Kiko Sujaryanto 4

Ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya yang berakhir dengan diikatnya kaki dan tangan Kiko oleh Sri serta dipukulinya Kiko sebelum ditinggal tidur. Dalam hati, Sri berkata, “Biar kapok !” dan berpikir bahwa suaminya akan jera. Tapi Sri tidak mengetahui apa yang ada dalam hati dan pikiran Kiko. Selain malu, tidak berdaya, tertekan, tersiksa, kesakitan  dan teraniaya, rupanya Kiko juga bisa merasakan kepasrahan dan kesenangan,

Keesokan harinya, Sri membuka ikatan tangan dan kaki Kiko. Sri tidak menyesali perbuatannya ataupun meminta maaf kepada suaminya. Begitu juga dengan Kiko.

Setelah peristiwa itu, Kiko merasakan keanehan dalam dirinya. Ia sering kali terkenang akan peristiwa itu. Tapi bukannya malu, penyesalan, kapok   atau tersiksa yang memenuhi pikirannya. Melainkan rasa tidak berdaya, pasrah yang akhirnya menimbulkan rasa senang dan bahagia. Ia berpikir, betapa anehnya diriku. Dipermalukan, dikerjai, dibentak, diperintah, dipaksa dan  diikat serta dipukuli bukannya tmbul rasa marah lalu melawan. Tapi malah menurut, pasrah dan senang. Apakah begini juga perasaan isteriku dulu waktu aku kasari ? Tapi mengapa ia jera dan tidak mau lagi melakukannyai ? Jangan-jangan aku mengalami kelainan jiwa. Aku memang masih senang melihat wanita-wanita cantik. Apalagi yang berkain kebaya, tapi nafsuku lebih besar kalau yang memakai kain kebaya itu aku sendiri dan kemudian disiksa oleh isteriku.

Lalu apakah yang akan diperbuat isteriku jika ia mendapati aku memakai kain kebayanya lagi ? Apakah ia akan menyiksaku dengan lebih kejam lagi ? Atau ia akan menceritakan kelainanku pada setiap orang yang dikenalnya ? Atau ia akan mengusirku dari rumah ?

Kemungkinan pertama, Sri akan menyiksaku dengan lebih kejam lagi. Kiko mulai menganalisa tiap kemungkinan yang ada.  Inilah yang aku nantikan, bagaimana rasanya jika aku disiksa dengan kejam oleh isteriku setelah terlebih dulu ia mendandaniku habis-habisen seperti yang dilakukannya dulu. Didandani dengan kain kebaya yang ketat dan singset. Alangkah nikmatnya.

Kemungkinan kedua, Sri menceritakan kelainanku pada setiap orang dikenalnya. Semoga bukan ini yang akan Sri lakukan. Lagi pula dengan menceritakan kelainanku pada orang lain, bukankah ia juga membuka aib rumah tangganya sendiri. Kemungkinan ini sangat kecil dilambil oleh Sri.

Kemungkinan ketiga, Sri mengusirku dari rumah. Kalau memang ini yang akan ia lakukan, aku bisa mulai lagi dari awal. Lagi pula hal ini pernah ia lakukan,  tapi kemudian ia menerimaku lagi di rumah.  Apa lagi kami sudah mempunyai momongan. Jadi kemungkinan paling besar yang akan ia lakukan adalah Sri akan menyiksaku dengan lebih kejam lagi.

Memikirkan kemungkinan paling besar yang akan diterimanya dari Sri yaitu ia akan disiksa dengan lebih kejam , Kiko jadi malah penasaran dan nafsunya terpacu.  Tapi dalam hati kecilnya ia berkata, mengapa aku malah suka jadi banci dan diperlakukan semena-mena oleh isteriku ? Dimana kejantananku dulu ? Kejantananku hanya sebatas senjata yang masih bisa dikokang. Mengapa aku sudah tidak nafsu lagi pada isteriku sendiri ?

Masa bodoh dengan kemungkinan ia menceritakan kelainanku pada orang lain. Masa bodoh kalau ia akan mengusirku dari rumah. Yang penting aku bisa menemukan hasrat dan gairahku lagi walaupun dengan cara yang aneh.  Lalu mulailah Kiko merencanakan perangkap supaya isterinya bisa marah dan semakin sadis menyiksa dirinya. Malang-malang putung rawé-rawé rantas. Begitulah akhirnya Kiko sudah sampai pada kebulatan tekadnya. Kalau tidak ada wanita yang mau berkain kebaya dan disiksa, maka biarlah aku menjadi wanita itu dan disiksa oleh isteriku sendiri. Biarlah ia puas memaki aku dan mengasari aku. Biarlah ia mengatakan aku banci, aku bencong. Yang penting aku bukan banci atau bencong. Entah nanti kalau keterusan.

Lagi pula kalau isteriku bisa melampiaskan nafsu dan kemarahannya kepadaku. Syukur-syukur kalau ia bisa lebih berbahagia. Semakin gila Kiko membenarkan jalan pikirannya sendiri dengan alasan lebih membahagiakan isterinya,  maka semakin bersemangatlah Kiko.  Tapi Kiko berusaha berhati-hati agar isterinya tidak tahu kalau ini semuanya adalah perangkap.

Setelah lama Kiko menunggu-nunggu.  Kesempatan itu datanglah, Sri kembali harus ke luar kota untuk beberapa hari. Kiko segera mengatur siasat. Pada hari kedua, Kiko sengaja menyampaikan kebohongan kepada ibunya atau mertua Sri yang berkesan supaya Sri segera pulang. Sri yang rikuh terhadap mertuanya segera menuruti perkataan mertuanya.

Sementara itu Kiko dirumah kembali beraksi memakai kain kebaya isterinya lengkap dengan stagen, bra, sandal jinjit dan selendang serta ia tidak ketinggalan  juga merias wajahnya dengan peralatan make up Sri. Sebelum itu ia terlebih dahulu memutar langgam Jawa, supaya lebih nyamleng. Kiko  sengaja memutarnya dengan cukup keras. Supaya ia tidak mendengar kalau sewaktu-waktu isterinya pulang, sehingga Sri bisa memergokinya. Karena memang itulah yang diharapkan Kiko.  Setelah selesai berdandan, ia bercermin dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ada yang kurang, pikir Kiko. Rambutku belum bersanggul. Maka ia segera menguncir rambutnya dengan karet dan mengambil sanggul isterinya serta jepitan rambut yang cukup banyak. Kiko lalu mulai berusaha menjepit sanggul itu ke rambutnya, tapi ternyata cukup sulit dan tidak bisa. Berulang-ulang Kiko berusaha menjepit sanggul itu ke rambutnya. Tapi hasilnya tidak rapi dan sangat kendor serta mudah lepas.

Disaat itulah Sri masuk dan memergoki Kiko. Muka Sri merah padam menahan amarah. Kiko diam mematung dan menghentikan menjepit konde ke rambutnya. Kedua tangan Kiko masih memegang konde. Dalam hatinya, Kiko berkata pucuk dicinta ulam tiba. Dag dig dug hati Kiko menantikan reaksi Sri. Tapi rupanya Sri berhasil menahan amarahnya, hingga ia bisa berkata dengan lembut, “Yaang, kamu belum bisa masang sanggul ya ? Sini aku bantu”. Direbutnya konde yang ditangan Kiko dan ia membalikkan badan Kiko serta memasang konde ke rambut Kiko. Sesudah itu ia berkata, “Kamu sudah cantik kok. Sekarang kamu keluarin semua pakaian kamu yang ada di lemari. Masukkan ke dalam koper. Kamu sudah tidak memerlukannya lagi kan ?”. Kiko bingung mendengar perkataan isterinya. Kiko berpikir jangan-jangan semua pakaiannya akan disita isterinya dan ia tidak boleh memakainya lagi.  Sama seperti yang dilakukan ibunya terhadap Sri dulu. Tapi pikiran jernih dan akal sehatnya telah tertutup oleh nafsu gilanya.  Maka Kiko menuruti kemauan isterinya. Kiko malah membayangkan betapa nikmatnya dalam beberapa hari dipaksa memakai kain kebaya.

Begitulah semua pakaian Kiko dimasukkan kedalam koper-koper. Sri juga ikut membantunya, hingga yang tersisa hanya celana dalam. Sesudah itu hal yang tidak disangka oleh Kiko terjadilah. Sri berkata, “Sekarang kamu jadi ibu rumah tangga yang baik. Momong bayi kita”. Lalu Sri memasukkan koper-koper itu ke bagasi mobil  dan ia masuk ke dalam mobil sambil berkata, “Selamat tinggal !”. Kiko pun jadi melongo. Ia tidak mengira akan ditinggal isterinya dan disuruh momong bayi mereka.

Lenyap sudah semua fantasy dan kesenangan Kiko. Ia jadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, karena ditinggal isterinya den disuruh momong bayi mereka. Belum lagi semua pakaian-pakaiannya disita. Segala angan-angan akan nikmatnya memakai kain kebaya lenyaplah sudah. Ia kini jadi bingung bagaimana caranya ia keluar rumah kalau yang ditinggalkan isterinya hanya celana dalam ?

Kiko Sujaryanto 3

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya dimana Kiko tiba dirumah dan Sri berhasil menangkap basah suaminya mencuri pakaian-pakaiannya serta berakhir dengan pengusiran Kiko dari rumah oleh isterinya. Kiko pun pergi dengan gontai ke sebuah penginapan.

Esok harinya Kiko  berulang kali berusaha menelpon isterinya dari penginapan itu. Setelah berulang kali sebelum sempat bicara, Sri selalu menutup telpon, akhirnya Sri mau mendengarkan ia meminta maaf dan memohon supaya isterinya memperbolehkan pulang. Tapi Sri tidak menjawab dan menutup telpon suaminya. Hal itu diulangi Kiko  keesokan harinya dan Sri masih tetap menutup telpon tanpa menjawab.

Hari ketiga Kiko mengulangi lagi menelpon isterinya. Waktu itu Sri masih momong bayinya ketika menerima telpon suaminya. Hatinya jadi melunak, hingga akhirnya ia memperbolehkan suaminya pulang ke rumah. Legalah hati Kiko.

Ternyata sesudah pulang ke rumah, hubungan mereka tetap renggang dan dingin. Sri masih memandang rendah Kiko. Apalagi usaha dan penghasilan Sri sekarang makin maju dan berkembang, sementara usaha Kiko mengalami kemunduran dan penghasilan Kiko kalah dibandingkan dengan penghasilan Sri. Tapi Kiko sekarang jadi agak cuek. Kiko pun masih secara sembunyi-sembunyi melihat bahkan mengkoleksi foto-foto wanita berkain kebaya.

Satu hal yang tidak disadari Sri dan tidak ditegaskannya sewaktu memperbolehkan suaminya pulang adalah ia tidak dengan tegas melarang suaminya memakai pakaian kain kebaya lagi.  Dan itulah yang terjadi kemudian.

Waktu itu Sri berencana melakukan perjalanan keluar kota, karena terpaksa mengurusi pekerjaannya. Dan itulah yang ditunggu-tunggu oleh Kiko. Pucuk dicinta ulam tiba. Kiko pun kembali ingin melampiaskan nafsunya, tapi di sisi yang lain dalam hati Kiko masih ada trauma kepergok oleh isterinya. Timbullah gejolak dalam  pikirannya. Hati nuraninya berkata bahwa ia harus melupakan hal itu, karena faktor kemungkinan kepergok oleh isterinya, tapi nafsunya berkata lain dan mendesaknya untuk kembali melakukan hal itu mumpung isterinya keluar kota.  Apalagi perjalanan yang ditempuh cukup jauh sehingga harus menginap. Begitulah timbul pertengkaran batin didalam diri Kiko.

Hingga hari H nya tiba, pikiran Kiko pun masih bergejolak. Setelah Sri pergi pun , Kiko masih harus berusaha menahan hawa nafsunya beberepa lama demi untuk memastikan Sri telah pergi jauh sampai ke luar kota. Hingga malamnya Kiko bermaksud untuk melaksanakan hajatnya. Tapi sekali lagi, Kiko mengurungkan niatnya dan menundanya sampai besok pagi untuk memastikan isterinya tidak pulang dan menginap.

Baru pada keesokan harinya, Kiko tidak dapat menahan nafsunya lagi. Ia dengan panas dingin dan gemetaran menelanjangi dirinya sendiri hingga tinggal memakai celana dalam. Kemudian ia membuka lemari tempat kebaya dan kain batik isterinya disimpan. Syukurlah ternyata pintu lemarinya tidak dikunci dan kebaya serta kain batiknya juga masih ditempatnya yang dulu.  Ia mulai mengambil selembar kain batik dan dililitkannya di kakinya. Setelah itu ia mengambil stagen dan memakainya. Kemudian ia memilih-milih kebaya yang akan dipakainya. Terakhir ia menyampirkan selendang dipundaknya dan mulai bercermin sambil berputar-putar dan berlenggang lenggok.

Tidak puas dengan itu, ia memutar lagu langgam Jawa dengan maksud supaya ia bisa semakin menghayati dalam berpakaian kain kebaya. Kiko pun puas dan senang dalam hatinya. Ia ikut bersenandung dengan lirih mengikuti langgam Jawa itu.  Tidak itu saja ia juga menari Jawa menirukan penari wanita.

Ketika sedang ditengah-tengah puncak kenikmatannya itulah suatu hal yang hampir mustahil di dalam pikiran Kiko terjadi. Isterinya mendadak pulang ke rumah dan ia tidak mendengar suara mobil ataupun pintu dibuka, karena alunan langgam Jawa yang diputar. Pintu memang dikunci, tapi Sri juga membawa kunci cadangan. Malapetaka besar kembali menimpa Kiko.

Isterinya berkacak pinggang begitu masuk ke kamar dimana Kiko berada. Dimatikannya langgam Jawa itu. Sri kemudian bertepuk tangan dan berkata, “Bagus ! bagus ! narinya”. Kemudian Sri membuka dompet dan mengambil uang serta menyisipkannya ke balik kebaya Kiko. Kiko jadi gelagapan, tapi tak lama kemudian Kiko bisa menguasai diri dan mulai melepaskan pakaiannya. Sri pun berkata, “Dasar tidak tahu malu,  bencong ! bencong ! Sekali bencong tetap bencong !”.

Kiko sudah melepaskan semua pakaian isterinya hingga tinggal memakai celana dalam dan bermaksud memakai kembali pakaian Kiko sendiri. Ketika Sri mencegahnya dan merebut celana pendek serta kaos Kiko dari tangan Kiko. Sri berkata, “Éh ! Jangan pakai ini . Kok tanggung banget sih kamu”. Kiko diam dan mengurungkan niatnya memakai pakaiannya sendiri. Sri kemudian membuka lemari dan apa yang dilihat Kiko membuatnya kaget.

Sri mengambil selembar kain batik yang sudah diwiru dan berkata kepada Kiko, “Sini kamu ! Kalau mau pakai kain kebaya yang bener dong ! Ayo, kakinya merapat !”, Dalam keadaan kaget dan bingung, tapi terbersit sedikit kesenangan ia mematuhi perkataan isterinya. Sri pun kemudian mulai melilitkan kain batik itu dengan rapat dan kuat ke kaki Kiko. Habis itu, Sri mengambil seutas tali dan mengikatkannya dengan kencang ke pinggang Kiko. Kiko mengaduh dalam hati karena kekencangan, tapi hatinya semakin senang dan senjatanya mulai menegang hingga kelihatan menyembul dari balik kain batiknya. Sesudah itu Sri memakaikan stagen dengan kencang juga. Berikutnya adalah hal yang tidak terpikirkan  oleh Kiko, Sri memakaikan BHnya ke dada Kiko. Kiko pun semakin senang dan terangsang. Tapi Kiko berusaha mati-matian untuk tidak memperlihatkan hal itu.  Kemudian Sri mengambil kembali kebaya yang tadi dipakai oleh Kiko dan memberikannya kepada Kiko sambil berkata, “Nih, pakai !”. Kiko jadi kikuk, ia diam saja dan tidak mengulurkan tangannya. Sri jadi membentak, “Ayo, tunggu apa lagi ! Cepat pakai !”. Kiko dengan gugup mengambil kebaya itu dari tangan Sri. Tapi sesudah itu Kiko masih berdiri mematung dengan kedua tangannya memegang kebaya. Sri kembali membentak, “Hé !, kamu tuli ya ? Apa berlagak bodoh. Ayo cepat pakai !”. Tangan Kiko bergerak dengan lambat memakai kebaya kebadannya. Sri jadi tidak sabar, ia kemudian ikut memakaikan kebaya itu ke badan Kiko dan mengancingkannya serta merapikannya.

Kemudian dipandanginya Kiko dari atas sampai bawah. Ternyata kaki Kiko masih telanjang, maka ia mengambil sandal jinjit dengan hak yang cukup tinggi dan memakaikannya  ke kaki Kiko. Habis itu selendang yang tadi dipakai Kiko disampirkannya ke pundak Kiko dan sebelah ujungnya di selempitkannya ke lengan Kiko. Lalu ia memandangi wajah Kiko, ternyata masih polos tanpa makeup. Maka ia menggeret suaminya duduk di kursi di depan meja rias. Kiko pun dag dig dug. Hatinya semakin gembira, tapi ia tetap berusaha menyembunyikannya. Sri mulai membersihkan muka Kiko dan meriasnya dengan menor.

Setelah itu dipandanginya wajah Kiko didalam cermin, ternyata belum ada sanggulnya. Sri berpikir sejenak. Lalu ia menarik-narik ujung rambut Kiko. Ternyata cukup panjang juga hingga dapat diikat. Maka ia dapat ide, dikuncirnya rambut Kiko dan kemudian hal yang tidak terpikirkan oleh Kiko terjadilah, Sri memasang konde ke rambut Kiko.  Konde itu dijepitnya dengan jepitan rambut yang cukup banyak ke rambut Kiko hingga Kiko kesakitan dan sedikit meringis-rngis. Sri yang melihat suaminya meringis berkata, “Kalau mau tampil sempurna memang butuh banyak pengorbanan !”,

Sehabis mendandani suaminya habis-habisan, Sri menyuruh Kiko berdiri dan Sri berkata, “Ayo, sekarang kamu jalan ! Dari sana sampai sini !” .Sri menunjuk ujung ruang yang memang cukup panjang. Kiko mematuhinya. Ia mencoba berjalan. Tetapi karena tidak terbiasa memakai sandal hak tinggi belum lagi kain wiron yang dipakainya sempit dibagian bawahnya, maka beberapa kali ia oleng dan hampir jatuh. Sri malah  tertawa dan mengejek, “Rasakan sekarang sulitnya memakai kain wiron sama sandal jinjit ! Awas kalau sampai jatuh, kamu nanti akan ku hukum !  Kamu pikir gampang mau jadi seorang wanita aristokrat Jawa ?”. Sri tidak mengetahui kalau perkataannya ini tidak saja menyinggung perasaan suaminya dan membuat Kiko takut atau marah, tapi disamping itu Kiko juga jadi semakin excited, senang dan tertantang. Didalam kesukarannya berjalan, Kiko merasakan beginilah rasamya memakai kain wiron yang singset dengan sandal hak tinggi. Nikmat ! Dan ia pun semakin terangsang.

Tibalah Kiko di ujung ruangan. Kiko melihat ke ujung kakinya, kuatir kalau ia kesrimpet kain batik dengan wirunya yang cukup banyak. Belum lagi ujung kain itu cukup rendah sehingga sampai ke telapak kakinya. Dipegangnya dan dirapikannya kain wironnya. Tidak sengaja tangannya menyentuh senjatanya dan greng ! Rangsangannya terasa sampai ke ujung kepala. Seperti paradoks, Kiko merasa sangat bahagia walaupun sebenarnya ia dalam keadaan tertekan dan diperintah serta dikuasai oleh isterinya. Isterinya berkata, “Sekarang kamu jalan dari situ ke sini !”. Sri  mengambil handycam dan mulai merekam. Kiko mematuhi, ia berjalan dengan kesulitan, kesrimpet-srimpet. Tapi ia berjalan beberapa langkah dengan kaku tanpa gaya. Maka Sri kesal dan berkata, “Hai ! Bencong ! Jalannya yang genit dong ! Yang persis perempuan ! Sekarang kamu ulangi lagi dari pojok sana !”. Kiko berbalik lagi dan mulai melangkah dari ujung ruangan dengan genit. Pinggulnya digoyang-goyangkannya. Meledaklah tawa isterinya. Sri lalu berkata, “Dasar bencong ! Nah,  kayak gitu dong jalannya. Persis bencong taman lawang ! Besok kamu aku kirim ke taman lawang buat praktek ! Mulai sekarang namamu bukan lagi Kiko Sujaryanto tapi Kiki Sujaryanti !”.

Sesudah itu Sri menyuruhnya menari. Diputarmya kembali langgam Jawa yang tadi ia matikan. Kiko pun menari walaupun pada awalnya kikuk. Sehabis satu lagu selesai, Sri mematikan langgam Jawa itu. Kiko pun duduk dan mau melepaskan kebayanya. Tapi Sri berkata, “Héh, siapa yang nyuruh kamu melepas pakaian kamu ? Énak kan pakai kain kebaya seharian ? Sekarang kamu cuci-cuci piring sama gelas yang numpuk di dapur sana !”.  Kiko pun bekata dalam hati, “Matilah aku ! Kalau disuruh nyuci piring pakai pakaian kayak gini”. Maka ia memohon kepada Sri untuk memperbolehkannya melepas pakaian kain kebayanya. Kiko juga berjanji untuk tidak mengulang perbuatannya memakai kain kebaya Sri. Tapi Sri menjawab dengan ketus, “Alaah paling kamu cuma janji-janji melulu. Sekarang kamu boleh pilih. Mau pakai pakaian itu apa kamu aku usir dari rumah ini ?”. Kiko tidak bisa menjawab. Ia akhirnya mencuci piring dangan kain kebaya dan bersanggul. Sanggulnya sekarang jadi kendor, karena rambutnya yang panjangnya pas-pasan. Sri pun berkata, “Awas, kamu ! Kalau sampai sanggulnya jatuh !”. Semakin tersiksalah Kiko, tapi aneh di dalam diri Kiko selain rasa tersiksa dan tertekan  ia juga merasakan rasa pasrah, senang dan bahagia.

Sehabis mencuci piring. Disuruhnya Kiko menyapu dan mengepel lantai runah. Kiko tidak bisa membantah. Selesai itu kegilaan Sri semakin menjadi-jadi. Baru sebentar Kiko duduk beristirahat, Sri berkata, “Rasakan sekarang beratnya penderitaan seorang ibu rumah tangga ! Itu belum ditambah dengan kekerasan fisik seperti yang kamu lakukan kepadaku”.  Lalu disuruhnya Kiko momong bayi mereka dengan menggendongnya. Kiko membantah. Katanya, “Sri, kamu jangan gila ! Ini bayi kita. Bagaimana kalau ia mengetahui hal ini nanti ?”. Sri menjawab, “Éh, membantah ? Apa mau aku ceritakan ke setiap orang kelainanmu ini ?”. Kiko tidak berkutik, diterimanya bayi yang disodorkan Sri dan Sri membantu Kiko mengikatkan selendang gendong ke bahunya. Sehabis itu Sri kembali mengambil video suaminya.

Malam harinya menjelang tidur, Sri berkata, “Sekarang taruh di  belakang punggungmu kedua tangan kamu biar aku ikat supaya kamu tidak bisa melepaskan pakaian kamu”,  Haaah ??!! Kiko kaget, pikirannya bingung dan  berkecamuk. Ia akan diikat oleh isterinya. Apa yang akan ia perbuat ? Ia diam saja tanpa meletakkan tangannya ke belakang punggungnya. Sri membentak, “Ayo, Cepat ! Ke belakangkan tangan kamu. Dengar tidak ?”. Barulah .Kiko menuruti Sri. Ia pasrah tangannya diikat kuat-kuat oleh Sri. Belum puas hanya dengan mengikat kedua tangan Kiko, maka Sri juga mengikat kedua kaki Kiko. Setelah itu Sri masih mengikat leher Kiko dengan tali dan ujung tali yang lain dipegangnya. Kemudian Sri berkata, “Nah, begini kan cara  kamu ngikat aku dulu”. Lalu diambilnya sebilah kayu yang dulu dipakai Kiko untuk memukul Sri. Sri kemudian memukul Kiko dengan kayu itu. Tidak kuasa menahan rasa sakit, Kiko pun mengaduh kesakitan.  Sri malah semakin memperkeras pukulannya sambil berkata, “Lelaki kok cengeng ! Dasar banci !”. Setelah itu Sri pun pergi tidur meninggalkan Kiko terikat tangan dan kakinya.

Kiko diajar Sri

Kiko Sujaryanto 2

Ini adalah lanjutan dari kisah sebelumnya. Dimana akhirnya Sri menerobos masuk ke kamar pada saat suaminya beraksi dengan kain kebaya kepunyannya dan merekam semuanya. Sri berhasil menumpahkan semua emosi dan dendamnya. Menjatuhkan suaminya di lantai dan menginjaknya dengan kaki sebelahnya. Meludah dan membuat senjata suaminya memuntahkan isinya. Bahkan ia sampai kebablasan memaki suaminya sebagai banci. Cuma satu hal inilah yang ia sesali, tapi ia berhasil mengerém nafsunya untuk menggampar dan melakukan kekerasan fisik pada suaminya. Memikirkan peristiwa itu, timbul kepuasan dalam diri Sri.  Sekaligus ia jadi memegang satu kunci yang dapat dipakai sebagai senjata bila suaminya sudah keterlaluan kepadanya.

Sementara itu Kiko sendiri menyesali kejadian itu. Betapa bodoh dan gegabahnya dirinya melakukan hal semacam itu tanpa memastikan kepergian isterinya untuk waktu yang lama. Sekarang yang ada hanyalah penyesalan dalam diri Kiko, selain rasa was-was jangan-jangan isterinya nekat menyebar luaskan rekaman itu atau menceritakan kelainan dirinya kepada orang-orang terdekatnya.

Setelah peristiwa itu, Kiko memenuhi permintaan isterinya untuk mencuci pakaian isterinya yang dipakainya meliputi selendang, kebaya, stagen dan kain batik. Pada waktu mencuci pakaian-pakaian itu, isterinya memandangi Kiko dengan tatapan mata sinis dan bibir yang ditarik kebawah mencibir serta kepala yang sedikit dianggukkan ke atas.

Sejak peristiwa itu pula, hubungan mereka jadi dingin dan renggang.  Hubungan mereka menjadi sebatas suami isteri formal tanpa berhubungan sexual. Sri sekarang merasa diatas angin. Sementara Kiko kehilangan muka dan menjadi frustasi. Usahanya juga mengalami kemunduran. Sementara usaha isterinya malah mengalami kemajuan. Kiko pun jadi semakin minder dengan keadaan ini.

Sial bagi Kiko, disaat sulit seperti ini justru nafsunya semakin menjadi-jadi. Kegilaannya terhadap kain kebaya tidak bisa direm, tapi malah semakin menggebu-gebu. Tapi sayangnya tidak ada jalan keluarnya. Sekarang ia tidak berani lagi memakai kain kebaya isterinya dirumahnya sendiri sekalipun isterinya sedang pergi. Pikiran Kiko jadi buntu.

Kiko jadi depressi. Ia tidak bisa berkonsentrasi. Setelah pusing memikirkan jalan keluarnya, akhirnya ia berhasil mendapatkan sebuah  jalan keluar. Ia bermaksud mengambil sebuah kebaya, selendang, stagen dan kain batik isterinya tanpa sepengetahuan Sri serta membawanya keluar rumah dengan alasan pergi menginap keluar kota. Di luar kota  Kiko akan menyewa hotel dan ia akan beraksi di kamar hotel.  Setelah memikirkan ide ini , ia pun tersenyum puas.

Tinggallah pelaksanaannya. Pertama-tama, ia harus sembunyi-sembunyi mengambil pakaian isterinya. Ia pun dengan tidak sabar menunggu kesempatan yang tepat yaitu di saat isterinya pergi keluar rumah. Dipandanginya isterinya pergi naik mobil dari halaman depan rumahnya sampai mobil itu menghilang dari pandangannya. Kemudian ia pun dengan panas dingin dan sedikit gemetar membuka lemari pakaian isterinya. Ia sempat berpikir, jangan-jangan lemarinya dikunci. Tapi untunglah ternyata kunci pintu lemari masih menggantung di tempatnya. Ia pun dengan buru-buru mengambil kebaya, selendang, stagen dan kain batik masing-masing sebuah. Tapi secara tidak sengaja tiba-tiba matanya melihat perlengkapan isterinya yang sangat privat yaitu bra. Entah ada setan dari mana tiba-tiba ia pun juga menyambar sebuah bra isterinya. Pikirnya dalam hati, lumayan semakin komplit.

Sesudah isterinya pulang kembali ke rumah, suaminya memberanikan diri untuk mengutarakan kebohongannya. Kiko berkata, “Sri, besok aku mau keluar kota beberapa hari”. Isterinya tanpa menoleh menganggukkan kepala. Lega hati Kiko, karena langkah kedua dari rencananya sudah tercapai. Malamnya Kiko jadi sulit tidur, karena  membayangkan dirinya bisa memakai lagi pakaian yang bisa membangkitkan hasrat dan gairahnya tanpa perlu kuatir dipergoki isterinya.

Esok harinya tibalah, Kiko pun berangkat keluar kota. Sementara isterinya tingaal di rumah. Ketika Kiko sudah pergi, Sri diam-diam juga rindu untuk memakai kain kebaya lagi. Karena ia berpikir mumpung ada kesempatan dimana suaminya tidak dirumah dan pergi keluar kota untuk beberapa hari. Tidak itu saja ia juga sangat kepingin untuk melihat semua koleksi kain batik dan kebayanya. Maka dibukalah lemari dimana kain batik dan kebayanya disimpan.

Satu hal yang tidak diperhitungkan suaminya adalah bahwa Sri menghitung semua kebaya, selendang, stagen dan kain batik pemberian mertuanya. Maka ketika dihitungnya satu persatu, ia jadi kaget.  Karena jumlahnya kurang satu. Baik untuk selendang, stagen, kebaya maupun kain batiknya. Ia pun mengulangi lagi menghitung pakaian-pakaian itu. Ternyata serelah diulang beberapa kali hasilnya tetap sama kurang satu semuanya. Ia pun mulai mecoba mengingat-ingat kebaya warna dan motif apa yang hilang, demikian juga dengan kain batiknya dan selendang serta stagen warna apa yang hilang. Akhirnya sambil melihat kebaya, kain batik, selendang dan stagen satu demi satu diingatlah selendang, stagen, kebaya dan kain batik yang hlang.

Ia lalu mulai berpikir kemungkinan hilangnya.  Akhirnya ia sampai pada kesimpulan kalau semua pakaiannya yang hilang dibawa suaminya keluar kota dan suaminya keluar kota untuk melampiaskan nafsu gilanya, karena suaminya takut kalau sampai ketangkap basah lagi dirumah. Sri jadi gregetan, dibukanya sedikit bibirnya dan menyeringai serta ditekannya gigi atasnya ke gigi bawahnya sambil dikepalkannya kedua tangannya. Sri berkata, “Dasar banci ! Awas kalau kamu pulang !”.

Sementara itu Kiko telah tiba di kota tempat tujuannya menginap. Ia langsung menuju ke hotel dengan tidak sabar dan setelah memesan kamar, ia pun masuk ke kamarnya.  Begitu tiba di kamar, nafsunya bergejolak. Ia bermaksud untuk langsung melampiaskan hawa nafsunya yang sudah sekian lama terpendam. Tapi kemudian durungkannya, karena badannya masih bau dan kotor. Ia kuatir kalau akan membekas di pakaian isterinya. Maka ia terlebih dahulu mandi. Selelah mandi, barulah ia beraksi.

Kiko berkata dalam hati, “Sri, sekarang lihat siapa yang lebih jenius ?”. Diambilnya kain batik isterinya, diciumnya sambil menghela nafas panjang, “Nikmaaat !”.  Setelah itu berulah dibuka lipatannya hingga terbuka penuh. Selanjutnya ia merapatkan kedua kakinya. Tidak terasa senjatanya tau-tau sudah berdiri dan menegang.  Ia pun mulai melilitkan kain batik isterinya ke kakinya dengan sangat rapat dan kuat. Selanjutnya ia memakai stagen. Giliran berikutnya ia memakai bra. Satu hal yang baru pertama kali ini ia lakukan. Barulah setelah itu ia memakai kebaya dan menyampirkan selendang dibahunya.

Lalu mulailah Kiko bercermin didepan kaca. Ia memegang-megang dadanya yang memakai bra yang berbusa dan berkawat sehingga nampak menyembul walaupun tidak ada isinya. Ia terangsang dan tersenyum sendiri. Giliran berikutnya ia memegang pantatnya yang terbalut kain batik. Sehingga yang diraba adalah kain batik dengan terkstur yang khas. Kemudian ia meraba senjatanya sendiri. Aduh besar dan perkasanya adikku, katanya dalam hati.

Ia lalu berlenggang-lenggok didepan cermin. Setelah itu ia duduk di depan cermin. Tapi baru sebentar, tiba-tiba crot ! Air maninya sudah muncrat keluar mengenai celana dalam dan kain batik isterinya. Seketika itu juga buyarlah segala fantasi dan kesenangannya serta kenikmatannya. Ia langsung berdiri didepan cermin dan jijik kepada dirinya. Kiko sang lelaki perkasa sekarang menjadi banci. Sialan ! Kenapa aku jadi begini ya. Buru-buru dibukanya semua pakaian isterinya dan ia sekali lagi membersihkan diri di kamar mandi. Ia lalu mencuci kain batik isterinya dengan cepat-cepat untuk menghilangkan air maninya sebelum dibawa ke laundry.

Kikonani

Setelah itu ia rebahan di ranjang sambil berpikir kenapa segalanya berlalu dengan cepat. Kesenangan yang sudah ia rencanakan dengan matang berhari-hari lamanya. Sekarang tau-tau sudah berlalu hanya dalam sekejap. Padahal ia  pingin berlama-lama memakai kain kebaya isterinya mumpung diluar kota untuk beberapa hari. Bahkan ia bisa memakainya sampai ia tidur di malam hari dan dilanjutkan esok harinya. Ini semua gara-gara senjataku yang tau-tau sudah menumpahkan isinya dan berahhir sudah semua kesenangan itu.  Setelah melewati puncak hawa nafsu, semuanya seperti  berubah 180 derajat.  Jika sebelumnya kalau bercermin rasanya anggun dan cantik, sekarang rasanya jadi lucu, aneh dan menjijikkan. Apakah sekarang aku mengalami ejakulasi dini ?

Besoknya Kiko mencoba lagi melampiaskan hawa nafsunya. Tapi ia teringat bagaimana bila air maninya tumpah lagi di kain batik isterinya ? Padahal ia sudah mau pulang ke rumah. Akhirnya ia mendapat ide untuk menyelubungi senjatanya itu supaya air maninya tidak tumpah di kain batik isterinya. Maka ia mengulangi lagi memakai pakaian isterinya dan senjatanya sudah mulai menegang ketika kain batik isterinya mulai dililitkan di kakinya. Setelah mengenakan kain kebaya lengkap, ia mulai berlenggang-lenggok lagi. Kali ini ia tidak hanya berlenggang-lenggok didepan cermin saja, tapi ia mencoba  berjalan dengan genit lebih jauh lagi jaraknya sambil dipegang-pegangnya senjatanya. Ia pun melenguh di dalam kenikmatan, “ooh, ..oooh…”. Setelah itu ia bermaksud beristirahat dengan duduk di kursi, tapi tak lama kemudian senjatanya yang tertekan kembali menumpahkan isinya. Dan itulah akhir dari kenikmatan bagi Kiko.

Ketika esok hari tiba, itulah harinya Kiko harus pulang ke rumah dengan meninggalkan sejuta kenangan manis. Ia pun dengan enggan berkemas. Tapi ia tidak tahu apa yang akan dihadapinya setibanya di rumah.

Tibalah Kiko di rumah, di depan pintu masuk Sri sudah berkacak pinggang. Kiko masih tidak mengira kalau bakal ada musibah yang akan menimpa dirinya. Ia berpikir ini sudah wajar. Karena isterinya akhir-akhir ini memang jadi agak angkuh lantaran berada di atas angin. Sri berkata dengan dingin, “Coba kamu buka kopermu itu dan keluarkan semuanya isinya !”. Kiko jadi kaget dan takut. Tamatlah sekarang riwayatnya, karena ia memang membawa pulang semua pakaian isterinya. Ia masih takut untuk membuang semua pakaian isterinya, karena ia tahu bahwa itu adalah milik ibunya sebelum diberikan kepada Sri.

Kiko tidak berkutik, dengan lemas dan perlahan ia membuka penuh kopernya. Tapi semua isinya masih tertumpuk dengan rapi di dalam koper, sehingga yang terlihat hanya yang diatas saja. Sri jadi semakin gregetan, “Sekarang kamu keluarkan semua isinya satu persatu dan taruh di atas lantai !”. Sri sekarang sudah tidak pernah lagi memanggil “mas” kepada Kiko.

Kiko jadi semakin takut dan ia semakin perlahan-lahan meletakkan satu persatu barang bawaannya di atas lantai sambil berpikir bagaimana caranya dapat lolos dari perangkap ini. Kiko bermaksud untuk menumpuk kain batik Sri dibawah pakaiannya. Demikian juga dengan selendang, stagen dan kebayanya. Sehingga tetap tidak terlihat walaupun sudah tergeletak di lantai. Akibatnya Sri jadi gusar, diraihnya koper Kiko dan dibalikkannya sehingga semua isinya tertumpah keluar ke lantai. Sri pun mengaduk-aduk semua barang dan pakaian suaminya hingga didapatinya apa yang dicarinya. Stagen, selendang, kebaya dan kain batiknya !. Tapi ia tidak mendapatkan bra kepunyaannya, kerena Kiko telah membuangnya. Diambilnya keempat barang itu dan diunjukkannya tepat kemuka suaminya yang ketakutan.

Ia pun berkata dengan lantang, “Kamu mengambil pakaian-pakaianku tanpa setahuku ya ? Lantas kamu pakai di hotel tempat kamu menginap ! Dasar banci ! Kamu pikir aku tidak tahu semua perbuatanmu ini dan kamu bisa lolos ! “. Kemudian dilemparkannya keempat pakaiannya ke muka suaminya yang masih ketakutan dan bersimpuh di lantai.

Sesudah itu Sri segera masuk ke dalam dan segera keluar lagi dengan membawa celana dalam, bra dan sandal jinjit serta tas tangan kepunyaannya sendiri. Dilemparkannya semuanya itu ke suaminya. Suaminya berusaha menangkap sandal jinjitnya, karena kuatir akan mengenai mukanya. Sri berkata lagi, “Nih, bawa semua barang-barang itu biar lengkap sekalian ! Dan jangan pulang lagi “. Kiko jadi kaku tidak berdaya mendengar perkataan isterinya dan mengalami peristiwa ini. Dan sebentar kemudian ternyata isterinya sudah kembali lagi dari dalam dan membawa kecrékan ( tamborin ) dan seperangkat alat makeup bekasnya. Ia berkata, “Nih, sekalian aku modali buat nyari duit. Tamborin sama kosmetik. Sana, pergi ngamen sambil dandan yang cantik pakai kain kebaya ! Dasar bencong !”.

 

Kiko Sujaryanto

Ini adalah lanjutan dari kisah “Derita seorang ibu 2″ yang berakhir dengan keteguhan hati Sri menolak permintaan suaminya, Kiko Sujaryanto untuk memakai kain kebaya,

Suami Sri sekarang jadi frustasi dan putus asa. Nafsunya terhadap Sri sekarang sudah memudar. Ia sekarang sudah tidak bisa memuaskan hawa nafsunya dan juga tidak bisa memuaskan isterinya di ranjang.  Diam-diam tanpa sepengetahuan Sri, ia mulai rajin melihat-lihat foto-foto wanita cantik berkain kebaya dan dirinya mulai terangsang lagi. Ia berpikir, sial juga dirinya sekarang. Karena isterinya sekarang tidak mau lagi memakai pakaian yang bisa membangkitkan gairahnya. Kemudian foto-foto itu diraba-rabanya. Mulai dari payudara, pinggul hingga kain wiron wanita di foto itu. Ia berpikir bagaimana perasaan wanita-wanita yang memakai pakaian seketat kain kebaya itu.

Ketika isterinya pergi, ia mulai memberanikan diri membuka lemari pakaian dimana kain batik dan kebaya Sri tersimpan. Dipandanginya dan diraba-rabanya pakaian itu. Setelah memandang kebaya dan merabanya, ia lalu beralih ke kain batik. Dipandangi dan diraba-rabanya kain batik Sri. Tidak cuma itu, tapi dibaui dan diciumi juga kain batik itu sambil menghela nafas panjang. Setelah itu buru-buru ditutupnya pintu lemari itu,  seolah-olah kuatir kalau isterinya memergokinya. Kejadian ini terjadi berulang-ulang dan Kiko jadi kecanduan.

Rupanya kecanduan itu semakin meningkat. Setelah beberapa kali Kiko hanya sekedar memandang-mandang, meraba dan mencium pakaian  isterinya, Kiko lalu mulai memberanikan diri mengambil kebaya dengan hangernya dan mematut-matut kebaya itu ke badannya. Baru kemudian mengembalikannya ke tempat semula. Setelah itu giliran kain batik isterinya.  Kiko membuka lipatannya beberapa kali, tapi tidak sampai terbuka penuh dan mematut-matutkannya ke kakinya. Setelah itu ia kembali melipat kain batik itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Kiko pun semakin nekat. Ia melakukan hal itu juga ketika isterinya masih dirumah, karena menurut pemikirannya isterinya masih sibuk momong bayi mereka.

Sial bagi Kiko.  Kesekian keli ia beraksi mematut-matut kebaya Sri di badannya, isterinya memergoki. Maka Sri bertanya, “Mas, kamu kangen ya sama kebayaku ?”. Kiko gelagapan, tidak dapat menjawab dan langsung ngeloyor pergi. Sesudah kejadian itu, Kiko jadi lebih berhati-hati melampiaskan kecanduannya. Tapi tidak lama kemudian ia malah semakin sering melakukannya. Hingga suatu saat ia kembali tertangkap basah oleh Sri ketika sedang menempelkan dan mematut-matut kain batik yang terbuka sebagian dikakinya. Isterinya spontan berkata, “Mas, kok kamu pakai kain ? Kamu mau pakai pakaian adat Jawa ya ? Apa mau ada acara khusus ?”. Kiko kembali tidak menjawab dan hanya melipat kembali kain batik itu sebelum ngeloyor pergi. Sesudah itu sekali lagi Kiko tertangkap basah oleh Sri ketika sedang mematut-matut kebaya di badannya. Sri pun berkata, “Mas, spa-apaan kamu ini ? Kemarin nyoba kain batik, sekerang ngepas kebaya”. Tapi kali ini Kiko rupanya sudah menyiapkan jawaban, hingga ia bisa langsung menjawab, “Sri, aku rindu melihat kamu pakai kain kebaya. Ayo dong pakai sekarang !”. Katanya sambil memegang bahu Sri dengan kedua tangannya. Isterinya menolak, “Mas, kamu kan tau sendiri. Aku kan sedang repot momong anak kita !”. Kiko pun diam tidak bisa membantah.

Sesudah peristiwa itu Sri jadi berpikir kalau rupanya suaminya masih sangat menginginkannya memakai kain kebaya. Ia bingung. Mau menuruti keinginan suaminya dan memang sebetulnya ia juga rindu dimanja, tapi ia sendiri repot. Belum lagi resikonya diperlakukan dengan brutal oleh suaminya. Akhirnya ia tetap pada pendiriannya untuk menolak keinginan suaminya. Tapi ia juga penasaran dengan tindak-tanduk suaminya yang mematut-matut kebaya dan kain batiknya. Maka ia berencana untuk menangkap basah suaminya.

Tibalah saatnya bagi Sri untuk menangkap basah suaminya. Sri berpura-pura pergi keluar rumah, tapi sebentar kemudian ia kembali dan mengintip melalui lubang kunci. Kiko semakin lama semakin nekat. Ia tidak hanya mematut-matut kebaya dan kain batik isterinya secara terpisah, tapi ia mematutnya secara bersamaan. Kiko memegang kebaya dengan satu tangan ke badannya dan tangan lainnya memegang kain batik ke kakinya. Isterinya yang melihat ini jadi bingung dan setengah jijik. Tapi peristiwa itu dipendamnya dalam hati seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dan oleh karena penasaran, maka Sri berencana untuk tetap meneruskan rancananya menangkap basah suaminya ketika sedang beraksi.

Kiko1-1

Di lain pihak rupanya kegilaan Kiko semakin meningkat. Ia sekarang tidak lagi hanya mengepas kain batik di depan kakinya tanpa melilitkannya di kaki, tapi ia membukanya hingga penuh dan melilitkannya kekakinya. Demikian juga dengan kebayanya, tidak hanya di tempel di badannya. Tapi ia memakainya di badannya. Sesudah itu berputar di depan cermin dan berlenggang lenggok sedikit sebelum melepaskan dan mengembalikannya ke dalam lemari. Isterinya yang mengintip dari lubang kunci serta merta jadi heran sekaligus jijik. Ia hendak menerobos  masuk ke dalam kamarnya, tapi ditahannya.

Kiko1-2

Berkecamuklah pikiran Sri. Mengapa suaminya sekarang bisa jadi begini ? Suami yang dulu waktu pacaran dan sesudah menikah dengannya 100 % normal dan jantan serta bisa memuaskan dirinya. Bahkan bisa berlaku brutal terhadap dirinya, sekarang dalam waktu yang relatif singkat mendadak bisa seperti banci ? Menyukai pakaian wanita. Apakah ini merupakan kompensasi lantaran suaminya tidak mendapatkan apa yang dikehendakinya yaitu isterinya berpakaian kain kebaya ? Sehingga suaminya memakai kain kebaya sendiri.

Berhari-hari Sri memikirkan semuanya ini. Mau bercerita dan konsultasi pada orang tuanya, mertuanya, teman atau psikolog dan psikiater, tapi semuanya itu diurungkannya. Akhirnya malah timbul ide gila dalam pikirannya. Mengesampingkan kekecewaan  dan kejijikan pada suaminya, Sri berniat akan membalas perlakuan brutal suaminya. Maka ia menyiapkan handycam dan ia akan menerobos masuk ke dalam kamar begitu  mendapati suaminya memakai kain kebaya miliknya serta akan merekamnya. Ia pun tersenyum puas. Bahkan berkata, ” Rasakan nanti pembalasanku. Wahai suamiku tercinta !”

Tak perlu waktu lama bagi Sri untuk merealisasikan semuanya ini. Hari itu Kiko kembali beraksi. Ia terlebih dulu melepaskan semua pakaiannya hingga tinggal celana dalamnya. Di saat itu Sri sudah mulai ada dibelakang pintu dan mengintip sekaligus merekam begitu mendapati suaminya berlaku aneh membuka pakaiannya sendiri. Dan memang betul apa yang kemudian dipakai bukannya pakaiannya sendiri yang lain. Tapi kebaya dan kain batik isterinya. Ia mulai mengambil kain batik dan membuka seutuhnya,. kemudian melilitkannya ke kakinya. Sesudah itu yang tidak diduga oleh isterinya, ternyata suaminya juga memakai stagennya. Baru kemudian memakai kebayanya. Semuanya ini direkam oleh Sri melalui lubang pintu. Ternyata sesudah itu suaminya juga menyampirkan selendang ke bahunya. Barulah kemudian Kiko berkaca didepan cermin sambil bergaya berlenggang lenggok. Disaat itulah Sri menerobos masuk dengan handycam ditangan.

Sri kemudian berkata kebanci-bancian, “Halo, cyn. Kamu sekarang cantik déh”. Wajah suaminya jadi merah padam. Ia terbelalak kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mematung. Maka Sri menarik selendang di kedua ujungnya hingga memaksa suaminya bergerak maju karena selendang yang dilehernya ditarik Sri.  Diciumnya suaminya dengan angkuh. Handycamnya diletakkan diatas lemari pada posisi setinggi mata hingga masih bisa terus merekam. Kemudian tangan Sri yang satunya memegang senjata suaminya. Katanya, “Éh, masih juga berdiri ya ? Syukurlah kalo gitu”. Kemudian didorongnya suaminya hingga suaminya jatuh rebah di lantai. Sri kemudian berdiri dengan kaki sebelah di atas dada suaminya. Tangannya berkacak pinggang. Bibirnya nyinyir menghina suaminya, lalu ia meludah ke samping.  Sri kemudian berkata, “Mas, mas !  Laki-laKI KOk SUka JARikan sama kebaYAaN TO ? Persis sama namamu, Kiko Sujaryanto.  Klop sudah !”. Kaki Sri bergerak dari dada Kiko ke bawah sampai  selangkangan Kiko hingga mengenai senjatanya, lalu ditekannya senjata Kiko kuat-kuat dengan kakinya. Ternyata dalam kaadaan ini nafsu Kiko memuncak hingga air maninya keluar. Sri mengetahuinya dan berkata, “Ngompol di kain batikku ya ? Awas kamu ! Kamu harus nyuci pakaianku yang kamu pakai sampai bersih !”. Ia pun mengumpat, “Dasar, banci !”. Tapi sesudah itu ia merasa kalau kata-katanya kebablasan.

Sementara Kiko sendiri masih tegang dan tidak bisa berbuat apa-apa. Pikirannya berkecamuk. Harga diri dan kesombongannya runtuh. Ia yang biasanya selalu menguasai isterinya,  sekarang dikuasai dan diinjak-injak isterinya. Apa yang akan diperbuatnya sekarang ? Bangkit berdiri dan mengancam isterinya untuk mempertahankan harga diri dan kesombongannya ? Ia ragu, karena isterinya telah berulang kali dikasarinya dan tidak menunjukkan ketakutan kepadanya.  Jangan-jangan isterinya malah akan menyebar luaskan kelainan dirinya kepada setiap orang yang dikenalnya.

Kiko1-3

Kiko1-4