Tag Archive | transgender

Warna warni hidupku

Dulu sebelum teknologi semaju sekarang semuanya serba hitam putih. Foto hitam putih, televisi juga hitam putih. Mau lihat foto yang berwana dan juga televisi berwarna, susahnya bukan main.

Sekarang ketika  teknologi sudah maju pesat, foto dan televisi pun sudah berwarna. Kalau lihat foto atau televisi hitam putih rasanya seperti kuno dan ketinggalan jaman.

Kita pun membanding-bandingkan antara yang hitam putih dengan yang berwarna. Sudah pasti  kita lebih menyukai yang berwarna, walaupun dalam beberapa hal yang hitam puith itu juga bisa berkesan klasik.

Hidup seseorang pun bila berwarna akan lebih semarak dan bervariasi serta tidak membosankan  jika dibandingkan dengan hidup yang  seperti warna hitam putih, monotone dan membosankan.

Pelangi, suatu fenomena alam yang biasa terjadi sesudah hujan juga sangat indah untuk dipandang. Perpaduan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu sungguh sangat menarik mata. Dan pelangi sendiri adalah merupakan ciptaan Tuhan. Demikian juga taman bunga yang warna-warni tentu lebih menarik daripada tembok yang putih atau aspal yang hitam

Tapi jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang berwarna itu lebih indah daripada yang hitam putih. Terlebih apabila dikaitkan dengan gender, maka yang ada hanya dua. Seperti hitam dan putih, hanya ada laki dan perempuan. Atau pria dan wanita. 2 agama besar di dunia ini pun  dari awalnya juga hanya mengakui kedua jenis kelamin itu.

Kalau dipikir jadi seperti kaku, karena hanya ada 2 pilihan. Jika dibandingkan dengan warna jadi seperti antara hitam dan putih. Tapi memang itulah kenyataannya.

Gender seseorang bila tidak  hitam atau putih, pria atau wanita memang bisa jadi menarik, paling tidak untuk dijadikan bahan ejekan dan tertawaan. Sungguh ironis. Atau kalaupun tidak dijadikan bahan ejekan bisa jadi mengundang pro dan kontra serta pandangan minor terutama di masyarakat yang masih konservatif.

Hidup mereka apakah  bisa dibilang  mudah ? Mungkin lebih mudah untuk hidup secara hitam putih walaupun tidak menarik. Hidup mereka bisa jadi seperti taman bunga yang indah warna-warni, walaupun tidak semanis dan seindah seperti kelihatannya. Dan sebagian besar dari mereka harus berjuang keras di dalam hidupnya untuk menggapai cita-cita di langit yang indeh berpelangi.

Advertisements

Kiko Sujaryanto 12

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan Kiko yang diikat dan dibungkus rapat serta ditetesi dengan lilin.

Setelah semalaman Kiko menderita, keesokan harinya Sri baru membuka jarik yang membungkus tubuh Kiko dan membuka ikatan tangan serta kakinya. Kiko yang kegerahan dan lengket tubuhnya mau mandi.  Tapi ia takut kalau ia tidak dibolehkan membuka pakaiannya, maka ia berkata pada Sri, “Aku mau mandi dulu”. Untungnya isterinya memperbolehkannya. Kiko pun segera membuka pakaiannya hingga telanjang dan mandi.

Setelah mandi, Kiko santai dan berlama-lama hanya memakai celana dalam. Maka Sri membentaknya, “Héh, kamu jangan santai-santai ya ! Ayo cepat dipakai pakaianmu !”. Kiko segera menuju ke lemari pakaiannya, tapi ia lupa kalau semua pakaian lelakinya sudah diambil isterinya. Sri yang melihat Kiko kecele berkata, “Kiki, Kiki ! Kamu tidak ingat ya kalau sudah mulai kemarin pakaian-pakaian kamu aku sita semua ! Sekarang tiap hari kamu harus pakai jarik, kebaya sama sanggulan !”.  Kiko baru sadar dan terbersit kecemasan bagaimana kalau ada ibu, saudara apa teman-teman yang datang. Tapi ia tidak bisa berdiam lama-lama, karena Sri sudah kembali membentaknya, “Héh, pembokat ! Ayo cepat berpakaian, terus kerja lagi !”. Kiko pun segera memakai kain batik dan kebaya serta kelengkapannya.

Tapi Kiko mengenakan jariknya dengan asal-asalan hingga melebar ke bawah. Ia memang sengaja melakukannya dengan maksud supaya ia bisa lebih leluasa dan bebas waktu melangkah. Tapi Sri melihatnya, maka ia menyuruh Kiko untuk membuka kembali jariknya dan memakainya dengan singset.

Pekerjaan pertama hari itu Kiko menyapu lantai. Sambil menyapu, ia merenungi nasibnya. Masa aku sekarang jadi pembantu beneran. Belum lagi seluruh pakaianku diambil semua sama isteriku. Yang tinggal hanya celana dalam. Terbersit pikiran untuk melawan dan meninggalkan rumah. Tapi bagaimana dengan anaknya ? Kiko kemudian berpikir untuk meminta kembali pakaian-pakaiannya atau jika sudah dijual, ia minta dibelikan pakaian lelaki yang baru serta diperbolehkan memakainya untuk waktu-waktu tertentu. Tapi dengan segera segala uneg-unegnya buyar begitu terdengar teriakan isterinya, “Kerja yang benar ya ! yang bersih ! jangan lelet !”.

Sementara itu Sri malah memikirkan ide yang lebih gila. Ia tahu kalau Kiko mempunyai teman seorang laki sewaktu masih sekolah dulu. Kiko sering mengejeknya sebagai bencong.  Karena memang teman Kiko itu bukan hanya secara fisiknya saja yang mirip cewek, tapi cara bicara dan gayanya mirip cewek. Kiko bukan saja mengejek, tapi juga sering membullynya. Sri bermaksud memberi tahu teman Kiko ini dan menyuruhnya datang ke rumah. Ia sangat penasaran bagaimana reaksi Kiko menghadapi teman lamanya yang dulu sering diejek dan dibullynya.

Teman Kiko itu bernama BENny CONdro Gunawan. Dulu teman-teman sekolahnya sering mengejeknya sebagai BENCONG. Termasuk Kiko dan Kiko dulu adalah yang memulainya. Tapi Benny sekarang berbeda dangan Benny yang dahulu. Sekarang ia bertubuh tegap atletis dan cara bicara serta gayanya sekarang sudah seperti layaknya lelaki tulen. Sri dan Kiko mengetahui hal ini, karena mereka pernah bertemu sewaktu reuni. Bahkan badan Benny lebih tegap dan besar daripada Kiko.

Hari itu juga Sri menghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumahnya. Kiko sama sekali tidak mengetahui hal ini. Ia sedang bekerja di dapur ketika Benny datang. Maka Sri menemuinya di ruang tamu. Sri memberitahu kalau Kiko mengidap kelainan yaitu suka berdandan dan bergaya seperti wanita. Benny serta merta kaget dan tidak percaya. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik, karena kuatir Kiko mengetahuinya. Waktu masuk ke rumah pun Sri memintanya untuk mengendap-endap.

Benny tidak percaya dengan perkataan Sri, karena sewaktu sekolah dulu Kiko sangat macho. Maka Sri mengajak Benny ke dapur untuk melihat Kiko. Mereka berdua tidak segera menunjukkan diri mereka, tapi mereka mengintip Kiko dari jauh. Benny pun segera melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sri. Katanya, “Ben, dulu kan kamu paling sering diejek, dihina dan dibully sama Kiko. Sekarang kesempatan buat kamu membalas !”. Benny tersenyum acuh-acuh dingin tanpa ekspresi . Maka Sri mendorongnya, menyemangati dan membawakannya beberapa utas tali. Semangat Benny jadi timbul.

Sebentar kemudian Sri dan Benny pun masuk ke dapur. Kiko begitu melihat Benny segera kaget dan wajahnya pucat pasi. Ia bermaksud melarikan diri keluar dari dapur. Tapi posisi Kiko terjepit, ia tidak bisa keluar dari dapur. Karena jalan keluarnya ditutup oleh Benny dan Sri.

Benny membuka pembicaraan, “Ko, apa kabar ?”. Disalaminya tangan Kiko. Tangan Kiko dingin dan gemetaran. Kiko diam saja, ia kelu. Tidak bisa berbicara. Benny menepuk bahu Kiko sambil berkata, “Lama tidak ketemu, kok sekarang malah ketakutan ? Kamu sekarang jadi cantik ! Persis wanita. Aku sampai pangling”. Lalu dicubitnya Kiko. Kiko semakin merinding.

Kiko tidak menggubris hal itu. Ia malu dan bermaksud untuk kabur. Maka ia merangsek maju walaupun dihalangi oleh tubuh Benny dan Sri. Sri mengetahui kalau Kiko bermaksud untuk kabur, maka ia memerintahkan Benny untuk meringkus Kiko dan mengikat tangannya. Dengan cekatan Benny meringkus Kiko dan mengikat tangannya. Setelah itu Kiko mereka dudukkan di kursi.

Benny mulai berkata, “Yang santai saja. Tidak usah takut, tegang apa malu-malu. Sudah jamak kok, walaupun aku sempat kaget. Banyak kok lelaki yang dari luar kelihatannya macho, tapi tau-tau banci. Tidak usah malu pada diri sendiri. Apalagi kamu pantes kok jadi seorang wanita. Wajah kamu mendukung.” Kiko hanya diam, wajahnya menunduk. Maka Benny memegang dagunya dan mendongakkannya. Tapi begitu Benny melepaskan tangannya dari dagu Kiko, Kiko pun menunduk lagi.

Setelah diam sejenak. Benny melanjutkan, “Lucu juga ya kalau mengingat-ingat  jaman sekolah dulu. Aku yang memang kecil lemah gemulai kamu kata-katain bencong. Tau-tau sekarang kamu sendiri yang jadi bencong”. Kemudian Benny tertawa-tawa, disusul oleh Sri. Sementara wajah Kiko semakin memerah.

Giliran Sri sekarang yang mendongakkan dagu Kiko dan kelihatan kalau muka Kiko memerah. Benny berkata, “yah, muka kamu semakin memerah !”. Dan ditamparnya pipi Kiko. Setelah Sri dan Benny berhenti tertawa, Benny berkata lagi, “Aku mau tanya nih, serius”. Ia diam sejenak. Kemudian melanjutkan, “Bagaimana rasanya menjadi bencong beneran kayak sekarang ini ?  Bencong kesiangan yang kepergok teman lamanya”. Ia pun tertawa lagi.

Sri kemudian menambahi, “Ben, kayaknya kita perlu mengundang teman-teman sekolah kamu sama Kiko buat reunian disini. Kamu tau nama dinas dia ?”. Benny menggeleng. Sri menjawab, “Kiki Sujaryanti !”. Kemudian ia berkata kepada Kiko, “Éh, ada tamu kok gak dibuatin minum. Ambilkan minum sana !”. Kiko diam saja. Maka Sri berkata, “Ayo, cepat ! Kamu kan bisa mengambil gelas sama menuang air dengan tangan terikat kebelakang. Ya kan ?”. Dijewer dan ditariknya telinga Kiko hingga Kiko ikut berdiri. Kiko pun pergi meninggalkan ruang tamu untuk mengambilkan minum dengan tangan yang masih terikat di belakang. Sesudah itu ia pun kembali untuk menyampaikan minuman itu kepada Benny.

Benny kemudian berkata, “Wah, hebat kamu sekarang ! Sudah pinter dandan cantik persis wanita. Tangkas pula ambil minuman dengan tangan terikat dibelakang”. Benny lalu bernostalgia, “Ko, dulu kamu kan sering nyuruh aku ngelap sepatumu. Sekarang gantian dong, aku mau liat kamu membersihkan sepatuku pakai tangan kamu yang masih terikat !”. Kiko diam saja. Maka Sri berkata, “Tuh dengar ! Kamu sekarang bersihkan sepatu Benny buat ganjaran kamu suka ngerjain dia waktu sekolah dulu. Ayo cepat !”. Kiko kemudian bangkit pelan-pelan dan mengambil lap serta duduk bersimpuh membelakangi Benny sambil mengelap sepatu Benny.

Kiko 12-1

Penderitaan Kiko rupanya masih berlanjut. Sewaktu sekolah dulu, ia sering menyuruh Benny untuk memijatinya, maka sekarang Benny menyuruh Kiko untuk memijatinya. Karena tangan Kiko masih terikat di belakang, maka pijatan Kiko jadi kurang mengena dan kurang terasa.  Benny lalu berkomentar, “Wah, payah. Pijatan kamu kurang terasa. Tenaga kamu persis kayak wanita !”.

Masih belum puas mengerjai Kiko, akhirnya Benny meminta Kiko menggendongnya. Karena dulu ia juga pernah dipaksa untuk menggendong Kiko. Kiko jadi gelagapan, karena badan Benny besar dan tegap. Maka baru sebentar Kiko menggendong. Tiba-tiba… gabruukk !!! Kiko jatuh tertelungkup, karena tidak kuat menahan berat badan Benny.

Kiko 12-2

Buru-buru mereka membangunkan Kiko dari lantai. Tapi mereka membiarkan tangan Kiko masih terikat dibelakang. Setelah itu Benny berkata, “Kamu capai ya ? Aku pijati mau ya”. Mereka kemudian menuju ke kamar tidur. Tapi Kiko tidak tahu apa yang bakal terjadi. Mereka menelungkupkan Kiko di ranjang dan Benny memijat Kiko dengan gaya shiatsu. Tangan Kiko ditariknya ke belakang sementara badannya menindih tubuh Kiko. Kiko pun mengaduh-aduh kesakitan. Itu masiih belum seberapa. Selanjutnya adalah puncak penderitaan Kiko, Benny menginjak-injak tubuh Kiko hingga Kiko pingsan.

Kiko 12-3

Kiko Sujaryanto 11

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan diceburkannya Kiko ke dalam kolam. Ketika sadar, Kiko sudah terbaring di ranjang.

Keesokan harinya setelah badan Kiko pulih, Sri menceramahinya. “Kamu itu beli-beli kain batik, kebaya  sama peralatan makeup mahal-mahal belum lagi nginap di hotel.  Apa kamu tidak mikir berapa uang yang kamu keluarkan ?”.  Kiko tidak berani menjawab, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. “Belum lagi usaha kamu sekarang hampir tidak jalan. Terus mau dapat duit dari mana ? Kamu bukannya nyari uang, tapi malah menghambur-hamburkan uang !”.

Sesudah diceramahi isterinya, pikiran Kiko jadi sumpek. Ia berpikir kalau dirinya sedang sial dan apes. Rencana yang sudah diatur dengan sedemikian rapi dan matang, tau-tau bisa ketahuan isterinya. Yang lebih aneh lagi, isterinya bisa tahu dengan cepat tempat dirinya menginap.

Setelah berpikir cukup lama, Kiko menduga mungkin mobilnya dipasangi GPS. Maka keesokan herinya, Kiko pergi ke bengkel untuk menanyakan apakah betul mobilnya dipasangi GPS dan jika betul maka ia ingin membongkarnya.  Sialnya,  bengkel tempat Kiko pergi adalah juga bengkel tempat Sri memasang GPS.  Dan si pemilik bengkal juga akrab dengan Sri, maka ia pun memberitahu soal itu kepada Sri.

Begitu beres dengan mobilnya, sekali lagi Kiko membeli kain batik, kebaya dan perlengkapan lainnya. Karena kain batik, kebaya dan perlengkapan lainnya yang dulu dibelinya sudah diambil isterinya. Kemudian Kiko mengepak pakaian termasuk kain batik dan kebaya serta perlengkapan cdingnya kedalam koper. Ia bermaksud untuk berbohong keluar kota lagi untuk menebus kegagalannya yang sebelumnya. Kiko pun pamit kepada Sri dengan alasan urusan pekerjaan.

Tapi Sri tidak menjawab, ia segera merebut koper Kiko dan dibuka serta diaduknya isi koper dengan tangannya hingga didapatkannya apa yang dicarinya. Kebaya, kain batik dan perlengkapan cding lainnya. Kiko jadi pucat pasi. Sri berkata, “Kamu mau ngibuli aku lagi ya ? Kamu itu nyari uang nggak bisa, bisanya cuma menghambur-hamburkan uang ! Sekarang kamu pakai saja di rumah, tidak usah keluar kota “.

Oleh karena Kiko hanya diam saja, maka Sri  berkata, “Ayo, cepat ! Sekarang kamu buka pakaian kamu. Terus pakai kain kebaya sama dandan yang cantik. Aku mau lihat sampai dimana ketrampilan kamu”. Perlahan-lahan Kiko mulai menanggalkan pakaiannya satu peraatu dan mulai memakai kain batik dan kebaya serta diteruskan dengan berdandan,  sementara  Sri mengamatinya.

Setelah Kiko selesai berdandan, Sri berkata, “Sekarang begini saja. Usaha kamu kan boleh dibilang sudah mandek. Daripada kamu nganggur, kamu sekarang jadi pembantu rumah tangga saja. Sekalian ngirit tidak usah pakai pembantu. Tugas kamu sehari-hari momong, nyuci, masak, nyapu, ngepel, bersih-bersih rumah”. Kiko yang mendengar perkataan Sri menganggap enteng omongan isterinya. Ia berpikir paling isterinya sedang emosi dan asal ngomong serta tidak serius. Maka Kiko diam saja, tidak menggeleng ataupun mengangguk.

Sri  kemudian melanjutkan, “Biar kamu semakin feminin dan semakin menghayati peran kamu sebagai PRT, kamu harus pakai kain kebaya. Nanti pakaian-pakaian kamu, aku sita semua. Yang bagus mau aku jual. Yang masih layak dipakai mau aku sumbangkan. Sekalian buat kompensasi kamu beli-beli kain batik, kebaya, peralatan makeup sama ongkos kamu nginap di hotel”.

Kiko bukannya takut, tapi malah bergairah dan terangsang. Mungkin karena nafsunya yang sudah di kepala, ia jadi tidak mengkuatirkan kemungkinan kalau ia bisa dibully sesama pria lagi. Karena Kiko diam saja, maka Sri bertanya, “Gimana ? Mau kan kamu ?”. Kiko diam saja. Sri jadi gusar dan berkata, “Ditanya baik-baik malah diam saja. Jawab dong !”. Akhirnya Kiko mengangguk. Sri menjawab, “Nah, gitu dong. Sekarang kamu jaga rumah, aku mau keluar sebentar”. Sri kemudian pergi keluar rumah.

Sebentar kemudian bel pintu berbunyi, ternyata ada orang datang. Maka Kiko buru-buru membuka pakaiannya. Tapi Sri  sudah keburu datang dan menemui tamu itu. Tak lama kemudian tamu itu pergi. Sri pun masuk ke dalam rumah dan mendapati Kiko sudah membuka kebaya dan kamisolnya serta mulai membuka stagennya. Sri jadi marah, “Éh, siapa yang suruh kamu ganti pakaian ? Ayo dipakai lagi !”. Kiko pun menurut. Begitu selesai, Sri kemudian berkata, “Kamu mau ingkar janji ya ?. Baru ditinggal sebentar saja sudah mau ganti pakaian”. Lalu dimabilnya tali dan diikatnya tangan Kiko ke belakang.

Sesudah itu Sri mulai membuka lemari pakaian Kiko dan memilah-milah pakaian Kiko. Pakaian Kiko dikeluarkannya dari dalam lemari dan disortir sementara Kiko menatapnya. Sri pun bergaya dengan menempelkan pakaian Kiko ke tubuhnya dan mengejek Kiko. “Sekarang kamu boleh mengucapkan selamat tinggal pada pakaian-pakaian kesayanganmu”. Perasaan Kiko campur aduk. Pertama ia kecewa dan marah, karena ternayata Sri kelihatannya serius dengan omongannya. Pakaian-pakaian kesayangannya akan dijual dan disumbangkan oleh isterinya. Lalu bagaimana ia akan keluar rumah kalau tidak punya pakaian ? Tapi kemudian pikiran itu tertutup oleh nafsu gilanya. Pakai kain kebaya terus ? Feminin, anggun dan nikmat rasanya !! Alaamak, si adik tiba-tiba berdiri.

Sehabis menyortir pakaian Kiko, Sri membuka ikatan tangan Kiko dan menyuruh Kiko mengerjakan tugas yang biasa dikerjakan oleh seorang  pembantu. Menyapu, mengepel, mencuci pakaian. Kiko pun menikmati pekerjaan itu. Ia tidak mengira kalau Sri akan membuka ikatan tangannya dan membiarkannya bekerja dengan tangan yang bebas. Baru ketika ia disuruh memasak, Kiko jadi gelagapan. Karena ia tidak pernah memsasak, kecuali masak air dan mie instan. Sri pun mengajari dengan setengah kasar dan membentak-bentak tidak sabar. Kiko jadi setengah tersinggung dan hilang sudah kenikmatan bekerja sebagai seroang wanita anggun yang berkain kebaya.

Sri waktu itu membuat pepes ikan bakar. Celakanya lagi masakan yang dibuat Kiko yaitu pepes ikan ternyata gosong sehabis dibakar. Maka meledaklah amarah Sri begitu melihat pepesannya gosong,  karena ia bermaksud memberikan sebagian sebagai hantaran untuk orang tuanya. Kepala Kiko pun dijengggungnya ( diayun dengan tangan ) berulang kali sambil marah-marah. “Dasar gebleg ! Diajari mbakar pepesan saja nggak bisa ! Jadinya malah gosong !”. Kiko menjawab, ” Sri, tadi kan kamu ngajarinya cuma sepintas lalu sambil kamu tinggal-tinggal”. Sri semakin marah, “Alasan !. Tau nggak, pepesan ini rencanya mau aku berikan pada orang tuaku. Sekarang malah kamu gosongin”.

Sri lalu mengambil tali dan diikatnya kaki dan tangan Kiko sambil berkata, “Sekarang kamu aku hukum”. Kiko diam saja, karena sudah biasa diikat kaki dan tangannya. Sesudah itu mulut Kiko dilakban.

Tapi berikutnya adalah hal yang belum biasa bagi Kiko. Sri keluar dari ruangan dan membawa beberapa lembar kain batik. Ia membungkus seluruh tubuh Kiko rapat-rapat dengan kain batik dari ujung kaki sampai ujung kepala sambil berkata, “Sekarang rasakan bagaimana rasanya dipepes sampai gosong !”. Sesudah membungkus tubuh Kiko rapat-rapat dengan kain batik, Sri pergi keluar ruangan meninggalkan Kiko.

Detik-detik pertama Kiko dibungkus rapat dengan jarik, Kiko justru merasa terangsang walaupun sudah mulai kegerahan. Sesudah itu ia mulai merasa kegerahan dan nafasnya mulai tersengal-sengal.  Tapi Sri sebentar kemudian kembali masuk ke ruangan sambil membawa lilin. Lilin itu kemudian ia nyalakan dan ia teteskan ke tubuh Kiko yang tertutup jarik. Karuan saja Kiko menggeronjal-geronjal merasakan panasnya lelehan lilin. Sri malah betkata, “Rasakan sekarang rasanya kalau kepanasan !”. Dan tak lupa Sri menetesi senjata Kiko dengan lelehan lilin. Disaat itulah Kiko serasa berada diantara sorga dan neraka.Ia terangsang, tapi juga tersiksa.  Setelah puas mengerjai Kiko, barulah Sri meninggalkan Kiko.

kiko-11-2

kiko-11-1

kiko-11-3

Kiko Sujaryanto 10

Ini adalah kelanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan diikatnya tangan dan  kaki Kiko serta kaki dan kepala  Kiko yang diikat ke pohon semalaman. Semalaman ia pun  tidak bisa tidur. Alih-alih tidur, senjatanya malah digigit anjing. Sehingga semalaman ia merasakan bekas gigitan anjing di senjatanya.  Pagi-pagi apa yang diharapkannya yaitu pembebasannya dari acara penyiksaan ternyata masih belum berakhir. Rombongan Sri ternyata mau naik ke bukit yang ada didekat vila. Kiko segera dibuka ikatan tali di kepala dan kakinya, tapi ikatan tangannya mereka biarkan.

Setelah itu mereka pun naik ke bukit dan memaksa Kiko ikut serta. Terlebih dahulu mereka malah memaksa Kiko memakai sandal hak tinggi. Sesudah itu  Sri mendorong Kiko untuk melangkah. Tapi Kiko diam saja. Maka Sri mengikatkan tali ke leher Kiko, hingga Kiko terpaksa ikut melangkah kalau tidak mau terjerat lehernya. Rupanya Kiko sudah tidak kuat lagi menerima siksaan ini. Kondisi badannya sudah lemah setelah 2 malam nyaris tidak tidur. Maka setelah mendaki beberapa langkah. Tiba-tiba…gabrruukkk !! Ternyata Kiko pingsan dan menggelinding. Para rombogan segera menghentikan pendakiannya dan menolong Kiko.

Kiko 10-1

Ketika sadar, Kiko sudah berbaring diranjang sebuah rumah sakit dengan pakaian Kiko sendiri. Piyama tidur. Seluruh badannya sakit. Beruntung ia cuma mengalami memar yang tidak terlalu banyak dan berat serta serius.  Setelah menjalani perawatan beberapa hari, ia sudah diperbolehkan pulang.

Setibanya di rumah Kiko sekarang jadi berpikir dua kali untuk meminta isterinya merias dan mendandaninya dengan kain kebaya. Ia masih trauma dengan pengalamannya di villa yang berakhir di rumah sakit. Belum lagi pengalaman dipaksa menelan senjata sesama pria.

Kiko sekarang jadi kikuk,  berhati-hati dan serba salah kalau melihat-lihat foto-foto wanita cantik memakai kain kebaya. Begitu isterinya memergoki, Kiko segera menutup fofo-foto itu. Maka Sri menarik kesimpulan kalau suaminya sudah jera memakai kain kebaya lagi. Kesimpulan yang sebetulnya tidak salah, tapi juga tidak 100 persen betul.

Setelah beberapa kali memergoki Kiko sedang melihat-lihat foto-foto wanita memakai kain kebaya, Sri akhirnya menawari Kiko untuk memastikan apakah betul-betul  Kiko sudah kapok memakai kain kebaya lagi. Kata Sri, “Kamu kok sering lihat-lihat foto-foto wanita pakai kain kebaya. Emang kepingin banget ya ? Sudah ngebet ? Yuk, aku bantu”. Sambil dirangkulnya Kiko. Kiko segera menggeleng-gelengkan kepala. Padahal dalam hatinya Kiko sebetulnya kepingin banget. Maka Sri jadi yakin kalau Kiko sekarang benar-benar sudah kapok.

Kendati demikian  suasana rumah tangga Sri dan Kiko sudah terlanjur dingin dan tidak harmonis.  Selain itu Sri sebenarnya juga tidak tahu persis apa yang ada didalam pikiran Kiko. Setelah pulang dari vila, Kiko memang kapok. Tapi kapoknya hanya bersifat  sementara, karena badannya capai, sakit dan babak belur serta dipaksa menelan senjata si Macho.  Selebihnya Kiko ternyata masih belum kapok memakai kain kebaya dan masih senang memakai kain kebaya. Cuma kesempatannya yang boleh dibilang tidak ada.

Kalau mau memakai kain kebaya dirumah sewaktu isterinya pergi keluar kota, ia pernah melakukannya dan isterinya akhirnya memergokinya. Kiko lalu berpikir untuk memakainya di luar kota, tapi Kiko pun juga pernah melakukan hal itu dan hasilnya Sri mengetahuinya ketika Kiko pulang ke rumah. Pikiran Kiko jadi suntuk.

Beberapa lama kemudian Kiko akhirnya mendapatkan jalan keluar. Ia bermaksud membeli sendiri kain batik, kebaya, bra, sanggul dan peralatan cding  lainnya termasuk kosmetik. Ia memberanikan diri untuk membeli barang-barang tersebut sendiri, karena menurut pemikirannya cuma itulah jalan satu-satunya. Rencananya sesudah ia berhasil membeli komplit barang-barang itu, ia akan menginap diluar kota.

Sekarang tinggal mencari alasan  kenapa membeli barang-barang itu untuk berjaga-jaga kalau penjualnya menanyakan. Pertama, Kiko kepikiran untuk saudaranya. Tapi Kiko tidak mempunyai saudara perempuan yang sudah dewasa atau kurang lebih seusia isterinya. Lagi pula kota tempat tinggal Kiko adalah kota kecil yang penduduknya kebanyakan saling kenal satu sama lain. Lalu Kiko berpikir untuk temannya, tapi ia tidak mempunyai teman akrab wanita selain teman-teman wanita yang kurang akrab. Pikiran Kiko jadi buntu. Akhirnya ia nekat untuk mengatakan membelikan isterinya bila ditanya penjualnya. Sempat ragu-ragu dan maju mundur dengan rencananya, akhirnya Kiko nekat melakukannya.

Apa yang dikuatirkan Kiko waktu membeli barang-barang tersebut terjadilah. Ia ditanya penjualnya waktu membeli kebaya, Kiko pun terpaksa mengeluarkan senjata pamungkasnya. Kiko pun berbohong dengan menjawab bahwa ia bermaksud memberikan kejutan kepada isterinya dengan diam-diam. Penjual yang lain pun juga bertanya hal yang sama dan Kiko jadi sudah terbiasa berbohong dengan berkata untuk isterinya. Tapi Kiko tidak tahu kalau ada penjual yang menyampaikan hal itu kepada isterinya, karena mereka akrab dengan isterinya.

Begitu mengetahui hal itu dari beberapa penjual yang barang-barangnya dibeli Kiko, Sri jadi kaget dan marah. Tapi tak lama kemudian ia segera sigap. Sri berpikir, cerdas betul suamiku. Sesudah kapok lantaran dibully sesama pria dan tidak bisa mengambil pakaianku, ia sekarang membeli sendiri semua pakaian dan perlengkapannya dengan alasan untuk isterinya. Licin betul. Terus mau kamu  pakai diluar kota kayak dulu lagi. Ya kan ? Kamu mau menghindar dariku, tapi sambil  tetap terus memakai kain  kebaya ? Tunggu saja tanggal mainnya. Kamu pikir kamu lebih licin dari aku. Aku juga bisa lebih licin dari kamu. Ditenangkan dan didinginkannya pikirannya sambil menyusun rencana untuk membuntuti Kiko dan menangkap basah Kiko. Sri pun bersikap cuek seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan tidak mengetahui hal itu. Sri bahkan tidak berusaha mencari dimana Kiko menyembunyikan barang-barang pembeliannya.

Beberapa hari kemudian Kiko mengutarakan niatnya untuk menginap diluar kota, Sri tidak kaget. Karena sudah menduga bahwa Kiko akan beralasan pergi menginap diluar kota. Sri pun dengan enteng mengiyakan. Kiko jadi lega dan sama sekali tidak menaruh curiga, bahkan tidak mengetahui kalau beberapa penjual menyampaikan hal itu kepada isterinya. Segera sesudah Sri mendapat kepastian kapan Kiko keluar kota, maka Sri mengkontak komplotannya. Mereka bermaksud membuntuti dan menangkap basah Kiko.

Tibalah harinya Kiko pergi. Hatinya senang bukan main. Ia sudah lama tidak melakukan hal itu. Maka ia jadi tidak sabar dan sekarang ia juga sudah tahu cara-cara berias dan memakai kain kebaya dengan lebih baik. Tapi Kiko tidak mengetahui kalau ia dibuntuti oleh Sri dan teman-temannya. Celakanya lagi ia tidak mengetahui kalau mobilnya dipasangi GPS oleh isterinya. Hingga dengan mudah Sri dapat melacak keberadaan Kiko.

Sesudah tiba di hotel tempat menginap dan mandi bersih, Kiko segera beraksi. Ia berdandan dan memakai makeup dengan lebih baik daripada dahulu. Setelah merasakan kenikmatan memakai kain kebaya, bergaya sejenak di depan cermin dan duduk-duduk serta jalan-jalan dikamar hotel, Kiko merasa sudah mentok, karena tidak ada tantangan. Maka ia coba-coba memberanikan  untuk unjuk diri di muka umum walaupun  dengan deg-degan. Pertama, ia duduk-duduk diteras kamar. Sesudah itu ia masuk lagi ke kamarnya. Sebentar kemudian ia jalan-jalan dilorong kamar-kamar hotel dan akhirnya ia sampai di lobby hotel. Kebetulan hotel tempat Kiko menginap tidak begitu ramai. Ia pun duduk di sudut lobby hotel. Matanya jelalatan, kedua tangannya diletakkan dipangkuannya memegang dan memijit-mijit senjatanya yang menegang. Kiko merasakan kenikmatan yang luar biasa sementara hatinya dag dig dug kalau ada yang memergokinya.

Tapi Kiko tidak tahu kalau sudah sejak dari tadi ketika ia mulai muncul di lobby, ia diperhatikan oleh beberapa orang yang ternyata adalah rombongan Sri yang tidak dikenali Kiko. Setelah beberapa lama dan hampir kepuncaknya, Kiko segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kembali ke kamarnya sambil merasakan senjatanya yang menegang. Kiko bermaksud menahan dan menunda orgasme selama mungkin sehingga ia bisa berlama-lama merasakan kenikmatan ini.

Didalam kamar, Kiko ternyata juga sudah menyiapkan camera dan handycam. Ia mengambil foto-foto dan video dirinya sendiri.  Tapi tengah enak-enaknya ia beraksi di depan camera, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Kiko kelabakan, tapi didalam  keadaan terdesak malah timbul ide gilanya. Kiko nermaksud langsung membukakan pintu tanpa terlebih dahulu berganti pakaian ataupun membiarkan bel pintu berbunyi tanpa dibukakan pintunya. Karena ia berpikir kalau tidak ada orang yang tahu kalau ia menginap disini dan tidak ada orang yang dikenalnya disini. Paling cuma room service. Ia malah penasaran pingin mengetahui reaksi room service waktu melihat dirinya memakai kain kebaya.

Kiko pun segera menuju ke pintu dan dibukanya pintu. Ci luk ba! …. Begitu pintu dibuka Kiko, yang masuk seorang wanita cantik mengantarkan hidangan. Si wanita itu melihat sejenak ke Kiko dan berkata dengan pelan dan lembut, “Hidangannya,… bu !”. Si wanita itu berusaha tetap sopan dan hormat memperlakukan tamu hotel. Hati Kiko melonjak kegirangan, karena baru pertama kali ini ia dipanggil ibu oleh seorang wanita dengan sopan.  Kiko mencoba menjawab dengan suara sangat pelan yang mungkin saja tidak didengar oleh si wanita, “terimakasih”. Si wanita itupun pergi keluar ruangan. Sementara Kiko masih duduk dan merasakan senjatanya terangsang dan sedikit mengeluarkan cairan. Maka ia menekan-nekan senjata itu hingga senjata itu semakin mbekér-mbekér. Sesudah itu ia baru sadar kalau ia belum mengunci pintu, maka buru-buru ia bangkit untuk  mengunci pintu.

Tapi belum sempat Kiko mengunci pintu…. mendadak wajah Kiko jadi pucat….

Pintu sudah terlebih dulu dibuka dan yang muncul dibelakang pintu adalah Sri dan teman-temannya termasuk si Macho serta beberapa pria lain. Serentak Kiko berusaha sekuat tenaga menutup pintu, tapi ia kalah kuat dibandingkan para tamunya. Maka para tamu itupun berhamburan masuk.

Sri kemudian menggeleng-gelengkan kepala dan menuding-nudingkan jari telunjuknya. Kiko mengkeret, ia mundur beberapa langkah. Sri mulai berpidato, “Kamu memang suamiku yang cerdas. Sudah berani beli kain jarik, kebaya sama perlengkapannya sendiri. Sudah bisa dandan dan make up sendiri. Pintar memang kamu. Terus nyari hotel diluar kota buat melampiaskan hawa nafsumu”. Lalu diperhatikannya Kiko dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sri berkata lagi, “Sekarang kamu sudah bisa pasang sanggul sendiri”. Dipegangnya konde Kiko dan digoyangkan sedikit. Lalu ia memegang dagu Kiko dan berkata, “Make up kamu juga lebih rapi.”. Kemudian tangan Sri turun ke bawah memegang kain wiron Kiko dan berkata, “Kain wiron kamu juga rapi, ujungnya juga meruncing ke bawah. Sempurna !”.

Sejenak kemudian setelah Sri berhenti berpidato, Kiko baru sadar kalau ia terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkannya. Dan pikir Kiko mumpung tangannya masih bebas belum diikat, maka ia segera cepat-cepat membuka kancing kebaya. Tapi Sri dengan sigap berkata, “Sudah dandan-dandan cantik gitu kok mau dibuka kebayanya. Jangan dong !”. Dan ia memberi kode kepada teman-teman prianya untuk mengikat Kiko.

Setelah Kiko diikat tangannya, ia didudukkan di kursi. Sri mengancingkan kembali kebaya Kiko sambil berkata, “Kebaya kamu sangat indah, sayang. Halus. Pasti mahal harganya”. Dirabanya kebaya Kiko. Lalu Sri meraba-raba kain jarik Kiko hingga mengenai adik Kiko yang ternyata sudah bangun dan berkata, “Seleramu bagus, sayang. Jariknya juga halus”. Lalu Sri mengambil peralatan make up yang ada disitu sambil berkata, “Peralatan make up kamu juga mahal dan mewah. Kamu sudah sempurna sebagai seorang wanita, sayang. Sekarang tugas kamu adalah melayani para pria sahabatku ini”.

Lalu kedua lengan Kiko dipegang oleh 2 pria di kanan kirinya dan mereka merebahkan Kiko  di ranjang. Kiko jadi ketakutan dan spontan berteriak sambil meronta-ronta, “Ampun, Sri ! Ampun, Sri ! Ampun !”.

Sri yang mendengar teriakan itu kaget. Karena inilah pertama kalinya Kiko berteriak minta ampun ketika Sri menjadikannya budak. Sri berkata dalam bahasa Jawa, “Rasakno saiki ! Kapokmu kapan. Terusno terusno kono yo sing ngedan ! Ngéné iki nék jenengé kapok lombok. Selot kapok, tapi selot diterus-terusaké “. Lalu dihampirinya Kiko dan Sri berkata sambil meletakkan telunjuk di mulut Kiko, “Kamu jangan berontak, sayang ! Enak, kok rasanya ! Nanti pasti kamu semakin ketagihan. Selamat menikmati, sayang !”. Dan diciumnya Kiko. Lalu ditinggalkannya Kiko.

Giliran pertama adalah giliran si Macho. Ia membuka celananya dan naik ke ranjang. Segera sesudah itu dibukanya mulut Kiko dengan paksa dan dimasukkannya senjatanya. Sri yang masih didekatnya melihat kalau senjata Kiko juga menegang, maka ia membetotnya keras-keras. Kiko kesulitan bernafas, karena badannya ditindih oleh si Macho. Belum lagi senjatanya dibetot oleh Sri. Dunia rasanya mau kiamat bagi Kiko. Posisi ini lebih buruk daripada waktu di villa, karena badan Kiko ditindih oleh si Macho. Belum lagi senjatanya yang dipites, dibetot oleh Sri. Selain itu ia masih megap-megap menelan senjata si Macho.

Kiko 10-2

Begitulah Kiko habis-habisan dibully oleh Sri dan teman-temannya. Sehabis Macho, masih  ada beberapa pria lagi yang tubuhnya juga tidak kalah besar dan kekarnya. Maka setelah selesai permainan itu, Kiko pun pingsan di ranjang. Tapi Sri semakin gila, ia menyuruh teman-temannya menggotongnya dan menceburkannya ke kolam.

Byuuurr !!! Suara air bergolak ketika tubuh Kiko mereka lemparkan ke kolam. Dan blekutuk … blekutuk …. blekutuk.. Gelombang air pun mulai bermunculan…

Kiko 10-3

Kiko Sujaryanto 9

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan jatuh terjerembabnya Kiko di atas panggung. Setelah itu rombongan Sri kembali ke vila. Di vila sementara yang lainnya sibuk membuka-buka barang belanjaan, Kiko memanfaatkan kesempatan ini. Mumpung tidak diikat kaki dan tanganku, pikir Kiko.  Ia bermaksud untuk kabur dari tempat itu. Ia berencana untuk mengambil  pakaian si Macho yang kegedean dan mengambil dompet isterinya yang ada disitu. Ia sudah berhasil mengambil pakaian si Macho dan dompet isterinya tanpa diketahui yang lain serta masuk ke kamar. Di kamar, Kiko segera cepat-cepat membuka kancing kebayanya. Tapi begitu ia membuka kancing kebayanya yang terakhir, isterinya masuk ke kamar itu. Begitu dilihatnya dompet dan pakaian si Macho tergeletak disitu, ia pun berteriak, “Maling ! maling ! Ada maling mau kabur ! Ayo cepetan ditangkap !”. Teman-teman yang lain pun segera masuk dan membantu Sri menangkap serta mengikat tangan dan kaki Kiko. Kiko, mereka telungkupkan di lantai. Seorang mengikat tangannya dan seorang yang lain mengikat kakinya. Selesai ditangkap, Sri menjewer telinga Kiko sambil berkata, “Awas kamu ! mau melarikan diri ya ?”. Sementara si Macho yang diambil pakaiannya malah mengedipkan sebelah matanya kepada Kiko dan kemudian dicubitnya pipi Kiko. Kiko jadi merinding, risih dan jijik.

Kiko masih tergeletak terlentang di lantai. Sementara hari sudah menjelang malam. Kiko merajuk isterinya, “Sri, aku mau mandi”. Sri menjawab, “Jangan, nggak boleh. Nanti kamu malah melarikan diri. Sekarang kamu latihan jalan yang anggun saja, biar tidak memalukan kayak tadi. Jatuh diatas dipanggung”.  Lalu dibantunya Kiko berdiri dan dilepaskannya ikatan kakinya, tapi ikatan tangannya dibiarkannya. Selanjutnya Sri memakaikan sandal hak tinggi ke kaki Kiko. Lalu Sri mengambil piring yang berisi jatah makan Kiko dan meletakkannya di atas kepala Kiko sambil berkata, “Kamu jalan yang anggun pakai beban diatas kepala.  Jalannya harus betul, supaya piring diatas kepalamu tidak jatuh. Ayo mulai !”. Kiko diam saja, karena merasa tidak akan mampu berjalan dengan piring diatas kepala. Bisa bisa jatuh dan pecah. Sri malah menggertak, “Ayo, jalan ! Awas kalau sampai jatuh piringnya !”. Kiko masih diam saja, sementara teman-teman Sri yang lain sudah siap-siap merekam dan menonton. Maka Sri memaksa Kiko berjalan dengan sedikit mendorongnya ke depan. Kiko pun mulai berjalan. Setelah beberapa langkah selamat, langkah kesekian kalinya piring diatas kepalanya jatuh dan isinya berhamburan dilantai. Meledaklah amarah Sri, “Sudah dibilangi, jalan yang betul ! Malah kamu jatuhkan piringnya. Sekarang kamu makan dan bersihkan makanan kamu yang kamu jatuhkan di lantai, terus dibersihkan, disapu sama dipel yang bersih !”. Kemudian didorongnya Kiko hingga jatuh telungkup dilantai.

Kiko 9-1

Kiko merasa sangat terhina dan malu  diperlakukan demikian oleh isterinya. Kiko diam saja, ia tidak mau makan atau membersihkan makanan dan pecahan piring yang ada dilantai. Sri jadi gusar, ia bersuara keras, “Ayo, tunggu apa lagi ? Makan lalu bersihkan !”. Berhubung Kiko diam saja, maka Sri mendorong kepala Kiko ke lantai hingga mengenai makanan yang ada di lantai. Sri berkata, “Ayo, makan !”. Setelah habis, Kiko diam saja. Padahal makanan itu tercecer di beberapa tempat. Maka Sri mengambil tali dan mengikatkannya ke leher Kiko dan menariknya ke tempat yang ada makanannya hingga Kiko terpaksa mengikutinya dengan mengesot dilantai. Tapi didalam keadaan yang terlecehkan ini senjata Kiko malah terangsang. Apalagi ketika ia mengesot di lantai. senjatanya tergesek lantai. Kiko jadi malah menikmati siksaan ini. Setelah mengesot beberapa kali dan makan dengan mulutnya, Sri memberinya minum di mangkuk yang diletakkannya di lantai. Kiko pun meminumnya.

Tapi tidak semua makanan yang jatuh dilantai dimakan Kiko, karena beberapa diantaranya tercampur pecahan piring. Maka Sri menyuruhnya untuk membersihkan, menyapu dan mengepel lantai. Sekali lagi Kiko harus menjalani siksaan yang kemarin pernah diterimanya. Kali ini malah lebih berat, karena tercampur pecahan pirng. Pertama-tama, Kiko harus berusaha bangun dari lantai dengan keadaan tangan yang terikat dibelakang. Hal ini sulit dilakukan, karena tangan jadi tidak cukup panjang dan posisinya tidak enak untuk  dijadikan pegangan bangkit dari lantai. Beberapa kali Kiko mencoba, tapi setelah dalam keadaan bersimpuh dilantai dan mau berdiri ia selalu jatuh lagi. Sri bukannya membantunya berdiri tapi malah membiarkannya dan tersenyum mengejek sambil berkata, “Ayo, bangun ! Cepat ! Gitu saja tidak bisa”.

Kiko jadi tertantang, ia berpikir keras dan mendapatkan jalan. Ia berusaha mencari kursi untuk dijadikan pegangan tangan untuk berdiri, maka ia mengesot dilantai menuju ke tempat kursi berada. Tapi ketika ia telah sampai di tempat kursi berada, Sri memanasinya dengan mengangkat kursi itu menjauh dari Kiko. Begitulah dilakukan Sri hingga beberapa kali ketika Kiko sampai ke tempat sebuah kursi berada. Kiko putus asa, ia berdiam dilantai. Sri malah berkata, “Ayo, cepat ! Lantainya dibersihkan”. Kemudian disabetnya Kiko dengan mistar. Kiko kemudian dapat akal, ia berusaha menggapai tembok untuk dijadikan lendetan badan waktu mau berdiri. Ia pun mengesot menuju tembok dan Kiko berhasil berdiri.

Setelah itu Kiko mulai menyapu lantai dengan tangan terikat ke belakang sambil menoleh ke belakang dan berjalan mundur.  Sehabis siksaan ini, Kiko masih harus mengesot mundur dilantai untuk mengepel. Kiko jadi basah kuyup, karena suatu kali ember tempat airnya oleng dan airnya tumpah sebagian memerciki dirinya.

Sehabis mengepel, Sri membawa Kiko ke kamar mandi dan disemprotnya Kiko dengan air dingin. Kiko pun menggigil kedinginan. Sehabis itu barulah Sri melepaskan sanggul dan ikatan tangan Kiko serta membiarkan Kiko mandi. Tapi Sri menungguinya di kamar mandi sehingga  Kiko tidak punya kesempatan untuk melarikan diri.

Sesudah mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, Kiko digiring masuk ke kamar. Di kamar, Kiko berusaha merayu Sri supaya menghentikan perploncoannya, katanya, “Sri, kita pulang saya yuk ! Aku sudah capai”. Tapi Sri meletakkan telunjuknya di bibir Kiko dengan maksud supaya Kiko diam. Selanjutnya sudah bisa ditebak, Sri mendandani Kiko dengan kain kebaya baru lagi lengkap dengan makeup dan sanggul.  Setelah selesai, Sri mencium Kiko didepan cermin sambil berkata, “Cantik déh kamu !”. Kiko kembali terangsang. Baru sekali ini isterinya memuji kecantikannya dengan tulus. Ia jadi berpikir jangan-jangan sekarang isterinya sudah tidak dendam lagi kepada perbuatannya di waktu lalu, tapi sudah terbiasa jadi dominan dan menikmati menyiksa suaminya serta sudah tidak berniat lagi untuk menyembuhkan kelainan yang dideritanya.

Setelah itu Kiko dituntun Sri keluar kamar. Tenyata mereka menuju ke halaman. Mereka sudah menyiapkan api unggun dan ditengah-tengahnya ada sebuah pohon. Kiko berpikir, jangan-jangan ia akan diikat di pohon itu dan dikelilingi api. Ternyata memang betul, mereka kemudian mengikat Kiko ke tiang itu dan mulai menyalakan api di sekitarnya. Sesudah itu mereka makan  minum, bernyanyi-nyanyi sambil memandangi Kiko. Sementara Kiko kepanasan ditengah-tengah api dan cemas kalau apinya mengenai tubuhnya. Beberapa diantara mereka termasuk Sri malah memegang kayu yang ujungnya berapi dan menyodor-nyodorkan ke Kiko, hingga Kiko semakin ketakutan.

Kiko 9-2

Kiko 9-3

Menjelang tengah malam, ketika  Kiko semakin dag dig dug, mereka melepaskan Kiko dari pohon dan membawa Kiko ke pinggir. Tapi selanjutnya mereka kembali mengikat tangan dan kaki Kiko. Sesudah itu Kiko mereka gotong dan mereka gantung terbalik di pohon tadi. Kiko jadi samakin takut. Kepalanya yang dibawah merasa panas, karena dekat api. Untungnya api itu padam duluan sebelum mengenai kepala Kiko. Kemudian mereka menurunkan Kiko, tapi mereka tidak membuka ikatan tangan dan kaki serta tali yang mengikat kaki ke pohon diikatkan oleh salah seorang dari mereka kesebuah pohon. Sedangkan kepala Kiko mereka juga ikat dengan tali kesebuah pohon yang lain di seberang pohon itu. Kedua tali itu cukup tegang, sehingga jika Kiko berulah akan menyebabkan kaki dan lehernya terjerat. Dalam keadaan itulah mereka meninggalkan Kiko terbaring di tanah dengan tangan dan  kaki terikat serta kepala dan kaki yang terikat pada pohon yang berseberangan.

Sepanjang malam Kiko tidak bisa memejamkan matanya. Itulah malam kedua Kiko di vila. Sementara yang lain tidur pulas, Kiko malah disiksa. Sesudah kemarin malam ia disuruh tidur dikandang anjing dengan posisi badan yang menekuk,  tangan dan kaki terikat serta kepala dirantai, malam ini ia harus tidur di atas tanah dengan tangan dan kaki terikat serta kepala dan kaki yang terikat ke pohon.  Bergerak sedikit untuk ganti posisi saja cukup sulit dan bisa menyebabkan ikatan tali di kepala serta kakinya jadi menegang. Ia merenungi nasibnya. Kejam nian sekarang isteriku. Apakah ini malam terakhirnya di vila dan besok ia sudah bisa bebas atau besok siksaan-siksaan lain masih menunggunya. Siksaan apa lagi yang akan diterimanya besok ?

Ketika tengah suntuk-suntuknya merenungi nasibnya, tiba-tiba…guug ! guug ! guug !.. É Lhadalah, 2 ekor anjing yang lumayan besar muncul dan mulai mendekati Kiko. Kiko jadi ketakutan setengah mati, mau berteriak ia takut kalau anjingnya jadi agresif dan menggigitnya. Ia bingung, mau berontak tapi tangan dan kaki serta kepalanya terikat. Akhirnya Kiko hanya diam saja sambil merinding ketakutan dan mulutnya ndremimil komat-kamit menggumam, “sluman slumun slamet, sluman slumun slamet, sluman slumun slamet, …. setan ora doyan, demit ora ndulit…. sluman slumun slamet, sluman slumun slamet, sluman slumun slamet…”

Kiko 9-4

Anjing-anjing itu pun mulai mengendus-endusi tubuhnya. Salah satu anjing itu kemudian mengendus senjata Kiko. Senjata Kiko jadi terangsang dan mulai menegang. Anjing itu jadi mulai menyalak-nyalak pada kemaluannya yang ereksi dan menyeringai. Kiko jadi semakin takut jangan-jangan nanti kemaluannya digigit. Sementara anjing yang lainnya mengendus wajahnya.

Sebentar kemudian .. guug ! dan aduh biyung tobat tobil anak kadal !. Duh gusti kulo nyuwun pangapuro. Anjing itu menggigit kemaluan Kiko, Kiko pun secara spontan menyentakkan tubuhnya dan anjing itu pun melepaskan gigitannya. Bersamaan dengan itu bukan hanya kemaluan Kiko yang rasanya sakit bukan main, tapi leher Kiko jadi terjerat tali yang menegang karena tubuh Kiko yang berontak. Kiko merasakan sakit luar biasa pada kemaluannya, tapi bersamaan dengan itu ia juga merasakan kenikmatan yang luar biasa karena kemaluannya yang berkontraksi dengan hebat. Kenyuutt  ! kenyuuttt ! kenyuuuttt ! Kiko berasa diantara surga dan neraka. Untungnya sesudah itu 2 anjing itu kemudian pergi menjauh. Bersamaan dengan itu pula terdengar pula suara gelak tawa dari kejauhan. Ternyata Sri dan teman-temannya mengamat-amatinya dari dalam villa.

Kiko Sujaryanto 8

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan pingsannya Kiko setelah dirinya kecapaian dan digantung serta dipaksa menelan senjata si Macho. Ketika sadar, Kiko mendapati dirinya terbaring di ranjang dengan tangan yang masih terikat. Kiko berpikir dalam hati, kenapa aku masih terikat. Apakah mereka masih belum puas mengerjai aku. Aku sudah bosan dan muak diperbudak mereka.

Sri ternyata sudah menunggu di sampingnya. Dibelainya Kiko sambil berkata dengan halus, “Bangun, yok ! Biar aku bantu kamu salin jarik yang baru”. Ternyata kain Kiko sudah basah terkena air mani. Entah air maninya siapa.  Kiko bangun dari ranjang dan berkata, “Sri, kita pulang saja sekarang. Aku sudah capai ! Badanku sakit semua rasanya”. Sri menjawab, “Baru sehari kok sudah ngajak pulang. Acaranya belum selesai” . Kiko berkata lagi, “Aku mau pakai pakaianku sendiri”. Sri menjawab, “Nggak ! Nggak ada ! Nggak boleh ! Kamu harus pakai kain kebaya ! Kamu kan bintangnya ! Ayo, cepat !”.  Kiko berusaha menawar supaya bisa segera pulang dan berhenti jadi submissive, “Sri, kita konsultasi ke psikiater saja”. Sri menjawab asal-asalan, “Ya, sehabis pulang dari sini kita ke psikiater”. Kiko berkata dalam hati, ya percuma dong kalo gitu. Kiko ogah-ogahan dan hanya duduk di tepi ranjang. Sri jadi marah dan mengancam, “Kamu menolak ? Nggak mau ? Apa perlu kupanggilkan cowok-cowok kamu ?”. Kiko jadi takut dan menurut serta segera berdiri.

Kemudian Sri membuka kancing kebaya, kamisol dan stagen Kiko. Sri lalu membuka kain wiron Kiko  serta celana dalamnya yang basah. Ia bersihkan senjata Kiko. Kemudian Sri memakaikan celana dalam yang baru. Selanjutnya Sri memakaikan kain wiron yang baru dan kelengkapannya berupa stagen serta mengancingkan kembali kamisol dan kebaya Kiko.

Tapi sekarang Kiko sudah tidak bergairah lagi, ia malah merasa risih dan jijik dengan dandanannya sendiri. Suatu perasaan yang selalu menghinggapi Kiko begitu melewati puncak kenikmatan. Tidak itu saja, ia sekarang juga kawatir kalau-kalau ia akan dipaksa melakukan oral lagi. Ia paling tidak senang dengan itu. Belum lagi badannya sudah payah dan capai.

Untung bagi Kiko, acara selanjutnya mereka hanya pergi ke luar vila. Jalan-jalan sambil cuci mata dan shoping. Tapi walaupun bagaimana Kiko masih tidak terbiasa cding diluar dan dilihat oleh orang banyak. Ia masih dag dig dug. Tangan dan kakinya dingin.  Kiko curi-curi pandang jelalatan melihat ke sekelilingnya. Ia tahu kalau ia bakal menarik perhatian orang banyak. Karena pakaiannya yang paling berbeda di antara teman-teman serombongannya. Kain kebaya, sementara teman-teman cewek dan cowoknya semuanya pakai rok atau celana.

Kiko diapit oleh 2 cowok. Tangannya masih  diikat ke belakang dan ditutup selendang panjang. Sebentar kemudian Kiko sudah mulai bisa menikmati keadaannya dan kembali mulai bergairah. Senjatanya pun mulai menegang. Sedang enak-enaknya ia menikmati keadaannya yang romantis dan diapit oleh 2 cowok sambil merasakan ketegangan senjatanya, Sri mulai mengerjainya dengan menyerahkan belanjaannya ke tangan Kiko. Maka Kiko pun harus menjinjing belanjaan isterinya dengan posisi tangan yang terikat dibelakang punggung. Setelah itu isterinya masih lagi menambahi belanjaan yang harus dibawa Kiko. Karena tangan Kiko sudah penuh dengan tas belanjaan Sri, maka Sri menyelempitkan belanjaannya di ketiak kiri dan kanan Kiko. Sementara teman-temannya malah mentertawakannya.

Kiko 8-1

Setelah capai dan sudah lewat tengah hari,  mereka pun makan siang. Tapi sial bagi Kiko, kali ini tidak ada yang memberinya makan atau minum. Sementara rombongannya makan-makan dan minum-minum, Kiko hanya bisa duduk sambil menundukkan kepalanya dengan tangan terikat dibelakang dan tertutup selendang panjang sehingga tidak kelihatan terikat. Kiko duduk di emper rumah makan. Ia tersiksa, malu, deg-degan, panas dingin. Tapi sekaligus menikmati siksaan itu. Ia jadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang. Hampir setiap orang yang melewatinya selalu memandanginya. Jika yang lewat dua orang atau lebih, maka mereka saling berbisik. Ada juga beberapa orang yang lewat mengejek, “Banci !”. Kiko hanya menunduk diam, tapi diam-diam Kiko terangsang dan senjatanya menyembul.

Sementara itu dari tempat mereka  makan yang tidak jauh dari tempat Kiko duduk, rombongan Sri ternyata mengamat-amati segala tindak tanduk Kiko. Mereka bahkan merekam.  Sri segera tahu kalau senjata Kiko menegang. Setelah menunggu sejenak dan tidak ada orang yang lewat, Sri menghampiri Kiko dan dibetotnya senjata Kiko sambil berbisik, “Enak ya, mejeng di depan umum pakai kain kebaya. Nikmat ? Rasanya feminin banget ya ? Gimana kalo kupotong burung kamu, biar  jadi wanita betulan sekalian”. Sri semakin memperkeras betotannya. Kiko pun kejet-kejet. Tapi karena kuatir kalau ada orang lewat,  sebentar kemudian Sri melepaskannya setelah terlebih dahulu dipukulnya senjata Kiko dengan tangan. Serta merta Kiko jadi njenggirat, bangkit dari duduknya, kerena merasakan sakit di senjatanya. Senjatanya jadi berkontraksi dan semakin mbekér-mbekér berontak menegang bergetar-getar. Nyuut ! Nyuut ! Nyuut ! Kiko merasakan senjatanya mbekér-mbekér berkontraksi, denyutannya terasa sampai ke ubun-ubun.  Kiko pun merasakan  kenikmatan yang luar biasa hingga ia mengeluarkan lenguhan yang ditahan. Sri yang melihat hal ini jadi geleng-geleng kepala dan ditinggalkannya Kiko. Kiko yang melihat senjatanya berdiri hampir 90 derajat berusaha menyembunyikannya dengan jalan membungkuk. Melihat Kiko yang kewalahan menyembunyikan senjatanya, Sri malah tertawa-tawa.

Kiko 8-2

Setelah para peserta rombongan selesai makan dan minum, mereka pun pergi dari rumah makan tersebut. Beruntung bagi Kiko, karena mereka membungkuskan makanan dan minuman untuk Kiko. Tapi perut Kiko sudah terlanjur sakit terlebih dulu,  karena terlambat diisi makanan dan berulah.  Kiko tidak kuasa menahan rasa sakit diperut dan ia mengeluarkan angin yang berbau tidak sedap.  Padahal mobil yang ditumpangi ber AC dan tertutup rapat, maka gegerlah seluruh penumpang. Sri terlebih dulu berani terang-terangan menuduh Kiko. Katanya, “Kamu kentut ya ?” sambil dijewernya telinga Kiko. Kiko diam saja, maka yang lain menyimpulkan kalau Kiko kentut. Sehingga mereka semua keluar dari mobil meninggalkan Kiko yang masih terikat. Kiko jadi tersiksa, karena harus menghirup bau kentutnya sendiri di dalam mobil yang tertutup. Mau menutup hidung dengan tangannya tidak bisa, karena tangannya masih terikat di belakang. Keadaan ini berlangsung agak lama. Baru kemudian salah seorang dari mereka sadar dan membuka semua jendela mobil.  Sementara Kiko sudah megap-megap sesak nafas hampir pingsan.  Sesudah gas beracun itu menghilang, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka melepaskan ikatan tangan Kiko dan membiarkan Kiko makan dan minum. Kiko berharap semoga ini akhir dari petualangannya.

Tapi pemikiran Kiko ternyata meleset. Mereka bukannya pulang ke vila. Tapi pergi ke sebuah tempat pelatihan kecantikan yang lebih diutamakan untuk para waria. Ternyata ini adalah ide dari Domina, ia meminta tolong Sumi yang punya kenalan melatih di tempat itu. Begitu sampai ditempat itu, Kiko jadi ketakutan. Ia kembali jadi panas dingin tangan dan kakinya.  Sementara Sri malah berkata, “Nah, sekarang kita sudah sampai di tempat kamu berlatih keluwesan. Tuh, liat ! Banyak kan temen-temen kamu”. Kiko jadi merinding. Ia jadi ingat peristiwa kemarin sewaktu dirubung waria. Tapi untung bagi Kiko, karena para waria disini sopan-sopan.

Setelah memarkir mobil, mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung. Sekalipun tempat itu banyak warianya, tetap saja Kiko menarik perhatian orang banyak. Karena lagi-lagi ternyata cuma dia seorang yang memakai kain kebaya tradisional lengkap dengan sanggulnya. Sementara para waria lain semuanya memakai kebaya modern yang sudah dimodifikasi dengan bawahan jarik yang sudah dibuat rok dan cukup longgar di bagian bawahnya. Domina segera memperkenalkan Kiko kepada Sumi yang sudah terlebih dulu ada di situ.  Sumi juga memakai kain kebaya lengkap dengan sanggulnya. Begitu melihat Sumi yang cantik dan memakai kain kebaya, maka Kiko pun terangsang dan senjatanya mulai menegang. Kiko berusaha mati-matian menahan supaya senjatanya tidak terlalu menegang.  Sumi yang melihat jadi tersenyum geli. Ternyata tidak cuma aku saja yang memakai kain kebaya tradisional, kata Kiko dalam hati. Dan Sumi melanjutkan memperkenalkan Kiko kepada orang-orang yang ada di situ. Kemudian Kiko didudukkan di depan meja rias dan dirias ulang oleh Sumi. Sesudah itu Sumi mengajarkan tata cara mengenakan busana nasional kepada para peserta dan Kiko kembali menjadi model dadakan. Sumi juga mengajarkan cara berjalan yang anggun waktu memakai kain kebaya.

Setelah selesai, sampailah pada momen yang ditunggu-tunggu oleh para anggota rombongan Sri. Para peserta harus berjalan berlenggang lenggok di atas panggung. Perasaan Kiko campur aduk antara malu, cemas, takut, panas dingin, gemetar dan senang, bergairah serta menikmati. Ia berharap semoga isterinya tidak mengetahui kalau sebenarnya ia malah menkimati siksaan yang diberikan oleh Sri. Kiko melihat kepada seluruh peserta yang lain ternyata memang betul tidak ada yang memakai kain kebaya tradisional selain dirinya. Mereka yang lain semuanya memakai kebaya modern dengan bawahan yang longgar-longgar.  Enak saja mereka, langkahnya bisa lebar-lebar. Tidak kesrimpet-srimpet kayak aku, begitu pikir Kiko. Tapi aku tidak tertarik kalau disuruh pakai kayak gitu. Tidak ada tantangannya.  Kiko pun berusaha mati-matian meniru gaya yang telah diajarkan Sumi.

Sri yang melihat Kiko jadi berpikir boleh juga gaya Kiko berjalan dengan memakai kain kebaya. Pantas memang seperti seorang wanita, paling tidak seperti waria profesional. Lantas apakah Kiko akan kapok melakukan hal ini atau jangan-jangan malah jadi semakin menikmati dan menghayati. Pikiran Sri jadi galau. Sedang galau-galaunya pikiran Sri, tiba-tiba …. gabrruuukkk !!! Ternyata Kiko jatuh diatas panggung waktu berlenggang-lenggok. Entah kenapa. Mungkin kesrimpet jariknya atau lantaran keseleo sandal hak tingginya. Para penonton pun jadi riuh rendah mentertawakan Kiko. Diantara mereka ada yang berteriak, “Dasar udik ! Hari gini masih pakai jarik, rasain sekarang kesrimpet jarik !”

Kiko Sujaryanto 7

Ini adalah lanjutan dari cerita “renungan seorang isteri” yang berakhir dengan usaha Sri yang gagal untuk membangkitkan kembali gairah suaminya sekalipun ia sudah memancingnya dengan memakai kain kebaya dan berdandan cantik.

Setelah berdiam mematung di ambang pintu, Kiko kemudian melangkah mendekati Sri di ranjang. Dibelai-belainya Sri dari belakang, Sri pun membalikkan badan dan terlentang. Sri sudah berhenti menangis dan ia duduk di ranjang. Ia sekali lagi bermaksud untuk memancing suaminya. Dipegangnya senjata suaminya yang menegang.  Dibukanya celananya suaminya dan direbahkannya Kiko diranjang. Sesudah itu digosok-gosokkannya senjata suaminya ke kain batiknya. Tapi sebentar kemudian senjata Kiko sudah terkulai lemas. Sri jadi kecewa.

Sesudah peristiwa itu Kiko jadi semakin berani terang-terangan melihat foto-foto wanita cantik  memakai kain kebaya.

Beberapa hari kemudian Sri mengutarakan maksudnya untuk mengajak Kiko konsultasi ke psikiater. Kiko hanya diam saja. Setelah berulang kali Sri berusaha membujuknya, akhirnya Kiko mengiyakan. Maka pada hari yang ditentukan mereka berdua pergi ke tempat praktek psikiater. Tapi begitu sampai di tempat itu Kiko mengajak Sri pulang.

Sri jadi jengkel terhadap suaminya. Di saat yang bersamaan kelompok BDSM Lesbi menanyakan kembali apakah Sri mau mencoba alternatif usul yang ditawarkannya. Sri bimbang, tapi akhirnya ia mengiyakan usul Lesbi.

Maka langkah selanjutnya  adalah Sri harus memancing Kiko untuk memakai kain kebaya. Waktu itu Kiko masih melihat-lihat foto-foto wanita berkain kebaya. Sri mendekatinya dan berkata, “Kamu masih senang banget ya kalau lihat wanita pakai kain kebaya ?”. Kiko mengangguk cuek dan meneruskan melihat-lihat foto-foto. Sri jadi gregetan, “Tapi kamu kok gak bergairah waktu lihat aku pakai kain kebaya ?”. Sri bertanya terang-terangan. Kiko diam tidak menjawab. Sri bertanya lagi, “Kamu lebih senang mana, lihat wanita pakai kain kebaya atau kamu sendiri yang pakai kain kebaya ?”. Dalam hati Kiko menjawab tentu saja ia lebih suka memakai kain kebaya sendiri daripada cuma melihat wanita pakai kain kebaya. Tapi ia takut untuk menjawab, Sri pun berkata, “Ayo jawab !”. Kiko tetap diam tanpa memandang Sri. Akhirnya Sri mencoba menarik kesimpulan, “Kamu lebih suka memakai kain kebaya daripada cuma melihat foto-foto wanita memakai kain kebaya. Ya kan ?”. Kiko akhirnya mengangguk.

Sri mulai memancing, “Kalau kamu kudandani pakai kain kebaya lagi mau ?”. Kiko segera mengangguk. Serta merta diajaknya Kiko ke kamar. Tapi terlebih dahulu Sri  mengkontak teman-teman kelompok BDSMnya tanpa diketahui Kiko. Di kamar Kiko sudah menunggu. Tanpa diperintah ia sudah menanggalkan semua pakaiannya hingga hanya tinggal memakai celana dalam. Maka ritual memakai kain kebaya pun dimulailah. Tidak lama ritual memakai kain kebaya lengkap dengan sanggul dan make up pun selesailah.

Bersamaan dengan itu kelompok BDSMnya Lesbi pun datanglah, mereka datang dengan beberapa orang pria yang bertubuh tinggi besar dan kekar. Begitu Kiko mengintip dari ruang tengah dan melihat bahwa diantara teman-teman isterinya yang dulu pernah datang ada beberapa pria yang bertubuh tinggi besar dan kekar, maka ciutlah nyalinya. Ia jadi gelagapan dan mendadak sontak jadi malu serta jijik dengan dirinya yang berdandan seperti banci.

Kiko tidak mengira kalau diantara teman-teman isterinya bakal ada beberapa orang pria. Kiko ternyata masih punya rasa malu untuk berpakaian seperti wanita di hadapan  pria. Maka Kiko bermaksud hendak kembali ke kamar untuk sembunyi dan melepaskan semua pakaiannya, tapi dihalangi oleh Sri. Kiko tidak dapat berbuat banyak, karena kakinya yang ribet memakai kain wiron yang sempit dibawahnya dan belum lagi sandal yang dipakainya haknya juga tinggi.

Akhirnya Sri berkata kepada para tamunya sambil menahan Kiko dengan tangannya supaya tidak lari, “Masuk saja !”. Maka para tamupun masuk ke ruang tengah sementara Sri masih menahan suaminya yang berusaha untuk melarikan diri. Sri pun berkata, “Kamu ini gimana sih, ada tamu kok malah mau lari. Ayo, temui dong tamu kita !”. Dituntunnya Kiko menuju kursi di ruang tengah.

Setelah duduk dengan kikuk Kiko pun menundukkan kepala, maka Sri memegang dagu Kiko dan mendongakkannya sambil berkata, “Tuh, lihat ada cowok-cowok ganteng,  macho lagi ! Kenalan dong, nggak usah malu-malu !”. Beberapa  diantara  para cowok itu pun tersenyum kepada Kiko  dan mengedipkan matanya. Kiko jadi merinding selain malu, risih  dan jijik. Entah risih dan  jijik kepada dirinya yang seperti banci atau risih dan  jijik karena dikedipi mata oleh sesama pria.  Salah seorang diantara mereka berkata kepada Sri, “Suaminya ya ? Namanya siapa ?”. Sri berkata, “Kiko Sujaryanto. Tapi nama dinasnya Kiki Sujaryanti”.  Si pria itu ( kita namai saja Macho Man ) berkata lagi, “ngganteng lho, éh keliru maksudku cantik banget lho ! Persis cewek ori !” sambil dicubitnya pipi Kiko. Si Macho bertanya lagi kepada Sri, “Boleh aku cium dia ?”. Sri hanya mengangguk sambil melirik dan tersenyum kepada Kiko. Tapi Kiko berusaha menghindar, hingga si Macho terpaksa memegang dagu dan leher Kiko. Sesudah itu diciumnya Kiko. Sri yang tahu kalau suaminya jijik berkata, “Nggak usah malu-malu. Gimana rasanya dicium cowok ganteng ?”.

Kiko jadi semakin merinding dan mengumpat dalam hati. Kenapa ia tidak  memikirkan kemungkinan ini dimana  diantara teman-teman Sri ternyata juga diikut sertakan beberapa orang pria. Sekarang Kiko tidak bisa lagi  menikmati keadaannya seperti dulu dimana ia merasa sangat senang dan berbahagia serta nyaman berada diantara cewek-cewek cantik sekalipun ia harus disiksa. Sekarang perasaan yang ada hanyalah merasa malu, risih  dan sedikit jijik serta tidak nyaman dengan keadaan dirinya, karena adanya beberapa orang pria. Belum lagi memikirkan siksaan apa yang akan diterimanya bila yang menyiksa adalah pria-pria yang bertubuh tinggi besar itu. Apalagi tubuh pria-pria itu lebih tinggi dan besar bila dibandingkan dengan dirinya.

Sebentar kemudian Lesbi mengkomando, “Ayo, kita jalan-jalan keluar kota yuk. Cari angin !”. Kiko yang mendengar perkataan itu jadi kaget, ia melirik kepada Sri. Tapi Sri tenang-tenang saja. Kiko pun berpikir ternyata rencana mereka sangat licik dan kejam. Bagaimana bila aku dilihat oleh orang banyak dan mereka mengetahui kalau aku seorang pria. Pikiran Kiko jadi sumpek. Mendadak sontak  Kiko berdiri dan hendak berlari. Tapi Sri dan teman-temannya mengetahui hal ini. Maka mereka pun beramai-ramai segera menangkap Kiko dan mengikat tangan Kiko ke belakang punggung. Karena Kiko masih meronta-ronta, maka mereka juga mengikat kaki Kiko. Setelah Kiko tidak berdaya, Sri menciumnya dan berkata, “Makanya yang nurut, enak-enak mau diajak keluar kota kok menolak”. Ternyata ide keluar kota itu adalah kompromi dari Sri. Karena jika diajak keluar rumah tapi masih didalam kota, maka ada kemungkinan dilihat oleh orang-orang yang mereka kenal.

Kiko dipanggul

Setelah meringkus Kiko, mereka pun berangkat. Kiko karena diikat kaki dan tangannya, maka  dipanggul oleh si Macho seperti memanggul karung beras. Karena takut jatuh dan merasa tidak nyaman, maka Kiko pun meronta-ronta. Sri yang melihat hal ini memukul pantat Kiko dan berkata sambil menjewer telinga Kiko,  “Héh, bisa diam nggak ? Kayak anak kecil saja !”. Begitu sampai di tempat mobil di parkir, si Macho menurunkan Kiko dari panggulannya. Kiko ternyata masih pantang menyerah  dan terus berusaha untuk melarikan diri. Ia pun segera melompat-lompat, karena tidak bisa berlari dan tentu saja mudah bagi mereka untuk menangkap Kiko kembali. Tapi mereka malah sengaja  membiarkan Kiko melompat-lompat sampai hampir masuk kembali kedalam rumah. Mereka malah mengambil video waktu Kiko melompat-lompat sambil tertawa-tawa. Barulah ketika Kiko sudah hampir sampai di depan pintu masuk rumah, Sri menghadang di depannya dengan membawa cambuk ditangannya. Tanpa ampun Kiko dicambuknya beberapa kali. Kiko mengaduh kesakitan sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Kiko pun meraka tangkap dan hendak dimasukkan ke dalam mobil, ketika tiba-tiba Sri berkata, “Jangan masukkan dia di tempat duduk belakang. Masukkan saja ke bagasi belakang. Buat hukuman supaya dia kapok”. Akhirnya Kiko pun mereka masukkan ke bagasi belakang, setelah terlebih dahulu mulutnya mereka bekap, supaya tidak bisa berteriak-teriak.

Kiko di bagasi

Sesudah mereka mengunci bagasi belakang, iring-iringan mobil pun berangkat. Di dalam bagasi, Kiko megap-megap keringatan sambil merenungi nasibnya. Mengapa aku sekarang jadi bulan-bulanan isteriku. Padahal kalau dipikir semuanya ini hanya berawal dari hal yang sepele yaitu sebuah pakaian Jawa kain kebaya.  Pakaian yang tidak uptodate dan ketinggalan jaman. Mengapa aku jadi tergila-gila untuk memakainya. Padahal jelas-jelas pakaian itu untuk wanita, Sedangkan aku seorang pria. Apakah aku sudah gila ? Atau aku sudah menjadi banci ? Ini semua gara-gara isteriku yang tidak mau memakainya lagi lantaran aku mengasarinya. Andai saja aku tidak berlaku brutal kepadanya mungkin saja ia masih tetap mau sering memakai kain kebaya dan hubungan kami tetap harmonis.  Alangkah tololnya aku ! Mengapa pula tiba-tiba aku sangat bergairah ketika ia memakai kain kebaya, padahal sebelumnya ketika ia memakai pakaian yang serba mini aku pun bisa bernafsu. Mengapa aku sekarang tidak nafsu lagi ketika melihat ia memakai pakaian yang serba mini. Pakaian yang justru jelas-jelas mengumbar bagian-bagian tubuh yang dapat mengundang hawa nafsu para lelaki. Dimanakah logika pikiranku ? Pikiran Kiko ngelantur kemana-mana. Menyalahkan dirinya sendiri dan juga menyalahkan isterinya. Hingga ia tidak bisa berpikir lagi. Sesudah itu ia mulai  merasakan keadaan sekelilingnya yang sesak dan gelap serta tangan dan kakinya yang terikat ditambah dengan mulutnya yang disumbat. Kiko tergeletak dalam keadaan miring dan menekuk. Ia mencoba bergerak-gerak sedikit. Tiba-tiba senjatanya yang tergesek kain batiknya jadi terangsang dan mulai menegang. Kiko lalu mulai mencoba menikmati keadaannya. Keadaan yang lebih parah dari sekedar diikat tangan dan kakinya, karena mulutnya juga di sumbat. Belum lagi tempat ia menggeletak sangat sempit, pengap, gelap dan berbau tidak enak. Sedikit demi sedikit  Kiko mulai dapat menerima keadaan ini dengan pasrah dan akhirnya ia pun mulai dapat merasakan kenikmatan karena kepasrahannya. Kiko pun sengaja menggerak-gerakkan pahanya dengan maksud untuk menggesek-gesekkan senjatanya supaya lebih terangsang dan menegang. Kiko pun mulai merintih kenikmatan.

Ternyata perjalanan mereka cukup jauh. Hingga mereka harus  berhenti untuk makan malam. Maka mobil pun berhenti. Mereka memilih parkir ditempat yang agak gelap dan sepi. Begitu mobil berhenti, Kiko jadi dag dig dug. Begitu begasi dibuka, mereka segera membuka lakban dimulutnya dan juga ikatan dikakinya. Tapi mereka tidak membuka ikatan tangan Kiko. Kiko pun mereka angkat keluar dari bagasi. Lengan kanan dan kirinya dipegang oleh 2 orang cowok yang berbadan tinggi besar. Sri kemudian mengalungkan sebuah selendang yang  panjang ke lehernya dari muka ke belakang untuk menutupi tangan Kiko yang terikat. Sri berkata sambil mencubit pipi Kiko, “Duh, senengnya ! Punya cowok sekaligus 2 orang. Ganteng-ganteng, macho lagi ! Cembokur déh aku. Sebentar-sebentar, jangan jalan dulu, biar aku rapikan dulu dandanannya. Biar semakin cantik “.  Makin dongkollah hati Kiko. Sesudah itu Sri cepat-cepat kembali merias ulang dandanan Kiko dan merapikan sanggul serta pakaiannya. Kain wironnya yang kusut dirapikannya dan kembali dirapatkannya hingga bisa singset serta tak lupa wironnya dirapikan juga. Setelah itu kedua cowok di kiri kanan mencium pipi Kiko. Kiko jadi semakin risih dan hilang sudah rasa senang dan nikmatnya.

Sesudah itu mereka pun masuk ke dalam restoran. Kiko jadi semakin kikuk dan tidak percaya diri serta takut, karena dilihat banyak orang. Kaki dan tangannya jadi panas dingin dan gemetar. Kiko pun menundukkan kepala. Apalagi ia memakai pakaian kain kebaya, sementara semua cewek didalam rombongannya tidak ada satupun yang memakai kain kebaya. Demikian pula dengan orang-orang disekitarnya. Brengseknya lagi pikir Kiko, teman-teman dirombongannya malah mengambil foto Kiko yang diapit 2 cowok, hingga semakin menarik perhatian banyak orang. Belum lagi Sri yang malah berkata, “Jangan menunduk terus dong ! Nggak usah malu lantaran cuma pakai kain kebaya. Harusnya kamu malah bangga dong, paling nasionalis diantara kita semua ! Ayo, wajahnya diluruskan ke depan ! Senyum yang manis ! “.  Kedua cowok disebelahnya pun mendongakkan wajah Kiko dengan memegang dagunya. Wajah Kiko pun semakin memerah dan ia semakin panas dingin, gemetar ketakutan..

Setelah selesai memotret Kiko, mereka memesan hidangan. Karena tangannya diikat ke belakang, maka Kiko disuapi bergantian oleh kedua cowok disebelah kiri kanannya. Sementara teman-teman lainnya kembali mengambil foto sambil berkata, “Nah, gitu. Yang mesra ! Lakinya nyuapi ceweknya !”. Kiko karena grogi hampir tersedak dan jadi batuk-batuk. Di saat yang bersaman Kiko merasakan senjatanya menegang. Rupanya ia sudah mulai bisa menikmati keadaan dirinya yang diperlakukan seperti seorang wanita oleh kedua cowok macho dan ganteng. Ia sendiri merasa heran kenapa akhirnya ia bisa juga menikmati keadaan ini dan mulai hilang rasa risih dan jijiknya terhadap sesama lelaki. Karena batuk-batuk, maka si Macho yang disebelahnya menutupkan serbet ke mulut Kiko dan setelah itu ia memberi Kiko minum. Tak terasa senjata Kiko mengeluarkan sedikit cairan. Untungnya ia bisa menahannya.

Sehabis makan di rumah makan, mereka kembali ke tempat parkir mobil. Beruntung kali ini Kiko tidak dimasukkan lagi ke dalam bagasi, tatapi duduk di kursi belakang ditengah-tengah di apit oleh kedua cowok. Tapi tangan Kiko masih mereka ikat dan Kiko mulai merasakan tangannya sakit. Tempat berikutnya yang dituju ternyata lebih mengerikan lagi bagi Kiko. Mereka pergi ke tempat para waria mangkal. Kiko jadi mengkeret keder. Begitu tiba ditempat itu, mereka membuka ikatan tangan Kiko dan mereka mengeluarkan Kiko dari mobil. Kiko melongo tidak tahu harus berbuat apa. Rombongan mobil itu pergi agak menjauh. Ia hanya bisa berdiri mematung, badannya panas dingin gemetaran.

Mulailah petualangan Kiko sebagai waria ditempat prostitusi waria. Sial bagi Kiko, karena tentu saja cuma ia sendiri yang memakai kain kebaya sementara waria-waria lain yang ia lihat semuanya memakai pakaian mini yang sexy.  Tak berapa lama beberapa waria mulai mendatanginya. Mereka saling berbicara satu sama lain menyindir Kiko. “Orang baru. Udik banget ya. Pakai jarik sama kebaya. Sanggulan lagi ! Besar amat kondenya !”. Dipegangnya konde Kiki dan digoyang-goyangnya sedikit. Kemudian salah seorang dari mereka mulai menggerayangi kain wiron Kiko. “Jaman gini masih pakai jarik kayak orang udik. Jadi pembokat saja kamu pantesnya !”. Kemudian ditarik-tariknya ujung wiron Kiko, hingga Kiko berusaha menarik dan menutup kembali kain wironnya. Tapi tak terasa senjata Kiko jadi terangsang dan menegang hingga menyembul.

Semantara itu rombongan Sri melihat dari jauh dan merekam semuanya dengan handy cam. Karena melihat kalau yang mengerubung Kiko semakin bertambah, maka Macho Man keluar dari mobil dan menghampiri Kiko. Para waria itu pun satu per satu meninggalkan Kiko. Si Macho berlagak seolah-olah menjadi pelanggannya Kiko.  Dirangkulnya Kiko dan diciumnya Kiko. Kiko jadi kembali risih, tapi di saat yang bersamaan ia juga merasa lega bisa terbebas dari kepungan para waria. Dan diam-diam Kiko bisa menikmati keadaannya, walaupun kadang masih merasa risih dan jijik.

Malamnya mereka menginap di sebuah villa yang besar. Kamarnya cukup banyak untuk menampung semua anggota rombongan. Tapi anehnya ada sebuah kandang besar mirip kandang anjing. Kiko yang melihat kandang itu segera tahu kalau ia akan dimasukkan kedalam kandang itu. Dan ternyata memang betul, tapi pertama-tama mereka kembali mengikat tangan dan kaki kiko serta merantai leher Kiko. Baru sesudah itu mereka memasukkan Kiko ke kandang itu dan tak lupa mereka menyediakan air putih untuk minum di sebuah tempat di kandang. Sesudah mereka beberapa kali mengambil foto Kiko, mereka meninggalkan Kiko untuk tidur.

Kiko di kandang

Di dalam kandang, semua peristiwa yang dialami Kiko hari itu kembali terlintas seperti potongan-potongan film. Mulai dari dirinya yang ditawari kembali oleh isterinya untuk memakai kain kebaya. Tapi ternyata Sri juga mengundang teman pria yang melecehkannya. Lalu dirinya dicambuk oleh isterinya di depan teman-temannya termasuk teman prianya. Kamudian dirinya disuapi dengan romantis oleh 2 pria setelah terlebih dahulu dipermalukan di depan umum. Hingga akhirnya dirinya ditelantarkan di tempat prostitusi waria dan dikerubuti oleh waria. Setelah kilas balik di dalam pikirannya, Kiko berpikir ternyata enak dan romantis juga diperlakukan sebagai wanita oleh seorang pria. Tapi buru-buru ditepisnya pikiran itu dan ia berkata dalam hatinya, jangan-jangan sekarang ia sudah menjadi homosexual atau waria. Setelah kecapaian akhirnya ia pun tertidur di dalam kandang yang sempit dimana ia tidak bisa tidur dengan lurus tapi harus menekukkan badan.

Pagi harinya setelah Kiko bangun kepagian karena semalaman tidur tidak nyenyak, ia berharap semoga acara perploncoan akan berakhir segera hari ini.  Tapi apa yang diharapkan Kiko sepertinya masih  tinggal menjadi harapan. Karena begitu mereka membuka kandang, mereka tidak melepas rantai yang ada dileher dan ikatan tangan Kiko. Mereka hanya membuka ikatan kaki Kiko dan Sri lalu membuka kancing kebaya Kiko. Selanjutnya Sri  membuka kamisol dan stagen Kiko. Ternyata Sri bermaksud memakaikan ulang kain wiron Kiko yang sudah kedodoran dan tidak singset lagi. Setelah kain wiron Kiko rapi dan singset lagi, Sri malah berkata, “Ayo, lari-lari pagi.  Mumpung masih pagi ! Tuh sudah ditunggu sama pacar kamu !”. Kata Sri sambil menunjuk si Macho yang memegang tali yang diikatkan ke leher Kiko. Mereka kemudian malah memaksa Kiko memakai sandal hak tingginya dengan memasukkan kaki Kiko ke dalam sandal. Sesudah itu si Macho yang memegang tali yang ada dilehar Kiko mulai berjalan dengan agak cepat, sehingga Kiko dengan kepontal-pontal berlari-lari sambil kesrimpet-srimpet jariknya.

Kiko lari pagi

Maka mulailah acara lari-lari pagi di sekitar villa. Acara yang sebetulnya sangat enak dan menyehatkan, karena udaranya sejuk dan pemandangannya indah. Tapi tidak demikian halnya bagi Kiko. Ini adalah suatu penyiksaan.  Tapi setelah beberapa langkah, perasaan Kiko jadi lain. Ia mulai menikmati penyiksaan ini dan senjatanya mulai menegang. Kiko berkata dalam hati, “Oh, alangkah nikmatnya ! Lari kesrimpet-srimpet sambil tangannya diikat kebelakang dan leher dijirat tali. Surga dunia ! Siksalah aku sepuas hatimu, wahai isteriku dan teman-temanku !”.

Jalan disekitar villa itu tidak rata dan sebagian berbatu kerikil serta di beberapa tempat ada trap undak-undakannya. Hingga Kiko pun jatuh terjerembab. Maka Sri segera menghampiri dan dilihatnya kalau ada yang lecet. Ternyata tidak ada. Maka Sri membantu Kiko berdiri dan matanya melihat ke arah senjata Kiko yang menegang. Maka dibisikinya Kiko, “Gimana rasanya ? Nikmat ya ?”. Sesudah itu Sri membetot senjata Kiko, sehingga Kiko jadi kejét-kejét. Sebentar kemudian  dilepaskannya senjata Kiko. Sri berkata lagi, “Ayo, dilanjutkan lagi lari-larinya !”. Sambil ditaboknya pantat Kiko.

Setelah berlari beberapa langkah, kembali Kiko terjatuh. Sri sekali lagi menghampiri Kiko dan membantunya berdiri. Karena dilihatnya tidak ada yang lecet, Sri berkata mengancam, “Awas, kamu kalau sampai jatuh lagi ! Larinya yang hati-hati dong !”. Sekali lagi dipukulnya pantat Kiko.

Maka Kiko pun memperlambat larinya, tapi Sri jadi gusar dan berkata, “Larinya kok pelan amat sih ! Ayo yang cepat !”. Lalu dicambuknya Kiko.  Kiko kaget, tidak mengira kalau Sri akan mencambuknya hingga ia oleng dan jatuh. “Larinya yang cepat tapi hati-hati jangan sampai jatuh !”. Kiko jadi bingung. Bagaimana caranya ? Disuruh lari cepat, tapi pakai kain wiron yang sempit. Belum lagi tangannya diikat ke belakang dan kakinya memakai sandal hak tinggi. Tapi bagaimanapun sekarang aku bisa menikmati siksaan ini. Terima kasih isteriku yang tercinta. Kiko masih tergeletak di tanah dan Sri kambali mencambuknya, hingga si Macho mencegah Sri dengan merebut cambuk dari tangannya. Maka Sri pun berkata, “Duh, pacar kamu marah tuh”. Si Macho kemudian mengangkat Kiko dan memanggulnya dipundaknya. Rombongan itu kemudian kembali ke villa.

Di villa, mereka makan pagi dan kembali lagi  mereka mengerjai Kiko. Mereka tidak membuka ikatan tangan Kiko, hingga Kiko harus makan langsung dengan mulutnya. Sementara mereka malah tertawa-tawa dan merekamnya.  Tentu saja Kiko makannya paling lama diantara yang lainnya, hingga Sri berkata, “Makan saja lama ! Ayo, cepat ! Jangan seperti anak kecil”.  Ketika tinggal sedikit, Sri mengambil piring makan Kiko dan ditumpahkannya tepat di muka Kiko. Kiko jadi merasa sangat terhina. Ia merasa diperlakukan seperti binatang. Tapi ia hanya bisa pasrah. Sesudah itu Kiko pun minum dengan sedotan dan ketika tinggal sedikit air yang ada di gelas, Sri mengambil gelas itu dan menyiramkan sisanya ke muka Kiko.

Sehabis makan pagi mereka merencanakan untuk membuat arena penyiksaan bagi Kiko. Maka mereka menyingkirkan meja dan kursi. Tapi mereka melihat lantainya kurang bersih dan mereka jadi mendapat ide untuk menyuruh Kiko menyapu lantai dengan tangan terikat ke belakang. Sri menghampiri Kiko sambil membawa sapu dan berkata, “Sayang, kamu bersihin dulu lantainya ya. Soalnya kamu sendiri kan yang ngotori lantai dengan tumpahan makananmu”. Kiko menjawab, “Tapi tanganku kan masih terikat di belakang”. Sri balik menjawab, “Ya, nggak apa-apa kan, sayang. Kamu kan bisa nyapu sambil noléh ke belakang”.  Kiko pun berpikir alangkah liciknya isteriku. Ia sendiri yang menumpahkan piring makanku sekarang aku yang disuruh menyapu. Kiko pun pasrah menerima sapu dari tangan Sri dan mulai menyapu dengan menoleh kebelakang sambil berjalan mundur. Tentu saja kesulitan dan banyak kotoran yang luput tidak tersapu. Sri pun marah, “Pembokat ! Kerja yang betul ya ! Awas kamu nanti aku cambuk lagi kalau nggak bersih !”.

Kiko nyapu

Setelah Kiko selesai menyapu, Sri sekali lagi mencarikan pekerjaan bagi Kiko. Diambilnya pel dan ember berisi air. Diserahkannya ke Kiko sambil berkata, “Nih, dipel sekalian lantainya biar licin !”. Kiko tidak bisa membantah, ia pun mengepel sambil mengesot di lantai dan menoleh kebelakang. Sementara yang lainnya sibuk merekam dan memotret serta menyiapkan peralatan. Kiko berpikir dalam hati, alangkah konyolnya aku. Aku yang akan disika, tapi aku sendiri pula yang mempersiapkan arena pembantaianku.

Selesai mengepel, mereka membiarkan Kiko beristirahat sejenak. Sesudah itu mereka mengikat kaki Kiko dan menggantung Kiko dengan kepala di bawah.  Kepala Kiko terasa berat dan berdenyut-denyut. Ia menantikan siksaan apa yang akan diterimanya. Kiko kemudian tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Si Macho membuka celananya dan mengeluarkan senjatanya yang besarnya audzubillah. Lebih besar dari senjata Kiko sendiri. Ia tak percaya, si Macho akan mengeluarkan senjatanya di depan banyak orang dan isterinya hanya tenang-tenang saja memperhatikan sambil merekam. Kiko heran kenapa isterinya membiarkan hal ini terjadi. Kiko jadi gelagapan, ia menolak dan meronta-ronta. Tapi Si Macho dengan mudahnya memegang kepala Kiko dan membuka mulut Kiko hingga senjatanya masuk ke mulut. Huuéékkk ! Kiko terasa jijik dan mau muntah, tapi tidak bisa karena mulutnya sudah tersumbat senjata si Macho. Tak lama kemudian semuanya jadi gelap.

Kiko dioral