Tag Archive | konde

Gambar kain kebaya 2

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIAIni adalah gambar hasil karyaku yang lain. Dibuat dengan ballpoint hitam diatas kertas putih.  Yang dibawah digambar dibalik kertas bekas kalender harian, jadi samar-samar terlihat angka 22 terbalik.  Nuansanya yang semu merah karena waktu mengambil foto, gambar kuletakkan diatas dasar merah. Sepintas berkesan kuno, tapi memang sudah lama.

Motif jarik yang kugambar itu sebetulnya motif jarik yang pertama kali kubeli. Jarik itu sekarang sudah sobek dan kujadikan rok span panjang atau sarimbit seperti di foto postingku yang berjudul “lari-lari kecil“.

Ada cerita lucu soal jarik itu. Jarik itu sobeknya waktu kupakai dan aku sengaja menendang-nendang untuk lucu-lucuan dan seru-seruan. Tau-tau terdengar bunyi  bréét, ternyata jariknya sobek. Cuma waktu itu aku sudah punya beberapa lembar jarik. Jadi aku tidak begitu menyesal.

Botanical Garden, Bogor (1969)

Foto yang sangat klasik ! Dua wanita yang bersanggul dan memakai kebaya kutu baru, kain batik wiron dengan selendang yang tersampir dipundak dan sebelah tangan mereka menjinjing tas. Seperti mengatakan kepada kita kalau jaman dulu kain kebaya tidak cuma sekedar dipakai karena terpaksa untuk upacara tertentu yang tidak bisa dihindari. Tapi juga merupakan pakaian untuk bepergian, tamasya atau piknik. Sayang, sekarang kebaya dengan kain batik asli yang masih lembaran semakin jarang dipakai oleh para wanita Indonesia

Lintas busana di televisi

Beberapa tahun kemarin ada kritik tentang pembawa acara lelaki di televisi yang tampil sebagai wanita atau tampil kewanita-wanitaan. Para pengritik yang umumnya dari kalangan orang tua, pendidik dan agamawan kuatir kalau acara yang dibawakan oleh host yang bersangkutan ditonton oleh anak-anak kecil. Padahal anak kecil adalah peniru yang hebat dari apa yang dilihat.

Hal ini sempat membawa dampak dengan menurunnya bahkan sempat menghilangnya host atau pembawa acara lelaki yang tampil kewanita-wanitaan. Tapi tampaknya sekarang keadaan sudah berbalik dan hampir kembali normal lagi seperti dulu ketika kritik itu belum ada.

Beberapa acara di Trans7 secara tidak sengaja bahkan menjadi arena untuk berlintas busana. Salah satu diantaranya adalah Kepo quiz yang ditayangkan setiap hari Sabtu dan Minggu malam sekitar pukul 7. Ini adalah acara quiz sesuai dengan namanya, tapi bisa dijadikan sebagai arena untuk berlintas busana. Karena ada satu segmen yaitu segmen dimana kontestan harus berdandan dalam hal ini berpakaian dan bermakeup ala artis terkenal tertentu. Artis itu bisa laki, wanita atau kebencong-bencongan. Kemungkinan pertama adalah jika kontestan cowok harus berdandan ala artis yang kebencong-bencongan. Kemungkinan kedua adalah jika kontestan cowok harus berdandan sebagai artis cewek dan kebalikannya jika kontestan cewek harus berdandan ala artis cowok. Dan sesudah segmen itu selesai masih ditambahi dengan aturan dandanan tidak boleh dilepas sampai acara selesai, padahal sesudah segmen itu selesai masih ada segmen lainnya.

Acara selanjutnya adalah Hitam Putih yang dibawakan oleh Dedy Corbuzier. Kalau untuk acara ini yang jadi korbannya adalah pengiring musiknya yaitu Anu dan Billy the beatbox. Belum lagi artis bintang tamu cowok yang kadang-kadang juga tampil berdandan ala cewek. Seperti misalnya pelawak Wendy. Kalau untuk Wendy mungkin keadaan ini boleh dibilang sebagai sudah biasa, karena ia kadang-kadang tampil sebagai cewek waktu pentas melawak. Tapi untuk Anu dan Billy, keadaan ini apakah sudah biasa untuk mereka ? Kita tidak tahu. Paling tidak sudah 2 kali mereka tampil dengan dandanan setengah wanita atau tidak full crossdressing. Pada episode dengan bintang tamu Sandrina, penari tradisional cilik yang sedang mengikuti kontes IMB dan episode dengan bintang tamu Syahrini. Pada episode dengan bintang tamu Sandrina, mereka tampil dengan makeup wanita dan rambut di sanggul serta memakai kebaya walaupun bawahannya tidak memakai kain panjang, tapi tetap memakai celana. Tapi untungnya pada episode dengan bintang tamu Syahrini, mereka hanya tampil dengan makeup dan wig, Selebihnya pakaian mereka masih normal pakaian lelaki.

Hal ini belum terhitung untuk acara-acara yang bersifat lawak seperti Tahan Tawa Transtv dan OVJ Trans7 dimana para pelawaknya kadang-kadang tampil berdandan sebagai lawan jenisnya. Dan seperti diketahui bersama acara-acara diatas semua ditayangkan pada waktu malam begitu larut.

Apakah ini tanda akhir jaman ? Atau kebebasan pers di Indonesia yang sudah menguat ? Atau para orang tua sudah cukup mempunyai strategi, cara, pelindung, perisai atau penangkal untuk menjaga anak-anak mereka dari mencontoh adegan-adegan yang ada di televisi ? Bagaimana menurut anda ?

Anu berdandan ala Syahrini

Anu berdandan ala Syahrini

Konde

Konde atau bahasa Indonesia nya sanggul adalah merupakan mahkota khususnya bagi wanita Jawa  dan  wanita Indonesia pada umumnya.

Jadi konde adalah sama dengan sanggul. Cuma beda sebutan dalam bahasanya.  Yang satu adalah sebutan dalam bahasa Jawa dan yang lainnya adalah sebutan dalam bahasa Indonesia. Tapi salah seorang teman, seorang cewek yang kebetulan bukan orang Jawa lucunya pernah bilang begini, “Wah, enak ya wisudanya sekarang sudah pakai sanggul. Tidak seperti dulu ketika saya wisuda, masih pakai konde”. Waktu itu aku yang kebetulan mendengar perkataannya cuma mikir saja. Sebetulnya dia tau atau tidak kalau konde itu ya sanggul dan sanggul itu ya konde. Mungkin yang dimaksudkan dengan  sanggul itu adalah sanggul modern yang tidak sekuno, sebesar,  seberat dan sekaku  sanggul tradisional serta tentu saja lebih bergaya dan tidak ndesani atau kampungan dalam pandangannya. Tidak seperti ibu-ibu, tapi lebih kelihatan seperti remaja ABG.

Kembali ke jaman lampau,  konde bagi wanita Jawa adalah merupakan suatu keharusan. Karena setiap memakai busana kain dan kebaya, maka rambut mereka pun selalu di sanggul. Bukan itu saja, konde juga di hias dengan bunga,  tusuk konde  atau ronce melati. Bahkan ketika menjadi pengantin atau ratu sehari, maka sanggul dihias dengan cenduk mentul dan  rangkaian melati dengan sedemikian indah dan artistiknya.

Tidak cuma itu saja. Bagi orang Jawa, konde selain sudah menjadi suatu keharusan  juga dipercaya mempunyai kekuatan mistis. Mantan presiden RI alm Suharto ditengarai jatuh dari kekuasaannya akibat konde almarhumah ibu Tien yang menghilang. Hal ini menunjukkan sedemikian kuatnya pamor konde. Begitu pula kehebatan Soeharto sebelumnya dalam menjaga stabilitas negara juga ditengarai bersumber pada konde ibu Tien Soeharto. Hingga kekuasaannya bisa langgeng sampai beberapa dekade.

Tapi walaupun konde dianggap sesuatu yang sakral, benda itu  juga tidak luput menjadi bahan ejekan bagi para pelawak. Antara lain grup lawak  Warkop DKI pernah mengatakan kalau konde itu adalah model rambut punk rock Jawa. Atau ban sérep di belakang ( roda cadangan di belakang ).

Di kalangan para pejabat orde lama dan orde baru waktu itu ketika para isteri pejabat harus menghadiri suatu pertemuan resmi  timbul suatu istilah yang terkenal pada waktu itu yaitu “besar-besaran konde”. Semakin besar kondenya mungkin semakin mantap dan anggun. Dan hal ini berulang ketika desainer kebaya kenamaan Anne Avantie mengadakan pagelaran busana di keraton Solo. Ada seorang model yang memakai sanggul sangat besar atau malah bisa disebut extra besar. Entah ini suatu sindiran, parodi atau memang sanggul-sanggul yang extra besar itu memang sudah ada sejak  jaman dulu.

Nah kalau kata konde kita buat menjadi  kata kerja bukankah akan menjadi ngondek ? Seperti halnya kata kontrak, bila dijadikan kata kerja akan menjadi ngontrak.

Tapi tahukah anda arti kata ngondek. Berikut ini salah satu deskripsinya. Ngondek adalah sebentuk karakter, bertingkah kemayu, flamboyant, dalam perbuatan (tidak macho), tingkah yang tidak wajar dimiliki oleh pria, melambai, baik dalam bicara, berfikir, dan atau melakukan sesuatu. Deskripsinya sangat berbau  feminin banget.

Jadi kalau dipikir-pikir memang pas dengan konde itu sendiri yang juga memang untuk para wanita yang tentu saja erat berhubungan dengan yang namanya feminin.

Bagi diriku sendiri, konde adalah merupakan suatu yang wajib ku pakai ketika sedang ngadi saliro ngadi busono dengan kain kebaya. Walaupun akhir-akhir ini aku kadang juga tidak menyanggul rambutku tapi malah kubiarkan terurai seperti di postingan yang terdahulu.

Itu semata-mata hanya untuk variasi dan menghindari kejenuhan. Walaupun memang ada perasaan  yang berbeda jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul dan tanpa sanggul.  Jika berkain kebaya lengkap dengan sanggul rasanya seperti seorang wanita yang telah tumbuh dewasa dan matang serta lebih anggun berwibawa. Sebaliknya jika berkain kebaya tanpa sanggul rasanya seperti seorang gadis remaja yang baru mekar-mekarnya dan sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya.

Jadi seperti pepatah bahasa Indonesia lama yang mengatakan ketika muda rambutnya terurai dan ketika dewasa rambutnaya bersanggul. Pepatah itu sepertinya pas paling tidak untuk diri ku sendiri. Dan mudah-mudahan juga pas untuk para remaja gadis Indonesia yang memang sedang berusaha belajar mencintai busana nasionalnya. Semoga bisa lestari busana tradisional dan sekaligus busana nasional kita lengkap dengan dandanan rambutnya yang berupa sanggul.

ketika aku tak lagi berkonde

Apakah aku akan disebut sebagai pengkhianat perjuangan RA Kartini ? Hanya karena aku tak lagi berkonde. Bukankah aku masih memakai busana kain dan kebaya ? Kain yang kupakai pun juga kain batik lembaran asli dengan wiron didepan pula. Tidak seperti kebanyakan wanita sekarang yang lebih suka praktisnya dengan menjahit kain batik menjadi rok berwiru. Kebaya yang kupakai pun masih kelihatan tradisional. Tidak terlalu jauh modifikasinya. Bahkan mungkin masih boleh disebut sebagai kebaya tradisional dengan kerah yang bergaya Sunda.

Ku hanya ingin sedikit variasi dan perubahan. Bukannya mau meninggalkan tradisi. Bagaimanapun ku akan tetap menjadi seorang wanita Indonesia yang berusaha sekuat tenaga untuk meneruskan cita-cita Kartini sambil selalu menguri-uri busana tradisional Jawa pada khususnya dan busana nasional Indonesia pada umumnya.

Karena konde adalah mahkota wanita Jawa pada khususnya dan wanita Indonesia pada umumnya. Maka adalah suatu kehormatan bagiku untuk selalu tetap memakai konde, sekalipun konde itu akan memperberat kepalaku. Tapi seperti halnya suatu tugas berat yang harus diemban oleh setiap wanita Indonesia untuk selalu memegang tinggi nilai-nilai luhur seorang wanita Indonesia, menguri-uri busana tradisional dan meneruskan cita-cita Kartini. Maka sekali lagi ku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu memakai sanggul disetiap kesempatan.

This slideshow requires JavaScript.

Pendekar konde

Dulu waktu kecil aku punya hobby menggambar pakai kapur tulis. Menggambarnya biasanya di lantai ubin atau di lantai plesteran. Tapi kadang-kadang juga di meja kayu. Aku senangnya menggambar orang. Biasanya orang silat Cina dan kami, aku dan ibu  menyebutnya sebagai pendekar konde. Sebetulnya sebutan itu tidak tepat. Karena rambut mereka tidak di konde, melainkan di kuncir. Waktu itu pernah ada tamu dari orang tuaku yang datang ke rumah dan melihat gambar-gambarku di lantai. Sang tamu itu kemudian memuji gambarku. Aku senangnya bukan main.

Tapi setelah dewasa, aku sekarang hampir tidak pernah menggambar lagi. Dulu sebelum berhenti menggambar, hobbyku menggambar orang pakai kain kebaya. Sekarang sudah tidak pernah lagi menggambar.

Kalau dipikir-pikir dulu waktu kecil aku suka menggambar pendekar konde, sekarang malah sering pakai konde sendiri. Ini ceritaku, apa ceritamu ?

Wig

I write this article in 2 languages : English and Indonesian. Saya menulis artikel ini dalam 2 bahasa : Inggris dan Indonesia.

Bahasa Indonesia.

Wig adalah rambut palsu yang dipasang di kepala. Biasanya dipakai untuk menutupi kekurangan rambut kita. Seperti tipis atau botak. Ini terutama ditujukan untuk para wanita. Atau seeorang yang ingin terlihat seperti seorang wanita. Ini biasanya berhubungan dengan crossdresser, ladyboy, shemale, sissy dan  transvestise. Termasuk saya.

Di Jawa, ada wig khusus yang dipakai oleh wanita Jawa waktu mereka memakai busana tradisional. Namanya sanggul atau konde. Karena sejak pertama kali saya melakukan crossdressing, saya selalu memakai busana tradisional Jawa, maka saya membeli sebuah sanggul. Waktu itu saya membelinya tanpa mempertimbangkan bentuk muka saya.

Sanggul dipasang dibelakang kepala kita. Pertama, kita harus punya rambut yang cukup panjang untuk dapat diikat, setelah itu kita tempatkan sanggul kita dan tempelkan  ke rambut dengan jepit rambut. Kita harus meletakkan jepit rambut sedekat mungkin pada ekor rambut kita dari empat arah. Dari atas, bawah, kiri dan kanan. Kita juga menempatkan jepit rambut lain setinggi kira-kira telinga kita. Gunakan jepit rambut cukup banyak supaya sanggul dapat kokoh menempel di belakang kepala kita.

Apa yang saya terangkan diatas adalah apa yang saya pelajari secara otodidak dan berhasil. Saya tidak tahu apakah prosedurnya salah atau kurang tepat.

Tahun kemarin saya mulai memakai pakaian wanita modern, jadi saya tidak memakai sanggul.

Dibawah ini ada beberapa link yang berhubungan dengan cara memilih wig yang cocok dengan bentuk wajah kita.

English.

A wig is a fake hair that placed on head. It usually used to cover our hair shortfall. Such as thin or bald. This is primarily intended for women. Or someone who wants to look alike a woman. This usually related to crossdresser, ladyboy, shemale, sissy and  transvestise. Including me.

In Java, there is a special wig that used by Javanese women when they wear traditional costome. It is called “sanggul” or “konde”. It’s almost like a bun. Because since the first time I did crossdressing I always use Javanese traditional costume, so I bought a bun. That time I bought it without considering the form of my face.

It mounted on the back of our head. First, we should have long hair enough for tied up, after that we place our bun and stick it to the hair with hairpins. We should put the hairpins  as close as possible to the tail of our hair in four directions.  From above, below, left and from right. We also put other hairpins as  high about our ears. Use many hairpins so the bun can stays firm in the back of our head.

What I explain above is what I learn by myself. I just try it and it works. I don’t know if this procedure is wrong or not exactly right.

Last year I started to wear modern dress, so I don’t use the bun when I am wearing modern dress.

Below is some links that related with how to choose a wig that fits with our face shape.

http://thewigcompany.com/find-the-perfect-wig-for-your-face-shape/a/81/

http://ceko.hubpages.com/hub/How-to-Pick-The-Right-Wig

http://sanggul.pasarberingharjo.com/

http://hardiyamegantara.blog.com/page/2/?page=3