Tag Archive | Kartini

Selamat hari Kartini 2016

ronceputihSelamat hari Kartini, ladies ! Semoga di hari-hari ini yang serba susah dan ditengah perekonomian yang sedang lesu, hati kita tetap terjaga kesuciannya seputih ronce melati seperti yang kupakai di sanggulku. Juga harapan-harapan kita akan masa depan Indonesia yang lebih baik tetap mekar seperti bunga-bunga  yang ada di kain wironku.

Ironi Kartini

KARTINI20122

I’m really a bad Kartini daughter. Instead to imitate her mind to lift women right, I try to lift up my long cloth !

Aku benar-benar seorang putri Kartini yang buruk. Bukannya  meniru pikirannya untuk mengangkat hak  wanitaaku malah  mencoba untuk mengangkat kain panjang ku !

12

Oh, I’ve been a bad Kartini daughter. Instead of trying to climb my career as a good woman,  I’m trying to climb the chair with this traditional costume kain kebaya. I hope I don’t fall because this tight long batik cloth that can stumble me

Oh, aku sudah menjadi putri Kartini yang buruk. Alih-alih mencoba untuk meniti karirku sebagai seorang wanita yang baik, Aku malah mencoba untuk memanjat kursi dengan kostum tradisional kain kebaya ini. Ku harap aku tidak jatuh karena kain batik  panjang ketat ini yang dapat nyrimpeti diriku.

Only Women Bleed

Man’s got his woman to take his seed
He’s got the power – oh
She’s got the need
She spends her life through pleasing up her man
She feeds him dinner or anything she can

She cries alone at night too often
He smokes and drinks and don’t come home at all
Only women bleed

Man makes your hair gray
He’s your life’s mistake
All you’re really lookin’ for is an even break

He lies right at you
You know you hate this game
He slaps you once in a while and you live and love in pain

She cries alone at night too often
He smokes and drinks and don’t come home at all
Only women bleed

Black eyes all of the time
Don’t spend a dime
Clean up this grime
And you there down on your knees begging me please come
Watch me bleed

Only women bleed

Once I read the lyric from this song, I feel touched. This song was written by Alice Cooper with someone else named Dick Wagner. For you know that Alice Cooper is a rock singer who also known with his horror performance. I don’t know about his life and personality.  But this song seems sympathetic to women.

It is a ballad about a woman in an abusive marriage. A very stereotyped view about a bad husband and a devoted wife. A husband needs a wife only to take his seed in relation to reproduction and continuation of his generation. He spends his nights outside of their home and without his wife or just smoking and getting drunk. Instead of making intimate relationship with his wife, he shows his power and plays rough. While his wife spends her life through pleasing  her husband,  feed him  and has to  live in  pain and lies with her marriage. In biology,  it’s like a relation that called as a parasitic  simbyosis. The one gets profit, but the other gets loss.

It’s a picture that the writer of this song told us. And the writer is an American. A country where  gender equality and women liberation come from. What about in Indonesia ?

These days around  April 21st we are celebrating the birth day of a heroine named RA Kartini. Someone who is famous with her letters “Habis Gelap Terbitlah Terang”.  She is a heroine who is famous because of  her struggle for her  gender equality.

What about her own marriage ? Happy, although her husband was not her own choice. But it’s her parents’ choice. She had to face the reality between to obey her parents or to marry her own choice, someone she loves. Fortunately, her husband loves her.

What about her struggle ? Nowadays, women are getting appreciated her rights. In career, they can get a job or position where it’s used to be occupied only by a man. From a low job like driver until a high job like a government head even until the president.

But  with the situation like this,  whether such abusive marriage as told in the song is not exist anymore? We can only hope and pray, hopefully the situation  may no longer exists. The rest, maybe we need to educate ourselves.

Kehangatan

Semua orang merindukannya
Baik dalam hubungan kekeluargaan, persaudaraaan dan  persahabatan
Ataupun dalam hubungan sepasang kekasih
Sampai hubungan kerja dan bisnis
Sungguh sesuatu yang didambakan

Akupun juga mendapatkannya
Ketika rambut belakangku diikat
Kemudian dipasangi sanggul
Ketika kakiku dibungkus dengan ketatnya  kain batik yang ujungnya berwiru
Ketika pinggangku diikat dengan tali kuat-kuat
Supaya kain wiron tidak longgar dan kedodoran
Ketika pinggangku kemudian ditutup dengan gulungan stagen dengan kencang
Kemudian masih ditambah dengan bra dan korset
Dan akhirnya badanku diselubungi dengan rapatnya  kebaya
Apalagi kalau kebayanya kebaya beludru panjang dan  cuacanya panas serta lembab

Hangatlah kini diriku
Tapi seperti dua sisi mata uang atau seperti pisau bermata dua
Begitulah arti kehangatan itu bagiku
Kehangatan itu begitu menyiksa diriku
Karena aku jadi harus menahan keringat
Sehingga aku harus bergerak dengan pelan dan hati-hati
Atau malah mengurangi sebanyak mungkin gerakan
Bahkan kalau perlu menahan nafas mati-matian
Semata-mata supaya aku bisa menjadi anggun

Seanggun Kartini pahlawan emansipasi wanita
Yang selalu tetap berkain kebaya meskipun sedang bekerja
Bahkan sampai tidur dan ajal menjelang

Selamat hari ibu

Ibu adalah salah satu figur penting dari suatu keluarga yang lengkap. Walaupun ia tidak diakui sebagai kepala keluarga. Tapi ia adalah salah satu dari orang tua kita dan ia juga yang melahirkan kita ke dunia. Serta jangan lupa pula dengan pepatah yang mengatakan kalau dibelakang pria hebat selalu ada wanita hebat.

Namun dibalik keagungan seorang ibu, ia adalah tetap seorang wanita yang anggun. Khususnya untuk para wanita Indonesia. Para pahlawan wanita kita telah memberi contoh tersebut. RA Kartini, Dewi Sartika dan lainnya.

Khususnya untuk para wanita Jawa. Keagungan dan keanggunan itu akan lebih tampak lagi dengan pakaiannya yang berupa kain kebaya. Pakaian yang membuat seorang wanita terlihat anggun.

Terlebih dengan rambut yang tersanggul laksana  mahkota yang harus dijagai dengan seksama dan hati-hati. Walaupun terasa berat di kepala, tapi layaknya seperti tugas berat nan mulia yang harus dijalani dengan tulus dan iklas.

Kemudian kebayanya yang pas dibadan akan membentuk siluet dari badan pemakainya. Keanggunan pun akan tampak di sini. Dada yang laksana dua gunung di sela sebuah lembah menampilkan panorama yang indah. Kemudian lekuk tubuh dari pinggang ke pinggul yang terlihat jelas. Laksana indahnya sebuah guitar klasik yang mewah dan mahal yang dapat melantunkan nada-nada yang merdu. Walaupun untuk semua itu si pemakai harus rela berkorban menghimpit tubuhnya dengan stagen dan korset yang membebat tubuh dengan ketatnya. Nafas pun bisa-bisa jadi agak sesak dibuatnya. Tapi demi sebuah penampilan yang anggun, pengorbanan yang cukup sepadan rela dilakukan.

Turun kebawah, kain panjang yang depannya di wiru dengan indah membebat dan menghimpit kaki dengan ketatnya. Kaki pun harus rela berjalan dengan pelan-pelan  dan langkah-langkah yang kecil bahkan mungkin terhuyung-huyung demi suatu istilah berjalan dengan pantas layaknya wanita Indonesia yang anggun.

Terakhir, telapak kakipun harus rela dipakaikan sandal jinjit yang semakin  mempersulit berjalan selain juga bisa mengakibatkan sakit pinggang.

Tapi itu adalah citra wanita Indonesia di jaman dahulu, di jaman sekarang para wanita Indonesia sudah mengganti pakaian kain kebayanya dengan pakaian modern yang lebih praktis berupa rok dan celana. Kecuali untuk kalangan-kalangan tertentu yang masih berdarah biru, adat itu masih terjaga.

Jadi bagaimana sekarang ? Mengikuti jaman dengan pakaiannya dengan mengatas namakan emansipasi wanita. Karena memang sekarang begitulah keadaannya, wanita sekarang juga ikut menjadi pekerja dan profesional serta bukan tidak mungkin juga menjadi tulang punggung keluarga seperti layaknya seorang pria.

Atau ketat mempertahankan tradisi menguri-uri busana tradisional kita ? Seperti pemkot Surakarta yang mewajibkan seluruh pegawainya mengenakan busana Jawa pada hari tertentu.

 

ketika aku tak lagi berkonde

Apakah aku akan disebut sebagai pengkhianat perjuangan RA Kartini ? Hanya karena aku tak lagi berkonde. Bukankah aku masih memakai busana kain dan kebaya ? Kain yang kupakai pun juga kain batik lembaran asli dengan wiron didepan pula. Tidak seperti kebanyakan wanita sekarang yang lebih suka praktisnya dengan menjahit kain batik menjadi rok berwiru. Kebaya yang kupakai pun masih kelihatan tradisional. Tidak terlalu jauh modifikasinya. Bahkan mungkin masih boleh disebut sebagai kebaya tradisional dengan kerah yang bergaya Sunda.

Ku hanya ingin sedikit variasi dan perubahan. Bukannya mau meninggalkan tradisi. Bagaimanapun ku akan tetap menjadi seorang wanita Indonesia yang berusaha sekuat tenaga untuk meneruskan cita-cita Kartini sambil selalu menguri-uri busana tradisional Jawa pada khususnya dan busana nasional Indonesia pada umumnya.

Karena konde adalah mahkota wanita Jawa pada khususnya dan wanita Indonesia pada umumnya. Maka adalah suatu kehormatan bagiku untuk selalu tetap memakai konde, sekalipun konde itu akan memperberat kepalaku. Tapi seperti halnya suatu tugas berat yang harus diemban oleh setiap wanita Indonesia untuk selalu memegang tinggi nilai-nilai luhur seorang wanita Indonesia, menguri-uri busana tradisional dan meneruskan cita-cita Kartini. Maka sekali lagi ku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu memakai sanggul disetiap kesempatan.

This slideshow requires JavaScript.