Tag Archive | feminim

Kartini dan Abendanon

Tadi pagi waktu saya cding pakai kain kebaya, saya membuka facebook saya. Kebetulan teman saya seorang bule yang seorang crossdresser juga online. Saya coba menyapa dia dengan chat. Dia membalas sapaan saya, maka kamipun chat di facebook.

Saya bilang kalau saya sedang cding dengan memakai kain kebaya. Terus saya tanya dia apakah dia juga sedang cding ? Dia jawab juga sedang cding dengan chemisier ( sejenis model  pakaian ). Saya tanya lagi apakah dia tahu kain kebaya. Diapun  menjawab tidak tahu, maka saya terangkan kalau kebaya itu sejenis blouse dan kain ( wiron ) itu adalah kain / bahan yang dipakai dengan dililitkan ke kaki dengan ketat. Saya menjelaskan lebih lanjut bahwa pakaian itu dulu juga yang dipakai oleh pahlawan nasional kita ibu kita Kartini.

Rasanya waktu sedang chating terutama waktu menjelaskan tentang kain kebaya itu, saya sangat feminin dan anggun sekali. Rasanya pingin terus chating dan menjelaskan tentang kain kebaya sambil menikmati suasana cding serta sesekali  memandangi cermin dan berkaca. Saya merasa betapa feminim dan anggunnya diriku. Saya jadi merasa kalau ini terjadi di masa lampau rasanya seperti Kartini dengan sobatnya Abendanon yang sedang bercakap-cakap.

Sayapun sempat tanya ke dia apakah dia juga suka dengan rok span dan memberitahu dia kalau kain wiron itu pada dasarnya seperti rok span panjang yang membuat kita harus berhati-hati jika berjalan karena jadi sulit melangkah. Sayangnya dia tidak sempat menjawab, hanya mengirim pesan kalau dia harus menelpon. Jadi kamipun  akhirnya berhenti chating. Thank you my dear facebook friend.  See you again next time on facebook.

Advertisements

Crossdresser selebriti apa selebriti crossdresser ?

Sekitar tahun 80 an pernah terkenal seorang penyanyi cowok yang dandanannya feminin banget. Namanya Boy George. Band pengiringnya namanya Culture Club. Lagu-lagunya berirama reggae. Hitsnya yang terkenal antara lain : Karma Chameleon, The War Song, Church Of The Poison Mind, Do You Really Want to Hurt Me  dan lain-lain.

Dandanan si Boy ini ( wah kok jadi kayak nama piaraan ya ) seronok banget, tapi wajahnya cantik. Suka pakai topi. Pakai rambut palsu  panjang , kadang-kadang pakai bando,  kadang-kadang pakai pita. Makeupnya pun menor. Pakaiannya pun juga seronok. Suaranya sengau-sengau sexy. Gayanya lemah gemulai. Dia terang-terangan mengaku sebagai seorang pria tanpa menyembunyikan identitas aslinya. Kalau di Barat memang lebih bebas dan terbuka.

Sempat bersolo karier dan mengeluarkan album solo yang lagu-lagunya juga terkenal diantaranya : The Crying Game, I Would Give Everything I Own.

Sempat berurusan dengan polisi lantaran narkoba. Sayang sekarang seperti sudah tidak kedengaran lagi kiprahnya.

Lamunan masa lalu

Dulu sewaktu saya masih minded banget sama kain kebaya dan masih menggebu-gebunya, pernah punya lamunan pingin diperisteri sama cowok aristokrat keraton.

Upacara dan pesta pernikahan yang berlangsung saya bayangkan akan sangat agung dan megah. 7 hari 7 malam dan tiap hari saya selalu ganti pakaian pengantin. Pakaian pengantinnya berupa kebaya panjang dan kain panjang prada. Belum lagi roncenya. Saya bayangkan betapa anggun dan cantiknya saya. Saya tidak membayangkan akan memakai model basahan. Saya tidak suka, karena body terutama pinggang tidak akan kelihatan dan saya  akan tidak terlihat sexy.

Prosesi upacaranya saya bayangkan tentu akan sangat panjang, lama serta penuh dengan protokol-protokol. Saya bayangkan saya akan berjalan dengan sangat pelan  dan lemah gemulai serta jarak yang saya tempuh akan sangat panjang, karena ruangan-ruangannya yang besar-besar. Betul-betul diberkati dalam kesengsaraan, berjalan dengan kaki yang dibebat dengam kain panjang yang ketat dan harus menempuh jarak yang sangat panjang, masih ditambah dengan kebaya beludru dan stagen tentulah akan membuat badan menjadi menderita gerah kepanasan. Belum lagi waktu prosesi upacara jalan dengan berjongkok. Betul-betul suatu siksaan yang akan membawa kenikmatan.

Sesudah itu  setiap harinya dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi saya membayangkan harus selalu pakai kain kebaya dan sanggulan. Rasanya dalam lamunan saya sangat feminin, anggun dan tradisional serta romantis banget. Walaupun tersiksa juga karena tidak leluasa melangkah dan perut serta dada sesak karena terhimpit stagen dan korset. Tidak punya pakaian apapun selain kain panjang, stagen, kebaya dan selendang. Kecuali celana dalam, bra, korset dan sejenisnya. Tiap hari selalu ganti kain batik. Kain yang kering habis dicuci terus di wiru sendiri sambil memakai kain kebaya pula. Harum bau ratus dan rempah-rempah  selalu melingkupi. Demikian juga dengan seluruh ruangan yang ada. Wanginya membuat angan-angan terasa terbang ke awan-awan.

Suami yang saya bayangkan waktu itu adalah suami aristokrat yang masih memegang nilai-nilai tradisional tapi juga bisa menerima nilai-nilai dari luar. Dia memperlakukan saya seperti memperlakukan layang-layang, dibiarkan bebas terbang tinggi tapi masih dipegang benangnya. Jadi saya diperbolehkan bergaul dengan rekan-rekan dari luar lingkungan keraton. Bahkan diperbolehkan bebas bersentuhan dengan dunia modern, seperti misalnya pesta, bioskop, shopping dan bahkan discothek serta club malam. Hsnya dengan satu syarat, saya harus tetap memakai kain kebaya. Jika dianggap terlalu salah kostum  dalam pikiran saya, tentu akan diperbolehkan memakai kebaya modern dan  sanggul serta makeup modern tapi bawahannya harus kain batik wiron yang masih lembaran asli. Untuk menambah kesan mewah bisa memakai kain batik wiron yang berbenang emas atau kemasan prada. Jika untuk berjojing kesulitan karena kainnya terlalu sempit, juga boleh dikendorkan sedikit asal bentuknya masih meruncing ke bawah.

Mengkontraskan keadaan seperti yang diatas bagi saya bisa menimbulkan kepuasan dan kenikmatan tersendiri. Bayangkan saja pergi ke pesta disaat orang lain memakai pakaian pesta, mini dress dan yang semacamnya, saya harus memakai kain kebaya. Shopping di mall modern tapi tetap masih memakai kain kebaya sambil membawa belanjaan. Pergi ke salon untuk perawatan wajah dan rambut, disaat yang lainnya memakai pakaian casual,  saya masih tetap pakai kain kebaya. Atau ke sanggar senam,  habis latihan senam kain sama kebayanya  langsung dipakai lagi. Apalagi kalau ke discothek untuk jojing sebetulnya tidak mungkin, itu hanya khayalan saya saja. Belum lagi kalau piknik ke pantai atau ke pegunungan.

Anehnya juga dulu saya sempat  kepikiran kalau saya juga akan bisa menikmati BDSM walaupun saat itu saya tidak tahu samasekali tentang  itu. Saya bayangkan waktu itu saya akan dengan senang hati digantung kakinya dengan posisi terbalik dan tangan diikat kebelakang. Setiap beberapa saat suami saya akan menanyakan apakah saya kecapaian. Jika kecapaian saya akan diturunkan dari gantungan dan ikatan saya akan dilepas.

Tapi sekarang saya sudah tidak punya angan-angan yang muluk seperti itu lagi. Hidup dalam 2 dunia maya dan nyata seperti sekarang ini saya anggap sudah cukup. Cuma saya masih punya keinginan pingin cding out dan kencan romantis sama cowok. Itu saja.