Kriwil tata negara ?

Meskipun pesta demokrasi di Indonesia sudah usai tahun lalu, bahkan presiden serta wakilnya juga sudah terpilih dan dilantik. Begitu juga dengan para legislatif wakil rakyat, tapi gonjang-ganjing politik masih berlangsung di negeri ini. Mulai dari perebutan kursi di DPR dan MPR tahun kemarin. Dilanjutkan dengan  perang antara cecak lawan buaya jilid 2. Kemudian demam model praperadilan. Selain itu ada juga yang skopenya lokal di ibukota negara yaitu kisruh antara sang gubernur dengan para anggota DPRD soal APBD.

Sementara itu ditengah-tengah  pendapat umum yang mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia sudah semakin dewasa dan matang, demikian juga kesadaran berpolitik di Indonesia sudah semakin dewasa. Beberapa partai besar di Indonesia mengadakan musyawarah nasional dengan salah satu agenda berupa suksesi ketua partai. Hasilnya menakjubkan seperti langit dan bumi dengan opini umum yang seperti dikatakan diatas. Para elit politik seperti tidak menunjukkan kedawasaan dan kematangan dalam berdemokrasi.  Masing-masing partai besar itu terpecah menjadi 2 blok. Blok incumbent dan blok penerus. Bahkan sampai kedua pihak saling menggugat ke pengadilan.

Namun ditengah panasnya suhu politik di Indonesia, kegiatan-kegiatan dibidang lainpun juga tak kalah semarak. Skopenya pun juga nasional, seperti kontes-kontes yang disiarkan di televisi.  Kontes memasak, kontes pencarian bakat atau kontes nyanyi. Salah satunya adalah kontes nyanyi di genre musik yang spesifik yaitu dangdut seperti yang sekerang sedang disiarkan disalah satu televisi swasta di Indonesia. Dengan salah satu tokohnya seorang vocal director, pencari bakat bernama Kriwil.

Orangnya boleh dibilang cool, santai dan jenaka. Ia suka mengetest suara para kontestan dengan dendangan sederhana, “ta, ta, ta…”. Mau pendek, mau panjang, entah sederhana,  entah njelimet,  melody yang didendangkan, isinya hanya dua huruf yaitu “T” dan “A” yang diulang-ulang.  Mungkin untuk alasan kepraktisan, jika kontestan tidak hafal lirik lagunya. Pernah suatu ketika ia meminta bintang tamunya yang kebetulan juga kenalannya supaya para kontestannya di “tata”. Ya, para kontestan memang perlu ditata supaya bisa tertib dan lancar serta tidak tegang. Seperti halnya para elit politik yang juga perlu di “tata” , supaya suhu politik di Indonesia bisa sejuk dan kondusif.

Kebaya putih dengan kain sogan motif burung 4

goyang kebaya biru

 

 

Parodi politik masa kini

Parpol. Kalau membaca kata itu pasti kita menganggap sebagai singkatan dari partai politik. Memang betul pada mulanya parpol adalah singkatan dari partai politik. Tapi seiring bersamaan dengan runtuhnya kekuassn Orba di Indonesia dan politik sudah bukan lagi barang yang tabu untuk diplesetkan, maka sebuah stasiun televisi membikin acara yang bertajuk Parpol yang isinya bukannya soal serius tentang partai politik melainkan merupakan parodi politik. Dagelan politik.

Yah memang politik di Indonesia sekarang sudah bukan merupakan barang yang tabu lagi. Setiap orang boleh berbicara politik dan partai politik pun dapat dengan mudah didirikan. Gonjang-ganjing politik pun sudah tidak jarang terjadi di Indonesia.

Bahkan ketika seperti sekarang ini dimana presiden yang terpliih adalah presiden yang merupakan pilihan langsung dari rakyat. Walaupun pada mulanya sempat tidak diterima oleh calon saingannya dan toh pada akhirnya mereka berdua bisa saling akrab kembali. Tapi tetap saja gonjang ganjing politik masih terjadi di Indonesia. Dan semakin banyak gonjang ganjing poliik yang terjadi, maka masyarakat yang sudah jenuh,  bosan  skeptis, apatis dan pesimis semakin mempunyai banyak bahan untuk diperodikan. Seperti yang sekarang ini sedang terjadi.

Ditengah menggeloranya semangat untuk mencintai produk dalam negeri dan kembali didengungkannya semangat Trisakti yaitu kemandirian dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan ternyata pemerintah malah mengambil tindakan yang kontradiksi. Yaitu memilih seorang asing untuk memegang  tampuk kepemimpinan di salah satu lembaga pemerintahan yang cukup penting.

Kalau cuma mengangkat seorang warga negara asing untuk sekedar menjadi pelatih kepala tim nasional sepakbola, hal itu masih  bisa dimengerti dan dimaklumi. Karena persepakbolaan di sana lebih maju dari Indonesia. Tapi memilih seorang warga negara asing untuk mengepalai salah satu lembaga pemerintahan sungguh sulit untuk diterima dan dimengerti. Apalagi sebelumnya sudah ada calon seotang putra Indonesia yang berbudi dan berguna. Bukankah itu sudah ideal seperti yang diharapkan para orang tua kepada anak-anak mereka. Jadilah anak yang berbudi dan berguna bagi nusa dan bangsa. Cuma sayang sang calon kesandung masalah, katanya rekening gendut. Lalu siapakah penggantinya ?

Ia adalah seorang asing. Tapi tanggung, ia bukan dari negara maju melainkan dari sebuah negara berkembang yang mungkin masih berada beberapa tingkat di bawah negara kita Indonesia. Ia berasal dari sebuah negara di Karibia yaitu Haiti. Mungkin juga ia seorang yang kurang alim dan malah agak mbeling sehingga diberi julukan Bad Rod, bukannya Good Rod. Mungkin pemimpin negara kita menginginkan sesuatu yang lebih radikal seperti ketika ia memilih seorang wanita menjadi menterinya. Seorang wanita yang mengundang kontroversi, walaupun sang menteri wanita itu seotang yang terpuji. Mungkin kita hanya bisa berharap semoga pilihan presiden kita tidak keliru.