Archives

Taat pada adat

itulah alasan yang tepat
kenapa  wanita Jawa mau repot-repot memakai jarik ketat
pakaian yang membuat berkeringat
belum lagi ditambah kebaya ketat
stagen yang membebat
dan konde yang berat
alhasil kalau jalan jadi kesrimpet-srimpat  tidak bisa cepat
semua gerakan pun jadi terhambat
kalau belum biasa badan bisa jadi penat

ingat kepada adat
lebih tepatnya taat kepada adat istiadat
sekaligus menaruh hormat
walaupun sampai kiamat
supaya tidak kualat

walaupun era teknologi sudah maju melesat
walaupun bisa-bisa dibilang kuno tapi malah kayak ningrat
asal bukan ning ratan kalau yang itu mah artinya melarat
dan tidak mungkin dibilang bejat

daripada pakai bikini salah-salah bisa dilaknat
atau dikatakan kurang bermartabat
mendingan pakai kebaya ketat
biar tambah sexy  pakai kupnat
bahannya pun dari brokat
biar dalamnya bisa sedikit terlihat

pantat pun jadi lebih terangkat
lebih besar berisi dan lebih padat
karena jarik dan stagen yang membebat
membuat semua pria yang melihat jadi tobat-tobat
menikmati pemandangan yang lezat
hidup pun serasa diantara dunia dan akhirat
tidak heran banyak orang yang jadi terpikat
walaupun mungkin cuma beberapa saat

biar berkeringat tapi malah sehat
kalau sulit jalan pun  malah semakin nikmat
atau bisa lompat-lompat
asal jangan sambil akrobat
nanti dikira orang gila lagi kumat

oalah tobat-tobat
pikiran sudah tidak kuat
nyari kata-kata yang berakhiran at
buat nyusun kalimat
akhirnya semoga para pembaca bisa mendapat sedikit manfaat
dan bukannya mudharat

makan ketupat
jangan dicampur sama obat
puisinya sudah tamat
nyuwun pangapunten menawi kulo lepat
teriring doa semoga para pembaca semua sehat walafiat
tapi jangan lupa selalu pakai kain kebaya disetiap saat

SALAM TIGA JARIT ! SelamA-LAManya Tetap Ingin GAya dengan JARIk ketaT !

Susi vs Suzi

Pada pelantikan menteri Kabinet Kerja Jokowi tanggal 27 Oktober lalu tampak ada beberapa hal yang menonjol. Ada 8 orang menteri wanita. Ada seorang guru besar perempuan pertama dari Papua yang bernama Yohana Susana Yembise. Tapi selain itu disaat para menteri wanita yang lain memakai baju batik dan  celana panjang atau rok panjang, ternyata ada juga  seorang menteri yang memakai kebaya dan kain jarik serta memakai sanggul. Ia memakai kaca mata warna gelap pula. Dia adalah Susi Pudjiastuti. Menteri kelautan dan perikanan kita.

Tak ayal sehabis pelantikan itu, media pun segera menyoroti penampilan dan dandanannya. Tidak berhenti sampai disitu saja, tapi media juga mengulas kembali kehidupan dan gaya hidupnya yang nyentrik serta suka merokok. Bisa dibilang kalau ia jadi sasaran empuk pers media. Apalagi kehidupannya  seperti seorang “pemberontak”, pendobrak norma-norma yang ada.

Tapi jauh sebelum itu, beberapa dekade sebelumnya ternyata ada juga seorang Susi yang juga pemberontak. Tapi nama Susi nya memakai huruf  “z” di huruf ketiganya. Ia adalah Suzi Quatro. Tapi ia tidak hidup di Indonesia, ia hidup di Amerika. Suzi yang ini juga seorang pemberontak dan pendobrak di masanya. Ia adalah seorang penyanyi dan pamain bass rock dimasa itu. Dimasa dimana masih jarang ada seorang wanita menyanyi rock.

Walaupun  Suzi Quatro ini adalah seorang rocker, tapi kecantikannya tidak diragukan lagi dan tidak kalah bila dibandingkan dengan artis-artis cewek pada umumnya. Demikian pula dengan Susi Pudjiastuti walaupun usianya hampir setengah abad, tapi kecantikannya juga masih terpancar dari wajahnya.

Tubuh si rocker Suzi ini pun mungil bukannya gagah perkasa seperti rocker pria. Demikian pula dengan Sri Pudjiastuti, walaupun tidak mungil tapi tubuhnya cukup singset. Apalagi waktu beliau memakai kebaya.

Suara kedua wanita ini pun berbeda dan punya kekhasannya sendiri-sendiri. Suzi Quatro walaupun seorang rocker, suaranya tidak berat dan serak. Tapi melengking tinggi. Sebaliknya walaupun Susi Pudjiastuti adalah seorang executive dan bukan seorang rocker, tapi suaranya berat dan serak.

Suzi Quatro dikenal  nyentrik dalam hal berbusana. Karena hampir selalu memakai outfit pullover tertutup dari kulit yang menutup tangan dan kakinya, sehingga sebagian orang menduga kalau tubuhnya tidak mulus dan perlu ditutup dengan pakaian. Walaupun pada akhirnya Suzi membuktikan kalau tubuhnya mulus dengan mamakai pakaian minim.

Suzi in leather outfit  Suzi wore bra and panty

Maka sebaliknya dengan Susi Pudjiastuti, dalam hal berbusana ia  tidak eksentrik tapi malah menunjukkan keanggunannya dengan sering berkain kebaya.  Busana tertutup dan sopan, seolah-olah mau menutupi tubuhnya. Memang  ternyata tubuhnya tidak mulus, tapi bertattoo dikakinya. Dan ia malah menunjukkan tattoo yang ada dikakinya dengan memakai jarik yang tersingkap tinggi.

Tato-Susi-Pudjiastuti

Kalau Suzi Quatro lebih sering memakai celana panjang, karena memang sesuai dengan bidang musik rock yang digelutinya yang pada umumnya lebih sering digeluti para pria. Maka Susi Pudjiastuti lebih sering memakai kebaya pada acara-acara formal yang dihadirinya. disaat yang bersamaan dimana para executive lebih sering menghindari memakai kebaya.

Kalau dulu Suzi Quatro merupakan satu salah perintis  penyanyi rock wanita dan sekaligus seorang pejuang emansipasi wanita di bidang musik rock, tapi sekalipun begitu tidak ada suara-suara minor  yang mengatakannya sebagai orang gila. Maka Susi Pudjiastuti walaupun bukan seorang menteri wanita yang pertama di Indonesia, tapi sebagian orang mengatakannya sebagai “orang gila” termasuk dirinya sendiri sewaktu ia ditawari untuk menjadi menteri oleh Jokowi. Karena tingkah lakunya yang nyentrik. belum lagi kebiasaannya merokok. Nada-nada sumbang pun terdengar seiring pengangkatannya menjadi menteri. Apalagi latar belakang pendidikannya cuma SMP.

Kalau dulu Suzi Quatro boleh dibilang sebagai revolusi mental untuk seorang wanita sebagai penyanyi rock, maka Susi Pudjiastuti boleh dibilang sebagai hasil revolusi mental dari Jokowi. Begitulah paling tidak pandangan  minor dari pers. Bahkan seorang gembong juru kampanye koalisi KMP yang jadi rival Jokowi sewaktu Pilpres ikut mengatakan kalau perlu ada menteri yang bertattoo.

Tapi diluar semuanya itu seperti halnya Suzi Quatro yang pernah meraih beberapa penghargaan di masanya, Susi Pudjiastuti pun adalah seorang wanita yang berprestasi tinggi khsususnya di bidang bisnis dan pernah meraih berbagai penghargaan di Indonesia. Gebrakannya sangat diharapkan untuk menata kembali kelautan dan perikanan di Indonesia. Semoga bapak presiden kita tidak salah pilih orang untuk diangkat menjadi menteri kelautan dan perikanan. Selamat bekerja sambil menguri-uri busana nasional kita. Salam tiga jari ! SelamALAManya Tetap Ingin GAya dengan  JARIk !

 

Old fashioned lady vs mental revolution gentleman

Tahun ini rekyat Indonesia baru saja  selesai merayakan pesta besar-besaran. Pesta demokrasi memilih pemimpin negara kita yang tercinta. Dan hasilnya seperti yang sudah kita ketahui bersama. Jokowi terpilih menjadi presiden RI. Sosok pemimpin yang masih muda dan lahir dari rakyat. Meski pada awalnya banyak yang ragu karena minimnya pengalaman beliau. Banyak juga yang  sinis, pesimis  dan ada yang berkata kalau ia hanya bermodal wajah lugu saja bahkan ada yang mengatakan  kalau ia tidak lebih dari seorang tukang mebel. Tapi karir politiknya melejit begitu cepat. Dari wali kota Solo menjadi gubernur DKI.  Dan belum genap 5 tahun sudah menjadi Presiden RI.

Gayanya yang khas yaitu blusukan, suka berlari dan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi ke arah perubahan yang lebih baik hingga sering disebut-sebut  sebagai revolusi mental. Mungkinkah ia ini adalah satria piningit yang kita tunggu-tunggu ? Ratu adil yang akan menciptakan  kesejahteraan bagi segenap rakyat Indonesia ? Semoga saja, begitulah paling tidak harapan kita semua.

Tapi dibalik semua itu, dibalik setiap pria yang hebat selalu ada wanita kuat yang mendukungnya. Dan itu adalah ibu negara kita, Iriana. Beliau selain cantik juga anggun serta pandai dalam memilih busana yang cocok dikenakan untuk  mendampingi suami tercintanya. Dan tahukah anda apa busana pilihan beliau untuk mendampingi sang presiden di acara-acara resmi ?

Tentu saja seperti yang  telah anda lihat  ia memilih busana nasional kita kain kebaya. Tapi tidak main-main dan bukan sembarang kain kebaya atau asal kain kebaya. Disaat wanita yang lain lebih memilih kebaya yang sudah dimodifikasi menjadi kebaya modern, beliau malah memilih kebaya tradisional. Dan disaat bersamaan pada waktu wanita yang lain lebih memilih sarung atau kain batik yang sudah dijahit menjadi rok, beliau malah memilih kain batik berwiru yang pemakaiannya lebih ribet. Beliau bahkan melengkapinya dengan selendang yang disampirkan di pundak. Serta tidak lupa  sanggul tradisional menghias kepala beliau.

Kalau melihat hal ini dapat ditarik kesimpulan ternyata revolusi  tidak cocok diterapkan di segala bidang. Bidang kebudayaan khususnya busana tidak cocok untuk di revolusi. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati budayanya. Disamping itu jika suatu bangsa lupa akan budayanya maka akan menjadi seperti tanaman yang tercabut dari akarnya.  Sekalipun dengan demikian dapat dikatakan kalau busana yang dikenakan beliau adalah busana jaman dulu yang ketinggalan zaman. Tapi memang begitulah busana nasional wanita Indonesia yang masih pakem dan tidak dimodifikasi. Kalaupun dimodifikasi terutama kalau sudah melenceng jauh sudah tidak dapat dikatakan sebagai busana nasional lagi.

Cara berbusana beliau bahkan oleh pers dibanding-bandingkan  dan disebut-sebut sangat mirip dengan cara berbusana almarhumah ibu Tien yang juga selalu memakai kain kebaya. Kebaya kutu baru dengan bawahan kain wiron dan dilengkapi dengan selendang.  Sangat klasik dan elegan serta anggun. Pada pelantikan suaminya menjadi presiden, beliau memakai kebaya orange dengan motif bunga.  Dan ketika ditanya wartawan kenapa beliau memilih kebaya warna orange, beliau mengatakan kalau itu adalah pilihan dari suaminya.

 

irianaberkebayaorange

Di acara berikutnya yaitu pelantikan para menteri, beliau memakai kebaya panjang warna biru dengan motif bintik-bintik.

irianaberkebayabiru

Satu pesan buat Bapak Presiden kalau sedang menghadiri acara formal dan sang ibu sedang memakai kain kebaya, tolong jangan disuruh lari-lari. Karena kebiasaan Presiden baru kita yang suka berlari-lari. Seperti juga pada waktu acara pengumuman dan pengenalan para menteri, para menteri pun juga berlari-lari kecil begitu namanya disebut oleh sang Presiden. Ingat kalau sang ibu negara sedang memakai kain kebaya dan adalah bukan suatu hal yang normal kalau seorang wanita yang memakai kain kebaya berlari-lari. Sebab kain wiron yang dipakai biasanya sempit dibagian bawah. Belum lagi  gambaran yang sudah melekat pada wanita Jawa kalau para wanita Jawa selalu lemah lembut, anggun dan gemulai. Bahkan ada pameo yang mengatakan “alon-alon waton kelakon”. Artinya biar lambat asal terlaksana.  Lagi pula ibu negara kita adalah wong Solo. Karena itu biarlah yang berlari para menteri, staf dan seluruh jajaran pemerintahan. Demi tercapainya kesejahteraan negara kita tercinta.

 

tailor-made

Jaman sekarang memang serba praktis. Semua orang mintanya serba cepat,  serba instan. Kalau mie namanya mie instan. Tidak cuma mie saja, spagethi sekarang juga sudah ada yang instan. Demikian  juga dengan bumbu.

Pakaian pun sekarang sudah ada yang dibuat versi instannya. Maksud saya adalah kain batik yang biasa digunakan sebagai bawahan dari kebaya kalau menurut pakem aslinya sebelum mengalami modifikasi dan modernisasi. Kain batik yang sebelah ujung luarnya di lipat-lipat seperti kipas atau diwiru.

Sekarang atau tepatnya sudah bertahun-tahun bahkan mungkin sudah lebih  dari 1 dasawarsa, kain batik sudah bisa dijahit menjadi seperti rok bahkan depannya juga diwiru. Sehingga pemakaiannya jadi praktis. Tinggal dipakai seperti rok, dimasukkan dari bawah. Jadi si pemakai tidak usah repot-repot menyilangkan kedua kaki atau merapatkan kedua kaki atau memajukan sedikit salah satu kakinya untuk mulai memakai kain batik. Kedua tangan pun tidak usah repot-repot memegangi ujung kain dan memutar kain batik mengelilingi pinggang  sambil menarik-narik dengan kuat atau menggeser-geser bila ujung luar kain jatuhnya tidak pas ditengah agak ke kanan sedikit. Belum lagi masih perlu mengikat kencang-kencang pinggang dengan tali supaya kain tidak melorot.

Semua hal diatas tidak perlu dilakukan bila kain batik sudah dijahit menjadi rok atau sarimbit. Cukup dimasukkan dari bawah. Waktu yang diperlukan untuk memakai otomatis jadi lebih singkat.

Kain batik yang dijahit menjadi rok pun macamnya ada banyak lebih dari satu. Ada yang sama sekali tidak dipotong, sehingga paling mirip dengan kain wiron asli yang masih lembaran. Ada yang dipotong dan dijahit disamping-sampingnya dengan demikian jika diamat-amati dari sisi-sisinya akan kelihatan kalau sudah dijahit. Ada pula yang wironnya tidak bisa membuka sampai ke atas, sehingga bila berjalan akan ketahuan kalau kainnya sudah dijahit. Bahkan ada pula yang bagian wiron sebelah bawah sengaja diberi bukaan dengan maksud untuk memudahkan si pemakai melangkah lebih lebar. Atau malah lebih ekstrim lagi dibuat rok yang melebar ke bawah atau pun yang sampai model duyung.

Kain batik yang sudah dijahit dari segi waktu pemakaian memang akan lebih hemat. Demikian juga sesudah dicuci, kita tidak perlu mewirunya lagi. Tapi dari segi ekonomi otomatis memerlukan biaya untuk menjahitkan. Dan logikanya, sesuatu yang dijahit akan bisa robek atau lepas jahitannya. Demikian juga dengan kain batik yang sudah dijahit. Jadi lebih awet jika masih berupa kain batik lembaran.

Rupanya kecenderungan untuk serba praktis tidak hanya terjadi pada orang awam kebanyakan yang sebenarnya tidak senang memakai kain kebaya tapi terpaksa memakai kain wiron untuk acara tertentu. Penyanyi-penyanyi campursari yang nyambi jadi pesinden pun sebagian memilih memakai kain batik yang sudah dijahit untuk bawahan kebayanya pada waktu pentas. Terutama untuk generasi yang masih muda.

Lucunya ada seorang pesinden yang biasa menjahitkan kain batiknya dengan model dipotong sisi-sisinya mengeluh kain jariknya ( yang sudah dijahit ) jadi mudah rusak atau robek dan minta alamat dari penjahit yang bisa menjahitkan kain batik tanpa memotongnya sama sekali. Saya pun memberi komentar begini, apa tidak lebih baik dibiarkan berupa kain batik lembaran saja. Jadi bisa awet lebih lama. Cuma kalau habis dicuci langsung di wiru. Memakainya tinggal di putar ke sekeliling pinggang kita ( walaupun pada kenyataannya lebih sulit ). Sekalian belajar ngadi salira ngadi busono.

Seragam sekolah

Entah kenapa sebuah tayangan tentang seragam sekolah di acara Suka-suka Kompastv ini bisa menarik perhatian saya. Dimulai dengan seragam sekolah pertama di dunia yang dipelopori oleh negara Inggris. Kemudian ulasan berlanjut untuk kawasan Asia tepatnya Jepang dimana dulu seragam sekolahnya berupa kimono. Baru setelah ada pengaruh dari Barat, maka seragam untuk siswi berubah menjadi mirip seperti pelaut. Dan akhirnya tentu saja juga dibahas seragam sekolah di negara kita tercinta Indonesia.

Kalau jaman sekarang seragam sekolah pada umumnya adalah rok dan baju untuk para siswi. Atau celana dan baju untuk para siswa. Maka seragam sekolah untuk siswi  pribumi di jaman penjajahan Belanda dahulu adalah kain jarik dan kebaya serta tentu saja dengan rambut yang disanggul. Sedangkan untuk para siswi yang keturunan Belanda, pakaiannya adalah rok.

Bisa dibayangkan betapa feminin dan anggunnya para siswi pribumi dahulu. Betapa gandes luwesnya mereka. Tiap hari berjalan dari rumah ke sekolah dengan memakai kain dan kebaya, mungkin mereka memegang payung di sebelah tangan dan juga selendang serta tas atau buku-buku. Atau mereka malah naik sepeda walaupun mungkin agak kesulitan kalau kain jariknya kesempitan memakainya hingga perlu dicincing atau dinaikkan ke atas sedikit. Tapi melihat foto-foto dokumentasi atau video-video hitam putih jaman dulu rata-rata mereka memakai kain jarik dengan agak longgar dan tidak begitu menyempit atau meruncing kebawah. Sehingga mereka mungkin tidak begitu kesulitan jika harus mengayuh sepeda dengan memakai kain jarik.

Cuma untuk pelajaran olahraga, kalau dahulu ada. Saya masih sulit untuk membayangkan bagaimana para siswi yang memakai kain dan kebaya ini harus berolah raga. Kalau untuk upacara bendera sebagai petugas pengibar bendera mungkin masih mudah. Karena cuma harus berjalan dengan langkah tegap walaupun berkain kebaya. Atau senam juga mungkin tidak kesulitan, paling pada waktu harus membuka kedua kaki lebar-lebar terhalang oleh kain jariknya. Juga pada waktu gerakan menendang, kaki jadi tidak bisa terlalu keatas. Karena terhalang oleh kain jarik. Kecuali kainnya dicincing atau dinaikkan terlebih dahulu. Tapi jika harus lari dengan memakai kain kebaya, bisa-bisa mereka kesrimpet-srimpet kain jarik mereka sendiri dan akhirnya kain jarik mereka jadi kedodoran. Yang lebih parah mereka mungkin bisa jatuh kesrimpet kain jarik mereka sendiri. Padahal dulu ada sebuah permainan olahraga yang terkenal waktu jaman Belanda yaitu kasti dan di dalam permainan itu para pemainnya harus berlari dari suatu tempat ke tempat lain serta harus menghindar dari lemparan bola yang ditujukan kepada yang bersangkutan kalau perlu dengan berguling-guling di tanah. Belum lagi kalau harus loncat tinggi atau lompat jauh. Atau mungkin dulu juga sudah ada pakaian olah raga berupa kaos dan celana olahraga seperti sekarang.

Kemudian tayangan ini ditutup dengan komentar dari hostnya yang kurang lebih begini, bagaimana  kalau sekarang  kain kebaya itu diterapkan menjadi seragam para siswi di sekolah-sekolah di Indonesia ? Bisa dibayangkan setiap pagi harus bangun subuh-subuh untuk pasang sanggul. Belum lagi makai kain jarik wironnya. Terus nanti kalau berangkat ke sekolahnya naik bus. Apalagi kalau di sekolah kebelet pipis.

Tapi pakaian nasional kain kebaya ini sudah dijadikan sebagai pakaian yang wajib dikenakan oleh para pegawai negeri di Solo walaupun cuma seminggu sekali waktu pak Jokowi masih menjabat sebagai wali kota Solo. Itu pun sudah mengundang pro dan kontra. Sekarang apakah kewajiban itu masih berjalan ?

Kesimpulannya ternyata sekarang fungsi kain kebaya sudah berkurang. Dulu dijadikan sebagai  seragam sekolah, sekarang digantikan oleh baju dan rok. Kemudian pada waktu jaman Orde Baru masih menjadi pakaian pesta nasional. Sekarang sudah tergantikan oleh pakaian pesta yang berasal dari negara Barat.

Only Women Bleed

Man’s got his woman to take his seed
He’s got the power – oh
She’s got the need
She spends her life through pleasing up her man
She feeds him dinner or anything she can

She cries alone at night too often
He smokes and drinks and don’t come home at all
Only women bleed

Man makes your hair gray
He’s your life’s mistake
All you’re really lookin’ for is an even break

He lies right at you
You know you hate this game
He slaps you once in a while and you live and love in pain

She cries alone at night too often
He smokes and drinks and don’t come home at all
Only women bleed

Black eyes all of the time
Don’t spend a dime
Clean up this grime
And you there down on your knees begging me please come
Watch me bleed

Only women bleed

Once I read the lyric from this song, I feel touched. This song was written by Alice Cooper with someone else named Dick Wagner. For you know that Alice Cooper is a rock singer who also known with his horror performance. I don’t know about his life and personality.  But this song seems sympathetic to women.

It is a ballad about a woman in an abusive marriage. A very stereotyped view about a bad husband and a devoted wife. A husband needs a wife only to take his seed in relation to reproduction and continuation of his generation. He spends his nights outside of their home and without his wife or just smoking and getting drunk. Instead of making intimate relationship with his wife, he shows his power and plays rough. While his wife spends her life through pleasing  her husband,  feed him  and has to  live in  pain and lies with her marriage. In biology,  it’s like a relation that called as a parasitic  simbyosis. The one gets profit, but the other gets loss.

It’s a picture that the writer of this song told us. And the writer is an American. A country where  gender equality and women liberation come from. What about in Indonesia ?

These days around  April 21st we are celebrating the birth day of a heroine named RA Kartini. Someone who is famous with her letters “Habis Gelap Terbitlah Terang”.  She is a heroine who is famous because of  her struggle for her  gender equality.

What about her own marriage ? Happy, although her husband was not her own choice. But it’s her parents’ choice. She had to face the reality between to obey her parents or to marry her own choice, someone she loves. Fortunately, her husband loves her.

What about her struggle ? Nowadays, women are getting appreciated her rights. In career, they can get a job or position where it’s used to be occupied only by a man. From a low job like driver until a high job like a government head even until the president.

But  with the situation like this,  whether such abusive marriage as told in the song is not exist anymore? We can only hope and pray, hopefully the situation  may no longer exists. The rest, maybe we need to educate ourselves.

Jarik

aJA seRIK
Itu arti filosofi dari jarik.
Artinya jangan iri terhadap orang lain.
Tapi bisa juga diartikan menjadi jangan serik kalau dibilang kampungan ndeso.
Lantaran ketinggalan jaman dan ketinggalan mode.
Walaupun itulah yang dipakai para bangsawan Jawa.
Bahkan ada istilah lain yang lebih anggun yaitu aristokrat Jawa.

JArang diliRIK.
Memang itulah keadaannya.
Semakin ditinggalkan oleh kebanyakan dari kita.

JAngan diliRIK.
Kalau ini adalah peringatan  buat para penggemar berat busana Jawa.
Soalnya sekali lirik bisa-bisa tergoda dan hawa nafsu bisa naik sampai kepala.

diJAbarkan dan ditaRIK.
Itulah cara memakainya.
Dibuka dan ditarik mengelilingi pinggang  kuat-kuat.

kalau JAlan diliRIK.
Kalau sudah memakai busana ini, kain kebaya.
Bisa-bisa orang lain pada ngelirik begitu lihat kita berjalan.

kalau JAlan meliRIK.
Sementara buat pemakainya sendiri bisa-bisa jalan sambil lirak-lirik.
Soalnya malu terlihat begitu anggun dan lain daripada yang lain.

rela diJAjah asal menaRIK
Seluruh badan dari kaki sampai kepala rela dipakaikan sandal jinjit, jarik,  corset, kebaya dan sanggul.
Asal akhirnya bisa tampil cantik dan anggun.

JAdilah putRI Kartini
Inilah yang biasa didengungkan di hari yang bertanggal 21 April.
Meneladani pahlawan emansipasi wanita Indonesia.
Entah cuma soal pakaiannya  ataupun sampai ke ideologinya.
Sekali lagi, selamat hari Kartini !

bluewalk1 bluewalk2