Kiko Sujaryanto 9

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan jatuh terjerembabnya Kiko di atas panggung. Setelah itu rombongan Sri kembali ke vila. Di vila sementara yang lainnya sibuk membuka-buka barang belanjaan, Kiko memanfaatkan kesempatan ini. Mumpung tidak diikat kaki dan tanganku, pikir Kiko.  Ia bermaksud untuk kabur dari tempat itu. Ia berencana untuk mengambil  pakaian si Macho yang kegedean dan mengambil dompet isterinya yang ada disitu. Ia sudah berhasil mengambil pakaian si Macho dan dompet isterinya tanpa diketahui yang lain serta masuk ke kamar. Di kamar, Kiko segera cepat-cepat membuka kancing kebayanya. Tapi begitu ia membuka kancing kebayanya yang terakhir, isterinya masuk ke kamar itu. Begitu dilihatnya dompet dan pakaian si Macho tergeletak disitu, ia pun berteriak, “Maling ! maling ! Ada maling mau kabur ! Ayo cepetan ditangkap !”. Teman-teman yang lain pun segera masuk dan membantu Sri menangkap serta mengikat tangan dan kaki Kiko. Kiko, mereka telungkupkan di lantai. Seorang mengikat tangannya dan seorang yang lain mengikat kakinya. Selesai ditangkap, Sri menjewer telinga Kiko sambil berkata, “Awas kamu ! mau melarikan diri ya ?”. Sementara si Macho yang diambil pakaiannya malah mengedipkan sebelah matanya kepada Kiko dan kemudian dicubitnya pipi Kiko. Kiko jadi merinding, risih dan jijik.

Kiko masih tergeletak terlentang di lantai. Sementara hari sudah menjelang malam. Kiko merajuk isterinya, “Sri, aku mau mandi”. Sri menjawab, “Jangan, nggak boleh. Nanti kamu malah melarikan diri. Sekarang kamu latihan jalan yang anggun saja, biar tidak memalukan kayak tadi. Jatuh diatas dipanggung”.  Lalu dibantunya Kiko berdiri dan dilepaskannya ikatan kakinya, tapi ikatan tangannya dibiarkannya. Selanjutnya Sri memakaikan sandal hak tinggi ke kaki Kiko. Lalu Sri mengambil piring yang berisi jatah makan Kiko dan meletakkannya di atas kepala Kiko sambil berkata, “Kamu jalan yang anggun pakai beban diatas kepala.  Jalannya harus betul, supaya piring diatas kepalamu tidak jatuh. Ayo mulai !”. Kiko diam saja, karena merasa tidak akan mampu berjalan dengan piring diatas kepala. Bisa bisa jatuh dan pecah. Sri malah menggertak, “Ayo, jalan ! Awas kalau sampai jatuh piringnya !”. Kiko masih diam saja, sementara teman-teman Sri yang lain sudah siap-siap merekam dan menonton. Maka Sri memaksa Kiko berjalan dengan sedikit mendorongnya ke depan. Kiko pun mulai berjalan. Setelah beberapa langkah selamat, langkah kesekian kalinya piring diatas kepalanya jatuh dan isinya berhamburan dilantai. Meledaklah amarah Sri, “Sudah dibilangi, jalan yang betul ! Malah kamu jatuhkan piringnya. Sekarang kamu makan dan bersihkan makanan kamu yang kamu jatuhkan di lantai, terus dibersihkan, disapu sama dipel yang bersih !”. Kemudian didorongnya Kiko hingga jatuh telungkup dilantai.

Kiko 9-1

Kiko merasa sangat terhina dan malu  diperlakukan demikian oleh isterinya. Kiko diam saja, ia tidak mau makan atau membersihkan makanan dan pecahan piring yang ada dilantai. Sri jadi gusar, ia bersuara keras, “Ayo, tunggu apa lagi ? Makan lalu bersihkan !”. Berhubung Kiko diam saja, maka Sri mendorong kepala Kiko ke lantai hingga mengenai makanan yang ada di lantai. Sri berkata, “Ayo, makan !”. Setelah habis, Kiko diam saja. Padahal makanan itu tercecer di beberapa tempat. Maka Sri mengambil tali dan mengikatkannya ke leher Kiko dan menariknya ke tempat yang ada makanannya hingga Kiko terpaksa mengikutinya dengan mengesot dilantai. Tapi didalam keadaan yang terlecehkan ini senjata Kiko malah terangsang. Apalagi ketika ia mengesot di lantai. senjatanya tergesek lantai. Kiko jadi malah menikmati siksaan ini. Setelah mengesot beberapa kali dan makan dengan mulutnya, Sri memberinya minum di mangkuk yang diletakkannya di lantai. Kiko pun meminumnya.

Tapi tidak semua makanan yang jatuh dilantai dimakan Kiko, karena beberapa diantaranya tercampur pecahan piring. Maka Sri menyuruhnya untuk membersihkan, menyapu dan mengepel lantai. Sekali lagi Kiko harus menjalani siksaan yang kemarin pernah diterimanya. Kali ini malah lebih berat, karena tercampur pecahan pirng. Pertama-tama, Kiko harus berusaha bangun dari lantai dengan keadaan tangan yang terikat dibelakang. Hal ini sulit dilakukan, karena tangan jadi tidak cukup panjang dan posisinya tidak enak untuk  dijadikan pegangan bangkit dari lantai. Beberapa kali Kiko mencoba, tapi setelah dalam keadaan bersimpuh dilantai dan mau berdiri ia selalu jatuh lagi. Sri bukannya membantunya berdiri tapi malah membiarkannya dan tersenyum mengejek sambil berkata, “Ayo, bangun ! Cepat ! Gitu saja tidak bisa”.

Kiko jadi tertantang, ia berpikir keras dan mendapatkan jalan. Ia berusaha mencari kursi untuk dijadikan pegangan tangan untuk berdiri, maka ia mengesot dilantai menuju ke tempat kursi berada. Tapi ketika ia telah sampai di tempat kursi berada, Sri memanasinya dengan mengangkat kursi itu menjauh dari Kiko. Begitulah dilakukan Sri hingga beberapa kali ketika Kiko sampai ke tempat sebuah kursi berada. Kiko putus asa, ia berdiam dilantai. Sri malah berkata, “Ayo, cepat ! Lantainya dibersihkan”. Kemudian disabetnya Kiko dengan mistar. Kiko kemudian dapat akal, ia berusaha menggapai tembok untuk dijadikan lendetan badan waktu mau berdiri. Ia pun mengesot menuju tembok dan Kiko berhasil berdiri.

Setelah itu Kiko mulai menyapu lantai dengan tangan terikat ke belakang sambil menoleh ke belakang dan berjalan mundur.  Sehabis siksaan ini, Kiko masih harus mengesot mundur dilantai untuk mengepel. Kiko jadi basah kuyup, karena suatu kali ember tempat airnya oleng dan airnya tumpah sebagian memerciki dirinya.

Sehabis mengepel, Sri membawa Kiko ke kamar mandi dan disemprotnya Kiko dengan air dingin. Kiko pun menggigil kedinginan. Sehabis itu barulah Sri melepaskan sanggul dan ikatan tangan Kiko serta membiarkan Kiko mandi. Tapi Sri menungguinya di kamar mandi sehingga  Kiko tidak punya kesempatan untuk melarikan diri.

Sesudah mandi dan mengeringkan badan dengan handuk, Kiko digiring masuk ke kamar. Di kamar, Kiko berusaha merayu Sri supaya menghentikan perploncoannya, katanya, “Sri, kita pulang saya yuk ! Aku sudah capai”. Tapi Sri meletakkan telunjuknya di bibir Kiko dengan maksud supaya Kiko diam. Selanjutnya sudah bisa ditebak, Sri mendandani Kiko dengan kain kebaya baru lagi lengkap dengan makeup dan sanggul.  Setelah selesai, Sri mencium Kiko didepan cermin sambil berkata, “Cantik déh kamu !”. Kiko kembali terangsang. Baru sekali ini isterinya memuji kecantikannya dengan tulus. Ia jadi berpikir jangan-jangan sekarang isterinya sudah tidak dendam lagi kepada perbuatannya di waktu lalu, tapi sudah terbiasa jadi dominan dan menikmati menyiksa suaminya serta sudah tidak berniat lagi untuk menyembuhkan kelainan yang dideritanya.

Setelah itu Kiko dituntun Sri keluar kamar. Tenyata mereka menuju ke halaman. Mereka sudah menyiapkan api unggun dan ditengah-tengahnya ada sebuah pohon. Kiko berpikir, jangan-jangan ia akan diikat di pohon itu dan dikelilingi api. Ternyata memang betul, mereka kemudian mengikat Kiko ke tiang itu dan mulai menyalakan api di sekitarnya. Sesudah itu mereka makan  minum, bernyanyi-nyanyi sambil memandangi Kiko. Sementara Kiko kepanasan ditengah-tengah api dan cemas kalau apinya mengenai tubuhnya. Beberapa diantara mereka termasuk Sri malah memegang kayu yang ujungnya berapi dan menyodor-nyodorkan ke Kiko, hingga Kiko semakin ketakutan.

Kiko 9-2

Kiko 9-3

Menjelang tengah malam, ketika  Kiko semakin dag dig dug, mereka melepaskan Kiko dari pohon dan membawa Kiko ke pinggir. Tapi selanjutnya mereka kembali mengikat tangan dan kaki Kiko. Sesudah itu Kiko mereka gotong dan mereka gantung terbalik di pohon tadi. Kiko jadi samakin takut. Kepalanya yang dibawah merasa panas, karena dekat api. Untungnya api itu padam duluan sebelum mengenai kepala Kiko. Kemudian mereka menurunkan Kiko, tapi mereka tidak membuka ikatan tangan dan kaki serta tali yang mengikat kaki ke pohon diikatkan oleh salah seorang dari mereka kesebuah pohon. Sedangkan kepala Kiko mereka juga ikat dengan tali kesebuah pohon yang lain di seberang pohon itu. Kedua tali itu cukup tegang, sehingga jika Kiko berulah akan menyebabkan kaki dan lehernya terjerat. Dalam keadaan itulah mereka meninggalkan Kiko terbaring di tanah dengan tangan dan  kaki terikat serta kepala dan kaki yang terikat pada pohon yang berseberangan.

Sepanjang malam Kiko tidak bisa memejamkan matanya. Itulah malam kedua Kiko di vila. Sementara yang lain tidur pulas, Kiko malah disiksa. Sesudah kemarin malam ia disuruh tidur dikandang anjing dengan posisi badan yang menekuk,  tangan dan kaki terikat serta kepala dirantai, malam ini ia harus tidur di atas tanah dengan tangan dan kaki terikat serta kepala dan kaki yang terikat ke pohon.  Bergerak sedikit untuk ganti posisi saja cukup sulit dan bisa menyebabkan ikatan tali di kepala serta kakinya jadi menegang. Ia merenungi nasibnya. Kejam nian sekarang isteriku. Apakah ini malam terakhirnya di vila dan besok ia sudah bisa bebas atau besok siksaan-siksaan lain masih menunggunya. Siksaan apa lagi yang akan diterimanya besok ?

Ketika tengah suntuk-suntuknya merenungi nasibnya, tiba-tiba…guug ! guug ! guug !.. É Lhadalah, 2 ekor anjing yang lumayan besar muncul dan mulai mendekati Kiko. Kiko jadi ketakutan setengah mati, mau berteriak ia takut kalau anjingnya jadi agresif dan menggigitnya. Ia bingung, mau berontak tapi tangan dan kaki serta kepalanya terikat. Akhirnya Kiko hanya diam saja sambil merinding ketakutan dan mulutnya ndremimil komat-kamit menggumam, “sluman slumun slamet, sluman slumun slamet, sluman slumun slamet, …. setan ora doyan, demit ora ndulit…. sluman slumun slamet, sluman slumun slamet, sluman slumun slamet…”

Kiko 9-4

Anjing-anjing itu pun mulai mengendus-endusi tubuhnya. Salah satu anjing itu kemudian mengendus senjata Kiko. Senjata Kiko jadi terangsang dan mulai menegang. Anjing itu jadi mulai menyalak-nyalak pada kemaluannya yang ereksi dan menyeringai. Kiko jadi semakin takut jangan-jangan nanti kemaluannya digigit. Sementara anjing yang lainnya mengendus wajahnya.

Sebentar kemudian .. guug ! dan aduh biyung tobat tobil anak kadal !. Duh gusti kulo nyuwun pangapuro. Anjing itu menggigit kemaluan Kiko, Kiko pun secara spontan menyentakkan tubuhnya dan anjing itu pun melepaskan gigitannya. Bersamaan dengan itu bukan hanya kemaluan Kiko yang rasanya sakit bukan main, tapi leher Kiko jadi terjerat tali yang menegang karena tubuh Kiko yang berontak. Kiko merasakan sakit luar biasa pada kemaluannya, tapi bersamaan dengan itu ia juga merasakan kenikmatan yang luar biasa karena kemaluannya yang berkontraksi dengan hebat. Kenyuutt  ! kenyuuttt ! kenyuuuttt ! Kiko berasa diantara surga dan neraka. Untungnya sesudah itu 2 anjing itu kemudian pergi menjauh. Bersamaan dengan itu pula terdengar pula suara gelak tawa dari kejauhan. Ternyata Sri dan teman-temannya mengamat-amatinya dari dalam villa.

Kiko Sujaryanto 8

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya yang berakhir dengan pingsannya Kiko setelah dirinya kecapaian dan digantung serta dipaksa menelan senjata si Macho. Ketika sadar, Kiko mendapati dirinya terbaring di ranjang dengan tangan yang masih terikat. Kiko berpikir dalam hati, kenapa aku masih terikat. Apakah mereka masih belum puas mengerjai aku. Aku sudah bosan dan muak diperbudak mereka.

Sri ternyata sudah menunggu di sampingnya. Dibelainya Kiko sambil berkata dengan halus, “Bangun, yok ! Biar aku bantu kamu salin jarik yang baru”. Ternyata kain Kiko sudah basah terkena air mani. Entah air maninya siapa.  Kiko bangun dari ranjang dan berkata, “Sri, kita pulang saja sekarang. Aku sudah capai ! Badanku sakit semua rasanya”. Sri menjawab, “Baru sehari kok sudah ngajak pulang. Acaranya belum selesai” . Kiko berkata lagi, “Aku mau pakai pakaianku sendiri”. Sri menjawab, “Nggak ! Nggak ada ! Nggak boleh ! Kamu harus pakai kain kebaya ! Kamu kan bintangnya ! Ayo, cepat !”.  Kiko berusaha menawar supaya bisa segera pulang dan berhenti jadi submissive, “Sri, kita konsultasi ke psikiater saja”. Sri menjawab asal-asalan, “Ya, sehabis pulang dari sini kita ke psikiater”. Kiko berkata dalam hati, ya percuma dong kalo gitu. Kiko ogah-ogahan dan hanya duduk di tepi ranjang. Sri jadi marah dan mengancam, “Kamu menolak ? Nggak mau ? Apa perlu kupanggilkan cowok-cowok kamu ?”. Kiko jadi takut dan menurut serta segera berdiri.

Kemudian Sri membuka kancing kebaya, kamisol dan stagen Kiko. Sri lalu membuka kain wiron Kiko  serta celana dalamnya yang basah. Ia bersihkan senjata Kiko. Kemudian Sri memakaikan celana dalam yang baru. Selanjutnya Sri memakaikan kain wiron yang baru dan kelengkapannya berupa stagen serta mengancingkan kembali kamisol dan kebaya Kiko.

Tapi sekarang Kiko sudah tidak bergairah lagi, ia malah merasa risih dan jijik dengan dandanannya sendiri. Suatu perasaan yang selalu menghinggapi Kiko begitu melewati puncak kenikmatan. Tidak itu saja, ia sekarang juga kawatir kalau-kalau ia akan dipaksa melakukan oral lagi. Ia paling tidak senang dengan itu. Belum lagi badannya sudah payah dan capai.

Untung bagi Kiko, acara selanjutnya mereka hanya pergi ke luar vila. Jalan-jalan sambil cuci mata dan shoping. Tapi walaupun bagaimana Kiko masih tidak terbiasa cding diluar dan dilihat oleh orang banyak. Ia masih dag dig dug. Tangan dan kakinya dingin.  Kiko curi-curi pandang jelalatan melihat ke sekelilingnya. Ia tahu kalau ia bakal menarik perhatian orang banyak. Karena pakaiannya yang paling berbeda di antara teman-teman serombongannya. Kain kebaya, sementara teman-teman cewek dan cowoknya semuanya pakai rok atau celana.

Kiko diapit oleh 2 cowok. Tangannya masih  diikat ke belakang dan ditutup selendang panjang. Sebentar kemudian Kiko sudah mulai bisa menikmati keadaannya dan kembali mulai bergairah. Senjatanya pun mulai menegang. Sedang enak-enaknya ia menikmati keadaannya yang romantis dan diapit oleh 2 cowok sambil merasakan ketegangan senjatanya, Sri mulai mengerjainya dengan menyerahkan belanjaannya ke tangan Kiko. Maka Kiko pun harus menjinjing belanjaan isterinya dengan posisi tangan yang terikat dibelakang punggung. Setelah itu isterinya masih lagi menambahi belanjaan yang harus dibawa Kiko. Karena tangan Kiko sudah penuh dengan tas belanjaan Sri, maka Sri menyelempitkan belanjaannya di ketiak kiri dan kanan Kiko. Sementara teman-temannya malah mentertawakannya.

Kiko 8-1

Setelah capai dan sudah lewat tengah hari,  mereka pun makan siang. Tapi sial bagi Kiko, kali ini tidak ada yang memberinya makan atau minum. Sementara rombongannya makan-makan dan minum-minum, Kiko hanya bisa duduk sambil menundukkan kepalanya dengan tangan terikat dibelakang dan tertutup selendang panjang sehingga tidak kelihatan terikat. Kiko duduk di emper rumah makan. Ia tersiksa, malu, deg-degan, panas dingin. Tapi sekaligus menikmati siksaan itu. Ia jadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang. Hampir setiap orang yang melewatinya selalu memandanginya. Jika yang lewat dua orang atau lebih, maka mereka saling berbisik. Ada juga beberapa orang yang lewat mengejek, “Banci !”. Kiko hanya menunduk diam, tapi diam-diam Kiko terangsang dan senjatanya menyembul.

Sementara itu dari tempat mereka  makan yang tidak jauh dari tempat Kiko duduk, rombongan Sri ternyata mengamat-amati segala tindak tanduk Kiko. Mereka bahkan merekam.  Sri segera tahu kalau senjata Kiko menegang. Setelah menunggu sejenak dan tidak ada orang yang lewat, Sri menghampiri Kiko dan dibetotnya senjata Kiko sambil berbisik, “Enak ya, mejeng di depan umum pakai kain kebaya. Nikmat ? Rasanya feminin banget ya ? Gimana kalo kupotong burung kamu, biar  jadi wanita betulan sekalian”. Sri semakin memperkeras betotannya. Kiko pun kejet-kejet. Tapi karena kuatir kalau ada orang lewat,  sebentar kemudian Sri melepaskannya setelah terlebih dahulu dipukulnya senjata Kiko dengan tangan. Serta merta Kiko jadi njenggirat, bangkit dari duduknya, kerena merasakan sakit di senjatanya. Senjatanya jadi berkontraksi dan semakin mbekér-mbekér berontak menegang bergetar-getar. Nyuut ! Nyuut ! Nyuut ! Kiko merasakan senjatanya mbekér-mbekér berkontraksi, denyutannya terasa sampai ke ubun-ubun.  Kiko pun merasakan  kenikmatan yang luar biasa hingga ia mengeluarkan lenguhan yang ditahan. Sri yang melihat hal ini jadi geleng-geleng kepala dan ditinggalkannya Kiko. Kiko yang melihat senjatanya berdiri hampir 90 derajat berusaha menyembunyikannya dengan jalan membungkuk. Melihat Kiko yang kewalahan menyembunyikan senjatanya, Sri malah tertawa-tawa.

Kiko 8-2

Setelah para peserta rombongan selesai makan dan minum, mereka pun pergi dari rumah makan tersebut. Beruntung bagi Kiko, karena mereka membungkuskan makanan dan minuman untuk Kiko. Tapi perut Kiko sudah terlanjur sakit terlebih dulu,  karena terlambat diisi makanan dan berulah.  Kiko tidak kuasa menahan rasa sakit diperut dan ia mengeluarkan angin yang berbau tidak sedap.  Padahal mobil yang ditumpangi ber AC dan tertutup rapat, maka gegerlah seluruh penumpang. Sri terlebih dulu berani terang-terangan menuduh Kiko. Katanya, “Kamu kentut ya ?” sambil dijewernya telinga Kiko. Kiko diam saja, maka yang lain menyimpulkan kalau Kiko kentut. Sehingga mereka semua keluar dari mobil meninggalkan Kiko yang masih terikat. Kiko jadi tersiksa, karena harus menghirup bau kentutnya sendiri di dalam mobil yang tertutup. Mau menutup hidung dengan tangannya tidak bisa, karena tangannya masih terikat di belakang. Keadaan ini berlangsung agak lama. Baru kemudian salah seorang dari mereka sadar dan membuka semua jendela mobil.  Sementara Kiko sudah megap-megap sesak nafas hampir pingsan.  Sesudah gas beracun itu menghilang, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka melepaskan ikatan tangan Kiko dan membiarkan Kiko makan dan minum. Kiko berharap semoga ini akhir dari petualangannya.

Tapi pemikiran Kiko ternyata meleset. Mereka bukannya pulang ke vila. Tapi pergi ke sebuah tempat pelatihan kecantikan yang lebih diutamakan untuk para waria. Ternyata ini adalah ide dari Domina, ia meminta tolong Sumi yang punya kenalan melatih di tempat itu. Begitu sampai ditempat itu, Kiko jadi ketakutan. Ia kembali jadi panas dingin tangan dan kakinya.  Sementara Sri malah berkata, “Nah, sekarang kita sudah sampai di tempat kamu berlatih keluwesan. Tuh, liat ! Banyak kan temen-temen kamu”. Kiko jadi merinding. Ia jadi ingat peristiwa kemarin sewaktu dirubung waria. Tapi untung bagi Kiko, karena para waria disini sopan-sopan.

Setelah memarkir mobil, mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung. Sekalipun tempat itu banyak warianya, tetap saja Kiko menarik perhatian orang banyak. Karena lagi-lagi ternyata cuma dia seorang yang memakai kain kebaya tradisional lengkap dengan sanggulnya. Sementara para waria lain semuanya memakai kebaya modern yang sudah dimodifikasi dengan bawahan jarik yang sudah dibuat rok dan cukup longgar di bagian bawahnya. Domina segera memperkenalkan Kiko kepada Sumi yang sudah terlebih dulu ada di situ.  Sumi juga memakai kain kebaya lengkap dengan sanggulnya. Begitu melihat Sumi yang cantik dan memakai kain kebaya, maka Kiko pun terangsang dan senjatanya mulai menegang. Kiko berusaha mati-matian menahan supaya senjatanya tidak terlalu menegang.  Sumi yang melihat jadi tersenyum geli. Ternyata tidak cuma aku saja yang memakai kain kebaya tradisional, kata Kiko dalam hati. Dan Sumi melanjutkan memperkenalkan Kiko kepada orang-orang yang ada di situ. Kemudian Kiko didudukkan di depan meja rias dan dirias ulang oleh Sumi. Sesudah itu Sumi mengajarkan tata cara mengenakan busana nasional kepada para peserta dan Kiko kembali menjadi model dadakan. Sumi juga mengajarkan cara berjalan yang anggun waktu memakai kain kebaya.

Setelah selesai, sampailah pada momen yang ditunggu-tunggu oleh para anggota rombongan Sri. Para peserta harus berjalan berlenggang lenggok di atas panggung. Perasaan Kiko campur aduk antara malu, cemas, takut, panas dingin, gemetar dan senang, bergairah serta menikmati. Ia berharap semoga isterinya tidak mengetahui kalau sebenarnya ia malah menkimati siksaan yang diberikan oleh Sri. Kiko melihat kepada seluruh peserta yang lain ternyata memang betul tidak ada yang memakai kain kebaya tradisional selain dirinya. Mereka yang lain semuanya memakai kebaya modern dengan bawahan yang longgar-longgar.  Enak saja mereka, langkahnya bisa lebar-lebar. Tidak kesrimpet-srimpet kayak aku, begitu pikir Kiko. Tapi aku tidak tertarik kalau disuruh pakai kayak gitu. Tidak ada tantangannya.  Kiko pun berusaha mati-matian meniru gaya yang telah diajarkan Sumi.

Sri yang melihat Kiko jadi berpikir boleh juga gaya Kiko berjalan dengan memakai kain kebaya. Pantas memang seperti seorang wanita, paling tidak seperti waria profesional. Lantas apakah Kiko akan kapok melakukan hal ini atau jangan-jangan malah jadi semakin menikmati dan menghayati. Pikiran Sri jadi galau. Sedang galau-galaunya pikiran Sri, tiba-tiba …. gabrruuukkk !!! Ternyata Kiko jatuh diatas panggung waktu berlenggang-lenggok. Entah kenapa. Mungkin kesrimpet jariknya atau lantaran keseleo sandal hak tingginya. Para penonton pun jadi riuh rendah mentertawakan Kiko. Diantara mereka ada yang berteriak, “Dasar udik ! Hari gini masih pakai jarik, rasain sekarang kesrimpet jarik !”