Tag Archive | kain

ARB

abu

Tahun depan akan ada pemilihan presiden lagi di republik kita tercinta. Kalau sudah begini banyak orang  berlomba-lomba nyalon. Entah inisiatif sendiri atau ditunjuk partai. Iklan-iklan barbau promosi kampanye pun banyak bermunculan di televisi.

Salah satunya adalah Aburizal Bakrie yang memakai nama initial ARB. Tapi tahukah anda kalau ARB sebetulnya juga sangat concern terhadap budaya kita terutama budaya Jawa khususnya busana tradisional wanita Jawa.

Para wanita Jawa terutama yang tidak biasa memakai kain jarik wiron beserta kebayanya pasti akan bilang begini : ARB banget déh kalau pakai kain kebaya. Artinya begini  :

  • Ah Rempong Banget déh, mesti pakai sanggul segala.
  • Aduh Rapet Banget déh jariknya, sampai hampir gak bisa jalan.
  • Ampun Ribet Banget déh, belon kalau harus jalan cukup jauh.

Tapi kalau sudah terbiasa pakai kain kebaya dan mulai mencintai busana tradisional kita, tetap saja bilang begini : ARB banget déh kalau pakai kain kebaya. Artinya bisa begini  :

  • Aih Rajin Banget déh, jaman gini masih pakai kain jarik sama kebaya
  • Aih Rapi Banget deh, kain jariknya bisa menyempit kebawah.
  • Aih Ramping Banget deh, pinggangnya.
  • Aih Runtut Banget deh, kelihatan selaras dan anggun jadinya

Sampai akhirnya kita, para wanita Indonesia akhirnya  luluh hatinya dan secara tidak sadar menjadi kadernya dan berteriak lantang begini : Ayo Rajin Berbusana nasional !

Gambar kain kebaya

GambarJarikIni adalah gambar hasil karyaku sendiri  dengan ballpoint hitam diatas kertas HVS. Seperti yang kuceritakan di posting yang berjudul “Kenangan hari wisuda yang sangat membahagiakan“, dulu aku sering menggambar wanita pakai kain kebaya. Saking banyaknya sampai lebih dari seratus lembar. Cuma sekarang hampir semuanya sudah aku buang. Entah kenapa.  Dulu waktu  menyobek-nyobek dan membuang gambar-gambar itu, aku berpikiran kalau aku sekarang sudah bisa mengambil foto-fotoku sendiri dalam pakaian kain kebaya lengkap dengan sanggulnya.

Tapi sekarang aku mulai kepikiran lagi untuk mulai menggambar lagi. Entah gambar apa yang akan aku gambar.

NB : Di gambar diatas ada tulisanku yang berbunyi : “iki aku kesrimpet tenan lho mas, orak éksyen”.

Maria Selena

Maria Selena adalah Puteri Indonesia 2011 yang mewakili Indonesia dalam  kontes Miss Universe 2012.  Dan sudah dapat diduga seperti biasanya  penampilan wakil Indonesia dalam kostum bikini selalu menimbulkan pro dan kontra. Karena sudah sejak dari jaman dahulu kala dan seperti sudah menjadi mitos kalau bangsa Indonesia adalah bangsa yang sopan dan santun termasuk dalam berbusana.

Seperti juga halnya dengan busana nasionalnya yaitu kain kebaya yang cenderung tertutup dari atas sampai bawah. Kain wironnya  sampai menutup mata kaki, kalau menurut pakemnya. Sedangkan lengannya  juga tertutup oleh panjangnya lengan dari kebaya. Dan hal ini dapat terlihat pada pemilihan putera-puteri daerah yang selalu menampilkan busana daerahnya masing-masing terutama untuk malam grandfinal dan juga untuk publikasi.

Tapi apa kata Puteri Indonesia 2011, Maria Selena ketika diwawancara dalam bahasa Inggris tentang pengalaman kencan yang paling menarik baginya  dan kebetulan waktu itu ia memakai busana batik yang menurutnya seperti busana tradisional Indonesia ? Dari video diatas pada detik ke 33 dapat didengar ia menjawab  “matching clothes together … batik like a traditional Indonesian clothes… it’s very annoying  actually, but it’s fun and creative  “.

Ternyata ia cukup jengkel dengan busana itu walaupun juga menyenangkan. Ternyata ia belum bisa menerima busana seperti itu dengan sepenuh hati. Padahal kalau dilihat dari omongannya, kelihatannya busana yang dimaksud sudah dimodifikasi. Bahkan mungkin sudah berupa gaun lagi, bukan kain kebaya. Dan namanya busana nasional yang sudah dimodifikasi biasanya akan dibuat dengan tujuan semakin mempermudah dan semakin  membuat nyaman pemakainya.  Termasuk bawahannya yang dulu berupa kain jarik wiron yang sempit dibagian bawahnya sehingga membuat sulit pemakainya untuk melangkah berjalan, sekarang biasanya dibuat lebar dibagian bawah dan juga sudah berupa rok serta mungkin juga sudah tidak sepanjang kain wiron atau bahkan mungkin berupa celana panjang.

Bagaimana ini ? Puteri Indonesia kita ternyata masih setengah hati dalam mencintai kebudayaan dan busananya sendiri.

Konde

Konde atau bahasa Indonesia nya sanggul adalah merupakan mahkota khususnya bagi wanita Jawa  dan  wanita Indonesia pada umumnya.

Jadi konde adalah sama dengan sanggul. Cuma beda sebutan dalam bahasanya.  Yang satu adalah sebutan dalam bahasa Jawa dan yang lainnya adalah sebutan dalam bahasa Indonesia. Tapi salah seorang teman, seorang cewek yang kebetulan bukan orang Jawa lucunya pernah bilang begini, “Wah, enak ya wisudanya sekarang sudah pakai sanggul. Tidak seperti dulu ketika saya wisuda, masih pakai konde”. Waktu itu aku yang kebetulan mendengar perkataannya cuma mikir saja. Sebetulnya dia tau atau tidak kalau konde itu ya sanggul dan sanggul itu ya konde. Mungkin yang dimaksudkan dengan  sanggul itu adalah sanggul modern yang tidak sekuno, sebesar,  seberat dan sekaku  sanggul tradisional serta tentu saja lebih bergaya dan tidak ndesani atau kampungan dalam pandangannya. Tidak seperti ibu-ibu, tapi lebih kelihatan seperti remaja ABG.

Kembali ke jaman lampau,  konde bagi wanita Jawa adalah merupakan suatu keharusan. Karena setiap memakai busana kain dan kebaya, maka rambut mereka pun selalu di sanggul. Bukan itu saja, konde juga di hias dengan bunga,  tusuk konde  atau ronce melati. Bahkan ketika menjadi pengantin atau ratu sehari, maka sanggul dihias dengan cenduk mentul dan  rangkaian melati dengan sedemikian indah dan artistiknya.

Tidak cuma itu saja. Bagi orang Jawa, konde selain sudah menjadi suatu keharusan  juga dipercaya mempunyai kekuatan mistis. Mantan presiden RI alm Suharto ditengarai jatuh dari kekuasaannya akibat konde almarhumah ibu Tien yang menghilang. Hal ini menunjukkan sedemikian kuatnya pamor konde. Begitu pula kehebatan Soeharto sebelumnya dalam menjaga stabilitas negara juga ditengarai bersumber pada konde ibu Tien Soeharto. Hingga kekuasaannya bisa langgeng sampai beberapa dekade.

Tapi walaupun konde dianggap sesuatu yang sakral, benda itu  juga tidak luput menjadi bahan ejekan bagi para pelawak. Antara lain grup lawak  Warkop DKI pernah mengatakan kalau konde itu adalah model rambut punk rock Jawa. Atau ban sérep di belakang ( roda cadangan di belakang ).

Di kalangan para pejabat orde lama dan orde baru waktu itu ketika para isteri pejabat harus menghadiri suatu pertemuan resmi  timbul suatu istilah yang terkenal pada waktu itu yaitu “besar-besaran konde”. Semakin besar kondenya mungkin semakin mantap dan anggun. Dan hal ini berulang ketika desainer kebaya kenamaan Anne Avantie mengadakan pagelaran busana di keraton Solo. Ada seorang model yang memakai sanggul sangat besar atau malah bisa disebut extra besar. Entah ini suatu sindiran, parodi atau memang sanggul-sanggul yang extra besar itu memang sudah ada sejak  jaman dulu.

Nah kalau kata konde kita buat menjadi  kata kerja bukankah akan menjadi ngondek ? Seperti halnya kata kontrak, bila dijadikan kata kerja akan menjadi ngontrak.

Tapi tahukah anda arti kata ngondek. Berikut ini salah satu deskripsinya. Ngondek adalah sebentuk karakter, bertingkah kemayu, flamboyant, dalam perbuatan (tidak macho), tingkah yang tidak wajar dimiliki oleh pria, melambai, baik dalam bicara, berfikir, dan atau melakukan sesuatu. Deskripsinya sangat berbau  feminin banget.

Jadi kalau dipikir-pikir memang pas dengan konde itu sendiri yang juga memang untuk para wanita yang tentu saja erat berhubungan dengan yang namanya feminin.

Bagi diriku sendiri, konde adalah merupakan suatu yang wajib ku pakai ketika sedang ngadi saliro ngadi busono dengan kain kebaya. Walaupun akhir-akhir ini aku kadang juga tidak menyanggul rambutku tapi malah kubiarkan terurai seperti di postingan yang terdahulu.

Itu semata-mata hanya untuk variasi dan menghindari kejenuhan. Walaupun memang ada perasaan  yang berbeda jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul dan tanpa sanggul.  Jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul rasanya seperti seorang wanita yang telah tumbuh dewasa dan matang serta lebih anggun berwibawa. Sebaliknya jika berkain kebaya tanpa sanggul rasanya seperti seorang gadis remaja yang baru mekar-mekarnya dan sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya.

Jadi seperti pepatah bahasa Indonesia lama yang mengatakan ketika muda rambutnya terurai dan ketika dewasa rambutnaya bersanggul. Pepatah itu sepertinya pas paling tidak untuk diri ku sendiri. Dan mudah-mudahan juga pas untuk para remaja gadis Indonesia yang memang sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya. Semoga bisa lestari busana tradisional dan sekaligus busana nasional kita lengkap dengan dandanan rambutnya yang berupa sanggul.

ketika aku tak lagi berkonde

Apakah aku akan disebut sebagai pengkhianat perjuangan RA Kartini ? Hanya karena aku tak lagi berkonde. Bukankah aku masih memakai busana kain dan kebaya ? Kain yang kupakai pun juga kain batik lembaran asli dengan wiron didepan pula. Tidak seperti kebanyakan wanita sekarang yang lebih suka praktisnya dengan menjahit kain batik menjadi rok berwiru. Kebaya yang kupakai pun masih kelihatan tradisional. Tidak terlalu jauh modifikasinya. Bahkan mungkin masih boleh disebut sebagai kebaya tradisional dengan kerah yang bergaya Sunda.

Ku hanya ingin sedikit variasi dan perubahan. Bukannya mau meninggalkan tradisi. Bagaimanapun ku akan tetap menjadi seorang wanita Indonesia yang berusaha sekuat tenaga untuk meneruskan cita-cita Kartini sambil selalu menguri-uri busana tradisional Jawa pada khususnya dan busana nasional Indonesia pada umumnya.

Karena konde adalah mahkota wanita Jawa pada khususnya dan wanita Indonesia pada umumnya. Maka adalah suatu kehormatan bagiku untuk selalu tetap memakai konde, sekalipun konde itu akan memperberat kepalaku. Tapi seperti halnya suatu tugas berat yang harus diemban oleh setiap wanita Indonesia untuk selalu memegang tinggi nilai-nilai luhur seorang wanita Indonesia, menguri-uri busana tradisional dan meneruskan cita-cita Kartini. Maka sekali lagi ku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu memakai sanggul disetiap kesempatan.

This slideshow requires JavaScript.

traditional sexual healing

Anda semua tentu sudah mengenal pengobatan alternatif. Suatu teknik pengobatan diluar jalur pengobatan resmi seperti dokter dan obat-obatan barat.

Ada banyak macam pengobatan alternatif. Seperti pijat, gurah, tusuk jarum dan lain sebagainya. Saya sendiri kadang-kadang juga pijat refleksi untuk menghilangkan capai-capai dan katanya juga dapat mennyembuhkan penyakit-penyakit serta melancarkan peredaran darah.

Tapi disamping itu saya juga punya cara penyembuhan alternatif dengan gaya saya sendiri. Ini saya namakan  sexual healing.

Pengobatan ini  mungkin hanya cocok untuk diri saya sendiri. Biasanya efektif dan cocok untuk penyakit ringan seperti masuk angin, perut kembung, sakit kepala dan yang  sejenisnya.

Caranya adalah waktu saya merasakan badan saya kurang enak seperti masuk angin, maka saya melakukan crossdressing khususnya dengan pakaian kain kebaya lengkap dengan sanggul dan stagennya.

Dengan pakaian serapat itu, saya akan merasa hangat dan mungkin gerah. Saya akan berkeringat dan mungkin ini yang menyebabkan pernyakit saya juga keluar bersama dengan keringat itu. Demikian juga dengan suhu badan yang agak hangat akan turun bersama dengan keluarnya keringat.

Perut kembung akan hilang karena perut dililit dengan sangat eratnya oleh stagen. Cuma sehabis terapi ini kadang perut bisa merasa lapar.

Badan yang merasa tidak enak karena penyakitpun bisa akan hilang, karena pikiran dan perasaan yang senang sewaktu crossdressing. Cuma kadang sehabis terapi ini badan bisa jadi merasa capai.

Sakit kepalapun bisa hilang juga dengan dipasangnya sanggul dibelakang kepala. Untuk yang satu ini, saya kurang tahu logikanya. Mungkin dengan diikatnya rambut belakang kita dengan kencang dan ditambah dengan jepit rambut yang tertancap dengan kencang juga di kepala, maka kepala seperti dipijat. Kemudian juga ditambah dengan pemberat sanggul.

Jadi kalau dipikir-pikir, jarikan ( istilah orang Jawa untuk menyebut orang yang memakai kain kebaya )  itu bisa dianggap seperti candu / obat / drug  untuk mengobati penyakit tertentu. Logikanya, perasaan sakit dan tidak enak serta tidak nyaman sebagai akibat dari penyakit dapat dihilangkan atau dikurangi atau dialihkan dan diganti dengan perasaan senang dan hasrat serta gairah akan pakaian kain kebaya itu.

Sebagai akibatnya, saya akan merasa lebih enak dan lebih sehat serta penyakit saya pun berkurang atau malah hilang. Walaupun cuma untuk sementara waktu. Kadang besoknya penyakit itu datang kembali.