Archives

Kiko Sujaryanto 12

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan Kiko yang diikat dan dibungkus rapat serta ditetesi dengan lilin.

Setelah semalaman Kiko menderita, keesokan harinya Sri baru membuka jarik yang membungkus tubuh Kiko dan membuka ikatan tangan serta kakinya. Kiko yang kegerahan dan lengket tubuhnya mau mandi.  Tapi ia takut kalau ia tidak dibolehkan membuka pakaiannya, maka ia berkata pada Sri, “Aku mau mandi dulu”. Untungnya isterinya memperbolehkannya. Kiko pun segera membuka pakaiannya hingga telanjang dan mandi.

Setelah mandi, Kiko santai dan berlama-lama hanya memakai celana dalam. Maka Sri membentaknya, “Héh, kamu jangan santai-santai ya ! Ayo cepat dipakai pakaianmu !”. Kiko segera menuju ke lemari pakaiannya, tapi ia lupa kalau semua pakaian lelakinya sudah diambil isterinya. Sri yang melihat Kiko kecele berkata, “Kiki, Kiki ! Kamu tidak ingat ya kalau sudah mulai kemarin pakaian-pakaian kamu aku sita semua ! Sekarang tiap hari kamu harus pakai jarik, kebaya sama sanggulan !”.  Kiko baru sadar dan terbersit kecemasan bagaimana kalau ada ibu, saudara apa teman-teman yang datang. Tapi ia tidak bisa berdiam lama-lama, karena Sri sudah kembali membentaknya, “Héh, pembokat ! Ayo cepat berpakaian, terus kerja lagi !”. Kiko pun segera memakai kain batik dan kebaya serta kelengkapannya.

Tapi Kiko mengenakan jariknya dengan asal-asalan hingga melebar ke bawah. Ia memang sengaja melakukannya dengan maksud supaya ia bisa lebih leluasa dan bebas waktu melangkah. Tapi Sri melihatnya, maka ia menyuruh Kiko untuk membuka kembali jariknya dan memakainya dengan singset.

Pekerjaan pertama hari itu Kiko menyapu lantai. Sambil menyapu, ia merenungi nasibnya. Masa aku sekarang jadi pembantu beneran. Belum lagi seluruh pakaianku diambil semua sama isteriku. Yang tinggal hanya celana dalam. Terbersit pikiran untuk melawan dan meninggalkan rumah. Tapi bagaimana dengan anaknya ? Kiko kemudian berpikir untuk meminta kembali pakaian-pakaiannya atau jika sudah dijual, ia minta dibelikan pakaian lelaki yang baru serta diperbolehkan memakainya untuk waktu-waktu tertentu. Tapi dengan segera segala uneg-unegnya buyar begitu terdengar teriakan isterinya, “Kerja yang benar ya ! yang bersih ! jangan lelet !”.

Sementara itu Sri malah memikirkan ide yang lebih gila. Ia tahu kalau Kiko mempunyai teman seorang laki sewaktu masih sekolah dulu. Kiko sering mengejeknya sebagai bencong.  Karena memang teman Kiko itu bukan hanya secara fisiknya saja yang mirip cewek, tapi cara bicara dan gayanya mirip cewek. Kiko bukan saja mengejek, tapi juga sering membullynya. Sri bermaksud memberi tahu teman Kiko ini dan menyuruhnya datang ke rumah. Ia sangat penasaran bagaimana reaksi Kiko menghadapi teman lamanya yang dulu sering diejek dan dibullynya.

Teman Kiko itu bernama BENny CONdro Gunawan. Dulu teman-teman sekolahnya sering mengejeknya sebagai BENCONG. Termasuk Kiko dan Kiko dulu adalah yang memulainya. Tapi Benny sekarang berbeda dangan Benny yang dahulu. Sekarang ia bertubuh tegap atletis dan cara bicara serta gayanya sekarang sudah seperti layaknya lelaki tulen. Sri dan Kiko mengetahui hal ini, karena mereka pernah bertemu sewaktu reuni. Bahkan badan Benny lebih tegap dan besar daripada Kiko.

Hari itu juga Sri menghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumahnya. Kiko sama sekali tidak mengetahui hal ini. Ia sedang bekerja di dapur ketika Benny datang. Maka Sri menemuinya di ruang tamu. Sri memberitahu kalau Kiko mengidap kelainan yaitu suka berdandan dan bergaya seperti wanita. Benny serta merta kaget dan tidak percaya. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik, karena kuatir Kiko mengetahuinya. Waktu masuk ke rumah pun Sri memintanya untuk mengendap-endap.

Benny tidak percaya dengan perkataan Sri, karena sewaktu sekolah dulu Kiko sangat macho. Maka Sri mengajak Benny ke dapur untuk melihat Kiko. Mereka berdua tidak segera menunjukkan diri mereka, tapi mereka mengintip Kiko dari jauh. Benny pun segera melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sri. Katanya, “Ben, dulu kan kamu paling sering diejek, dihina dan dibully sama Kiko. Sekarang kesempatan buat kamu membalas !”. Benny tersenyum acuh-acuh dingin tanpa ekspresi . Maka Sri mendorongnya, menyemangati dan membawakannya beberapa utas tali. Semangat Benny jadi timbul.

Sebentar kemudian Sri dan Benny pun masuk ke dapur. Kiko begitu melihat Benny segera kaget dan wajahnya pucat pasi. Ia bermaksud melarikan diri keluar dari dapur. Tapi posisi Kiko terjepit, ia tidak bisa keluar dari dapur. Karena jalan keluarnya ditutup oleh Benny dan Sri.

Benny membuka pembicaraan, “Ko, apa kabar ?”. Disalaminya tangan Kiko. Tangan Kiko dingin dan gemetaran. Kiko diam saja, ia kelu. Tidak bisa berbicara. Benny menepuk bahu Kiko sambil berkata, “Lama tidak ketemu, kok sekarang malah ketakutan ? Kamu sekarang jadi cantik ! Persis wanita. Aku sampai pangling”. Lalu dicubitnya Kiko. Kiko semakin merinding.

Kiko tidak menggubris hal itu. Ia malu dan bermaksud untuk kabur. Maka ia merangsek maju walaupun dihalangi oleh tubuh Benny dan Sri. Sri mengetahui kalau Kiko bermaksud untuk kabur, maka ia memerintahkan Benny untuk meringkus Kiko dan mengikat tangannya. Dengan cekatan Benny meringkus Kiko dan mengikat tangannya. Setelah itu Kiko mereka dudukkan di kursi.

Benny mulai berkata, “Yang santai saja. Tidak usah takut, tegang apa malu-malu. Sudah jamak kok, walaupun aku sempat kaget. Banyak kok lelaki yang dari luar kelihatannya macho, tapi tau-tau banci. Tidak usah malu pada diri sendiri. Apalagi kamu pantes kok jadi seorang wanita. Wajah kamu mendukung.” Kiko hanya diam, wajahnya menunduk. Maka Benny memegang dagunya dan mendongakkannya. Tapi begitu Benny melepaskan tangannya dari dagu Kiko, Kiko pun menunduk lagi.

Setelah diam sejenak. Benny melanjutkan, “Lucu juga ya kalau mengingat-ingat  jaman sekolah dulu. Aku yang memang kecil lemah gemulai kamu kata-katain bencong. Tau-tau sekarang kamu sendiri yang jadi bencong”. Kemudian Benny tertawa-tawa, disusul oleh Sri. Sementara wajah Kiko semakin memerah.

Giliran Sri sekarang yang mendongakkan dagu Kiko dan kelihatan kalau muka Kiko memerah. Benny berkata, “yah, muka kamu semakin memerah !”. Dan ditamparnya pipi Kiko. Setelah Sri dan Benny berhenti tertawa, Benny berkata lagi, “Aku mau tanya nih, serius”. Ia diam sejenak. Kemudian melanjutkan, “Bagaimana rasanya menjadi bencong beneran kayak sekarang ini ?  Bencong kesiangan yang kepergok teman lamanya”. Ia pun tertawa lagi.

Sri kemudian menambahi, “Ben, kayaknya kita perlu mengundang teman-teman sekolah kamu sama Kiko buat reunian disini. Kamu tau nama dinas dia ?”. Benny menggeleng. Sri menjawab, “Kiki Sujaryanti !”. Kemudian ia berkata kepada Kiko, “Éh, ada tamu kok gak dibuatin minum. Ambilkan minum sana !”. Kiko diam saja. Maka Sri berkata, “Ayo, cepat ! Kamu kan bisa mengambil gelas sama menuang air dengan tangan terikat kebelakang. Ya kan ?”. Dijewer dan ditariknya telinga Kiko hingga Kiko ikut berdiri. Kiko pun pergi meninggalkan ruang tamu untuk mengambilkan minum dengan tangan yang masih terikat di belakang. Sesudah itu ia pun kembali untuk menyampaikan minuman itu kepada Benny.

Benny kemudian berkata, “Wah, hebat kamu sekarang ! Sudah pinter dandan cantik persis wanita. Tangkas pula ambil minuman dengan tangan terikat dibelakang”. Benny lalu bernostalgia, “Ko, dulu kamu kan sering nyuruh aku ngelap sepatumu. Sekarang gantian dong, aku mau liat kamu membersihkan sepatuku pakai tangan kamu yang masih terikat !”. Kiko diam saja. Maka Sri berkata, “Tuh dengar ! Kamu sekarang bersihkan sepatu Benny buat ganjaran kamu suka ngerjain dia waktu sekolah dulu. Ayo cepat !”. Kiko kemudian bangkit pelan-pelan dan mengambil lap serta duduk bersimpuh membelakangi Benny sambil mengelap sepatu Benny.

Kiko 12-1

Penderitaan Kiko rupanya masih berlanjut. Sewaktu sekolah dulu, ia sering menyuruh Benny untuk memijatinya, maka sekarang Benny menyuruh Kiko untuk memijatinya. Karena tangan Kiko masih terikat di belakang, maka pijatan Kiko jadi kurang mengena dan kurang terasa.  Benny lalu berkomentar, “Wah, payah. Pijatan kamu kurang terasa. Tenaga kamu persis kayak wanita !”.

Masih belum puas mengerjai Kiko, akhirnya Benny meminta Kiko menggendongnya. Karena dulu ia juga pernah dipaksa untuk menggendong Kiko. Kiko jadi gelagapan, karena badan Benny besar dan tegap. Maka baru sebentar Kiko menggendong. Tiba-tiba… gabruukk !!! Kiko jatuh tertelungkup, karena tidak kuat menahan berat badan Benny.

Kiko 12-2

Buru-buru mereka membangunkan Kiko dari lantai. Tapi mereka membiarkan tangan Kiko masih terikat dibelakang. Setelah itu Benny berkata, “Kamu capai ya ? Aku pijati mau ya”. Mereka kemudian menuju ke kamar tidur. Tapi Kiko tidak tahu apa yang bakal terjadi. Mereka menelungkupkan Kiko di ranjang dan Benny memijat Kiko dengan gaya shiatsu. Tangan Kiko ditariknya ke belakang sementara badannya menindih tubuh Kiko. Kiko pun mengaduh-aduh kesakitan. Itu masiih belum seberapa. Selanjutnya adalah puncak penderitaan Kiko, Benny menginjak-injak tubuh Kiko hingga Kiko pingsan.

Kiko 12-3

Kiko Sujaryanto 11

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan diceburkannya Kiko ke dalam kolam. Ketika sadar, Kiko sudah terbaring di ranjang.

Keesokan harinya setelah badan Kiko pulih, Sri menceramahinya. “Kamu itu beli-beli kain batik, kebaya  sama peralatan makeup mahal-mahal belum lagi nginap di hotel.  Apa kamu tidak mikir berapa uang yang kamu keluarkan ?”.  Kiko tidak berani menjawab, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. “Belum lagi usaha kamu sekarang hampir tidak jalan. Terus mau dapat duit dari mana ? Kamu bukannya nyari uang, tapi malah menghambur-hamburkan uang !”.

Sesudah diceramahi isterinya, pikiran Kiko jadi sumpek. Ia berpikir kalau dirinya sedang sial dan apes. Rencana yang sudah diatur dengan sedemikian rapi dan matang, tau-tau bisa ketahuan isterinya. Yang lebih aneh lagi, isterinya bisa tahu dengan cepat tempat dirinya menginap.

Setelah berpikir cukup lama, Kiko menduga mungkin mobilnya dipasangi GPS. Maka keesokan herinya, Kiko pergi ke bengkel untuk menanyakan apakah betul mobilnya dipasangi GPS dan jika betul maka ia ingin membongkarnya.  Sialnya,  bengkel tempat Kiko pergi adalah juga bengkel tempat Sri memasang GPS.  Dan si pemilik bengkal juga akrab dengan Sri, maka ia pun memberitahu soal itu kepada Sri.

Begitu beres dengan mobilnya, sekali lagi Kiko membeli kain batik, kebaya dan perlengkapan lainnya. Karena kain batik, kebaya dan perlengkapan lainnya yang dulu dibelinya sudah diambil isterinya. Kemudian Kiko mengepak pakaian termasuk kain batik dan kebaya serta perlengkapan cdingnya kedalam koper. Ia bermaksud untuk berbohong keluar kota lagi untuk menebus kegagalannya yang sebelumnya. Kiko pun pamit kepada Sri dengan alasan urusan pekerjaan.

Tapi Sri tidak menjawab, ia segera merebut koper Kiko dan dibuka serta diaduknya isi koper dengan tangannya hingga didapatkannya apa yang dicarinya. Kebaya, kain batik dan perlengkapan cding lainnya. Kiko jadi pucat pasi. Sri berkata, “Kamu mau ngibuli aku lagi ya ? Kamu itu nyari uang nggak bisa, bisanya cuma menghambur-hamburkan uang ! Sekarang kamu pakai saja di rumah, tidak usah keluar kota “.

Oleh karena Kiko hanya diam saja, maka Sri  berkata, “Ayo, cepat ! Sekarang kamu buka pakaian kamu. Terus pakai kain kebaya sama dandan yang cantik. Aku mau lihat sampai dimana ketrampilan kamu”. Perlahan-lahan Kiko mulai menanggalkan pakaiannya satu peraatu dan mulai memakai kain batik dan kebaya serta diteruskan dengan berdandan,  sementara  Sri mengamatinya.

Setelah Kiko selesai berdandan, Sri berkata, “Sekarang begini saja. Usaha kamu kan boleh dibilang sudah mandek. Daripada kamu nganggur, kamu sekarang jadi pembantu rumah tangga saja. Sekalian ngirit tidak usah pakai pembantu. Tugas kamu sehari-hari momong, nyuci, masak, nyapu, ngepel, bersih-bersih rumah”. Kiko yang mendengar perkataan Sri menganggap enteng omongan isterinya. Ia berpikir paling isterinya sedang emosi dan asal ngomong serta tidak serius. Maka Kiko diam saja, tidak menggeleng ataupun mengangguk.

Sri  kemudian melanjutkan, “Biar kamu semakin feminin dan semakin menghayati peran kamu sebagai PRT, kamu harus pakai kain kebaya. Nanti pakaian-pakaian kamu, aku sita semua. Yang bagus mau aku jual. Yang masih layak dipakai mau aku sumbangkan. Sekalian buat kompensasi kamu beli-beli kain batik, kebaya, peralatan makeup sama ongkos kamu nginap di hotel”.

Kiko bukannya takut, tapi malah bergairah dan terangsang. Mungkin karena nafsunya yang sudah di kepala, ia jadi tidak mengkuatirkan kemungkinan kalau ia bisa dibully sesama pria lagi. Karena Kiko diam saja, maka Sri bertanya, “Gimana ? Mau kan kamu ?”. Kiko diam saja. Sri jadi gusar dan berkata, “Ditanya baik-baik malah diam saja. Jawab dong !”. Akhirnya Kiko mengangguk. Sri menjawab, “Nah, gitu dong. Sekarang kamu jaga rumah, aku mau keluar sebentar”. Sri kemudian pergi keluar rumah.

Sebentar kemudian bel pintu berbunyi, ternyata ada orang datang. Maka Kiko buru-buru membuka pakaiannya. Tapi Sri  sudah keburu datang dan menemui tamu itu. Tak lama kemudian tamu itu pergi. Sri pun masuk ke dalam rumah dan mendapati Kiko sudah membuka kebaya dan kamisolnya serta mulai membuka stagennya. Sri jadi marah, “Éh, siapa yang suruh kamu ganti pakaian ? Ayo dipakai lagi !”. Kiko pun menurut. Begitu selesai, Sri kemudian berkata, “Kamu mau ingkar janji ya ?. Baru ditinggal sebentar saja sudah mau ganti pakaian”. Lalu dimabilnya tali dan diikatnya tangan Kiko ke belakang.

Sesudah itu Sri mulai membuka lemari pakaian Kiko dan memilah-milah pakaian Kiko. Pakaian Kiko dikeluarkannya dari dalam lemari dan disortir sementara Kiko menatapnya. Sri pun bergaya dengan menempelkan pakaian Kiko ke tubuhnya dan mengejek Kiko. “Sekarang kamu boleh mengucapkan selamat tinggal pada pakaian-pakaian kesayanganmu”. Perasaan Kiko campur aduk. Pertama ia kecewa dan marah, karena ternayata Sri kelihatannya serius dengan omongannya. Pakaian-pakaian kesayangannya akan dijual dan disumbangkan oleh isterinya. Lalu bagaimana ia akan keluar rumah kalau tidak punya pakaian ? Tapi kemudian pikiran itu tertutup oleh nafsu gilanya. Pakai kain kebaya terus ? Feminin, anggun dan nikmat rasanya !! Alaamak, si adik tiba-tiba berdiri.

Sehabis menyortir pakaian Kiko, Sri membuka ikatan tangan Kiko dan menyuruh Kiko mengerjakan tugas yang biasa dikerjakan oleh seorang  pembantu. Menyapu, mengepel, mencuci pakaian. Kiko pun menikmati pekerjaan itu. Ia tidak mengira kalau Sri akan membuka ikatan tangannya dan membiarkannya bekerja dengan tangan yang bebas. Baru ketika ia disuruh memasak, Kiko jadi gelagapan. Karena ia tidak pernah memsasak, kecuali masak air dan mie instan. Sri pun mengajari dengan setengah kasar dan membentak-bentak tidak sabar. Kiko jadi setengah tersinggung dan hilang sudah kenikmatan bekerja sebagai seroang wanita anggun yang berkain kebaya.

Sri waktu itu membuat pepes ikan bakar. Celakanya lagi masakan yang dibuat Kiko yaitu pepes ikan ternyata gosong sehabis dibakar. Maka meledaklah amarah Sri begitu melihat pepesannya gosong,  karena ia bermaksud memberikan sebagian sebagai hantaran untuk orang tuanya. Kepala Kiko pun dijengggungnya ( diayun dengan tangan ) berulang kali sambil marah-marah. “Dasar gebleg ! Diajari mbakar pepesan saja nggak bisa ! Jadinya malah gosong !”. Kiko menjawab, ” Sri, tadi kan kamu ngajarinya cuma sepintas lalu sambil kamu tinggal-tinggal”. Sri semakin marah, “Alasan !. Tau nggak, pepesan ini rencanya mau aku berikan pada orang tuaku. Sekarang malah kamu gosongin”.

Sri lalu mengambil tali dan diikatnya kaki dan tangan Kiko sambil berkata, “Sekarang kamu aku hukum”. Kiko diam saja, karena sudah biasa diikat kaki dan tangannya. Sesudah itu mulut Kiko dilakban.

Tapi berikutnya adalah hal yang belum biasa bagi Kiko. Sri keluar dari ruangan dan membawa beberapa lembar kain batik. Ia membungkus seluruh tubuh Kiko rapat-rapat dengan kain batik dari ujung kaki sampai ujung kepala sambil berkata, “Sekarang rasakan bagaimana rasanya dipepes sampai gosong !”. Sesudah membungkus tubuh Kiko rapat-rapat dengan kain batik, Sri pergi keluar ruangan meninggalkan Kiko.

Detik-detik pertama Kiko dibungkus rapat dengan jarik, Kiko justru merasa terangsang walaupun sudah mulai kegerahan. Sesudah itu ia mulai merasa kegerahan dan nafasnya mulai tersengal-sengal.  Tapi Sri sebentar kemudian kembali masuk ke ruangan sambil membawa lilin. Lilin itu kemudian ia nyalakan dan ia teteskan ke tubuh Kiko yang tertutup jarik. Karuan saja Kiko menggeronjal-geronjal merasakan panasnya lelehan lilin. Sri malah betkata, “Rasakan sekarang rasanya kalau kepanasan !”. Dan tak lupa Sri menetesi senjata Kiko dengan lelehan lilin. Disaat itulah Kiko serasa berada diantara sorga dan neraka.Ia terangsang, tapi juga tersiksa.  Setelah puas mengerjai Kiko, barulah Sri meninggalkan Kiko.

kiko-11-2

kiko-11-1

kiko-11-3