Master Chef Indonesia 2013 : 25 Mei Lius tidak lulus

Tantangan pertama pada episode ini merupakan offsite challenge dimana para kontestan harus memasak hidangan barbeque bagi Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta. 3 terbaik di tantangan episode sebelumnya yaitu Melitta, Lius dan Nurul menjadi kapten dari ketiga regu yang dibentuk. Melitta sebagai pemenang di tantangan sebelumnya berhak memilih terlebih dulu jenis menu dan para anggotanya. Melitta memilih warna biru dengan menu American barbeque. Kemudian ia boleh memilih Lius atau Nurul yang terlebih dulu memilih menu. Melitta memilih Nurul. Nurul memilih warna kuning dengan menu Oriental barbeque. Sehingga Lius harus memilih warna terakhir yaitu merah dengan menu Indonesian barbeque.

Setelah selesai, para anggota jangkar pemadam kebakaran memberikan suara dengan jalan meletakkan topinya di tim yang bersangkutan. Ternyata yang menang adalah tim kuning. Tim kuning sebagai pemenang berhak tidak untuk di tantangan selanjutnya dan menentukan siapa harus memasak makanan mana pada tantangan berikutnya serta makan malam di Cook Shop. Tim biru dinilai gagal karena dagingnya masih mentah dan mesh potatonya terlalu hancur. Sedangkan tim merah sayur pecelnya tidak ada rasanya dan mendoannya kurang asin.

Tantangan kedua adalah one core ingredient dengan bahan utama cabai. Disediakan 4 macam cabai yaitu : Jalapeno dengan tingkat kepedasan ringan, dried chilli dengan tingkat kepedasan sedang, cabai kotokan  dengan tingkat kepedasan sangat pedas dan cabai hiyung dengan tingkat kepedasan lebih pedas lagi. Pressure pointnya hidangan tidak boleh terlalu pedas. Waktu yang disediakan adalah 60 menit.

Setelah selesai, tiap 2 kontestan dari jenis hidangan yang sama maju untuk dicicipi.

  • Angella : ayam woku jalapeno
  • Setyono : daun singkong gulung udang jalapeno
  • Patty : pasta seafood oriental dried chilli
  • Revaldi : dumping isi ayam dried chilli
  • Ray : tempura Indonesia cabai kotokan
  • Mimi : sup seafood asam pedas cabai kotokan
  • Melitta : spicy seafood risotto cabai hiyung
  • Lius : mie bumbu kuning pedas cabai hiyung

Pemenangnya adalah Angella berhak untuk makan malam bersama tim kuning di Cook Shop. Sedangkan Setyono, Ray, Patty dan Lius harus masuk ke pressure test.

Pressure test kali ini adalah membuat Crepe with mixed berries flambe and mascarpone dalam waktu 30 menit. Tantangannya adalah membuat duplikasi, sehingga rasa dan presentase harus sama. Setiap kontestan mendapat kesempatan 1 shot untuk membuat flambe didepan juri.

Setelah selesai, Ray dan Patty berhasil membuat flambe. Sedangkan Lius dan Setyono gagal membuat flambe dan harus tereliminasi.

Dengan demikian Lius yang sebelumnya menjadi inspirasi bagi dewan juri dan semua kontestan harus terhenti langkahnya. Semoga dengan tereliminasinya sumber inspirasi, kompetisi ini masih bisa menciptakan inspirasi-inspirasi baru lainnya.

tailor-made

Jaman sekarang memang serba praktis. Semua orang mintanya serba cepat,  serba instan. Kalau mie namanya mie instan. Tidak cuma mie saja, spagethi sekarang juga sudah ada yang instan. Demikian  juga dengan bumbu.

Pakaian pun sekarang sudah ada yang dibuat versi instannya. Maksud saya adalah kain batik yang biasa digunakan sebagai bawahan dari kebaya kalau menurut pakem aslinya sebelum mengalami modifikasi dan modernisasi. Kain batik yang sebelah ujung luarnya di lipat-lipat seperti kipas atau diwiru.

Sekarang atau tepatnya sudah bertahun-tahun bahkan mungkin sudah lebih  dari 1 dasawarsa, kain batik sudah bisa dijahit menjadi seperti rok bahkan depannya juga diwiru. Sehingga pemakaiannya jadi praktis. Tinggal dipakai seperti rok, dimasukkan dari bawah. Jadi si pemakai tidak usah repot-repot menyilangkan kedua kaki atau merapatkan kedua kaki atau memajukan sedikit salah satu kakinya untuk mulai memakai kain batik. Kedua tangan pun tidak usah repot-repot memegangi ujung kain dan memutar kain batik mengelilingi pinggang  sambil menarik-narik dengan kuat atau menggeser-geser bila ujung luar kain jatuhnya tidak pas ditengah agak ke kanan sedikit. Belum lagi masih perlu mengikat kencang-kencang pinggang dengan tali supaya kain tidak melorot.

Semua hal diatas tidak perlu dilakukan bila kain batik sudah dijahit menjadi rok atau sarimbit. Cukup dimasukkan dari bawah. Waktu yang diperlukan untuk memakai otomatis jadi lebih singkat.

Kain batik yang dijahit menjadi rok pun macamnya ada banyak lebih dari satu. Ada yang sama sekali tidak dipotong, sehingga paling mirip dengan kain wiron asli yang masih lembaran. Ada yang dipotong dan dijahit disamping-sampingnya dengan demikian jika diamat-amati dari sisi-sisinya akan kelihatan kalau sudah dijahit. Ada pula yang wironnya tidak bisa membuka sampai ke atas, sehingga bila berjalan akan ketahuan kalau kainnya sudah dijahit. Bahkan ada pula yang bagian wiron sebelah bawah sengaja diberi bukaan dengan maksud untuk memudahkan si pemakai melangkah lebih lebar. Atau malah lebih ekstrim lagi dibuat rok yang melebar ke bawah atau pun yang sampai model duyung.

Kain batik yang sudah dijahit dari segi waktu pemakaian memang akan lebih hemat. Demikian juga sesudah dicuci, kita tidak perlu mewirunya lagi. Tapi dari segi ekonomi otomatis memerlukan biaya untuk menjahitkan. Dan logikanya, sesuatu yang dijahit akan bisa robek atau lepas jahitannya. Demikian juga dengan kain batik yang sudah dijahit. Jadi lebih awet jika masih berupa kain batik lembaran.

Rupanya kecenderungan untuk serba praktis tidak hanya terjadi pada orang awam kebanyakan yang sebenarnya tidak senang memakai kain kebaya tapi terpaksa memakai kain wiron untuk acara tertentu. Penyanyi-penyanyi campursari yang nyambi jadi pesinden pun sebagian memilih memakai kain batik yang sudah dijahit untuk bawahan kebayanya pada waktu pentas. Terutama untuk generasi yang masih muda.

Lucunya ada seorang pesinden yang biasa menjahitkan kain batiknya dengan model dipotong sisi-sisinya mengeluh kain jariknya ( yang sudah dijahit ) jadi mudah rusak atau robek dan minta alamat dari penjahit yang bisa menjahitkan kain batik tanpa memotongnya sama sekali. Saya pun memberi komentar begini, apa tidak lebih baik dibiarkan berupa kain batik lembaran saja. Jadi bisa awet lebih lama. Cuma kalau habis dicuci langsung di wiru. Memakainya tinggal di putar ke sekeliling pinggang kita ( walaupun pada kenyataannya lebih sulit ). Sekalian belajar ngadi salira ngadi busono.

Jadilah pemenang di setiap tantangan

Itu adalah kalimat khas yang sering diucapkan oleh chef Juna sewaktu masih jadi juri di Master Chef Indonesia season sebelumnya. Tapi begitu dia sudah mengundurkan diri dan tidak menjadi juri lagi, maka kalimat itu juga ikut menghilang dan tidak pernah terdengar lagi sampai episode terakhir yang sudah ditayangkan.

Rupanya kalimat itu  sudah menjadi ciri khas dari Juna dan bukan ciri khas dari Master Chef Indonesia ataupun juri-juri lainnya. Sehingga juri-juri lainnya yaitu chef Arnold, Degan dan Marinka tidak pernah atau belum pernah mengucapkan kalimat itu.  Mungkin karena kalimat itu masih menjadi hak milik pribadi Juna dan belum menjadi milik umum seperti “maknyus” yang juga pernah diucapkan oleh Marinka dan Arnold walaupun diluar acara ini. Atau mereka yang enggan atau gengsi menggunakan kalimat itu.

Tapi mungkin kalau menurut fans beratnya Juna bisa jadi karena memang sudah sesuai dengan keadaannya sekarang. Artinya kompetisi Master Chef Indonesia sekarang ini sudah tidak menantang seperti dulu lagi, sehingga kita tidak perlu lagi untuk menjadi pemenang di setiap tantangan. Kalau ibarat cerita kurang greget. Ibarat sayur, kurang bumbu, kurang garam dan kurang pedas. Karena kalimat itulah yang mendorong dan memacu setiap kontestan untuk selalu berusaha menjadi pemenang di setiap tantangn. Dan karena sudah tidak ada lagi kata-kata pedas dari sang juri yang terkenal paling galak dan arogan, maka kompetisi jadi lempeng-lempeng saja. Juri-juri yang ada sekarang kelihatan lebih sopan walaupun tegas.

Sebaliknya mungkin menurut yang kurang senang dengan gaya Juna bisa jadi lain.  Kalimat “Jadilah pemenang di setiap tantangan” mungkin masih belum diberi ijin oleh yang bersangkutan untuk digunakan di acara ini. Dan acara inipun masih sama menantangnya dengan season sebelumnya, bahkan mungkin lebih menantang. Karena adanya peraturan yang mengatakan kalau eliminasi tidak hanya bisa terjadi di pressure test, tapi bisa terjadi kalau kontestan gagal menyelesaikan tugas yang diberikan di suatu tantangan. Bahkan juri pernah mengatakan kalau peraturannya bisa berubah setiap saat. Kalau ini, bisa disebut terlalu dinamis atau malah plin-plan dan tidak tegas ?

Botanical Garden, Bogor (1969)

Reblogged from World Postcards Collections:

Click to visit the original post

Botanical Garden, Bogor West Java. (Copyright PT. Gunung Agung, 1969)

Kebon Raya Bogor, Jawa Barat. (Dicetak oleh PT.Gunung Agung, 1969)

Foto yang sangat klasik ! Dua wanita yang bersanggul dan memakai kebaya kutu baru, kain batik wiron dengan selendang yang tersampir dipundak dan sebelah tangan mereka menjinjing tas. Seperti mengatakan kepada kita kalau jaman dulu kain kebaya tidak cuma sekedar dipakai karena terpaksa untuk upacara tertentu yang tidak bisa dihindari. Tapi juga merupakan pakaian untuk bepergian, tamasya atau piknik. Sayang, sekarang kebaya dengan kain batik asli yang masih lembaran semakin jarang dipakai oleh para wanita Indonesia

Master Chef Indonesia 2013 : 19 Mei family matters

Mulai episode ini para kontestan sudah mulai memasuki gallery master chef. Para kontestan pun disambut dengan acara pengalungan apron oleh para juri.

Tantangan pertama episode ini adalah mystery box dimana box berisi petunjuk mengenai apa yang harus dimasak berupa foto terakhir keluarga dan surat dari keluarga. Ternyata kontestan disuruh memasak hidangan favorit keluarga yang memorable dalam waktu 60 menit. Dengan maksud untuk menunjukkan rasa cinta kepada keluarga.

Hasilnya 3 peserta dengan masakan yang enak adalah :

  1. Patty : ayam goreng bumbu
  2. Rissa : kare hitam kentang kuncang
  3. Brian : terik putih Solo

Pemenangnya adalah  Brian.

Brian sebagai pemenang tidak perlu ikut di tantangan berikutnya dan berhak menentukan kontestan siapa yang harus memasak hidangan yang mana pada tantangan kedua.

Tantangan kedua ternyata merupakan resep keluarga dari para juri.

  1. Chef Degan : daging empal suwir sambal matah dengan tingkat kesulitan paling tinggi
  2. Chef Marinka : sambal goreng udang belimbing wuluh dengan tingkat kesulitan sedang
  3. Chef Arnold : steam kakap putih Chinese style dengan tingkat kesulitan rendah

Waktu yang disediakan adalah 70 menit.

Hasilnya 3 orang harus masuk ke pressure test.

  1. Ernest yang memasak signature dish chef Arnold
  2. Rani yang memasak signature dish chef Marinka
  3. Setyono yang memasak signature dish chef Degan

Sedangkan 3 orang yang hidangannya paling enak adalah :

  1. Nurul yang memasak signature dish chef Arnold
  2. Lius yang memasak signature dish chef Marinka
  3. Melitta yang memasak signature dish chef Degan

Sedangkan pemenangnya adalah Melitta.

Pressure test untuk episode ini adalah membuat hidangan pan seared ekor kuning fish, nasi kuning Manado, sayur bunga pepaya dan sambal dabu-dabu sebanyak 4 porsi dalam waktu 60 menit.

Rani yang sangat lambat dalam pengerjaannya ternyata bisa menyelesaikan tantangan ini. Sebaliknya Setyono yang oleh chef Arnold dikomentari kerjanya sangat cepat, hasil akhirnya malah amburadul. Sedangkan yang tragis adalah Ernest yang kerjanya tenang dan meyakinkan serta kebetulan orang Manado, ternyata ikannya tidak matang dan menyebabkan ia tereliminasi.