Kebaya putih kain batik Jogya 2

 

Kiko Sujaryanto 9

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan jatuh terjerembabnya Kiko di atas panggung. Setelah itu rombongan Sri kembali ke vila. Di vila sementara yang lainnya sibuk membuka-buka barang belanjaan, Kiko memanfaatkan kesempatan ini. Mumpung tidak diikat kaki dan tanganku, pikir Kiko.  Ia bermaksud untuk kabur dari tempat itu. Ia berencana untuk mengambil  pakaian si Macho yang kegedean dan mengambil dompet isterinya yang ada disitu. Ia sudah berhasil mengambil pakaian si Macho dan dompet isterinya tanpa diketahui yang lain serta masuk ke kamar. Di kamar, Kiko segera cepat-cepat membuka kancing kebayanya. Tapi begitu ia membuka kancing kebayanya yang terakhir, isterinya masuk ke kamar itu. Begitu dilihatnya dompet dan pakaian si Macho tergeletak disitu, ia pun berteriak, “Maling ! maling ! Ada maling mau kabur ! Ayo cepetan ditangkap !”. Teman-teman yang lain pun segera masuk dan membantu Sri menangkap serta mengikat tangan dan kaki Kiko. Kiko, mereka telungkupkan di lantai. Seorang mengikat tangannya dan seorang yang lain mengikat kakinya. Selesai ditangkap, Sri menjewer telinga Kiko sambil berkata, “Awas kamu ! mau melarikan diri ya ?”. Sementara si Macho yang diambil pakaiannya malah mengedipkan sebelah matanya kepada Kiko dan kemudian dicubitnya pipi Kiko. Kiko jadi merinding, risih dan jijik.

Kiko masih tergeletak terlentang di lantai. Sementara hari sudah menjelang malam. Kiko merajuk isterinya, “Sri, aku mau mandi”. Sri menjawab, “Jangan, nggak boleh. Nanti kamu malah melarikan diri. Sekarang kamu latihan jalan yang anggun saja, biar tidak memalukan kayak tadi. Jatuh diatas dipanggung”.  Lalu dibantunya Kiko berdiri dan dilepaskannya ikatan kakinya, tapi ikatan tangannya dibiarkannya. Selanjutnya Sri memakaikan sandal hak tinggi ke kaki Kiko. Lalu Sri mengambil piring yang berisi jatah makan Kiko dan meletakkannya di atas kepala Kiko sambil berkata, “Kamu jalan yang anggun pakai beban diatas kepala.  Jalannya harus betul, supaya piring diatas kepalamu tidak jatuh. Ayo mulai !”. Kiko diam saja, karena merasa tidak akan mampu berjalan dengan piring diatas kepala. Bisa bisa jatuh dan pecah. Sri malah menggertak, “Ayo, jalan ! Awas kalau sampai jatuh piringnya !”. Kiko masih diam saja, sementara teman-teman Sri yang lain sudah siap-siap merekam dan menonton. Maka Sri memaksa Kiko berjalan dengan sedikit mendorongnya ke depan. Kiko pun mulai berjalan. Setelah beberapa langkah selamat, langkah kesekian kalinya piring diatas kepalanya jatuh dan isinya berhamburan dilantai. Meledaklah amarah Sri, “Sudah dibilangi, jalan yang betul ! Malah kamu jatuhkan piringnya. Sekarang kamu makan dan bersihkan makanan kamu yang kamu jatuhkan di lantai, terus dibersihkan, disapu sama dipel yang bersih !”. Kemudian didorongnya Kiko hingga jatuh telungkup dilantai.

Kiko 9-1

Kiko merasa sangat terhina dan malu  diperlakukan demikian oleh isterinya. Kiko diam saja, ia tidak mau makan atau membersihkan makanan dan pecahan piring yang ada dilantai. Sri jadi gusar, ia bersuara keras, “Ayo, tunggu apa lagi ? Makan lalu bersihkan !”. Berhubung Kiko diam saja, maka Sri mendorong kepala Kiko ke lantai hingga mengenai makanan yang ada di lantai. Sri berkata, “Ayo, makan !”. Setelah habis, Kiko diam saja. Padahal makanan itu tercecer di beberapa tempat. Maka Sri mengambil tali dan mengikatkannya ke leher Kiko dan menariknya ke tempat yang ada makanannya hingga Kiko terpaksa mengikutinya dengan mengesot dilantai. Tapi didalam keadaan yang terlecehkan ini senjata Kiko malah terangsang. Apalagi ketika ia mengesot di lantai. senjatanya tergesek lantai. Kiko jadi malah menikmati siksaan ini. Setelah mengesot beberapa kali dan makan dengan mulutnya, Sri memberinya minum di mangkuk yang diletakkannya di lantai. Kiko pun meminumnya.

Tapi tidak semua makanan yang jatuh dilantai dimakan Kiko, karena beberapa diantaranya tercampur pecahan piring. Maka Sri menyuruhnya untuk membersihkan, menyapu dan mengepel lantai. Sekali lagi Kiko harus menjalani siksaan yang kemarin pernah diterimanya. Kali ini malah lebih berat, karena tercampur pecahan pirng. Pertama-tama, Kiko harus berusaha bangun dari lantai dengan keadaan tangan yang terikat dibelakang. Hal ini sulit dilakukan, karena tangan jadi tidak cukup panjang dan posisinya tidak enak untuk  dijadikan pegangan bangkit dari lantai. Beberapa kali Kiko mencoba, tapi setelah dalam keadaan bersimpuh dilantai dan mau berdiri ia selalu jatuh lagi. Sri bukannya membantunya berdiri tapi malah membiarkannya dan tersenyum mengejek sambil berkata, “Ayo, bangun ! Cepat ! Gitu saja tidak bisa”.

Kiko jadi tertantang, ia berpikir keras dan mendapatkan jalan. Ia berusaha mencari kursi untuk dijadikan pegangan tangan untuk berdiri, maka ia mengesot dilantai menuju ke tempat kursi berada. Tapi ketika ia telah sampai di tempat kursi berada, Sri memanasinya dengan mengangkat kursi itu menjauh dari Kiko. Begitulah dilakukan Sri hingga beberapa kali ketika Kiko sampai ke tempat sebuah kursi berada. Kiko putus asa, ia berdiam dilantai. Sri malah berkata, “Ayo, cepat ! Lantainya dibersihkan”. Kemudian disabetnya Kiko dengan mistar. Kiko kemudian dapat akal, ia berusaha menggapai tembok untuk dijadikan lendetan badan waktu mau berdiri. Ia pun mengesot menuju tembok dan Kiko berhasil berdiri.

Setelah itu Kiko mulai menyapu lantai dengan tangan terikat ke belakang sambil menoleh ke belakang dan berjalan mundur.  Sehabis siksaan ini, Kiko masih harus mengesot mundur dilantai untuk mengepel. Kiko jadi basah kuyup, karena suatu kali ember tempat airnya oleng dan airnya tumpah sebagian memerciki dirinya.

Sehabis mengepel, Sri membawa Kiko ke kamar mandi dan disemprotnya Kiko dengan air dingin. Kiko pun menggigil kedinginan. Sehabis itu barulah Sri melepaskan sanggul dan ikatan tangan Kiko serta membiarkan Kiko mandi. Tapi Sri menungguinya di kamar mandi sehingga  Kiko tidak punya kesempatan untuk melarikan diri.

Sesudah mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, Kiko digiring masuk ke kamar. Di kamar, Kiko berusaha merayu Sri supaya menghentikan perploncoannya, katanya, “Sri, kita pulang saya yuk ! Aku sudah capai”. Tapi Sri meletakkan telunjuknya di bibir Kiko dengan maksud supaya Kiko diam. Selanjutnya sudah bisa ditebak, Sri mendandani Kiko dengan kain kebaya baru lagi lengkap dengan makeup dan sanggul.  Setelah selesai, Sri mencium Kiko didepan cermin sambil berkata, “Cantik déh kamu !”. Kiko kembali terangsang. Baru sekali ini isterinya memuji kecantikannya dengan tulus. Ia jadi berpikir jangan-jangan sekarang isterinya sudah tidak dendam lagi kepada perbuatannya di waktu lalu, tapi sudah terbiasa jadi dominan dan menikmati menyiksa suaminya serta sudah tidak berniat lagi untuk menyembuhkan kelainan yang dideritanya.

Setelah itu Kiko dituntun Sri keluar kamar. Tenyata mereka menuju ke halaman. Mereka sudah menyiapkan api unggun dan ditengah-tengahnya ada sebuah pohon. Kiko berpikir, jangan-jangan ia akan diikat di pohon itu dan dikelilingi api. Ternyata memang betul, mereka kemudian mengikat Kiko ke tiang itu dan mulai menyalakan api di sekitarnya. Sesudah itu mereka makan  minum, bernyanyi-nyanyi sambil memandangi Kiko. Sementara Kiko kepanasan ditengah-tengah api dan cemas kalau apinya mengenai tubuhnya. Beberapa diantara mereka termasuk Sri malah memegang kayu yang ujungnya berapi dan menyodor-nyodorkan ke Kiko, hingga Kiko semakin ketakutan.

Kiko 9-2

Kiko 9-3

Menjelang tengah malam, ketika  Kiko semakin dag dig dug, mereka melepaskan Kiko dari pohon dan membawa Kiko ke pinggir. Tapi selanjutnya mereka kembali mengikat tangan dan kaki Kiko. Sesudah itu Kiko mereka gotong dan mereka gantung terbalik di pohon tadi. Kiko jadi samakin takut. Kepalanya yang dibawah merasa panas, karena dekat api. Untungnya api itu padam duluan sebelum mengenai kepala Kiko. Kemudian mereka menurunkan Kiko, tapi mereka tidak membuka ikatan tangan dan kaki serta tali yang mengikat kaki ke pohon diikatkan oleh salah seorang dari mereka kesebuah pohon. Sedangkan kepala Kiko mereka juga ikat dengan tali kesebuah pohon yang lain di seberang pohon itu. Kedua tali itu cukup tegang, sehingga jika Kiko berulah akan menyebabkan kaki dan lehernya terjerat. Dalam keadaan itulah mereka meninggalkan Kiko terbaring di tanah dengan tangan dan  kaki terikat serta kepala dan kaki yang terikat pada pohon yang berseberangan.

Sepanjang malam Kiko tidak bisa memejamkan matanya. Itulah malam kedua Kiko di vila. Sementara yang lain tidur pulas, Kiko malah disiksa. Sesudah kemarin malam ia disuruh tidur dikandang anjing dengan posisi badan yang menekuk,  tangan dan kaki terikat serta kepala dirantai, malam ini ia harus tidur di atas tanah dengan tangan dan kaki terikat serta kepala dan kaki yang terikat ke pohon.  Bergerak sedikit untuk ganti posisi saja cukup sulit dan bisa menyebabkan ikatan tali di kepala serta kakinya jadi menegang. Ia merenungi nasibnya. Kejam nian sekarang isteriku. Apakah ini malam terakhirnya di vila dan besok ia sudah bisa bebas atau besok siksaan-siksaan lain masih menunggunya. Siksaan apa lagi yang akan diterimanya besok ?

Ketika tengah suntuk-suntuknya merenungi nasibnya, tiba-tiba…guug ! guug ! guug !.. É Lhadalah, 2 ekor anjing yang lumayan besar muncul dan mulai mendekati Kiko. Kiko jadi ketakutan setengah mati, mau berteriak ia takut kalau anjingnya jadi agresif dan menggigitnya. Ia bingung, mau berontak tapi tangan dan kaki serta kepalanya terikat. Akhirnya Kiko hanya diam saja sambil merinding ketakutan dan mulutnya ndremimil komat-kamit menggumam, “sluman slumun slamet, sluman slumun slamet, sluman slumun slamet, …. setan ora doyan, demit ora ndulit…. sluman slumun slamet, sluman slumun slamet, sluman slumun slamet…”

Kiko 9-4

Anjing-anjing itu pun mulai mengendus-endusi tubuhnya. Salah satu anjing itu kemudian mengendus senjata Kiko. Senjata Kiko jadi terangsang dan mulai menegang. Anjing itu jadi mulai menyalak-nyalak pada kemaluannya yang ereksi dan menyeringai. Kiko jadi semakin takut jangan-jangan nanti kemaluannya digigit. Sementara anjing yang lainnya mengendus wajahnya.

Sebentar kemudian .. guug ! dan aduh biyung tobat tobil anak kadal !. Duh gusti kulo nyuwun pangapuro. Anjing itu menggigit kemaluan Kiko, Kiko pun secara spontan menyentakkan tubuhnya dan anjing itu pun melepaskan gigitannya. Bersamaan dengan itu bukan hanya kemaluan Kiko yang rasanya sakit bukan main, tapi leher Kiko jadi terjerat tali yang menegang karena tubuh Kiko yang berontak. Kiko merasakan sakit luar biasa pada kemaluannya, tapi bersamaan dengan itu ia juga merasakan kenikmatan yang luar biasa karena kemaluannya yang berkontraksi dengan hebat. Kenyuutt  ! kenyuuttt ! kenyuuuttt ! Kiko berasa diantara surga dan neraka. Untungnya sesudah itu 2 anjing itu kemudian pergi menjauh. Bersamaan dengan itu pula terdengar pula suara gelak tawa dari kejauhan. Ternyata Sri dan teman-temannya mengamat-amatinya dari dalam villa.