Tag Archive | transgender

Kiko Sujaryanto 7

Ini adalah lanjutan dari cerita “renungan seorang isteri” yang berakhir dengan usaha Sri yang gagal untuk membangkitkan kembali gairah suaminya sekalipun ia sudah memancingnya dengan memakai kain kebaya dan berdandan cantik.

Setelah berdiam mematung di ambang pintu, Kiko kemudian melangkah mendekati Sri di ranjang. Dibelai-belainya Sri dari belakang, Sri pun membalikkan badan dan terlentang. Sri sudah berhenti menangis dan ia duduk di ranjang. Ia sekali lagi bermaksud untuk memancing suaminya. Dipegangnya senjata suaminya yang menegang.  Dibukanya celananya suaminya dan direbahkannya Kiko diranjang. Sesudah itu digosok-gosokkannya senjata suaminya ke kain batiknya. Tapi sebentar kemudian senjata Kiko sudah terkulai lemas. Sri jadi kecewa.

Sesudah peristiwa itu Kiko jadi semakin berani terang-terangan melihat foto-foto wanita cantik  memakai kain kebaya.

Beberapa hari kemudian Sri mengutarakan maksudnya untuk mengajak Kiko konsultasi ke psikiater. Kiko hanya diam saja. Setelah berulang kali Sri berusaha membujuknya, akhirnya Kiko mengiyakan. Maka pada hari yang ditentukan mereka berdua pergi ke tempat praktek psikiater. Tapi begitu sampai di tempat itu Kiko mengajak Sri pulang.

Sri jadi jengkel terhadap suaminya. Di saat yang bersamaan kelompok BDSM Lesbi menanyakan kembali apakah Sri mau mencoba alternatif usul yang ditawarkannya. Sri bimbang, tapi akhirnya ia mengiyakan usul Lesbi.

Maka langkah selanjutnya  adalah Sri harus memancing Kiko untuk memakai kain kebaya. Waktu itu Kiko masih melihat-lihat foto-foto wanita berkain kebaya. Sri mendekatinya dan berkata, “Kamu masih senang banget ya kalau lihat wanita pakai kain kebaya ?”. Kiko mengangguk cuek dan meneruskan melihat-lihat foto-foto. Sri jadi gregetan, “Tapi kamu kok gak bergairah waktu lihat aku pakai kain kebaya ?”. Sri bertanya terang-terangan. Kiko diam tidak menjawab. Sri bertanya lagi, “Kamu lebih senang mana, lihat wanita pakai kain kebaya atau kamu sendiri yang pakai kain kebaya ?”. Dalam hati Kiko menjawab tentu saja ia lebih suka memakai kain kebaya sendiri daripada cuma melihat wanita pakai kain kebaya. Tapi ia takut untuk menjawab, Sri pun berkata, “Ayo jawab !”. Kiko tetap diam tanpa memandang Sri. Akhirnya Sri mencoba menarik kesimpulan, “Kamu lebih suka memakai kain kebaya daripada cuma melihat foto-foto wanita memakai kain kebaya. Ya kan ?”. Kiko akhirnya mengangguk.

Sri mulai memancing, “Kalau kamu kudandani pakai kain kebaya lagi mau ?”. Kiko segera mengangguk. Serta merta diajaknya Kiko ke kamar. Tapi terlebih dahulu Sri  mengkontak teman-teman kelompok BDSMnya tanpa diketahui Kiko. Di kamar Kiko sudah menunggu. Tanpa diperintah ia sudah menanggalkan semua pakaiannya hingga hanya tinggal memakai celana dalam. Maka ritual memakai kain kebaya pun dimulailah. Tidak lama ritual memakai kain kebaya lengkap dengan sanggul dan make up pun selesailah.

Bersamaan dengan itu kelompok BDSMnya Lesbi pun datanglah, mereka datang dengan beberapa orang pria yang bertubuh tinggi besar dan kekar. Begitu Kiko mengintip dari ruang tengah dan melihat bahwa diantara teman-teman isterinya yang dulu pernah datang ada beberapa pria yang bertubuh tinggi besar dan kekar, maka ciutlah nyalinya. Ia jadi gelagapan dan mendadak sontak jadi malu serta jijik dengan dirinya yang berdandan seperti banci.

Kiko tidak mengira kalau diantara teman-teman isterinya bakal ada beberapa orang pria. Kiko ternyata masih punya rasa malu untuk berpakaian seperti wanita di hadapan  pria. Maka Kiko bermaksud hendak kembali ke kamar untuk sembunyi dan melepaskan semua pakaiannya, tapi dihalangi oleh Sri. Kiko tidak dapat berbuat banyak, karena kakinya yang ribet memakai kain wiron yang sempit dibawahnya dan belum lagi sandal yang dipakainya haknya juga tinggi.

Akhirnya Sri berkata kepada para tamunya sambil menahan Kiko dengan tangannya supaya tidak lari, “Masuk saja !”. Maka para tamupun masuk ke ruang tengah sementara Sri masih menahan suaminya yang berusaha untuk melarikan diri. Sri pun berkata, “Kamu ini gimana sih, ada tamu kok malah mau lari. Ayo, temui dong tamu kita !”. Dituntunnya Kiko menuju kursi di ruang tengah.

Setelah duduk dengan kikuk Kiko pun menundukkan kepala, maka Sri memegang dagu Kiko dan mendongakkannya sambil berkata, “Tuh, lihat ada cowok-cowok ganteng,  macho lagi ! Kenalan dong, nggak usah malu-malu !”. Beberapa  diantara  para cowok itu pun tersenyum kepada Kiko  dan mengedipkan matanya. Kiko jadi merinding selain malu, risih  dan jijik. Entah risih dan  jijik kepada dirinya yang seperti banci atau risih dan  jijik karena dikedipi mata oleh sesama pria.  Salah seorang diantara mereka berkata kepada Sri, “Suaminya ya ? Namanya siapa ?”. Sri berkata, “Kiko Sujaryanto. Tapi nama dinasnya Kiki Sujaryanti”.  Si pria itu ( kita namai saja Macho Man ) berkata lagi, “ngganteng lho, éh keliru maksudku cantik banget lho ! Persis cewek ori !” sambil dicubitnya pipi Kiko. Si Macho bertanya lagi kepada Sri, “Boleh aku cium dia ?”. Sri hanya mengangguk sambil melirik dan tersenyum kepada Kiko. Tapi Kiko berusaha menghindar, hingga si Macho terpaksa memegang dagu dan leher Kiko. Sesudah itu diciumnya Kiko. Sri yang tahu kalau suaminya jijik berkata, “Nggak usah malu-malu. Gimana rasanya dicium cowok ganteng ?”.

Kiko jadi semakin merinding dan mengumpat dalam hati. Kenapa ia tidak  memikirkan kemungkinan ini dimana  diantara teman-teman Sri ternyata juga diikut sertakan beberapa orang pria. Sekarang Kiko tidak bisa lagi  menikmati keadaannya seperti dulu dimana ia merasa sangat senang dan berbahagia serta nyaman berada diantara cewek-cewek cantik sekalipun ia harus disiksa. Sekarang perasaan yang ada hanyalah merasa malu, risih  dan sedikit jijik serta tidak nyaman dengan keadaan dirinya, karena adanya beberapa orang pria. Belum lagi memikirkan siksaan apa yang akan diterimanya bila yang menyiksa adalah pria-pria yang bertubuh tinggi besar itu. Apalagi tubuh pria-pria itu lebih tinggi dan besar bila dibandingkan dengan dirinya.

Sebentar kemudian Lesbi mengkomando, “Ayo, kita jalan-jalan keluar kota yuk. Cari angin !”. Kiko yang mendengar perkataan itu jadi kaget, ia melirik kepada Sri. Tapi Sri tenang-tenang saja. Kiko pun berpikir ternyata rencana mereka sangat licik dan kejam. Bagaimana bila aku dilihat oleh orang banyak dan mereka mengetahui kalau aku seorang pria. Pikiran Kiko jadi sumpek. Mendadak sontak  Kiko berdiri dan hendak berlari. Tapi Sri dan teman-temannya mengetahui hal ini. Maka mereka pun beramai-ramai segera menangkap Kiko dan mengikat tangan Kiko ke belakang punggung. Karena Kiko masih meronta-ronta, maka mereka juga mengikat kaki Kiko. Setelah Kiko tidak berdaya, Sri menciumnya dan berkata, “Makanya yang nurut, enak-enak mau diajak keluar kota kok menolak”. Ternyata ide keluar kota itu adalah kompromi dari Sri. Karena jika diajak keluar rumah tapi masih didalam kota, maka ada kemungkinan dilihat oleh orang-orang yang mereka kenal.

Kiko dipanggul

Setelah meringkus Kiko, mereka pun berangkat. Kiko karena diikat kaki dan tangannya, maka  dipanggul oleh si Macho seperti memanggul karung beras. Karena takut jatuh dan merasa tidak nyaman, maka Kiko pun meronta-ronta. Sri yang melihat hal ini memukul pantat Kiko dan berkata sambil menjewer telinga Kiko,  “Héh, bisa diam nggak ? Kayak anak kecil saja !”. Begitu sampai di tempat mobil di parkir, si Macho menurunkan Kiko dari panggulannya. Kiko ternyata masih pantang menyerah  dan terus berusaha untuk melarikan diri. Ia pun segera melompat-lompat, karena tidak bisa berlari dan tentu saja mudah bagi mereka untuk menangkap Kiko kembali. Tapi mereka malah sengaja  membiarkan Kiko melompat-lompat sampai hampir masuk kembali kedalam rumah. Mereka malah mengambil video waktu Kiko melompat-lompat sambil tertawa-tawa. Barulah ketika Kiko sudah hampir sampai di depan pintu masuk rumah, Sri menghadang di depannya dengan membawa cambuk ditangannya. Tanpa ampun Kiko dicambuknya beberapa kali. Kiko mengaduh kesakitan sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Kiko pun meraka tangkap dan hendak dimasukkan ke dalam mobil, ketika tiba-tiba Sri berkata, “Jangan masukkan dia di tempat duduk belakang. Masukkan saja ke bagasi belakang. Buat hukuman supaya dia kapok”. Akhirnya Kiko pun mereka masukkan ke bagasi belakang, setelah terlebih dahulu mulutnya mereka bekap, supaya tidak bisa berteriak-teriak.

Kiko di bagasi

Sesudah mereka mengunci bagasi belakang, iring-iringan mobil pun berangkat. Di dalam bagasi, Kiko megap-megap keringatan sambil merenungi nasibnya. Mengapa aku sekarang jadi bulan-bulanan isteriku. Padahal kalau dipikir semuanya ini hanya berawal dari hal yang sepele yaitu sebuah pakaian Jawa kain kebaya.  Pakaian yang tidak uptodate dan ketinggalan jaman. Mengapa aku jadi tergila-gila untuk memakainya. Padahal jelas-jelas pakaian itu untuk wanita, Sedangkan aku seorang pria. Apakah aku sudah gila ? Atau aku sudah menjadi banci ? Ini semua gara-gara isteriku yang tidak mau memakainya lagi lantaran aku mengasarinya. Andai saja aku tidak berlaku brutal kepadanya mungkin saja ia masih tetap mau sering memakai kain kebaya dan hubungan kami tetap harmonis.  Alangkah tololnya aku ! Mengapa pula tiba-tiba aku sangat bergairah ketika ia memakai kain kebaya, padahal sebelumnya ketika ia memakai pakaian yang serba mini aku pun bisa bernafsu. Mengapa aku sekarang tidak nafsu lagi ketika melihat ia memakai pakaian yang serba mini. Pakaian yang justru jelas-jelas mengumbar bagian-bagian tubuh yang dapat mengundang hawa nafsu para lelaki. Dimanakah logika pikiranku ? Pikiran Kiko ngelantur kemana-mana. Menyalahkan dirinya sendiri dan juga menyalahkan isterinya. Hingga ia tidak bisa berpikir lagi. Sesudah itu ia mulai  merasakan keadaan sekelilingnya yang sesak dan gelap serta tangan dan kakinya yang terikat ditambah dengan mulutnya yang disumbat. Kiko tergeletak dalam keadaan miring dan menekuk. Ia mencoba bergerak-gerak sedikit. Tiba-tiba senjatanya yang tergesek kain batiknya jadi terangsang dan mulai menegang. Kiko lalu mulai mencoba menikmati keadaannya. Keadaan yang lebih parah dari sekedar diikat tangan dan kakinya, karena mulutnya juga di sumbat. Belum lagi tempat ia menggeletak sangat sempit, pengap, gelap dan berbau tidak enak. Sedikit demi sedikit  Kiko mulai dapat menerima keadaan ini dengan pasrah dan akhirnya ia pun mulai dapat merasakan kenikmatan karena kepasrahannya. Kiko pun sengaja menggerak-gerakkan pahanya dengan maksud untuk menggesek-gesekkan senjatanya supaya lebih terangsang dan menegang. Kiko pun mulai merintih kenikmatan.

Ternyata perjalanan mereka cukup jauh. Hingga mereka harus  berhenti untuk makan malam. Maka mobil pun berhenti. Mereka memilih parkir ditempat yang agak gelap dan sepi. Begitu mobil berhenti, Kiko jadi dag dig dug. Begitu begasi dibuka, mereka segera membuka lakban dimulutnya dan juga ikatan dikakinya. Tapi mereka tidak membuka ikatan tangan Kiko. Kiko pun mereka angkat keluar dari bagasi. Lengan kanan dan kirinya dipegang oleh 2 orang cowok yang berbadan tinggi besar. Sri kemudian mengalungkan sebuah selendang yang  panjang ke lehernya dari muka ke belakang untuk menutupi tangan Kiko yang terikat. Sri berkata sambil mencubit pipi Kiko, “Duh, senengnya ! Punya cowok sekaligus 2 orang. Ganteng-ganteng, macho lagi ! Cembokur déh aku. Sebentar-sebentar, jangan jalan dulu, biar aku rapikan dulu dandanannya. Biar semakin cantik “.  Makin dongkollah hati Kiko. Sesudah itu Sri cepat-cepat kembali merias ulang dandanan Kiko dan merapikan sanggul serta pakaiannya. Kain wironnya yang kusut dirapikannya dan kembali dirapatkannya hingga bisa singset serta tak lupa wironnya dirapikan juga. Setelah itu kedua cowok di kiri kanan mencium pipi Kiko. Kiko jadi semakin risih dan hilang sudah rasa senang dan nikmatnya.

Sesudah itu mereka pun masuk ke dalam restoran. Kiko jadi semakin kikuk dan tidak percaya diri serta takut, karena dilihat banyak orang. Kaki dan tangannya jadi panas dingin dan gemetar. Kiko pun menundukkan kepala. Apalagi ia memakai pakaian kain kebaya, sementara semua cewek didalam rombongannya tidak ada satupun yang memakai kain kebaya. Demikian pula dengan orang-orang disekitarnya. Brengseknya lagi pikir Kiko, teman-teman dirombongannya malah mengambil foto Kiko yang diapit 2 cowok, hingga semakin menarik perhatian banyak orang. Belum lagi Sri yang malah berkata, “Jangan menunduk terus dong ! Nggak usah malu lantaran cuma pakai kain kebaya. Harusnya kamu malah bangga dong, paling nasionalis diantara kita semua ! Ayo, wajahnya diluruskan ke depan ! Senyum yang manis ! “.  Kedua cowok disebelahnya pun mendongakkan wajah Kiko dengan memegang dagunya. Wajah Kiko pun semakin memerah dan ia semakin panas dingin, gemetar ketakutan..

Setelah selesai memotret Kiko, mereka memesan hidangan. Karena tangannya diikat ke belakang, maka Kiko disuapi bergantian oleh kedua cowok disebelah kiri kanannya. Sementara teman-teman lainnya kembali mengambil foto sambil berkata, “Nah, gitu. Yang mesra ! Lakinya nyuapi ceweknya !”. Kiko karena grogi hampir tersedak dan jadi batuk-batuk. Di saat yang bersaman Kiko merasakan senjatanya menegang. Rupanya ia sudah mulai bisa menikmati keadaan dirinya yang diperlakukan seperti seorang wanita oleh kedua cowok macho dan ganteng. Ia sendiri merasa heran kenapa akhirnya ia bisa juga menikmati keadaan ini dan mulai hilang rasa risih dan jijiknya terhadap sesama lelaki. Karena batuk-batuk, maka si Macho yang disebelahnya menutupkan serbet ke mulut Kiko dan setelah itu ia memberi Kiko minum. Tak terasa senjata Kiko mengeluarkan sedikit cairan. Untungnya ia bisa menahannya.

Sehabis makan di rumah makan, mereka kembali ke tempat parkir mobil. Beruntung kali ini Kiko tidak dimasukkan lagi ke dalam bagasi, tatapi duduk di kursi belakang ditengah-tengah di apit oleh kedua cowok. Tapi tangan Kiko masih mereka ikat dan Kiko mulai merasakan tangannya sakit. Tempat berikutnya yang dituju ternyata lebih mengerikan lagi bagi Kiko. Mereka pergi ke tempat para waria mangkal. Kiko jadi mengkeret keder. Begitu tiba ditempat itu, mereka membuka ikatan tangan Kiko dan mereka mengeluarkan Kiko dari mobil. Kiko melongo tidak tahu harus berbuat apa. Rombongan mobil itu pergi agak menjauh. Ia hanya bisa berdiri mematung, badannya panas dingin gemetaran.

Mulailah petualangan Kiko sebagai waria ditempat prostitusi waria. Sial bagi Kiko, karena tentu saja cuma ia sendiri yang memakai kain kebaya sementara waria-waria lain yang ia lihat semuanya memakai pakaian mini yang sexy.  Tak berapa lama beberapa waria mulai mendatanginya. Mereka saling berbicara satu sama lain menyindir Kiko. “Orang baru. Udik banget ya. Pakai jarik sama kebaya. Sanggulan lagi ! Besar amat kondenya !”. Dipegangnya konde Kiki dan digoyang-goyangnya sedikit. Kemudian salah seorang dari mereka mulai menggerayangi kain wiron Kiko. “Jaman gini masih pakai jarik kayak orang udik. Jadi pembokat saja kamu pantesnya !”. Kemudian ditarik-tariknya ujung wiron Kiko, hingga Kiko berusaha menarik dan menutup kembali kain wironnya. Tapi tak terasa senjata Kiko jadi terangsang dan menegang hingga menyembul.

Semantara itu rombongan Sri melihat dari jauh dan merekam semuanya dengan handy cam. Karena melihat kalau yang mengerubung Kiko semakin bertambah, maka Macho Man keluar dari mobil dan menghampiri Kiko. Para waria itu pun satu per satu meninggalkan Kiko. Si Macho berlagak seolah-olah menjadi pelanggannya Kiko.  Dirangkulnya Kiko dan diciumnya Kiko. Kiko jadi kembali risih, tapi di saat yang bersamaan ia juga merasa lega bisa terbebas dari kepungan para waria. Dan diam-diam Kiko bisa menikmati keadaannya, walaupun kadang masih merasa risih dan jijik.

Malamnya mereka menginap di sebuah villa yang besar. Kamarnya cukup banyak untuk menampung semua anggota rombongan. Tapi anehnya ada sebuah kandang besar mirip kandang anjing. Kiko yang melihat kandang itu segera tahu kalau ia akan dimasukkan kedalam kandang itu. Dan ternyata memang betul, tapi pertama-tama mereka kembali mengikat tangan dan kaki kiko serta merantai leher Kiko. Baru sesudah itu mereka memasukkan Kiko ke kandang itu dan tak lupa mereka menyediakan air putih untuk minum di sebuah tempat di kandang. Sesudah mereka beberapa kali mengambil foto Kiko, mereka meninggalkan Kiko untuk tidur.

Kiko di kandang

Di dalam kandang, semua peristiwa yang dialami Kiko hari itu kembali terlintas seperti potongan-potongan film. Mulai dari dirinya yang ditawari kembali oleh isterinya untuk memakai kain kebaya. Tapi ternyata Sri juga mengundang teman pria yang melecehkannya. Lalu dirinya dicambuk oleh isterinya di depan teman-temannya termasuk teman prianya. Kamudian dirinya disuapi dengan romantis oleh 2 pria setelah terlebih dahulu dipermalukan di depan umum. Hingga akhirnya dirinya ditelantarkan di tempat prostitusi waria dan dikerubuti oleh waria. Setelah kilas balik di dalam pikirannya, Kiko berpikir ternyata enak dan romantis juga diperlakukan sebagai wanita oleh seorang pria. Tapi buru-buru ditepisnya pikiran itu dan ia berkata dalam hatinya, jangan-jangan sekarang ia sudah menjadi homosexual atau waria. Setelah kecapaian akhirnya ia pun tertidur di dalam kandang yang sempit dimana ia tidak bisa tidur dengan lurus tapi harus menekukkan badan.

Pagi harinya setelah Kiko bangun kepagian karena semalaman tidur tidak nyenyak, ia berharap semoga acara perploncoan akan berakhir segera hari ini.  Tapi apa yang diharapkan Kiko sepertinya masih  tinggal menjadi harapan. Karena begitu mereka membuka kandang, mereka tidak melepas rantai yang ada dileher dan ikatan tangan Kiko. Mereka hanya membuka ikatan kaki Kiko dan Sri lalu membuka kancing kebaya Kiko. Selanjutnya Sri  membuka kamisol dan stagen Kiko. Ternyata Sri bermaksud memakaikan ulang kain wiron Kiko yang sudah kedodoran dan tidak singset lagi. Setelah kain wiron Kiko rapi dan singset lagi, Sri malah berkata, “Ayo, lari-lari pagi.  Mumpung masih pagi ! Tuh sudah ditunggu sama pacar kamu !”. Kata Sri sambil menunjuk si Macho yang memegang tali yang diikatkan ke leher Kiko. Mereka kemudian malah memaksa Kiko memakai sandal hak tingginya dengan memasukkan kaki Kiko ke dalam sandal. Sesudah itu si Macho yang memegang tali yang ada dilehar Kiko mulai berjalan dengan agak cepat, sehingga Kiko dengan kepontal-pontal berlari-lari sambil kesrimpet-srimpet jariknya.

Kiko lari pagi

Maka mulailah acara lari-lari pagi di sekitar villa. Acara yang sebetulnya sangat enak dan menyehatkan, karena udaranya sejuk dan pemandangannya indah. Tapi tidak demikian halnya bagi Kiko. Ini adalah suatu penyiksaan.  Tapi setelah beberapa langkah, perasaan Kiko jadi lain. Ia mulai menikmati penyiksaan ini dan senjatanya mulai menegang. Kiko berkata dalam hati, “Oh, alangkah nikmatnya ! Lari kesrimpet-srimpet sambil tangannya diikat kebelakang dan leher dijirat tali. Surga dunia ! Siksalah aku sepuas hatimu, wahai isteriku dan teman-temanku !”.

Jalan disekitar villa itu tidak rata dan sebagian berbatu kerikil serta di beberapa tempat ada trap undak-undakannya. Hingga Kiko pun jatuh terjerembab. Maka Sri segera menghampiri dan dilihatnya kalau ada yang lecet. Ternyata tidak ada. Maka Sri membantu Kiko berdiri dan matanya melihat ke arah senjata Kiko yang menegang. Maka dibisikinya Kiko, “Gimana rasanya ? Nikmat ya ?”. Sesudah itu Sri membetot senjata Kiko, sehingga Kiko jadi kejét-kejét. Sebentar kemudian  dilepaskannya senjata Kiko. Sri berkata lagi, “Ayo, dilanjutkan lagi lari-larinya !”. Sambil ditaboknya pantat Kiko.

Setelah berlari beberapa langkah, kembali Kiko terjatuh. Sri sekali lagi menghampiri Kiko dan membantunya berdiri. Karena dilihatnya tidak ada yang lecet, Sri berkata mengancam, “Awas, kamu kalau sampai jatuh lagi ! Larinya yang hati-hati dong !”. Sekali lagi dipukulnya pantat Kiko.

Maka Kiko pun memperlambat larinya, tapi Sri jadi gusar dan berkata, “Larinya kok pelan amat sih ! Ayo yang cepat !”. Lalu dicambuknya Kiko.  Kiko kaget, tidak mengira kalau Sri akan mencambuknya hingga ia oleng dan jatuh. “Larinya yang cepat tapi hati-hati jangan sampai jatuh !”. Kiko jadi bingung. Bagaimana caranya ? Disuruh lari cepat, tapi pakai kain wiron yang sempit. Belum lagi tangannya diikat ke belakang dan kakinya memakai sandal hak tinggi. Tapi bagaimanapun sekarang aku bisa menikmati siksaan ini. Terima kasih isteriku yang tercinta. Kiko masih tergeletak di tanah dan Sri kambali mencambuknya, hingga si Macho mencegah Sri dengan merebut cambuk dari tangannya. Maka Sri pun berkata, “Duh, pacar kamu marah tuh”. Si Macho kemudian mengangkat Kiko dan memanggulnya dipundaknya. Rombongan itu kemudian kembali ke villa.

Di villa, mereka makan pagi dan kembali lagi  mereka mengerjai Kiko. Mereka tidak membuka ikatan tangan Kiko, hingga Kiko harus makan langsung dengan mulutnya. Sementara mereka malah tertawa-tawa dan merekamnya.  Tentu saja Kiko makannya paling lama diantara yang lainnya, hingga Sri berkata, “Makan saja lama ! Ayo, cepat ! Jangan seperti anak kecil”.  Ketika tinggal sedikit, Sri mengambil piring makan Kiko dan ditumpahkannya tepat di muka Kiko. Kiko jadi merasa sangat terhina. Ia merasa diperlakukan seperti binatang. Tapi ia hanya bisa pasrah. Sesudah itu Kiko pun minum dengan sedotan dan ketika tinggal sedikit air yang ada di gelas, Sri mengambil gelas itu dan menyiramkan sisanya ke muka Kiko.

Sehabis makan pagi mereka merencanakan untuk membuat arena penyiksaan bagi Kiko. Maka mereka menyingkirkan meja dan kursi. Tapi mereka melihat lantainya kurang bersih dan mereka jadi mendapat ide untuk menyuruh Kiko menyapu lantai dengan tangan terikat ke belakang. Sri menghampiri Kiko sambil membawa sapu dan berkata, “Sayang, kamu bersihin dulu lantainya ya. Soalnya kamu sendiri kan yang ngotori lantai dengan tumpahan makananmu”. Kiko menjawab, “Tapi tanganku kan masih terikat di belakang”. Sri balik menjawab, “Ya, nggak apa-apa kan, sayang. Kamu kan bisa nyapu sambil noléh ke belakang”.  Kiko pun berpikir alangkah liciknya isteriku. Ia sendiri yang menumpahkan piring makanku sekarang aku yang disuruh menyapu. Kiko pun pasrah menerima sapu dari tangan Sri dan mulai menyapu dengan menoleh kebelakang sambil berjalan mundur. Tentu saja kesulitan dan banyak kotoran yang luput tidak tersapu. Sri pun marah, “Pembokat ! Kerja yang betul ya ! Awas kamu nanti aku cambuk lagi kalau nggak bersih !”.

Kiko nyapu

Setelah Kiko selesai menyapu, Sri sekali lagi mencarikan pekerjaan bagi Kiko. Diambilnya pel dan ember berisi air. Diserahkannya ke Kiko sambil berkata, “Nih, dipel sekalian lantainya biar licin !”. Kiko tidak bisa membantah, ia pun mengepel sambil mengesot di lantai dan menoleh kebelakang. Sementara yang lainnya sibuk merekam dan memotret serta menyiapkan peralatan. Kiko berpikir dalam hati, alangkah konyolnya aku. Aku yang akan disika, tapi aku sendiri pula yang mempersiapkan arena pembantaianku.

Selesai mengepel, mereka membiarkan Kiko beristirahat sejenak. Sesudah itu mereka mengikat kaki Kiko dan menggantung Kiko dengan kepala di bawah.  Kepala Kiko terasa berat dan berdenyut-denyut. Ia menantikan siksaan apa yang akan diterimanya. Kiko kemudian tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Si Macho membuka celananya dan mengeluarkan senjatanya yang besarnya audzubillah. Lebih besar dari senjata Kiko sendiri. Ia tak percaya, si Macho akan mengeluarkan senjatanya di depan banyak orang dan isterinya hanya tenang-tenang saja memperhatikan sambil merekam. Kiko heran kenapa isterinya membiarkan hal ini terjadi. Kiko jadi gelagapan, ia menolak dan meronta-ronta. Tapi Si Macho dengan mudahnya memegang kepala Kiko dan membuka mulut Kiko hingga senjatanya masuk ke mulut. Huuéékkk ! Kiko terasa jijik dan mau muntah, tapi tidak bisa karena mulutnya sudah tersumbat senjata si Macho. Tak lama kemudian semuanya jadi gelap.

Kiko dioral

 

Renungan seorang isteri

Ini adalah kelanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan kebingungan Sri dalam menangani kelainan yang diidap suaminya yaitu suka memakai kain kebaya dan disiksa serta tidak bergairah lagi kepadanya. Diam-diam ia menangis di dalam hatinya dan menyesali apa yang telah terjadi selama ini. Ia pun sempat meminta saran yang diunggahnya di internet.

Kalau saja ia tidak dipaksa oleh mertuanya untuk  memakai kain kebaya sesudah melahirkan. Atau kalau saja suaminya tidak menjadi brutal dan hanya sebatas bergairah yang menggebu-gebu kepadanya. Maka ia tentu  tidak akan keberatan menuruti kemauan suaminya untuk sering-sering memakai kain kebaya. Sehingga semuanya tidak perlu berakhir seperti ini. Dan tentu saja hubungannya dengan suaminya masih tetap harmonis dan serasi serta suaminya masih tetap bisa memuaskannya. Karena suaminya masih bisa melihat dan mencumbunya dengan memakai kain kebaya.

Tapi sekarang semuanya berakhir dengan tidak seperti yang diharapkannya. Suaminya tidak lagi bergairah kepadanya, tapi menjadi seperti seorang banci yang suka memakai kain kebaya. Suaminya yang dulu bisa memuaskan hasratnya dan menjadi brutal karena melihat ia memakai kain kebaya. Sekarang menjadi seperti seorang banci, karena keinginannya untuk melihat isterinya berkain kebaya tidak kssampaian. Keinginan untuk mengasari seorang wanita cantik yang berkain kebaya tidak kesampaian dan berakhir dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai si wanita yang berkain kebaya dan disiksa. Alangkah tragisnya ! Begitulah pikir Sri.

Sementara aku sendiri sekarang sudah beberapa kali mengasari dan menyiksa serta melakukan kekerasan fisik pada suamiku.  Mengapa aku sekarang menjadi sekasar ini ? Perenungan Sri terus berlanjut. Mengapa pula aku justru menikmati keadaan ini ? Mendominasi, memaksa, mengikat dan menyiksa suami.

Keadaannya sekarang jadi terbalik jika dibandingkan dengan dahulu ketika aku masih memakai kain kebaya dan didominasi oleh suamiku. Dulu aku manjadi submissive dan suamiku menjadi seorang dominan, sekarang aku menjadi seorang dominan dan suamiku menjadi seorang submissive. Apakah aku sekarang juga mengidap kelainan ? Atau apakah semua ini hanya berupa kompensasi  karena aku dendam terhadap perlakuan kasar suamiku dulu. Lebih gila manakah aku sama suamiku ?

Begitulah pikiran Sri berkecamuk. Belum lagi ada saran yang masuk dari pembaca tulisannya di internet yang mengatakan kalau suaminya sebaiknya dibiarkan saja mengidap kelainan gila kain kebaya. Bahkan justru si penyumbang saran mengusulkan supaya suaminya disiksa dengan lebih kejam lagi. Sri ragu apakah cara ini akan berhasil, karena seorang yang mengidap masochisme atau suka disiksa akan semakin senang dan terpuaskan bila yang bersangkutan semakin disiksa dengan lebih kejam.

Belum lagi usulan yang mengatakan bagaimana kalau dibawa keluar rumah. Usul ini bagi Sri seperti ide gila. Bukankah dengan demikian, maka ia seperti memperlihatkan kepada setiap orang bahwa suaminya mengidap kelainan seperti banci.

Bagaimana ia bisa mengembalikan kepercayaan diri suaminya ? Bagaimana ia bisa membangkitkan lagi gairah suaminya kepadanya ? Dengan berdandan cantik dan memakai kain kebaya ? Hal ini sudah ia lakukan sewaktu menghadiri pernikahan keluarga dekatnya dan suaminya hanya berani sebatas memandanginya saja tanpa berani mencumbunya. Apakah suaminya masih bisa disembuhkan dari kelainan yang diidapnya. Semakin kalutlah pikiran Sri, hingga ia tidak kuasa untuk menahan tangis.

Kalau dipikir-pikir semuanya ini hanya berawal dari hal yang sepele. Sebuah pakaian. Pakaian yang tidak terlalu istimewa, bahkan  bisa dibilang kuno dan ketinggalan jaman. Pakaian adat Jawa yang sudah diangkat menjadi busana nasional. Pakaian yang sebetulnya sangat sederhana saja yaitu sebuah atasan berupa sebuah blouse lengan panjang yang ngepas di badan dengan kupnat yang semakin memperjelas bentuk badan terutama pinggang, payudara  dan juga pinggul. Bukannya sebuah blouse off shoulder berenda yang memperlihatkan keindahan bahu pemakainya. Bawahannya  pun sederhana saja  yaitu berupa selembar kain batik yang dipakai dengan dililitkan di kaki sampai menutupi mata kaki hingga menutupi keindahan betis pemakainya dengan ketat serta membentuk siluet pinggul yang membesar. Bukannya sebuah rok mini yang memperlihatkan keindahan kaki pemakainya atau rok tumpuk yang penuh dengan renda dan detil yang indah. Semuanya jauh dari kesan glamour. Coba bandingkan dengan gaun malam yang indah dan mewah atau strapless mini dress yang sexy. Tapi justru dalam kesederhanaannya  itulah kain kebaya  sangat ampuh  untuk memperlihatkan dengan jelas siluet tubuh yang indah dari pemakainya.

Apakah dengan demikian masih  sesuai dengan hakikat sebuah busana nasional bagi sebuah bangsa Timur yang terkenal dengan adat istiadat dan kesopan santunan serta kelemah lembutannya ? Atau apakah yang salah dalam hal ini adalah mata para lelaki yang selalu jelalatan dan terlalu bernafsu jika melihat seorang wanita yang berpakaian menonjolkan keindahan dan lekuk tubuhnya ? Atau apakah prototype kain kebaya harus diubah sehingga kebaya tidak harus ngepas di badan tapi longgar dan tanpa kupnat yang berlebihan ? Demikian juga dengan kain wironnya, apakah harus dipakai dengan longgar dan tidak menyempit kebawah ? Tapi dengan demikian apakah nantinya tidak jadi berkesan kebesaran, kedodoran dan kurang rapi serta menghilangkan kesan keindahan dan keanggunan si pemakai ? Kenapa akhirnya jadi seperti buah simalakama, jika kain kebaya dipakai dengan ketat dan ngepas dibadan disatu sisi akan menimbulkan kesan keanggunan dan keindahan, tapi di sisi lain bisa mengundang hawa nafsu lelaki. Sebaliknya jika kebayanya longgar dan kainnya juga dipakai dengan longgar akan menimbulkan kesan kebesaran, kedodoran, kurang rapi dan menghilangkan kesan keanggunan serta keindahan, walaupun pada akhirnya tidak mengundang hawa nafsu para lelaki.

Selanjutnya jika kain kebaya dipakai dengan ngepas dibadan, apa bedanya  dengan bikini ? Keduanya sama-sama mengundang nafsu para lelaki. Bedanya bikini cenderung menggoda nafsu para lelaki yang sok kebarat-baratan, sedangkan kain kebaya cenderung menggoda nafsu para lelaki aristokrat Jawa yang konvensional dan kolot. Bedanya lagi bikini mengumbar bagian-bagian tubuh yang cukup pribadi untuk dilihat para lelaki, sedangkan kain kebaya dengan malu-malu cukup memperlihatkan siluet keindahan pemakainya dari payudara, pinggang dan pinggul. Sehingga cocok untuk para lelaki yang malu-malu tapi mau.

Lantas kenapa pula dulu suamiku bisa tertarik ketika aku memakai pakaian mini, tapi sekarang ia tidak bergairah lagi sesudah ia melihatku mamakai kain kebaya.

Renungan Sri pun semakin melantur hingga sampai ke soal busana. Dan karena tidak kunjung mendapatkan jawabannya, akhirnya Sri pun kecapaian dan jatuh tertidur.

Sebentar kemudian Sri terbangun dari tidurnya. Sekarang seluruh pikirannya sudah tertuju dan ia bertekad bulat untuk menyembuhkan suaminya dari kelainannya. Sri mengesampingkan usulan untuk menyiksa suaminya dengan lebih kejam dan membawa suaminya keluar rumah dengan memakai pakaian perempuan.  Maka ia pun berdandan dengan cantiknya seperti mau pergi kondangan dengan pakaian kain kebaya, setelah mengetahui suaminya ada di rumah. Sesudah selesai berdandan lengkap dengan sanggul, selendang dan sandal jinjit, ia pun keluar kamar dan menghampiri Kiko yang masih duduk di kursi panjang. Begitu tahu isterinya memakai kain kebaya lengkap, bukannya Kiko menatap dengan tajam dan memuji-muji, tapi ia melihat dengan kikuk. Sri jadi bingung, tapi ia tidak patah semangat. Sri kemudian duduk dipangkuan Kiko. Dibelainya dagu dan wajah Kiko serta diciumnya Kiko. Kiko bukannya jadi bergairah dan bangkit semangatnya, tapi malah jadi semakin kikuk. Tapi Sri merasakan benjolan senjata Kiko yang mulai menegang. Sesudah itu Sri bangun dari pangkuan Kiko dan ditariknya tangan Kiko supaya Kiko bangun, karena Sri bermaksud mengajak Kiko naik ke ranjang. Tapi Kiko cuek dan melepaskan tangannya dari genggaman Sri. Akhirnya Sri pun pergi ke kamar. Sampai di dalam kamar, ditutupya pintu kamar dan Sri menjatuhkan diri ke ranjang dalam posisi telungkup. Sesudah itu meledaklah tangisnya. Sebentar kemudian Kiko menyusul.  Tapi di ambang pintu begitu Kiko melihat Sri menangis, Kiko hanya diam bingung dan berdiri mematung.

Kiko Sujaryanto 6

Ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya yang berakhir dengan croott !! Setelah itu pandangan Kiko jadi gelap. Tau-tau Kiko sudah berbaring telentang di ranjang dengan masih memakai pakaian kain kebaya lengkap dengan sanggulnya yang sudah kendor. Dirasakannya seluruh badannya terasa sakit semua.  Digerak-gerakkannya kadua kaki Kiko, ternyata tidak terikat. Kemudian dia menoleh ke kiri dan ke kanan, tangannya juga sudah tidak terikat. Setelah itu ia sedikit bangun dan melihat ke arah senjatanya. Ternyata air maninya sudah kemana-mana mengenai kain batik. Serta merta ia bangun dari tempat tidur, karena merasa jijik. Bukan hanya karena air maninya yang tumpah dan berbau. Tapi juga jijik terhadap dirinya sendiri yang merasa seperti banci. Suatu perasaan yang selalu menghinggapi Kiko begitu selesai melewati puncak orgasme dengan memakai kain kebaya  .

Tapi begitu sudah berdiri di samping ranjang, Kiko baru sadar kalau  ternyata isterinya mengamatinya sejak tadi  dari luar bersama beberapa temannya yang tadi mengerjainya. Sri dan teman-temannya pun beranjak pergi begitu mengetahui Kiko bangun dari tempat tidur. Setelah menghilang dari pandangan Kiko, Sri masih menanti apa yang akan diperbuat Kiko. Apakah Kiko akan segera berganti pakaian dengan pakaian Kiko sendiri atau tetap memakai kain kebaya yang sudah terkena air maninya.

Sebentar kemudian Sri masuk kembali ke kamarnya dan mendapati suaminya sudah melepas semua pakaiannya dan selesai membersihkan diri serta hanya memakai celana dalam. Kiko sedang membuka lemari pakaian dan mengambil kaosnya sendiri. Sri segera berkata dengan lembut dan merayu, “Yaang, kamu mau pakai kain kebaya lagi nggak ? Sini aku bantu pakaikan ! Tuh temen-temenku sudah nunggu diluar. Kita main-main lagi yuk ! Seneng kan jadi yang paling cantik diantara cewek-cewek cantik. Tau nggak, kamu paling anggun lho kalau pakai kain kebaya diantara kita semua. Paling feminin diantara kita semua”. Dihampirinya Kiko dan Sri memeluknya dari belakang serta merebut kaos yang dipegang Kiko. Tapi  Kiko buru-buru menggelengkan kepala. Ia kapok, badannya capai dan babak belur. Sri berusaha menggeret Kiko menuju lemarinya yang berisi kain batik dan kebaya, tapi Kiko menjejakkan kakinya kuat-kuat ke lantai dan terus menggeleng hingga akhirnya Sri berkata, “Betul, mggak mau lagi nih ? Nggak nyesel, nanti nyesel lho kamu. Lha wong enak kayak gini kok ditolak” Sri pun keluar kamar sambil ngomel, “Banci, banci. Baru main sekali saja sudah kapok. Dasar pengecut ! “. Sebentar kemudian terdengar suara mobil meninggalkan rumah mereka. Itu adalah mobil teman-teman Sri. Setelah peristiwa itu Sri jadi yakin kalau suaminya kapok.

Beberapa lama setelah kejadian itu Sri dan Kiko harus menghadiri acara pernikahan keluarga dekat mereka. Sri pun memakai kain kebaya. Sri senang mendapat kesempatan memakai pakaian itu diluar rumah. Ia pun berdandan dengan cantiknya. Kain batik yang dipakainya diwiru dan dipakainya dengan singsetnya. Tak ketinggalan rambutnya disanggul dengan konde yang besar. Sri melihat suaminya berulang kali menatapnya dari atas ke bawah. Perasaan Sri jadi bingung antara mengharapkan suaminya mencumbunya lagi dengan gairah yang berapi-api dan kuatir jangan-jangan kebrutalan atau kelainan suaminya jadi kambuh lagi. Syukurlah begitu sampai dirumah, suaminya tidak berlaku macam-macam terhadapnya.  Tapi disamping itu ia juga kecewa, karena suaminya tidak mau mencumbunya dan bergairah kepadanya.

Tak lama sesudah Sri dan Kiko pergi kondangan, tiba-tiba Kiko menanyakan dokumentasi dari teman-teman Sri sewaktu ia jadi submissive dulu. Sri pun jadi was-was. Jangan-jangan lantaran melihat aku memakai kain kebaya, kelainannya kumat lagi. Sesudah itu Sri juga memergoki dari belakang Kiko sedang melihat-lihat foto-foto wanita cantik pakai kain kebaya di gadgetnya.

Kiko memang masih tergila-gila kain kebaya dan juga masih ingin memakainya. Peristiwa ia kepergok isterinya sedang melihat-lihat foto-foto wanita berkain kebaya di gadgetnya ternyata di sengaja dengan maksud memancing-mancing isterinya. Siapa tahu isterinya bisa jadi  jengkel, marah dan kembali memaksanya memakai kain kebaya serta mengundang teman-temannya. Peristiwa yang selalu dikenangnya. Dimana ia dipermalukan, ditawan dan dikasari oleh isterinya serta disiksa dan dilihat oleh teman-teman isterinya yang cantik-cantik. Betapa malu, tidak berdaya dan tersiksa serta teraniayanya dirinya. Tapi dibalik semuanya itu justru timbul kepasrahan dan kesenangan serta kebahagiaan yang luar biasa bagi Kiko. Walaupun harus berakhir dengan pingsannya dirinya.

Sebaliknya kesimpulan Sri berbeda, ia berpikir kalau suaminya betul-betul sudah kapok memakai kain kebaya. Karena hal ini bisa memancing dirinya untuk bertindak kasar, bahkan mempermalukannya di depan teman-temannya. Sekalipun suaminya masih tertarik waktu  melihat dirinya memakai kain kebaya lagi, tapi ternyata suaminya tidak berani lagi bertindak brutal kepadanya. Kesukaan Kiko  akan kain kebaya hanya sebatas memandanginya saja seperti yang Kiko lakukan dengan melihat-lihat foto-foto wanita-wanita berkain kebaya di gadgetnya.

Hingga akhirnya suatu hari Kiko mendekati Sri dan berkata dengan kikuk serta terbata-bata, “Sri”. Sri hanya berkata, “heem” tanpa menoleh. Kiko mengulangi lagi, “Sri, Sri”. Isterinya jadi agak jengkel, karena tidak biasanya Kiko memanggilnya berulang-ulang sebelum mulai berbicara kepadanya. Sri jadi mulai curiga jangan-jangan ada maksud tertentu. Sri lalu menoleh sambil berkata, “Ada apa sih ?”. Kiko lalu mulai berkata dengan kikuk dan suara pelan serta wajahnya tidak berani menatap isterinya. “Kamu dulu kan pernah nawari aku mau pakai kain kebaya lagi nggak, ya kan ?”.  Sri berlagak bodoh atau memang lupa dengan perkataan yang pernah diucapkannya dulu dan bertanya, “Apa ? Kapan ?” sanbil memandang wajah Kiko. Kiko yang dipandang dengan tatapan mata tajam jadi keder dan mengkeret. Ia menundukkan kepalanya. Sri setengah tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan dari mulut suaminya. Sri berkata, “Coba kamu ulangi ucapanmu barusan”. Kiko jadi takut. Ia tidak segera mengulangi ucapannya barusan. Tapi Sri masih terus menatapnya dan menunggu Kiko. Kiko pun dengan takut-takut mengulangi ucapannya, “Kamu dulu kan pernah nawari aku mau pakai kain kebaya lagi nggak”. Sri bertanya, “Kapan itu ?”. Kiko menjawab, “Itu waktu ada temen-temen kamu yang ngambil video sama foto aku”,

Mendadak sontak terperanjat kagetlah Sri. Ia serta merta bengkit berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang. Mukanya merah padam menahan amarah, ia berkata, “Haah ??!!”. Sri berpikir dalam hati, ternyata kesimpulannya selama ini salah. Kesimpulan kalau suaminya sudah kapok untuk memakai kain kebaya lagi, karena bisa mendatangkan kemarahan Sri dan sekaligus mendatangkan petaka bagi diri Kiko. Ditahannya emosinya dan Sri berkata dengan tenang, “Oh, jadi kamu masih kepingin pakai kain kebaya lagi ya ?”. Kiko mangangguk-angguk tapi tidak berani memandang wajah Sri. Sri melanjutkan, ” Kenapa dulu kamu menolak waktu aku tawari ?”. Kiko diam tidak menjawab. Tapi dalam hati Kiko berkata, lha wong badan sudah hancur babak belur remuk redam masih ditawari. Kan perlu waktu untuk beristirahat dan recovery. Kiko mau mengucapkan apa yang ada didalam hatinya, tapi tidak berani dan tidak keluar dari mulutnya. Lalu Sri meninggalkan Kiko di ruangan itu.

Sri pergi ke ruangan lain dan Kiko tidak berani mengikutinya. Ia duduk di sofa dan diselonjorkannya kedua kakinya di meja di depannya. Pikirannya kalut. Tobat ! tobat ! Tobil anak kadal ! Nék watuk iso ditambani, nék watak digowo mati.  Pikirannya buntu memikirkan jalan keluar bagi suaminya dari kelainan yang dideritanya.

Keesokan harinya ia mengkontak teman-teman kelompok BDSMnya Lesbi. Ia berkata kalau suaminya tidak kapok tapi sepertinya malah kecanduan. Lesbi lalu mengutarakan usulnya yaitu sekali lagi menjadikan Kiko sebagai submissive, tapi dengan tingkat kesulitan yang lebih berat dan ia juga akan membawa teman-teman prianya. Teman-teman pria ini yang diharapkan akan membangkitkan kesadaran Kiko akan kelainan yang diidapnya.

Sri tidak segera menjawab usul itu. Tapi ia menimbang-nimbang. Apakah akan dipaksanya konsultasi ke psikiater atau menerima usulan Lesbi. Atau apakah Sri harus menerima suaminya seperti apa adanya sekarang ini. Tapi Sri terlalu bingung untuk memutuskannya sendiri. Untuk itu Sri kembali menulis di internet berupa permintaan saran akan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyembuhkan suaminya dari kelainan yang dideritanya.  Permintaan saran itu juga disampaikannya kepada penulis.

Nah, sidang pembaca yang budiman. Anda sudah mengetahui kalau seorang ibu rumah tangga meminta sumbang saran dari anda semua. Langkah apa yang sebaiknya dilakukan untuk menyembuhkan seorang suami yang mengidap kelainan.  Sujari Sisri menanti sumbang saran anda. Sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih.

Kiko Sujaryanto 5

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya. Dimana Sri kabur dari rumah dengan membawa semua pakaian Kiko,  setelah mendapati suaminya memakai kain kebaya lagi

Setelah ditinggal pergi isterinya, bingunglah Kiko. Ia menyesali perbuatannya, karena ternyata memancing reaksi  berbeda dari yang diharapkannya dari isterinya. Perangkap yang ia pasang tidak berhasil memerangkap mangsanya.  Justru ia sendiri sekarang yang terjebak dalam situasi sulit.

Maka ditelponnya Sri dari rumah dan kembali Sri menutup telponnya begitu mengetahui yang menelpon suaminya.  Keesokan harinya kembali Kiko menelpon isterinya, tapi hasilnya sama.  Tapi dalam hati kecil Kiko tetap optimis. Kiko berpikir  paling isterinya akan kembali ke rumah. Karena mana mungkin Sri tega meninggalkan anak kandungnya sendiri.

Sementara itu Sri menginap di hotel. Ia kepikiran suaminya yang ternyata tidak jera dan masih melakukan hal yang sama. Sri tidak berminat untuk mengerjai dan mengasari suaminya lagi. Karena memang bukan sifat aslinya. Di dalam kebingungannya, Sri mencari tahu tentang suami yang mengalami kelainan seperti suaminya. Dan didapatinya kalau  selain ada suami yang suka berlaku sadis terhadap isterinya, ternyata memang ada juga suami yang suka diperlakukan secara sadis oleh isterinya. Sri jadi maklum dan berencana akan membawa suaminya ke psikiater. Tapi ia ragu apakah suaminya akan mau bila diajak konsultasi ke psikiater.

Akhirnya ia menjalin hubungan dengan kelompok BDSM via internet. Ia mengaku kalau mempunyai suami yang kelihatannya menyukai BDSM dengan posisi sebagai submissive, tapi dengan pakaian wanita berupa kain kebaya. Kelompok BDSM itu ternyata kelompoknya Domina, Mini dan Lesbi. Bak gayung bersambut, Sri seperti mendapat teman untuk bercakap dan kelompok BDSM itu juga mendapat obyek submissive yang sebelumnya belum pernah mereka dapati.  Yaitu seorang submissive pria yang berpakaian wanita dan pakaiannya pun istimewa kesukaan kelompok BDSM Domina cs yaitu kain kebaya.

Entah siapa yang mulai dahulu.  Sri yang menyodorkan suaminya kepada kelompok itu dengan harapan suaminya betul-betul malu dan jera atau kelompok BDSM itu yang terlebih dahulu menyodorkan ide itu.  Setelah Sri maju mundur dan ragu-ragu. Akhirnya Sri jadi menyodorkan suaminya, setelah menimbang kalau ke psikiater belum tentu suaminya mau dan mengeluarkan ongkos.  Sedangkan jika ia menyodorkan suaminya, selain tanpa ongkos, ada kemungkinan suaminya bisa jadi jera. Dan jika memang suaminya tetap tidak jera tapi makin menjadi-jadi bagi Sri tidak masalah, karena suaminya sekarang memang sudah mengidap kelainan. Kedua belah pihak sepakat dan mereka pun memasang perangkap.

Setelah beberapa hari, Sri pun kembali ke rumah dengan membawa serta semua pakaian Kiko yang disitanya. Kiko merasa menang, tapi ia berusaha menyembunyikan kegembiraannya. Hari-hari berikutnya, hubungan mereka kembali lagi seperti sebelumnya renggang dan dingin.

Tapi beberapa hari kemudian, Kiko seperti mendapat durian runtuh. Ketika Sri mendekatinya dan bertanya, “Apa kamu masih kepingin memakai kain kebaya lagi ?”. Kiko bingung, mau menjawab ya atau tidak. Mau berterus terang dengan mengatakan ya atau berbohong dengan mengatakan tidak. Kiko kuatir kalau ia berkata ya, maka Sri akan mencak-mencak dan kabur dengan membawa serta anak mereka. Tapi kalau ia berkata tidak, padahal dalam hatinya ia masih senang dan ngebet untuk memakai pakaian itu lagi. Karena Kiko diam saja, maka Sri mendesaknya, “Mas, kamu tidak usah takut apa malu. Aku tidak akan marah kalau kamu memang masih kepingin memakai kain kebaya lagi”. Kiko kaget mendengar Sri memanggilnya “mas” setelah sekian lama ia tidak pernah dipanggil dengan sebutan itu. Tapi Kiko tetap diam  tidak bereaksi. Sehingga Sri berkata, “Aku tahu kamu masih suka kain kebaya dan masih kepingin memakainya lagi. Ya kan ? Tidak usah mungkir”. Akhirnya Kiko mengangguk dan menantikan reaksi Sri.

Sri berkata, “Gak apa-apa kok, kalau cuma kepingin  mau pakai kain kebayaku. Apa kamu mau memakainya sekarang ?”. Kiko mengangguk perlahan. Sri berkata lagi, “Ayo, sini aku bantu !”. Digeretnya Kiko ke kamar dan didandaninya Kiko dengan kain kebaya lengkap dengan segala atributnya. Sandal jinjit, selendang, sanggul dan make up. Hati Kiko mongkok .  Apalagi Sri kemudian meraba-raba senjatanya sambil berkata, “Iih, besar banget déh !”.  Kiko jadi  greng tersetrum sampai ke ujung kepala. Lalu diciumnya Kiko. Tapi ia tidak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Ia mengira isterinya telah berubah dan bisa menerima serta tidak keberatan dengan kelainan yang dideritanya.

Sesudah selesai berdandan, Sri menuntun suaminya duduk di  ruang tamu dan sebentar kemudian ada tamu datang. Maka Kiko segera bangun dari tempat duduknya dan hendak masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba Sri mencegahnya dan berubah perangainya serta berkata dengan membentak sambil menghalangi suaminya masuk, “Héh, kenapa kamu mau masuk ? Sudah disini saja. Tidak usah malu. Yang datang itu taman-teman aku sendiri kok. Malu ya kamu ketahuan pakai kain kebaya ? Nggak apa-apa. Itu bencong-bencong di jalanan saja nggak malu pakai pakaian wanita”. Kiko pun jadi merah padam mukanya. Ia masih berusaha melawan isterinya dengan mendorong Sri ke samping, hingga ia bisa masuk. Tapi karena Kiko  mamakai kain yang sempit dibawahnya, maka ia sendiri jadi ribet dan tidak bisa berbuat banyak. Hingga akhirnya tamu-tamu Sri masuk ke dalam ruangan. Ternyata yang datang adalah kelompok BDSM Domina, Mini dan Lesbi cs.

Kiko jadi malu, salah tingkah dan diam berdiri mematung serta menundukkan kepalanya disebelah Sri. Tangannya ngapurancang memegang sekaligus menyembunyikan senjatanya yang masih menegang.  Sri mengenalkan Kiko kepada teman-temannya. “Ini lho suamiku yang  aku ceritakan. Dia itu tergila-gila banget sama kain kebaya, apalagi kalau dijadikan submissive. Namanya Kiko Sujaryanto, nama dinasnya Kiki Sujaryanti”.  Teman-teman Sri mulai saling berbisik dan tersenyum serta berusaha menahan tawa cekikikan mereka. “Éh, kamu kok menunduk melulu sih. Yang jantan dong, hormati tamu kita. Éh, keliru ya ? Jantan apa betina sih kamu ? “.  Para tamu pun semakin ramai cekikikan mendengar lelucon Sri. Tiba-tiba tangan Sri memegang tangan Kiko yang masih ngapurancang dan membukanya hingga terlihat benjolan senjatanya. Katanya lagi, “Sudah nggak usah diumpetin tuh senjata. Kan ada surat-surat resminya. Besar kan jeng  senjata suamiku ?”.  Makin ramailah ketawa para tamu itu. Kemudian dipegangnya dagu Kiko dan didongakkannya muka Kiko sambil berkata, “Lihat nih, ngganteng kan mukanya ? Éh, masa ngganteng sih, kan  pakai kain kebaya.  Cantik kan ?”. Sri lalu memutar tubuh Kiko,  dari menghadap ke depan sampai membelakangi dan kembali lagi menghadap ke muka. “Bodynya cukup aduhai kan ?”. Kiko jadi semakin malu, dirinya merasa seperti barang dagangan yang sedang ditawar-tawarkan isterinya.  Kiko melihat teman-teman isterinya yang semuanya wanita ternyata cukup cantik-cantik. Mereka kemudian saling berbisik, tersenyum-senyum dan cekikikan. Kiko memandang dari ujung sebelah kiri sampai ke ujung sebelah kanan dan diulangi lagi. Pandangan matanya jadi berkunang-kunang berputar-putar, pusing rasanya mendengar bisik-bisik dan ketawa diantara mereka.  Karena tidak kuasa menahan rasa malu, Kiko berencana melarikan diri dengan mencincing jariknya tinggi-tinggi. Tapi  Kiko  merasa seperti  mau limbung. Untungnya kemudian isterinya mengajak Kiko dan para tamunya duduk di ruang tengah yang cukup luas.

Salah satu diantara mereka kemudian bertanya, “Ngomong-ngomong, manggilnya apa ya ? Bener, nih. Mau jadi submissive ?” . Pertanyaan itu ditujukan untuk Kiko,  tapi yang bersangkutan diam saja. Campur aduk perasaan Kiko antara malu, tegang, penasaran apa yang akan dialaminya selanjutnya  dan senang karena berada didalam situasi unik dimana ia berkain kebaya diantara wanita-wanita cantik yang malah memakai pakaian mini yang sexy. Isterinya yang menjawab, “Sudah, nggak usah ditanya. Langsung saja sudah. Kalau mau manggil, panggil saja Kiki !”. Sri pun kemudian tertawa disusul oleh para tamunya. Sementara Kiko tertawa dalam hati.

Kemudian Lesbi berkata kepada Sri, “Sri, kamu saja yang ngikat suami kamu. Ikat tangannya di belakang punggung. Sesudah itu ikat kakinya. Biar aku lihat kencang apa tidak ikatanmu”.  Sri mulai mengikat tangan Kiko. Sementara Kiko pasrah selain mulai dapat mengatasi rasa malu dan canggungya serta semakin menikmati ketidakberdayaannya. Setelah itu Lesbi berkata, “Sekarang baringkan dia di lantai dengan posisi telungkup. Lalu ikat kakinya”.  Kiko pun pasrah menurut seperti kerbau yang dicucuk hidungnya ketika ia dituntun oleh Sri dan Lesbi untuk berdiri dan kemudian berbaring telungkup di lantai. Dalam posisi telungkap ini senjata Kiko tergesek oleh lantai, hingga terangsang. Kiko pun diam-diam semakin menikmati posisi ini.  Sri lalu mengikat kaki Kiko.  Sehabis itu Lesbi bertanya kepada Sri, “Selain mengikat kaki dan tangan suamimu, apakah kamu pernah juga mengikat dia dalam posisi hogtied ?”. Sri menggeleng. Lesbi menjawab, “Kalau gitu aku praktekkan dan kamu perhatikan baik-baik ya”. Lesbi mulai mengikat seutas tali ke ikatan kaki Kiko dan mengangkat kaki Kiko mendekati pantatnya. Kiko yang merasakan posisi kakinya tidak nyaman jadi berusaha untuk meluruskan kembali kakinya, hingga Sri ikut membantu menahan posisi kaki Kiko merapat ke pantatnya dan Lesbi mengikat tali itu ke ikatan tangan Kiko.

Setelah selesai, Lesbi berkata kepada Sri, “Dalam keadaan seperti  ini si submissive semakin lebih tidak berdaya lagi bila dibandingkan dengan kalau hanya diikat tangan dan kakinya. Ya, kan ? jeng… Kiki “.  Lesbi dengan canggung menyebut Kiko dengan panggilan Kiki seperti yang diusulkan Sri. Setelah berusaha menarik-narik tangan dan kakinya serta menggoyang-goyangkan tangan, kaki dan badan dengan maksud untuk mengendorkan ikatan, Kiko pun mengangguk-angguk, tapi sebentar kemudian ia sadar bahwa Sri memperhatikannya.  Kiko jadi merasa salah tingkah. Sebentar kemudian Kiko berguling ke kanan dan ke kiri. Setelah itu Sri mendekati Kiko dan  menabok pantat Kiko beberapa kali sambil berkata, “Éh, mau kemana kamu ? Kok ngguling ke kiri, ngguling ke kanan. Sudah diam saja di sini, telungkup yang manis.  Gimana rasanya ? Enak kan ? Nikmaaat !”. .Ia menirukan perkataan suaminya dulu. Kemudian diciumnya pipi kiri dan kanan suaminya. Sementara itu terdengar suara jeprat jepret ! Ternyata teman-teman Sri yang lain pada mengambil foto dan video. Kiko jadi kaget dan melihat ke sekelilingnya. Wajahnya jadi tegang. Tapi Sri menenangkannya sambil berkata, “Tenang, tenang ! Gak apa-apa. Itu buat dokumentasi. Sama seperti dulu waktu kamu mengambil dokumentasi aku”. Tapi dalam hatinya Sri berkata, “Rasain ! Kapok nggak ?”.

Setelah itu Lesbi berkata kepada Sri, “Apa kamu mau melanjutkan dengan aksi fisik ?”. Sri jadi kesenangan dan mengiyakan. Diambilnya seutas tali dan dicekiknya leher Kiko hingga Kiko kesulitan bernafas dan tersengal-sengal. Setelah itu Sri mengambil sebilah kayu dan dipukulnya Kiko berkali-kali. Kiko pun mengaduh kesakitan. Tapi Sri malah berbisik di telinga Kiko, “Malu, ah. Lelaki kok cengeng. Dilihat orang banyak tuh !”. Kemudian Sri mengulangi lagi memukul Kiko dengan lebih keras. Hingga Lesbi menghentikannya, karena kuatir dengan model submissivenya yang masih harus menjalani beberapa sessi pemotretan lagi.

Kiko5-1

Sehabis mereka membiarkan Kiko beristirahat di lantai dengan tangan dan kaki yang masih terikat, mereka memasukkan sebatang besi dibawah lutut Kiko. Kiko mendadak jadi takut, karena berpikir mereka akan melakukan kekerasan fisik kepadanya, Ia pun meronta-ronta. Tapi Sri menenangkannya dengan mencium dan membelai kepalanya sambil berbisik, “Éh , banci ! Tenang, tenang ! Semakin tersiksa, semakin nikmat kan ? Rasain sekarang, kapok nggak ?”. Mereka kemudian beramai-ramai mengangkat Kiko dalam posisi terbalik dengan kepala dibawah. Waktu mengangkat badan Kiko, salah seorang dari mereka yaitu Domina secara tidak sengaja menyenggol senjata Kiko yang langsung  menegang. Karuan saja Domina jadi melompat-lompat sambil  menjerit-jerit dan setelah sadar Domina lalu jadi tertawa cekikikan diikuti dengan yang lainnya. Sementara muka Kiko jadi memerah. Ternyata mereka menggantung Kiko dengan sebatang besi yang diikatkan ke bawah lututnya dan posisi kepala dibawah.  Kiko jadi gelagapan, sulit bernafas. Maka mereka membiarkan Kiko sejenak untuk beradaptasi. Baru kemudian mereka mulai mengambil foto dan video.

Sebentar kemudian Domina mendekati Sri dan berkata, “Kamu tau nggak kalau suamimu bisa sit up dalam keadaan tergantung lho ?”. Sri pun bingung dan menggeleng. Maka Domina mendekati Kiko dengan membawa tongkat yang runcing ujungnya. Ditusukkannya benda itu ke punggung Kiko, hingga secara refleks Kiko berusaha menghindari tusukan itu dengan mengangkat badannya ke depan seperti orang sit up. Sri yang melihat hal itu jadi geli dan direbutnya tongkat itu serta ditusukkannya ke punggung Kiko berulang-ulang, Maka Kiko pun seperti melakukan sit up. Mereka pun tertawa melihat hal ini sementara Kiko jadi keringatan.

Kiko5-2

Kiko5-3

Lalu Mini mendekati Sri sambil membawa cambuk dan berkata, “Kamu mau mencambuki suamimu ?”. Sri segera mengambil cambuk itu dari tangan Mini.  Sri mulai beraksi. Ia terlebih dahulu mencoba cambuk itu beberapa kali ke lantai dengan keras hingga berbunyi cetaar ! cetaar !. Kiko yang melihatnya jadi kéder dan giris. Ia jadi gemetaran. Wajahnya ketakutan. Kiko sekali lagi meronta-ronta dan berusaha untuk melepaskan diri dari gantungan. Badannya diangkatnya hingga horizontal, tapi tetap saja ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tangan dan kakinya terikat.  Sri setelah melihatnya malah mengejek dengan mencibir sambil berkata, “Uji nyali ! Kalau kamu memang benar-benar jantan pasti kamu nggak ketakutan kayak gitu.  Ya kan teman-teman ?”. Lalu mulailah Sri mencambuki Kiko. Kiko pun menjerit kesakitan dan tubuhnya kejang-kejang kelojotan menahan rasa sakit. Belum terpuaskan nafsu  Sri untuk mencambuki suaminya, kembali Lesbi menghentikannya. Tapi Sri tidak mau dicegah hingga Lesbi terpaksa merangkulnya dan Mini merebut cambuk itu dari tangan Sri. Segera mereka menurunkan Kiko dari gantungan dan  melepaskan besi itu dari lututnya serta melepaskan tali yang menghubungkan ikatan kaki dan tangannya. Kiko mereka geletakkan berbaring di sofa.  Salah seorang dari mereka mau memberi Kiko minum, tapi Sri menghalanginya hingga Lesbi berkata, “Sudah, biarkan suamimu minum. Kasihan kan”.

Kiko5-4

Beberapa saat mereka membiarkan Kiko terbaring di sofa. Setelah itu mereka membuka ikatan tangan dan kaki Kiko. Maka plonglah hati Kiko, “Akhirnya berakhirlah sudah segala penderitaanku. Penderitaan yang membawa sejuta kenikmatan”, kata Kiko dalam hati. Tapi ternyata Kiko salah, karena selanjutnya mereka membawa Kiko ke sebuah tiang yang ada diruangan itu dan mengikat tangan dan kaki Kiko ke tiang itu. Sri kemudian mendandani ulang Kiko. Sesudah itu Lesbi memberikan kembali cambuk itu kepada Sri sementara mereka kembali mengambil foto dan video Kiko. Terulang kembalilah kesengsaraan Kiko, sementara Sri dan teman-temannya malah menikmati pemandangan yang sadis ini. Setelah beberapa kali mencambuk, cambukan Sri tiba-tiba mulai mengarah ke sanjata Kiko. Tapi Sri mencambuknya dengan tidak keras dan senjata Kiko mulai bereaksi hingga salah seorang dari mereka mendekat untuk mengclose upnya. Sekali lagi Sri mencambuk senjata Kiko dengan perlahan, ternyata senjata Kiko makin membesar. Dan yang terjadi selanjutnya mungkin tidak diperkirakan oleh mereka yang ada disana. Sri meletakkan cambuknya dan kemudian berjongkok di depan Kiko. Sri menyelentik ( menjentik ) senjata Kiko beberapa kali, senjata Kiko nampak bergetar dan bereaksi. Sri kemudian mengambil alat strum listrik dan ditempelkan ke senjata Kiko, senjata Kiko pun kembali bergetar. Belum puas, Sri kemudian mengambil  jarum suntik dan menyuntikkannya ke senjata Kiko. Ternyata dari tadi Sri memperhatikan dan mendengar kalau Kiko melenguh dan merintih perlahan-lahan. Mungkin itulah yang membuat Sri  semakin bernafsu. Hingga akhirnya dipegangnya senjata Kiko,  Dibetotnya senjata Kiko kuat-kuat dan tak lama kemudian tiba-tiba.. crooottt !!!.

Kiko5-5

Kiko5-6

Kiko5-7

Kiko Sujaryanto 4

Ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya yang berakhir dengan diikatnya kaki dan tangan Kiko oleh Sri serta dipukulinya Kiko sebelum ditinggal tidur. Dalam hati, Sri berkata, “Biar kapok !” dan berpikir bahwa suaminya akan jera. Tapi Sri tidak mengetahui apa yang ada dalam hati dan pikiran Kiko. Selain malu, tidak berdaya, tertekan, tersiksa, kesakitan  dan teraniaya, rupanya Kiko juga bisa merasakan kepasrahan dan kesenangan,

Keesokan harinya, Sri membuka ikatan tangan dan kaki Kiko. Sri tidak menyesali perbuatannya ataupun meminta maaf kepada suaminya. Begitu juga dengan Kiko.

Setelah peristiwa itu, Kiko merasakan keanehan dalam dirinya. Ia sering kali terkenang akan peristiwa itu. Tapi bukannya malu, penyesalan, kapok   atau tersiksa yang memenuhi pikirannya. Melainkan rasa tidak berdaya, pasrah yang akhirnya menimbulkan rasa senang dan bahagia. Ia berpikir, betapa anehnya diriku. Dipermalukan, dikerjai, dibentak, diperintah, dipaksa dan  diikat serta dipukuli bukannya tmbul rasa marah lalu melawan. Tapi malah menurut, pasrah dan senang. Apakah begini juga perasaan isteriku dulu waktu aku kasari ? Tapi mengapa ia jera dan tidak mau lagi melakukannyai ? Jangan-jangan aku mengalami kelainan jiwa. Aku memang masih senang melihat wanita-wanita cantik. Apalagi yang berkain kebaya, tapi nafsuku lebih besar kalau yang memakai kain kebaya itu aku sendiri dan kemudian disiksa oleh isteriku.

Lalu apakah yang akan diperbuat isteriku jika ia mendapati aku memakai kain kebayanya lagi ? Apakah ia akan menyiksaku dengan lebih kejam lagi ? Atau ia akan menceritakan kelainanku pada setiap orang yang dikenalnya ? Atau ia akan mengusirku dari rumah ?

Kemungkinan pertama, Sri akan menyiksaku dengan lebih kejam lagi. Kiko mulai menganalisa tiap kemungkinan yang ada.  Inilah yang aku nantikan, bagaimana rasanya jika aku disiksa dengan kejam oleh isteriku setelah terlebih dulu ia mendandaniku habis-habisen seperti yang dilakukannya dulu. Didandani dengan kain kebaya yang ketat dan singset. Alangkah nikmatnya.

Kemungkinan kedua, Sri menceritakan kelainanku pada setiap orang dikenalnya. Semoga bukan ini yang akan Sri lakukan. Lagi pula dengan menceritakan kelainanku pada orang lain, bukankah ia juga membuka aib rumah tangganya sendiri. Kemungkinan ini sangat kecil dilambil oleh Sri.

Kemungkinan ketiga, Sri mengusirku dari rumah. Kalau memang ini yang akan ia lakukan, aku bisa mulai lagi dari awal. Lagi pula hal ini pernah ia lakukan,  tapi kemudian ia menerimaku lagi di rumah.  Apa lagi kami sudah mempunyai momongan. Jadi kemungkinan paling besar yang akan ia lakukan adalah Sri akan menyiksaku dengan lebih kejam lagi.

Memikirkan kemungkinan paling besar yang akan diterimanya dari Sri yaitu ia akan disiksa dengan lebih kejam , Kiko jadi malah penasaran dan nafsunya terpacu.  Tapi dalam hati kecilnya ia berkata, mengapa aku malah suka jadi banci dan diperlakukan semena-mena oleh isteriku ? Dimana kejantananku dulu ? Kejantananku hanya sebatas senjata yang masih bisa dikokang. Mengapa aku sudah tidak nafsu lagi pada isteriku sendiri ?

Masa bodoh dengan kemungkinan ia menceritakan kelainanku pada orang lain. Masa bodoh kalau ia akan mengusirku dari rumah. Yang penting aku bisa menemukan hasrat dan gairahku lagi walaupun dengan cara yang aneh.  Lalu mulailah Kiko merencanakan perangkap supaya isterinya bisa marah dan semakin sadis menyiksa dirinya. Malang-malang putung rawé-rawé rantas. Begitulah akhirnya Kiko sudah sampai pada kebulatan tekadnya. Kalau tidak ada wanita yang mau berkain kebaya dan disiksa, maka biarlah aku menjadi wanita itu dan disiksa oleh isteriku sendiri. Biarlah ia puas memaki aku dan mengasari aku. Biarlah ia mengatakan aku banci, aku bencong. Yang penting aku bukan banci atau bencong. Entah nanti kalau keterusan.

Lagi pula kalau isteriku bisa melampiaskan nafsu dan kemarahannya kepadaku. Syukur-syukur kalau ia bisa lebih berbahagia. Semakin gila Kiko membenarkan jalan pikirannya sendiri dengan alasan lebih membahagiakan isterinya,  maka semakin bersemangatlah Kiko.  Tapi Kiko berusaha berhati-hati agar isterinya tidak tahu kalau ini semuanya adalah perangkap.

Setelah lama Kiko menunggu-nunggu.  Kesempatan itu datanglah, Sri kembali harus ke luar kota untuk beberapa hari. Kiko segera mengatur siasat. Pada hari kedua, Kiko sengaja menyampaikan kebohongan kepada ibunya atau mertua Sri yang berkesan supaya Sri segera pulang. Sri yang rikuh terhadap mertuanya segera menuruti perkataan mertuanya.

Sementara itu Kiko dirumah kembali beraksi memakai kain kebaya isterinya lengkap dengan stagen, bra, sandal jinjit dan selendang serta ia tidak ketinggalan  juga merias wajahnya dengan peralatan make up Sri. Sebelum itu ia terlebih dahulu memutar langgam Jawa, supaya lebih nyamleng. Kiko  sengaja memutarnya dengan cukup keras. Supaya ia tidak mendengar kalau sewaktu-waktu isterinya pulang, sehingga Sri bisa memergokinya. Karena memang itulah yang diharapkan Kiko.  Setelah selesai berdandan, ia bercermin dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ada yang kurang, pikir Kiko. Rambutku belum bersanggul. Maka ia segera menguncir rambutnya dengan karet dan mengambil sanggul isterinya serta jepitan rambut yang cukup banyak. Kiko lalu mulai berusaha menjepit sanggul itu ke rambutnya, tapi ternyata cukup sulit dan tidak bisa. Berulang-ulang Kiko berusaha menjepit sanggul itu ke rambutnya. Tapi hasilnya tidak rapi dan sangat kendor serta mudah lepas.

Disaat itulah Sri masuk dan memergoki Kiko. Muka Sri merah padam menahan amarah. Kiko diam mematung dan menghentikan menjepit konde ke rambutnya. Kedua tangan Kiko masih memegang konde. Dalam hatinya, Kiko berkata pucuk dicinta ulam tiba. Dag dig dug hati Kiko menantikan reaksi Sri. Tapi rupanya Sri berhasil menahan amarahnya, hingga ia bisa berkata dengan lembut, “Yaang, kamu belum bisa masang sanggul ya ? Sini aku bantu”. Direbutnya konde yang ditangan Kiko dan ia membalikkan badan Kiko serta memasang konde ke rambut Kiko. Sesudah itu ia berkata, “Kamu sudah cantik kok. Sekarang kamu keluarin semua pakaian kamu yang ada di lemari. Masukkan ke dalam koper. Kamu sudah tidak memerlukannya lagi kan ?”. Kiko bingung mendengar perkataan isterinya. Kiko berpikir jangan-jangan semua pakaiannya akan disita isterinya dan ia tidak boleh memakainya lagi.  Sama seperti yang dilakukan ibunya terhadap Sri dulu. Tapi pikiran jernih dan akal sehatnya telah tertutup oleh nafsu gilanya.  Maka Kiko menuruti kemauan isterinya. Kiko malah membayangkan betapa nikmatnya dalam beberapa hari dipaksa memakai kain kebaya.

Begitulah semua pakaian Kiko dimasukkan kedalam koper-koper. Sri juga ikut membantunya, hingga yang tersisa hanya celana dalam. Sesudah itu hal yang tidak disangka oleh Kiko terjadilah. Sri berkata, “Sekarang kamu jadi ibu rumah tangga yang baik. Momong bayi kita”. Lalu Sri memasukkan koper-koper itu ke bagasi mobil  dan ia masuk ke dalam mobil sambil berkata, “Selamat tinggal !”. Kiko pun jadi melongo. Ia tidak mengira akan ditinggal isterinya dan disuruh momong bayi mereka.

Lenyap sudah semua fantasy dan kesenangan Kiko. Ia jadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, karena ditinggal isterinya den disuruh momong bayi mereka. Belum lagi semua pakaian-pakaiannya disita. Segala angan-angan akan nikmatnya memakai kain kebaya lenyaplah sudah. Ia kini jadi bingung bagaimana caranya ia keluar rumah kalau yang ditinggalkan isterinya hanya celana dalam ?

Kiko Sujaryanto 3

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya dimana Kiko tiba dirumah dan Sri berhasil menangkap basah suaminya mencuri pakaian-pakaiannya serta berakhir dengan pengusiran Kiko dari rumah oleh isterinya. Kiko pun pergi dengan gontai ke sebuah penginapan.

Esok harinya Kiko  berulang kali berusaha menelpon isterinya dari penginapan itu. Setelah berulang kali sebelum sempat bicara, Sri selalu menutup telpon, akhirnya Sri mau mendengarkan ia meminta maaf dan memohon supaya isterinya memperbolehkan pulang. Tapi Sri tidak menjawab dan menutup telpon suaminya. Hal itu diulangi Kiko  keesokan harinya dan Sri masih tetap menutup telpon tanpa menjawab.

Hari ketiga Kiko mengulangi lagi menelpon isterinya. Waktu itu Sri masih momong bayinya ketika menerima telpon suaminya. Hatinya jadi melunak, hingga akhirnya ia memperbolehkan suaminya pulang ke rumah. Legalah hati Kiko.

Ternyata sesudah pulang ke rumah, hubungan mereka tetap renggang dan dingin. Sri masih memandang rendah Kiko. Apalagi usaha dan penghasilan Sri sekarang makin maju dan berkembang, sementara usaha Kiko mengalami kemunduran dan penghasilan Kiko kalah dibandingkan dengan penghasilan Sri. Tapi Kiko sekarang jadi agak cuek. Kiko pun masih secara sembunyi-sembunyi melihat bahkan mengkoleksi foto-foto wanita berkain kebaya.

Satu hal yang tidak disadari Sri dan tidak ditegaskannya sewaktu memperbolehkan suaminya pulang adalah ia tidak dengan tegas melarang suaminya memakai pakaian kain kebaya lagi.  Dan itulah yang terjadi kemudian.

Waktu itu Sri berencana melakukan perjalanan keluar kota, karena terpaksa mengurusi pekerjaannya. Dan itulah yang ditunggu-tunggu oleh Kiko. Pucuk dicinta ulam tiba. Kiko pun kembali ingin melampiaskan nafsunya, tapi di sisi yang lain dalam hati Kiko masih ada trauma kepergok oleh isterinya. Timbullah gejolak dalam  pikirannya. Hati nuraninya berkata bahwa ia harus melupakan hal itu, karena faktor kemungkinan kepergok oleh isterinya, tapi nafsunya berkata lain dan mendesaknya untuk kembali melakukan hal itu mumpung isterinya keluar kota.  Apalagi perjalanan yang ditempuh cukup jauh sehingga harus menginap. Begitulah timbul pertengkaran batin didalam diri Kiko.

Hingga hari H nya tiba, pikiran Kiko pun masih bergejolak. Setelah Sri pergi pun , Kiko masih harus berusaha menahan hawa nafsunya beberepa lama demi untuk memastikan Sri telah pergi jauh sampai ke luar kota. Hingga malamnya Kiko bermaksud untuk melaksanakan hajatnya. Tapi sekali lagi, Kiko mengurungkan niatnya dan menundanya sampai besok pagi untuk memastikan isterinya tidak pulang dan menginap.

Baru pada keesokan harinya, Kiko tidak dapat menahan nafsunya lagi. Ia dengan panas dingin dan gemetaran menelanjangi dirinya sendiri hingga tinggal memakai celana dalam. Kemudian ia membuka lemari tempat kebaya dan kain batik isterinya disimpan. Syukurlah ternyata pintu lemarinya tidak dikunci dan kebaya serta kain batiknya juga masih ditempatnya yang dulu.  Ia mulai mengambil selembar kain batik dan dililitkannya di kakinya. Setelah itu ia mengambil stagen dan memakainya. Kemudian ia memilih-milih kebaya yang akan dipakainya. Terakhir ia menyampirkan selendang dipundaknya dan mulai bercermin sambil berputar-putar dan berlenggang lenggok.

Tidak puas dengan itu, ia memutar lagu langgam Jawa dengan maksud supaya ia bisa semakin menghayati dalam berpakaian kain kebaya. Kiko pun puas dan senang dalam hatinya. Ia ikut bersenandung dengan lirih mengikuti langgam Jawa itu.  Tidak itu saja ia juga menari Jawa menirukan penari wanita.

Ketika sedang ditengah-tengah puncak kenikmatannya itulah suatu hal yang hampir mustahil di dalam pikiran Kiko terjadi. Isterinya mendadak pulang ke rumah dan ia tidak mendengar suara mobil ataupun pintu dibuka, karena alunan langgam Jawa yang diputar. Pintu memang dikunci, tapi Sri juga membawa kunci cadangan. Malapetaka besar kembali menimpa Kiko.

Isterinya berkacak pinggang begitu masuk ke kamar dimana Kiko berada. Dimatikannya langgam Jawa itu. Sri kemudian bertepuk tangan dan berkata, “Bagus ! bagus ! narinya”. Kemudian Sri membuka dompet dan mengambil uang serta menyisipkannya ke balik kebaya Kiko. Kiko jadi gelagapan, tapi tak lama kemudian Kiko bisa menguasai diri dan mulai melepaskan pakaiannya. Sri pun berkata, “Dasar tidak tahu malu,  bencong ! bencong ! Sekali bencong tetap bencong !”.

Kiko sudah melepaskan semua pakaian isterinya hingga tinggal memakai celana dalam dan bermaksud memakai kembali pakaian Kiko sendiri. Ketika Sri mencegahnya dan merebut celana pendek serta kaos Kiko dari tangan Kiko. Sri berkata, “Éh ! Jangan pakai ini . Kok tanggung banget sih kamu”. Kiko diam dan mengurungkan niatnya memakai pakaiannya sendiri. Sri kemudian membuka lemari dan apa yang dilihat Kiko membuatnya kaget.

Sri mengambil selembar kain batik yang sudah diwiru dan berkata kepada Kiko, “Sini kamu ! Kalau mau pakai kain kebaya yang bener dong ! Ayo, kakinya merapat !”, Dalam keadaan kaget dan bingung, tapi terbersit sedikit kesenangan ia mematuhi perkataan isterinya. Sri pun kemudian mulai melilitkan kain batik itu dengan rapat dan kuat ke kaki Kiko. Habis itu, Sri mengambil seutas tali dan mengikatkannya dengan kencang ke pinggang Kiko. Kiko mengaduh dalam hati karena kekencangan, tapi hatinya semakin senang dan senjatanya mulai menegang hingga kelihatan menyembul dari balik kain batiknya. Sesudah itu Sri memakaikan stagen dengan kencang juga. Berikutnya adalah hal yang tidak terpikirkan  oleh Kiko, Sri memakaikan BHnya ke dada Kiko. Kiko pun semakin senang dan terangsang. Tapi Kiko berusaha mati-matian untuk tidak memperlihatkan hal itu.  Kemudian Sri mengambil kembali kebaya yang tadi dipakai oleh Kiko dan memberikannya kepada Kiko sambil berkata, “Nih, pakai !”. Kiko jadi kikuk, ia diam saja dan tidak mengulurkan tangannya. Sri jadi membentak, “Ayo, tunggu apa lagi ! Cepat pakai !”. Kiko dengan gugup mengambil kebaya itu dari tangan Sri. Tapi sesudah itu Kiko masih berdiri mematung dengan kedua tangannya memegang kebaya. Sri kembali membentak, “Hé !, kamu tuli ya ? Apa berlagak bodoh. Ayo cepat pakai !”. Tangan Kiko bergerak dengan lambat memakai kebaya kebadannya. Sri jadi tidak sabar, ia kemudian ikut memakaikan kebaya itu ke badan Kiko dan mengancingkannya serta merapikannya.

Kemudian dipandanginya Kiko dari atas sampai bawah. Ternyata kaki Kiko masih telanjang, maka ia mengambil sandal jinjit dengan hak yang cukup tinggi dan memakaikannya  ke kaki Kiko. Habis itu selendang yang tadi dipakai Kiko disampirkannya ke pundak Kiko dan sebelah ujungnya di selempitkannya ke lengan Kiko. Lalu ia memandangi wajah Kiko, ternyata masih polos tanpa makeup. Maka ia menggeret suaminya duduk di kursi di depan meja rias. Kiko pun dag dig dug. Hatinya semakin gembira, tapi ia tetap berusaha menyembunyikannya. Sri mulai membersihkan muka Kiko dan meriasnya dengan menor.

Setelah itu dipandanginya wajah Kiko didalam cermin, ternyata belum ada sanggulnya. Sri berpikir sejenak. Lalu ia menarik-narik ujung rambut Kiko. Ternyata cukup panjang juga hingga dapat diikat. Maka ia dapat ide, dikuncirnya rambut Kiko dan kemudian hal yang tidak terpikirkan oleh Kiko terjadilah, Sri memasang konde ke rambut Kiko.  Konde itu dijepitnya dengan jepitan rambut yang cukup banyak ke rambut Kiko hingga Kiko kesakitan dan sedikit meringis-rngis. Sri yang melihat suaminya meringis berkata, “Kalau mau tampil sempurna memang butuh banyak pengorbanan !”,

Sehabis mendandani suaminya habis-habisan, Sri menyuruh Kiko berdiri dan Sri berkata, “Ayo, sekarang kamu jalan ! Dari sana sampai sini !” .Sri menunjuk ujung ruang yang memang cukup panjang. Kiko mematuhinya. Ia mencoba berjalan. Tetapi karena tidak terbiasa memakai sandal hak tinggi belum lagi kain wiron yang dipakainya sempit dibagian bawahnya, maka beberapa kali ia oleng dan hampir jatuh. Sri malah  tertawa dan mengejek, “Rasakan sekarang sulitnya memakai kain wiron sama sandal jinjit ! Awas kalau sampai jatuh, kamu nanti akan ku hukum !  Kamu pikir gampang mau jadi seorang wanita aristokrat Jawa ?”. Sri tidak mengetahui kalau perkataannya ini tidak saja menyinggung perasaan suaminya dan membuat Kiko takut atau marah, tapi disamping itu Kiko juga jadi semakin excited, senang dan tertantang. Didalam kesukarannya berjalan, Kiko merasakan beginilah rasamya memakai kain wiron yang singset dengan sandal hak tinggi. Nikmat ! Dan ia pun semakin terangsang.

Tibalah Kiko di ujung ruangan. Kiko melihat ke ujung kakinya, kuatir kalau ia kesrimpet kain batik dengan wirunya yang cukup banyak. Belum lagi ujung kain itu cukup rendah sehingga sampai ke telapak kakinya. Dipegangnya dan dirapikannya kain wironnya. Tidak sengaja tangannya menyentuh senjatanya dan greng ! Rangsangannya terasa sampai ke ujung kepala. Seperti paradoks, Kiko merasa sangat bahagia walaupun sebenarnya ia dalam keadaan tertekan dan diperintah serta dikuasai oleh isterinya. Isterinya berkata, “Sekarang kamu jalan dari situ ke sini !”. Sri  mengambil handycam dan mulai merekam. Kiko mematuhi, ia berjalan dengan kesulitan, kesrimpet-srimpet. Tapi ia berjalan beberapa langkah dengan kaku tanpa gaya. Maka Sri kesal dan berkata, “Hai ! Bencong ! Jalannya yang genit dong ! Yang persis perempuan ! Sekarang kamu ulangi lagi dari pojok sana !”. Kiko berbalik lagi dan mulai melangkah dari ujung ruangan dengan genit. Pinggulnya digoyang-goyangkannya. Meledaklah tawa isterinya. Sri lalu berkata, “Dasar bencong ! Nah,  kayak gitu dong jalannya. Persis bencong taman lawang ! Besok kamu aku kirim ke taman lawang buat praktek ! Mulai sekarang namamu bukan lagi Kiko Sujaryanto tapi Kiki Sujaryanti !”.

Sesudah itu Sri menyuruhnya menari. Diputarmya kembali langgam Jawa yang tadi ia matikan. Kiko pun menari walaupun pada awalnya kikuk. Sehabis satu lagu selesai, Sri mematikan langgam Jawa itu. Kiko pun duduk dan mau melepaskan kebayanya. Tapi Sri berkata, “Héh, siapa yang nyuruh kamu melepas pakaian kamu ? Énak kan pakai kain kebaya seharian ? Sekarang kamu cuci-cuci piring sama gelas yang numpuk di dapur sana !”.  Kiko pun bekata dalam hati, “Matilah aku ! Kalau disuruh nyuci piring pakai pakaian kayak gini”. Maka ia memohon kepada Sri untuk memperbolehkannya melepas pakaian kain kebayanya. Kiko juga berjanji untuk tidak mengulang perbuatannya memakai kain kebaya Sri. Tapi Sri menjawab dengan ketus, “Alaah paling kamu cuma janji-janji melulu. Sekarang kamu boleh pilih. Mau pakai pakaian itu apa kamu aku usir dari rumah ini ?”. Kiko tidak bisa menjawab. Ia akhirnya mencuci piring dangan kain kebaya dan bersanggul. Sanggulnya sekarang jadi kendor, karena rambutnya yang panjangnya pas-pasan. Sri pun berkata, “Awas, kamu ! Kalau sampai sanggulnya jatuh !”. Semakin tersiksalah Kiko, tapi aneh di dalam diri Kiko selain rasa tersiksa dan tertekan  ia juga merasakan rasa pasrah, senang dan bahagia.

Sehabis mencuci piring. Disuruhnya Kiko menyapu dan mengepel lantai runah. Kiko tidak bisa membantah. Selesai itu kegilaan Sri semakin menjadi-jadi. Baru sebentar Kiko duduk beristirahat, Sri berkata, “Rasakan sekarang beratnya penderitaan seorang ibu rumah tangga ! Itu belum ditambah dengan kekerasan fisik seperti yang kamu lakukan kepadaku”.  Lalu disuruhnya Kiko momong bayi mereka dengan menggendongnya. Kiko membantah. Katanya, “Sri, kamu jangan gila ! Ini bayi kita. Bagaimana kalau ia mengetahui hal ini nanti ?”. Sri menjawab, “Éh, membantah ? Apa mau aku ceritakan ke setiap orang kelainanmu ini ?”. Kiko tidak berkutik, diterimanya bayi yang disodorkan Sri dan Sri membantu Kiko mengikatkan selendang gendong ke bahunya. Sehabis itu Sri kembali mengambil video suaminya.

Malam harinya menjelang tidur, Sri berkata, “Sekarang taruh di  belakang punggungmu kedua tangan kamu biar aku ikat supaya kamu tidak bisa melepaskan pakaian kamu”,  Haaah ??!! Kiko kaget, pikirannya bingung dan  berkecamuk. Ia akan diikat oleh isterinya. Apa yang akan ia perbuat ? Ia diam saja tanpa meletakkan tangannya ke belakang punggungnya. Sri membentak, “Ayo, Cepat ! Ke belakangkan tangan kamu. Dengar tidak ?”. Barulah .Kiko menuruti Sri. Ia pasrah tangannya diikat kuat-kuat oleh Sri. Belum puas hanya dengan mengikat kedua tangan Kiko, maka Sri juga mengikat kedua kaki Kiko. Setelah itu Sri masih mengikat leher Kiko dengan tali dan ujung tali yang lain dipegangnya. Kemudian Sri berkata, “Nah, begini kan cara  kamu ngikat aku dulu”. Lalu diambilnya sebilah kayu yang dulu dipakai Kiko untuk memukul Sri. Sri kemudian memukul Kiko dengan kayu itu. Tidak kuasa menahan rasa sakit, Kiko pun mengaduh kesakitan.  Sri malah semakin memperkeras pukulannya sambil berkata, “Lelaki kok cengeng ! Dasar banci !”. Setelah itu Sri pun pergi tidur meninggalkan Kiko terikat tangan dan kakinya.

Kiko diajar Sri