Kiko Sujaryanto 7

Ini adalah lanjutan dari cerita “renungan seorang isteri” yang berakhir dengan usaha Sri yang gagal untuk membangkitkan kembali gairah suaminya sekalipun ia sudah memancingnya dengan memakai kain kebaya dan berdandan cantik.

Setelah berdiam mematung di ambang pintu, Kiko kemudian melangkah mendekati Sri di ranjang. Dibelai-belainya Sri dari belakang, Sri pun membalikkan badan dan terlentang. Sri sudah berhenti menangis dan ia duduk di ranjang. Ia sekali lagi bermaksud untuk memancing suaminya. Dipegangnya senjata suaminya yang menegang.  Dibukanya celananya suaminya dan direbahkannya Kiko diranjang. Sesudah itu digosok-gosokkannya senjata suaminya ke kain batiknya. Tapi sebentar kemudian senjata Kiko sudah terkulai lemas. Sri jadi kecewa.

Sesudah peristiwa itu Kiko jadi semakin berani terang-terangan melihat foto-foto wanita cantik  memakai kain kebaya.

Beberapa hari kemudian Sri mengutarakan maksudnya untuk mengajak Kiko konsultasi ke psikiater. Kiko hanya diam saja. Setelah berulang kali Sri berusaha membujuknya, akhirnya Kiko mengiyakan. Maka pada hari yang ditentukan mereka berdua pergi ke tempat praktek psikiater. Tapi begitu sampai di tempat itu Kiko mengajak Sri pulang.

Sri jadi jengkel terhadap suaminya. Di saat yang bersamaan kelompok BDSM Lesbi menanyakan kembali apakah Sri mau mencoba alternatif usul yang ditawarkannya. Sri bimbang, tapi akhirnya ia mengiyakan usul Lesbi.

Maka langkah selanjutnya  adalah Sri harus memancing Kiko untuk memakai kain kebaya. Waktu itu Kiko masih melihat-lihat foto-foto wanita berkain kebaya. Sri mendekatinya dan berkata, “Kamu masih senang banget ya kalau lihat wanita pakai kain kebaya ?”. Kiko mengangguk cuek dan meneruskan melihat-lihat foto-foto. Sri jadi gregetan, “Tapi kamu kok gak bergairah waktu lihat aku pakai kain kebaya ?”. Sri bertanya terang-terangan. Kiko diam tidak menjawab. Sri bertanya lagi, “Kamu lebih senang mana, lihat wanita pakai kain kebaya atau kamu sendiri yang pakai kain kebaya ?”. Dalam hati Kiko menjawab tentu saja ia lebih suka memakai kain kebaya sendiri daripada cuma melihat wanita pakai kain kebaya. Tapi ia takut untuk menjawab, Sri pun berkata, “Ayo jawab !”. Kiko tetap diam tanpa memandang Sri. Akhirnya Sri mencoba menarik kesimpulan, “Kamu lebih suka memakai kain kebaya daripada cuma melihat foto-foto wanita memakai kain kebaya. Ya kan ?”. Kiko akhirnya mengangguk.

Sri mulai memancing, “Kalau kamu kudandani pakai kain kebaya lagi mau ?”. Kiko segera mengangguk. Serta merta diajaknya Kiko ke kamar. Tapi terlebih dahulu Sri  mengkontak teman-teman kelompok BDSMnya tanpa diketahui Kiko. Di kamar Kiko sudah menunggu. Tanpa diperintah ia sudah menanggalkan semua pakaiannya hingga hanya tinggal memakai celana dalam. Maka ritual memakai kain kebaya pun dimulailah. Tidak lama ritual memakai kain kebaya lengkap dengan sanggul dan make up pun selesailah.

Bersamaan dengan itu kelompok BDSMnya Lesbi pun datanglah, mereka datang dengan beberapa orang pria yang bertubuh tinggi besar dan kekar. Begitu Kiko mengintip dari ruang tengah dan melihat bahwa diantara teman-teman isterinya yang dulu pernah datang ada beberapa pria yang bertubuh tinggi besar dan kekar, maka ciutlah nyalinya. Ia jadi gelagapan dan mendadak sontak jadi malu serta jijik dengan dirinya yang berdandan seperti banci.

Kiko tidak mengira kalau diantara teman-teman isterinya bakal ada beberapa orang pria. Kiko ternyata masih punya rasa malu untuk berpakaian seperti wanita di hadapan  pria. Maka Kiko bermaksud hendak kembali ke kamar untuk sembunyi dan melepaskan semua pakaiannya, tapi dihalangi oleh Sri. Kiko tidak dapat berbuat banyak, karena kakinya yang ribet memakai kain wiron yang sempit dibawahnya dan belum lagi sandal yang dipakainya haknya juga tinggi.

Akhirnya Sri berkata kepada para tamunya sambil menahan Kiko dengan tangannya supaya tidak lari, “Masuk saja !”. Maka para tamupun masuk ke ruang tengah sementara Sri masih menahan suaminya yang berusaha untuk melarikan diri. Sri pun berkata, “Kamu ini gimana sih, ada tamu kok malah mau lari. Ayo, temui dong tamu kita !”. Dituntunnya Kiko menuju kursi di ruang tengah.

Setelah duduk dengan kikuk Kiko pun menundukkan kepala, maka Sri memegang dagu Kiko dan mendongakkannya sambil berkata, “Tuh, lihat ada cowok-cowok ganteng,  macho lagi ! Kenalan dong, nggak usah malu-malu !”. Beberapa  diantara  para cowok itu pun tersenyum kepada Kiko  dan mengedipkan matanya. Kiko jadi merinding selain malu, risih  dan jijik. Entah risih dan  jijik kepada dirinya yang seperti banci atau risih dan  jijik karena dikedipi mata oleh sesama pria.  Salah seorang diantara mereka berkata kepada Sri, “Suaminya ya ? Namanya siapa ?”. Sri berkata, “Kiko Sujaryanto. Tapi nama dinasnya Kiki Sujaryanti”.  Si pria itu ( kita namai saja Macho Man ) berkata lagi, “ngganteng lho, éh keliru maksudku cantik banget lho ! Persis cewek ori !” sambil dicubitnya pipi Kiko. Si Macho bertanya lagi kepada Sri, “Boleh aku cium dia ?”. Sri hanya mengangguk sambil melirik dan tersenyum kepada Kiko. Tapi Kiko berusaha menghindar, hingga si Macho terpaksa memegang dagu dan leher Kiko. Sesudah itu diciumnya Kiko. Sri yang tahu kalau suaminya jijik berkata, “Nggak usah malu-malu. Gimana rasanya dicium cowok ganteng ?”.

Kiko jadi semakin merinding dan mengumpat dalam hati. Kenapa ia tidak  memikirkan kemungkinan ini dimana  diantara teman-teman Sri ternyata juga diikut sertakan beberapa orang pria. Sekarang Kiko tidak bisa lagi  menikmati keadaannya seperti dulu dimana ia merasa sangat senang dan berbahagia serta nyaman berada diantara cewek-cewek cantik sekalipun ia harus disiksa. Sekarang perasaan yang ada hanyalah merasa malu, risih  dan sedikit jijik serta tidak nyaman dengan keadaan dirinya, karena adanya beberapa orang pria. Belum lagi memikirkan siksaan apa yang akan diterimanya bila yang menyiksa adalah pria-pria yang bertubuh tinggi besar itu. Apalagi tubuh pria-pria itu lebih tinggi dan besar bila dibandingkan dengan dirinya.

Sebentar kemudian Lesbi mengkomando, “Ayo, kita jalan-jalan keluar kota yuk. Cari angin !”. Kiko yang mendengar perkataan itu jadi kaget, ia melirik kepada Sri. Tapi Sri tenang-tenang saja. Kiko pun berpikir ternyata rencana mereka sangat licik dan kejam. Bagaimana bila aku dilihat oleh orang banyak dan mereka mengetahui kalau aku seorang pria. Pikiran Kiko jadi sumpek. Mendadak sontak  Kiko berdiri dan hendak berlari. Tapi Sri dan teman-temannya mengetahui hal ini. Maka mereka pun beramai-ramai segera menangkap Kiko dan mengikat tangan Kiko ke belakang punggung. Karena Kiko masih meronta-ronta, maka mereka juga mengikat kaki Kiko. Setelah Kiko tidak berdaya, Sri menciumnya dan berkata, “Makanya yang nurut, enak-enak mau diajak keluar kota kok menolak”. Ternyata ide keluar kota itu adalah kompromi dari Sri. Karena jika diajak keluar rumah tapi masih didalam kota, maka ada kemungkinan dilihat oleh orang-orang yang mereka kenal.

Kiko dipanggul

Setelah meringkus Kiko, mereka pun berangkat. Kiko karena diikat kaki dan tangannya, maka  dipanggul oleh si Macho seperti memanggul karung beras. Karena takut jatuh dan merasa tidak nyaman, maka Kiko pun meronta-ronta. Sri yang melihat hal ini memukul pantat Kiko dan berkata sambil menjewer telinga Kiko,  “Héh, bisa diam nggak ? Kayak anak kecil saja !”. Begitu sampai di tempat mobil di parkir, si Macho menurunkan Kiko dari panggulannya. Kiko ternyata masih pantang menyerah  dan terus berusaha untuk melarikan diri. Ia pun segera melompat-lompat, karena tidak bisa berlari dan tentu saja mudah bagi mereka untuk menangkap Kiko kembali. Tapi mereka malah sengaja  membiarkan Kiko melompat-lompat sampai hampir masuk kembali kedalam rumah. Mereka malah mengambil video waktu Kiko melompat-lompat sambil tertawa-tawa. Barulah ketika Kiko sudah hampir sampai di depan pintu masuk rumah, Sri menghadang di depannya dengan membawa cambuk ditangannya. Tanpa ampun Kiko dicambuknya beberapa kali. Kiko mengaduh kesakitan sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Kiko pun meraka tangkap dan hendak dimasukkan ke dalam mobil, ketika tiba-tiba Sri berkata, “Jangan masukkan dia di tempat duduk belakang. Masukkan saja ke bagasi belakang. Buat hukuman supaya dia kapok”. Akhirnya Kiko pun mereka masukkan ke bagasi belakang, setelah terlebih dahulu mulutnya mereka bekap, supaya tidak bisa berteriak-teriak.

Kiko di bagasi

Sesudah mereka mengunci bagasi belakang, iring-iringan mobil pun berangkat. Di dalam bagasi, Kiko megap-megap keringatan sambil merenungi nasibnya. Mengapa aku sekarang jadi bulan-bulanan isteriku. Padahal kalau dipikir semuanya ini hanya berawal dari hal yang sepele yaitu sebuah pakaian Jawa kain kebaya.  Pakaian yang tidak uptodate dan ketinggalan jaman. Mengapa aku jadi tergila-gila untuk memakainya. Padahal jelas-jelas pakaian itu untuk wanita, Sedangkan aku seorang pria. Apakah aku sudah gila ? Atau aku sudah menjadi banci ? Ini semua gara-gara isteriku yang tidak mau memakainya lagi lantaran aku mengasarinya. Andai saja aku tidak berlaku brutal kepadanya mungkin saja ia masih tetap mau sering memakai kain kebaya dan hubungan kami tetap harmonis.  Alangkah tololnya aku ! Mengapa pula tiba-tiba aku sangat bergairah ketika ia memakai kain kebaya, padahal sebelumnya ketika ia memakai pakaian yang serba mini aku pun bisa bernafsu. Mengapa aku sekarang tidak nafsu lagi ketika melihat ia memakai pakaian yang serba mini. Pakaian yang justru jelas-jelas mengumbar bagian-bagian tubuh yang dapat mengundang hawa nafsu para lelaki. Dimanakah logika pikiranku ? Pikiran Kiko ngelantur kemana-mana. Menyalahkan dirinya sendiri dan juga menyalahkan isterinya. Hingga ia tidak bisa berpikir lagi. Sesudah itu ia mulai  merasakan keadaan sekelilingnya yang sesak dan gelap serta tangan dan kakinya yang terikat ditambah dengan mulutnya yang disumbat. Kiko tergeletak dalam keadaan miring dan menekuk. Ia mencoba bergerak-gerak sedikit. Tiba-tiba senjatanya yang tergesek kain batiknya jadi terangsang dan mulai menegang. Kiko lalu mulai mencoba menikmati keadaannya. Keadaan yang lebih parah dari sekedar diikat tangan dan kakinya, karena mulutnya juga di sumbat. Belum lagi tempat ia menggeletak sangat sempit, pengap, gelap dan berbau tidak enak. Sedikit demi sedikit  Kiko mulai dapat menerima keadaan ini dengan pasrah dan akhirnya ia pun mulai dapat merasakan kenikmatan karena kepasrahannya. Kiko pun sengaja menggerak-gerakkan pahanya dengan maksud untuk menggesek-gesekkan senjatanya supaya lebih terangsang dan menegang. Kiko pun mulai merintih kenikmatan.

Ternyata perjalanan mereka cukup jauh. Hingga mereka harus  berhenti untuk makan malam. Maka mobil pun berhenti. Mereka memilih parkir ditempat yang agak gelap dan sepi. Begitu mobil berhenti, Kiko jadi dag dig dug. Begitu begasi dibuka, mereka segera membuka lakban dimulutnya dan juga ikatan dikakinya. Tapi mereka tidak membuka ikatan tangan Kiko. Kiko pun mereka angkat keluar dari bagasi. Lengan kanan dan kirinya dipegang oleh 2 orang cowok yang berbadan tinggi besar. Sri kemudian mengalungkan sebuah selendang yang  panjang ke lehernya dari muka ke belakang untuk menutupi tangan Kiko yang terikat. Sri berkata sambil mencubit pipi Kiko, “Duh, senengnya ! Punya cowok sekaligus 2 orang. Ganteng-ganteng, macho lagi ! Cembokur déh aku. Sebentar-sebentar, jangan jalan dulu, biar aku rapikan dulu dandanannya. Biar semakin cantik “.  Makin dongkollah hati Kiko. Sesudah itu Sri cepat-cepat kembali merias ulang dandanan Kiko dan merapikan sanggul serta pakaiannya. Kain wironnya yang kusut dirapikannya dan kembali dirapatkannya hingga bisa singset serta tak lupa wironnya dirapikan juga. Setelah itu kedua cowok di kiri kanan mencium pipi Kiko. Kiko jadi semakin risih dan hilang sudah rasa senang dan nikmatnya.

Sesudah itu mereka pun masuk ke dalam restoran. Kiko jadi semakin kikuk dan tidak percaya diri serta takut, karena dilihat banyak orang. Kaki dan tangannya jadi panas dingin dan gemetar. Kiko pun menundukkan kepala. Apalagi ia memakai pakaian kain kebaya, sementara semua cewek didalam rombongannya tidak ada satupun yang memakai kain kebaya. Demikian pula dengan orang-orang disekitarnya. Brengseknya lagi pikir Kiko, teman-teman dirombongannya malah mengambil foto Kiko yang diapit 2 cowok, hingga semakin menarik perhatian banyak orang. Belum lagi Sri yang malah berkata, “Jangan menunduk terus dong ! Nggak usah malu lantaran cuma pakai kain kebaya. Harusnya kamu malah bangga dong, paling nasionalis diantara kita semua ! Ayo, wajahnya diluruskan ke depan ! Senyum yang manis ! “.  Kedua cowok disebelahnya pun mendongakkan wajah Kiko dengan memegang dagunya. Wajah Kiko pun semakin memerah dan ia semakin panas dingin, gemetar ketakutan..

Setelah selesai memotret Kiko, mereka memesan hidangan. Karena tangannya diikat ke belakang, maka Kiko disuapi bergantian oleh kedua cowok disebelah kiri kanannya. Sementara teman-teman lainnya kembali mengambil foto sambil berkata, “Nah, gitu. Yang mesra ! Lakinya nyuapi ceweknya !”. Kiko karena grogi hampir tersedak dan jadi batuk-batuk. Di saat yang bersaman Kiko merasakan senjatanya menegang. Rupanya ia sudah mulai bisa menikmati keadaan dirinya yang diperlakukan seperti seorang wanita oleh kedua cowok macho dan ganteng. Ia sendiri merasa heran kenapa akhirnya ia bisa juga menikmati keadaan ini dan mulai hilang rasa risih dan jijiknya terhadap sesama lelaki. Karena batuk-batuk, maka si Macho yang disebelahnya menutupkan serbet ke mulut Kiko dan setelah itu ia memberi Kiko minum. Tak terasa senjata Kiko mengeluarkan sedikit cairan. Untungnya ia bisa menahannya.

Sehabis makan di rumah makan, mereka kembali ke tempat parkir mobil. Beruntung kali ini Kiko tidak dimasukkan lagi ke dalam bagasi, tatapi duduk di kursi belakang ditengah-tengah di apit oleh kedua cowok. Tapi tangan Kiko masih mereka ikat dan Kiko mulai merasakan tangannya sakit. Tempat berikutnya yang dituju ternyata lebih mengerikan lagi bagi Kiko. Mereka pergi ke tempat para waria mangkal. Kiko jadi mengkeret keder. Begitu tiba ditempat itu, mereka membuka ikatan tangan Kiko dan mereka mengeluarkan Kiko dari mobil. Kiko melongo tidak tahu harus berbuat apa. Rombongan mobil itu pergi agak menjauh. Ia hanya bisa berdiri mematung, badannya panas dingin gemetaran.

Mulailah petualangan Kiko sebagai waria ditempat prostitusi waria. Sial bagi Kiko, karena tentu saja cuma ia sendiri yang memakai kain kebaya sementara waria-waria lain yang ia lihat semuanya memakai pakaian mini yang sexy.  Tak berapa lama beberapa waria mulai mendatanginya. Mereka saling berbicara satu sama lain menyindir Kiko. “Orang baru. Udik banget ya. Pakai jarik sama kebaya. Sanggulan lagi ! Besar amat kondenya !”. Dipegangnya konde Kiki dan digoyang-goyangnya sedikit. Kemudian salah seorang dari mereka mulai menggerayangi kain wiron Kiko. “Jaman gini masih pakai jarik kayak orang udik. Jadi pembokat saja kamu pantesnya !”. Kemudian ditarik-tariknya ujung wiron Kiko, hingga Kiko berusaha menarik dan menutup kembali kain wironnya. Tapi tak terasa senjata Kiko jadi terangsang dan menegang hingga menyembul.

Semantara itu rombongan Sri melihat dari jauh dan merekam semuanya dengan handy cam. Karena melihat kalau yang mengerubung Kiko semakin bertambah, maka Macho Man keluar dari mobil dan menghampiri Kiko. Para waria itu pun satu per satu meninggalkan Kiko. Si Macho berlagak seolah-olah menjadi pelanggannya Kiko.  Dirangkulnya Kiko dan diciumnya Kiko. Kiko jadi kembali risih, tapi di saat yang bersamaan ia juga merasa lega bisa terbebas dari kepungan para waria. Dan diam-diam Kiko bisa menikmati keadaannya, walaupun kadang masih merasa risih dan jijik.

Malamnya mereka menginap di sebuah villa yang besar. Kamarnya cukup banyak untuk menampung semua anggota rombongan. Tapi anehnya ada sebuah kandang besar mirip kandang anjing. Kiko yang melihat kandang itu segera tahu kalau ia akan dimasukkan kedalam kandang itu. Dan ternyata memang betul, tapi pertama-tama mereka kembali mengikat tangan dan kaki kiko serta merantai leher Kiko. Baru sesudah itu mereka memasukkan Kiko ke kandang itu dan tak lupa mereka menyediakan air putih untuk minum di sebuah tempat di kandang. Sesudah mereka beberapa kali mengambil foto Kiko, mereka meninggalkan Kiko untuk tidur.

Kiko di kandang

Di dalam kandang, semua peristiwa yang dialami Kiko hari itu kembali terlintas seperti potongan-potongan film. Mulai dari dirinya yang ditawari kembali oleh isterinya untuk memakai kain kebaya. Tapi ternyata Sri juga mengundang teman pria yang melecehkannya. Lalu dirinya dicambuk oleh isterinya di depan teman-temannya termasuk teman prianya. Kamudian dirinya disuapi dengan romantis oleh 2 pria setelah terlebih dahulu dipermalukan di depan umum. Hingga akhirnya dirinya ditelantarkan di tempat prostitusi waria dan dikerubuti oleh waria. Setelah kilas balik di dalam pikirannya, Kiko berpikir ternyata enak dan romantis juga diperlakukan sebagai wanita oleh seorang pria. Tapi buru-buru ditepisnya pikiran itu dan ia berkata dalam hatinya, jangan-jangan sekarang ia sudah menjadi homosexual atau waria. Setelah kecapaian akhirnya ia pun tertidur di dalam kandang yang sempit dimana ia tidak bisa tidur dengan lurus tapi harus menekukkan badan.

Pagi harinya setelah Kiko bangun kepagian karena semalaman tidur tidak nyenyak, ia berharap semoga acara perploncoan akan berakhir segera hari ini.  Tapi apa yang diharapkan Kiko sepertinya masih  tinggal menjadi harapan. Karena begitu mereka membuka kandang, mereka tidak melepas rantai yang ada dileher dan ikatan tangan Kiko. Mereka hanya membuka ikatan kaki Kiko dan Sri lalu membuka kancing kebaya Kiko. Selanjutnya Sri  membuka kamisol dan stagen Kiko. Ternyata Sri bermaksud memakaikan ulang kain wiron Kiko yang sudah kedodoran dan tidak singset lagi. Setelah kain wiron Kiko rapi dan singset lagi, Sri malah berkata, “Ayo, lari-lari pagi.  Mumpung masih pagi ! Tuh sudah ditunggu sama pacar kamu !”. Kata Sri sambil menunjuk si Macho yang memegang tali yang diikatkan ke leher Kiko. Mereka kemudian malah memaksa Kiko memakai sandal hak tingginya dengan memasukkan kaki Kiko ke dalam sandal. Sesudah itu si Macho yang memegang tali yang ada dilehar Kiko mulai berjalan dengan agak cepat, sehingga Kiko dengan kepontal-pontal berlari-lari sambil kesrimpet-srimpet jariknya.

Kiko lari pagi

Maka mulailah acara lari-lari pagi di sekitar villa. Acara yang sebetulnya sangat enak dan menyehatkan, karena udaranya sejuk dan pemandangannya indah. Tapi tidak demikian halnya bagi Kiko. Ini adalah suatu penyiksaan.  Tapi setelah beberapa langkah, perasaan Kiko jadi lain. Ia mulai menikmati penyiksaan ini dan senjatanya mulai menegang. Kiko berkata dalam hati, “Oh, alangkah nikmatnya ! Lari kesrimpet-srimpet sambil tangannya diikat kebelakang dan leher dijirat tali. Surga dunia ! Siksalah aku sepuas hatimu, wahai isteriku dan teman-temanku !”.

Jalan disekitar villa itu tidak rata dan sebagian berbatu kerikil serta di beberapa tempat ada trap undak-undakannya. Hingga Kiko pun jatuh terjerembab. Maka Sri segera menghampiri dan dilihatnya kalau ada yang lecet. Ternyata tidak ada. Maka Sri membantu Kiko berdiri dan matanya melihat ke arah senjata Kiko yang menegang. Maka dibisikinya Kiko, “Gimana rasanya ? Nikmat ya ?”. Sesudah itu Sri membetot senjata Kiko, sehingga Kiko jadi kejét-kejét. Sebentar kemudian  dilepaskannya senjata Kiko. Sri berkata lagi, “Ayo, dilanjutkan lagi lari-larinya !”. Sambil ditaboknya pantat Kiko.

Setelah berlari beberapa langkah, kembali Kiko terjatuh. Sri sekali lagi menghampiri Kiko dan membantunya berdiri. Karena dilihatnya tidak ada yang lecet, Sri berkata mengancam, “Awas, kamu kalau sampai jatuh lagi ! Larinya yang hati-hati dong !”. Sekali lagi dipukulnya pantat Kiko.

Maka Kiko pun memperlambat larinya, tapi Sri jadi gusar dan berkata, “Larinya kok pelan amat sih ! Ayo yang cepat !”. Lalu dicambuknya Kiko.  Kiko kaget, tidak mengira kalau Sri akan mencambuknya hingga ia oleng dan jatuh. “Larinya yang cepat tapi hati-hati jangan sampai jatuh !”. Kiko jadi bingung. Bagaimana caranya ? Disuruh lari cepat, tapi pakai kain wiron yang sempit. Belum lagi tangannya diikat ke belakang dan kakinya memakai sandal hak tinggi. Tapi bagaimanapun sekarang aku bisa menikmati siksaan ini. Terima kasih isteriku yang tercinta. Kiko masih tergeletak di tanah dan Sri kambali mencambuknya, hingga si Macho mencegah Sri dengan merebut cambuk dari tangannya. Maka Sri pun berkata, “Duh, pacar kamu marah tuh”. Si Macho kemudian mengangkat Kiko dan memanggulnya dipundaknya. Rombongan itu kemudian kembali ke villa.

Di villa, mereka makan pagi dan kembali lagi  mereka mengerjai Kiko. Mereka tidak membuka ikatan tangan Kiko, hingga Kiko harus makan langsung dengan mulutnya. Sementara mereka malah tertawa-tawa dan merekamnya.  Tentu saja Kiko makannya paling lama diantara yang lainnya, hingga Sri berkata, “Makan saja lama ! Ayo, cepat ! Jangan seperti anak kecil”.  Ketika tinggal sedikit, Sri mengambil piring makan Kiko dan ditumpahkannya tepat di muka Kiko. Kiko jadi merasa sangat terhina. Ia merasa diperlakukan seperti binatang. Tapi ia hanya bisa pasrah. Sesudah itu Kiko pun minum dengan sedotan dan ketika tinggal sedikit air yang ada di gelas, Sri mengambil gelas itu dan menyiramkan sisanya ke muka Kiko.

Sehabis makan pagi mereka merencanakan untuk membuat arena penyiksaan bagi Kiko. Maka mereka menyingkirkan meja dan kursi. Tapi mereka melihat lantainya kurang bersih dan mereka jadi mendapat ide untuk menyuruh Kiko menyapu lantai dengan tangan terikat ke belakang. Sri menghampiri Kiko sambil membawa sapu dan berkata, “Sayang, kamu bersihin dulu lantainya ya. Soalnya kamu sendiri kan yang ngotori lantai dengan tumpahan makananmu”. Kiko menjawab, “Tapi tanganku kan masih terikat di belakang”. Sri balik menjawab, “Ya, nggak apa-apa kan, sayang. Kamu kan bisa nyapu sambil noléh ke belakang”.  Kiko pun berpikir alangkah liciknya isteriku. Ia sendiri yang menumpahkan piring makanku sekarang aku yang disuruh menyapu. Kiko pun pasrah menerima sapu dari tangan Sri dan mulai menyapu dengan menoleh kebelakang sambil berjalan mundur. Tentu saja kesulitan dan banyak kotoran yang luput tidak tersapu. Sri pun marah, “Pembokat ! Kerja yang betul ya ! Awas kamu nanti aku cambuk lagi kalau nggak bersih !”.

Kiko nyapu

Setelah Kiko selesai menyapu, Sri sekali lagi mencarikan pekerjaan bagi Kiko. Diambilnya pel dan ember berisi air. Diserahkannya ke Kiko sambil berkata, “Nih, dipel sekalian lantainya biar licin !”. Kiko tidak bisa membantah, ia pun mengepel sambil mengesot di lantai dan menoleh kebelakang. Sementara yang lainnya sibuk merekam dan memotret serta menyiapkan peralatan. Kiko berpikir dalam hati, alangkah konyolnya aku. Aku yang akan disika, tapi aku sendiri pula yang mempersiapkan arena pembantaianku.

Selesai mengepel, mereka membiarkan Kiko beristirahat sejenak. Sesudah itu mereka mengikat kaki Kiko dan menggantung Kiko dengan kepala di bawah.  Kepala Kiko terasa berat dan berdenyut-denyut. Ia menantikan siksaan apa yang akan diterimanya. Kiko kemudian tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Si Macho membuka celananya dan mengeluarkan senjatanya yang besarnya audzubillah. Lebih besar dari senjata Kiko sendiri. Ia tak percaya, si Macho akan mengeluarkan senjatanya di depan banyak orang dan isterinya hanya tenang-tenang saja memperhatikan sambil merekam. Kiko heran kenapa isterinya membiarkan hal ini terjadi. Kiko jadi gelagapan, ia menolak dan meronta-ronta. Tapi Si Macho dengan mudahnya memegang kepala Kiko dan membuka mulut Kiko hingga senjatanya masuk ke mulut. Huuéékkk ! Kiko terasa jijik dan mau muntah, tapi tidak bisa karena mulutnya sudah tersumbat senjata si Macho. Tak lama kemudian semuanya jadi gelap.

Kiko dioral

 

One thought on “Kiko Sujaryanto 7

  1. Pingback: Kiko Sujaryanto 8 | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s