Kebaya putih dengan kain sogan motif burung 4

goyang kebaya biru

 

 

Parodi politik masa kini

Parpol. Kalau membaca kata itu pasti kita menganggap sebagai singkatan dari partai politik. Memang betul pada mulanya parpol adalah singkatan dari partai politik. Tapi seiring bersamaan dengan runtuhnya kekuassn Orba di Indonesia dan politik sudah bukan lagi barang yang tabu untuk diplesetkan, maka sebuah stasiun televisi membikin acara yang bertajuk Parpol yang isinya bukannya soal serius tentang partai politik melainkan merupakan parodi politik. Dagelan politik.

Yah memang politik di Indonesia sekarang sudah bukan merupakan barang yang tabu lagi. Setiap orang boleh berbicara politik dan partai politik pun dapat dengan mudah didirikan. Gonjang-ganjing politik pun sudah tidak jarang terjadi di Indonesia.

Bahkan ketika seperti sekarang ini dimana presiden yang terpliih adalah presiden yang merupakan pilihan langsung dari rakyat. Walaupun pada mulanya sempat tidak diterima oleh calon saingannya dan toh pada akhirnya mereka berdua bisa saling akrab kembali. Tapi tetap saja gonjang ganjing politik masih terjadi di Indonesia. Dan semakin banyak gonjang ganjing poliik yang terjadi, maka masyarakat yang sudah jenuh,  bosan  skeptis, apatis dan pesimis semakin mempunyai banyak bahan untuk diperodikan. Seperti yang sekarang ini sedang terjadi.

Ditengah menggeloranya semangat untuk mencintai produk dalam negeri dan kembali didengungkannya semangat Trisakti yaitu kemandirian dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan ternyata pemerintah malah mengambil tindakan yang kontradiksi. Yaitu memilih seorang asing untuk memegang  tampuk kepemimpinan di salah satu lembaga pemerintahan yang cukup penting.

Kalau cuma mengangkat seorang warga negara asing untuk sekedar menjadi pelatih kepala tim nasional sepakbola, hal itu masih  bisa dimengerti dan dimaklumi. Karena persepakbolaan di sana lebih maju dari Indonesia. Tapi memilih seorang warga negara asing untuk mengepalai salah satu lembaga pemerintahan sungguh sulit untuk diterima dan dimengerti. Apalagi sebelumnya sudah ada calon seotang putra Indonesia yang berbudi dan berguna. Bukankah itu sudah ideal seperti yang diharapkan para orang tua kepada anak-anak mereka. Jadilah anak yang berbudi dan berguna bagi nusa dan bangsa. Cuma sayang sang calon kesandung masalah, katanya rekening gendut. Lalu siapakah penggantinya ?

Ia adalah seorang asing. Tapi tanggung, ia bukan dari negara maju melainkan dari sebuah negara berkembang yang mungkin masih berada beberapa tingkat di bawah negara kita Indonesia. Ia berasal dari sebuah negara di Karibia yaitu Haiti. Mungkin juga ia seorang yang kurang alim dan malah agak mbeling sehingga diberi julukan Bad Rod, bukannya Good Rod. Mungkin pemimpin negara kita menginginkan sesuatu yang lebih radikal seperti ketika ia memilih seorang wanita menjadi menterinya. Seorang wanita yang mengundang kontroversi, walaupun sang menteri wanita itu seotang yang terpuji. Mungkin kita hanya bisa berharap semoga pilihan presiden kita tidak keliru.