemarahan Sri dan sekaligus mendatangkan petaka bagi diri Kiko. Ditahannya emosinya dan Sri berkata dengan tenang, “Oh, jadi kamu masih kepingin pakai kain kebaya lagi ya ?”. Kiko mangangguk-angguk tapi tidak berani memandang wajah Sri. Sri melanjutkan, ” Kenapa dulu kamu menolak waktu aku tawari ?”. Kiko diam tidak menjawab. Tapi dalam hati Kiko berkata, lha wong badan sudah hancur babak belur remuk redam masih ditawari. Kan perlu waktu untuk beristirahat dan recovery. Kiko mau mengucapkan apa yang ada didalam hatinya, tapi tidak berani dan tidak keluar dari mulutnya. Lalu Sri meninggalkan Kiko di ruangan itu.

Sri pergi ke ruangan lain dan Kiko tidak berani mengikutinya. Ia duduk di sofa dan diselonjorkannya kedua kakinya di meja di depannya. Pikirannya kalut. Tobat ! tobat ! Tobil anak kadal ! Nék watuk iso ditambani, nék watak digowo mati.  Pikirannya buntu memikirkan jalan keluar bagi suaminya dari kelainan yang dideritanya.

Keesokan harinya ia mengkontak teman-teman kelompok BDSMnya Lesbi. Ia berkata kalau suaminya tidak kapok tapi sepertinya malah kecanduan. Lesbi lalu mengutarakan usulnya yaitu sekali lagi menjadikan Kiko sebagai submissive, tapi dengan tingkat kesulitan yang lebih berat dan ia juga akan membawa teman-teman prianya. Teman-teman pria ini yang diharapkan akan membangkitkan kesadaran Kiko akan kelainan yang diidapnya.

Sri tidak segera menjawab usul itu. Tapi ia menimbang-nimbang. Apakah akan dipaksanya konsultasi ke psikiater atau menerima usulan Lesbi. Atau apakah Sri harus menerima suaminya seperti apa adanya sekarang ini. Tapi Sri terlalu bingung untuk memutuskannya sendiri. Untuk itu Sri kembali menulis di internet berupa permintaan saran akan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyembuhkan suaminya dari kelainan yang dideritanya.  Permintaan saran itu juga disampaikannya kepada penulis.

Nah, sidang pembaca yang budiman. Anda sudah mengetahui kalau seorang ibu rumah tangga meminta sumbang saran dari anda semua. Langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyembuhkan seorang suami yang mengidap kelainan.  Sujari Sisri menanti sumbang saran anda. Sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih.

One thought on “Kiko Sujaryanto 6

  1. Pingback: Renungan seorang isteri | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s