Don’t Cry for Messi, Argentina

Lulu Simawati:

It won’t be easy
You’ll think it’s strange
When I try to explain how I feel
That we still need your goal
After all that it’s done
You won’t believe me
All we want to see
Is a goal we once knew
Although it’s time up to ninety
And thirty with you

I had to let it happen
I had to change
Couldn’t stay all my life down at Brazil
Looking out of the window
Staying out of the sun
So I chose to move on
Running around trying everything new
But nothing impressed me at all
I never expected it too

Don’t cry for Messi, Argentina
The truth is I never left you
All through my wild days
My mad existence
I kept my promise
Don’t keep your distance

And as for fortune and as for fame
We always rely on you
Though it seemed to the world
You were all I desired
You are illusions
You’re not the solutions
You promise to be
The answer was a goal all the time
I love your goal and hope you make it too

Don’t cry for Messi, Argentina
The truth is I never left you
All through my wild days
My mad existence
I kept my promise
Don’t keep your distance

Have I said to much?
There’s nothing more I can think of to say to you
But all you have to do
Is a goal for us to see
That every word is true

Originally posted on BEACON MAGAZINE:

messi-01

by Shayda Abazari (new addition to the Beacon staff)
graphic by Savannah Tate

My Dearest Argentina,

Guess who?! It’s your favorite national fútbol team captain! Okay, so maybe not favorite. We may or may not have lost the final match of a little tournament known as the 2014 FIFA World Cup to Germany on Sunday, but it’s not as bad as it sounds, I promise! Let me explain.

In my defense (no pun intended), the whole “losing the World Cup” thing was really just a misunderstanding. See, I figured since our team had done so well in the semi-finals using our infallible strategy of not letting the ball touch the net until the start of the penalty kicks, why bother to change our ways for the final? When I pointed this out to Coach Sabella, he was totally on board, and, by the looks of the first 113 minutes…

View original 439 more words

The sacred Rikana

Ini adalah sebuah kisah tentang seorang gadis remaja yang masih lugu. Ia hidup bersama kedua orang tuanya di desa. Desa itu tidak terisolir dan sudah maju. Listrik sudah ada, demikian juga dengan transportasi dan banyak penduduknya disana yang juga sudah memakai pakaian seperti halnya orang kota.

Si gadis itu bernama Rikana, berambut panjang dan berponi.  Berbeda dengan kebanyakan gadis-gadis disana, ia lebih sering memakai kebaya dengan bawahan kain batik. Demikian juga dengan ibunya.

Rikana sering diejek, disisihkan dan dihina oleh teman-temannya serta sering dilecehkan. Mungkin lantaran penampilannya yang masih udik , selain mungkin juga lantaran  ia sering gedek-gedek kepala atau karena kehidupannya yang pas-pasan.

Teman-temannya sering mengejek nama  Rikana sebagai kependekan dari jaRIKAn eNAk.  Lantaran hal itu maka suatu hari Rikana pernah meminta pada ibunya untuk membelikannya pakaian rok, baju supaya ia bisa sama seperti teman-temannya. Tapi ibunya menolaknya dengan halus dan menjelaskan kalau kehidupan mereka pas-pasan. Lagi pula dengan pakaian kain kebaya, maka Rikana bisa memakai lungsuran pakaian ibunya yang sudah agak lama. Rikana tidak bisa menjawab dan hanya diam.

Hari-hari berlalu, teman-teman Rikana semakin menjadi-jadi meledek dan melecehkannya. Hingga suatu hari, Rikana seperti biasa sedang bermain bersama teman-temannya. Hari itu mereka bermain lakon-lakonan.

Rikana yang seperti biasanya selalu hanya jadi pupuk bawang dan disisihkan, hari itu dijadikan lakon. Rikana merasa heran, tapi dalam hati ia senang. Tapi ia tidak tahu apa yang dirancangkan teman-temannya. Sebetulnya yang tepat adalah Rikana dijadikan penjahat yang tertangkap. Maka tangan Rikana diikat ke belakang  dan kakinya juga diikat beramai-ramai oleh teman-temannya setelah terlebih dahulu mereka berpura-pura memukulinya. Tapi ikatan tangan dan kaki Rikana betul-betul kencang. Setelah itu teman-temannya meninggalkannya tertelungkup tak berdaya di tanah. Hingga akhirnya Rikana berteriak-teriak minta tolong dan mulai menangis.

Untung tidak berapa lama, ibunya datang mencarinya dan menemukannya. Maka ibunya segera membuka ikatan tangan dan kakinya serta membimbingnya pulang.

Sesudah kejadian itu hubungan  Rikana dan teman-temannya masih seperti biasa.  Beberapa lama setelah kejadian itu, Rikana dapat undangan menghadiri ulang tahun temannya.  Maka ibunya mendandani Rikana dengan kebaya dan kain yang terbaiknya. Kain batiknya di wiru dan dipakaikan dengan rapi dan singsetnya di tubuh Rikana. Tak lupa ia memakaikan sandal jinjit di kaki Rikana. Rikana pun berangkat ke pesta itu.

Acara ulang tahun itu berjalan lancar hingga selesai. Tapi di akhir acara,  teman-teman Rikana mengerjainya. Pertama ia disuruh berlenggang lenggok bak peragawati dengan kain kebayanya. Kemudian salah seorang mulai memberi ide iseng dengan menyuruhnya berlenggang lenggok dengan tangan terikat ke belakang. Rikana yang menolak dan memberontak karena tidak mau diikat, dengan mudah dapat ditangkap oleh teman-temannya. Maka terpaksa ia menuruti perintah teman-temannya berlenggang lenggok dengan tangan terikat di belakang. Rupanya teman-teman mereka masih belum puas dan mereka mengikat kaki Rikana serta menyuruhnya mengesot di lantai.

Sesudah itu karena hari sudah cukup larut malam, akhirnya mereka semua mau pulang. Tetapi sekali lagi mereka mengerjai Rikana dengan mengikat Rikana ke kursi dalam keadaan tangan dan  kaki Rikana yang masih terikat. Mereka mengejeknya dengan menyuruhnya jaga malam di tempat itu. Sesudah itu mereka meninggalkannya. Rikana jadi takut dan mulai menangis. Beruntung tidak berapa lama ayahnya datang menjemputnya.

Setelah peristiwa itu Rikana jadi enggan bergaul dengan teman-temannya. Ia lebih sering menyendiri. Kebetulan pada waktu itu sedang berlangsung sebuah acara kompetisi sulap yang terkenal di sebuah stasiun televisi. Dan salah seorang kontestannya juga berambut panjang dan berponi serta sering gedek-gedek walaupun mungkin itu hanya dibuat-buat.

Rikana mulai memperhatikannya denagn seksama dan selalu mengikuti acara itu terus dari awal. Dalam hatinya ia berpikir, ternyata dirinya hampir mirip dengan kontestan tersebut. Paling tidak rambut panjang dan poninya. Kedua orangtuanya kebetulan juga selalu menonton acara itu dan berkomentar kalau Rikana mirip dengan salah satu kontestan itu. Tapi tidak hanya rambut dan poni serta kebiasaan gedeknya, melainkan juga wajahnya sedikit mirip. Memang wajah Rikana cukup cantik.

Setelah mendengar komentar kedua orangtuanya, Rikana sering memikirkan dan merenungkan hal itu. Katanya dalam hati,  aku memang mirip dengan kontestan itu. Rambut panjang, poni, gedek dan mungkin juga wajahku. Kalau saja aku punya kemampuan telekinetik. Alangkah kerennya aku. Aku bisa membalas ejekan dan kelakuan jahil teman-temanku.

Maka mulai sejak saat itu ia belajar telekinesis tanpa seorang pun yang tahu tentang hal itu.

Tahun telah berganti  ketika Rikana mendapat undangan untuk menghadiri sebuah acara semacam reuni dengan teman-temannya.  Maka ia datang ke acara itu dengan dandanan yang sama yaitu kain kebaya. Dalam hati ia sudah tidak begitu kawatir kalau-kalau teman-temannya akan mengerjainya lagi karena ia  bisa jaga diri dengan kemampuan telekinesisnya.

rikana4 rikana1 rikana2 rikana3

Di acara  itu tentu saja Rikana bertemu dengan teman-teman lamanya. Ternyata sebagian dari mereka telah berubah sikapnya dari yang dahulu suka merendahkan, menghina dan melecehkannya sekarang sebagian dari mereka menyambut Rikana dengan tulus. Temannya ada yang berkomentar, “Rika, kamu masih saja sama seperti yang dulu. Sederhana. Pakaianmu pun masih sama kain kebaya. Cuma sekarang kamu lebih dewasa dan semakin anggun. “. Mereka pun memeluk dan menciuminya.

Sementara sebagian yang lain masih menjaga jarak dengan Rikana, karena sifat mereka yang belum berubah terhadap Rikana.  Rupanya salah seorang dari antara mereka mulai ada yang memanas-manasi dan membujuk teman-teman yang lain untuk kembali mengerjai Rikana. Katanya, “Lihat tuh. Si udik Rikana. Dari kecil masih udik sekarang tetap sama saja masih udik. Memang jaRIKAn eNAk buat dia. Yuk kita kerjain dia yuk !”. Mereka pun saling berbisik merencanakan sesuatu.

Memang kelompok yang masih tidak suka pada Rikana ini tergolong arogan. Mereka merencanakan untuk menyergap Rikana sewaktu sedang di kamar kecil. Saatnya tibalah. Maka dengan mudah mereka menyergap Rikana dan mengikat tangan Rikana ke belakang serta mengikat kakinya. Setelah itu Rikana digeletakkannya di lantai. Kemudian salah seorang diantara mereka berkata kepada Rikana, “Dasar udik ! Dari kecil sampai sekarang tetap saja udik ! Hari gini masak pakai jarik. Malu dong ! Coba sekarang kalau kamu bisa melepaskan diri dari ikatan kamu”. Kemudian ditinggalkannya Rikana di kamar kecil dan mereka mengunci pintunya.

rikana5

Setelah ditinggalkan teman-temannya sendirian tergeletak di lantai, maka Rikana mulai konsentrasi mempraktekkan telekinesis yang sudah ia pelajari dengan tekun. Setelah beberapa saat ia telah berhasil melepaskan diri  dari ikatan tangan dan kakinya. Kemudian ia juga berhasil membuka pintu yang terkunci dari luar. Tapi ia sengaja masuk kembali dan menunggu di kamar kecil itu hingga banyak teman-temannya yang pulang dan yang tertinggal hanya teman-temannya yang mengerjainya.  Ia bahkan tahu kalau ada salah seorang teman yang menjahilinya memeriksa keadaan pintu apakah masih terkunci atau sudah terbuka untuk memastikan Rikana masih terkunci didalam.

Setelah menunggu dan melihat kalau yang tinggal hanya kelompok  yang mengerjainya, Rikana pun berjalan kembali ke tempat ruang pertemuan dimana acara berlangsung. Teman-teman yang tadi mengerjai dan menantangnya untuk dapat meloloskan diri dari ikatan dan pintu terkunci melihatnya dan jadi kaget. Kemudian mereka saling pandang satu sama lain. Mungkin diantara mereka ada yang teringat kontestan kompetisi sulap yang terkenal itu. Mereka pun jadi merinding dan buru-buru pergi dari tempat itu.

Setelah di luar gedung, ternyata mereka mendapatkan salah seorang dari antara mereka tidak ada. Ternyata yang hilang itu adalah komandan mereka yang bilang  “Dasar udik ! Dari kecil sampai sekarang tetap saja udik ! Hari gini masak pakai jarik. Malu dong ! Coba sekarang kalau kamu bisa melepaskan diri dari ikatan kamu” kepada Rikana. Buru-buru mereka masuk kembali ke gedung itu dengan was-was untuk mencari teman mereka yang menghilang. Setelah mereka tidak menemukannya di seluruh penjuru gedung, mereka masuk ke kamar kecil yang pintunya di kunci dari luar dan mendapati teman mereka tergeletak di lantai dengan tangan terikat ke belakang dan kaki yang juga terikat serta mulut yang disumbat. Tidak itu saja teman mereka itu juga memakai pakaian kain kebaya yang tadi dipakai Rikana. Maka mereka segere melepaskan teman mereka dan buru buru keluar dari gedung untuk pulang dengan mobil mereka.  Sial bagi mereka, mobil mereka tidak bisa hidup ketika distarter. Maka mereka segera lari tunggang langgang dengan menjinjing sandal atau sepatu hak tinggi mereka. Sementara itu dari jauh dari tempat yang sepi dan agak gelap, Rikana memandangi semuanya ini. Ia tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.

Rikana melihat dari semua teman-temannya yang lari tunggang langgang, ia paling kasihan terhadap temannya yang ia ikat dan ia pakaikan pakaian kain kebayanya. Karena ia memakaikan kainnya dengan sangat kuat lilitannya dan ujung bawahnya yang sangat sempit sehingga yang memakai nyaris tidak bisa melangkah. Bahkan untuk menarik jariknya keatas untuk dicincingpun susah. Ia melihat kalau temannya itu tidak bisa berjalan kecuali hanya bisa merembet  dan tertinggal paling jauh di belakang serta berusaha meraih punggung teman-temannya yang ada didepannya dengan kedua tangannya dengan maksud supaya mereka menggeretnya. Tapi mereka yang didepan mengacuhkannya. Sehingga akhirnya si komandan terpaksa melompat-lompat  dan ketika si komandan berhasil meraih punggung temannya yang ada didepannya, temannya itu malah mengibaskan dan melepaskan genggaman komandan mereka. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Mungkin mereka berpilkir kalau tangan yang memegang punggung mereka adalah tangan Rikana. Maka si komandan terpaksa terus menerus melompat-lompat.  Rikana berusaha dengan keras untuk  menahan tawanya demi melihat korban balas dendamnya. Dalam hatinya Rikana berkata, “Rasakan sekarang nikmatnya memakai jarik !”.

rikana6

Kebaya kutu baru hitam ungu

This slideshow requires JavaScript.