Parodi politik masa kini

Parpol. Kalau membaca kata itu pasti kita menganggap sebagai singkatan dari partai politik. Memang betul pada mulanya parpol adalah singkatan dari partai politik. Tapi seiring bersamaan dengan runtuhnya kekuassn Orba di Indonesia dan politik sudah bukan lagi barang yang tabu untuk diplesetkan, maka sebuah stasiun televisi membikin acara yang bertajuk Parpol yang isinya bukannya soal serius tentang partai politik melainkan merupakan parodi politik. Dagelan politik.

Yah memang politik di Indonesia sekarang sudah bukan merupakan barang yang tabu lagi. Setiap orang boleh berbicara politik dan partai politik pun dapat dengan mudah didirikan. Gonjang-ganjing politik pun sudah tidak jarang terjadi di Indonesia.

Bahkan ketika seperti sekarang ini dimana presiden yang terpliih adalah presiden yang merupakan pilihan langsung dari rakyat. Walaupun pada mulanya sempat tidak diterima oleh calon saingannya dan toh pada akhirnya mereka berdua bisa saling akrab kembali. Tapi tetap saja gonjang ganjing politik masih terjadi di Indonesia. Dan semakin banyak gonjang ganjing poliik yang terjadi, maka masyarakat yang sudah jenuh,  bosan  skeptis, apatis dan pesimis semakin mempunyai banyak bahan untuk diperodikan. Seperti yang sekarang ini sedang terjadi.

Ditengah menggeloranya semangat untuk mencintai produk dalam negeri dan kembali didengungkannya semangat Trisakti yaitu kemandirian dalam bidang politik, ekonomi dan kebudayaan ternyata pemerintah malah mengambil tindakan yang kontradiksi. Yaitu memilih seorang asing untuk memegang  tampuk kepemimpinan di salah satu lembaga pemerintahan yang cukup penting.

Kalau cuma mengangkat seorang warga negara asing untuk sekedar menjadi pelatih kepala tim nasional sepakbola, hal itu masih  bisa dimengerti dan dimaklumi. Karena persepakbolaan di sana lebih maju dari Indonesia. Tapi memilih seorang warga negara asing untuk mengepalai salah satu lembaga pemerintahan sungguh sulit untuk diterima dan dimengerti. Apalagi sebelumnya sudah ada calon seotang putra Indonesia yang berbudi dan berguna. Bukankah itu sudah ideal seperti yang diharapkan para orang tua kepada anak-anak mereka. Jadilah anak yang berbudi dan berguna bagi nusa dan bangsa. Cuma sayang sang calon kesandung masalah, katanya rekening gendut. Lalu siapakah penggantinya ?

Ia adalah seorang asing. Tapi tanggung, ia bukan dari negara maju melainkan dari sebuah negara berkembang yang mungkin masih berada beberapa tingkat di bawah negara kita Indonesia. Ia berasal dari sebuah negara di Karibia yaitu Haiti. Mungkin juga ia seorang yang kurang alim dan malah agak mbeling sehingga diberi julukan Bad Rod, bukannya Good Rod. Mungkin pemimpin negara kita menginginkan sesuatu yang lebih radikal seperti ketika ia memilih seorang wanita menjadi menterinya. Seorang wanita yang mengundang kontroversi, walaupun sang menteri wanita itu seotang yang terpuji. Mungkin kita hanya bisa berharap semoga pilihan presiden kita tidak keliru.

Dapurnya Srimulat ?

Selain acara Master Chef dan Top Chef, ada juga sebuah kompetisi masak yang juga tak kalah seru dan yang juga banyak dinanti-nanti pemirsa. Acara itu adalah Hell’s Kitchen. Indonesia mendapat kehormatan sebagai negara Asia pertama yang menyelenggarakan acara tersebut.  Dan yang mendapat kehormatan sebagai juri sekaligus head chef adalah Junior Rorimpandey. Seorang chef selebriti yang banyak mengundang kontroversi pro dan kontra karena sikap dan kelakuannya yang kejam dan  sombong. Acara ini diluar negeri memang juga menampilkan chef yang juga sangar. Jadi cocok sudah dengan perangai Juna.

Disiarkan oleh SCTV setiap hari Sabtu pukul 17.00. Acara ini garis besarnya adalah seperti model dari restoran dimana para pesertanya menjadi koki dengan Juna sebagai head chefnya plus  para tamu sungguhan. Para kontestan yang pada awalnya adalah 11 pria dan 11 wanita dibagi menjadi 2 tim yaitu tim biru yang terdiri dari para kontestan pria dan tim merah yang terdiri dari para kontestan wanita. Dan yang terjadi adalah tentu saja suhu tinggi dan ketegangan dari para kontestan dalam menghadapi tekanan terutama tekanan dari head chef yang galak.

Dari 4 episode pertama, baru pada episode ke 4 kontestan berhasil melewati tantangan Dinner Service ini tanpa mengalami shutdown lebih awal. Tapi tetap saja aksi Juna melempar perkakas dapur masih tetap ada. Aksi yang mencerminkan kekecewaan, ketidakpuasan dan kemarahan terhadap para kontestan.

Tapi selain melempar wajan, Juna juga melempar serbet. Satu hal yang maaf malah  mengingatkan akan penampilan grup lawak Srimulat pada masa jayanya dulu. Stereotype Srimulat jaman dulu memang sering menampilkan pembantu rumah tangga sebagai tokoh utama. Ingat pelawak seperti almarhum Gepeng dan Basuki yang sering mendapat jatah peran sebagai pembantu. Jika mereka sudah  beraksi dipanggung, maka tidak lupa mereka membawa senjata mereka. Salah satunya adalah serbet. Dan ketika sedang meriah-meriahnys mereka melawak, saling berdialog, kadang-kadang mereka juga saling melemparkan serbet. Persis seperti yang dilakukan Juna, cuma bedanya para kontestan tidak berani melempar balik serber itu ke Juna, Berbeda dengan para pelawak Srimulat yang berani bermain lempar-lemparan serbet.

Sebuah acara kompetisi masak yang bergengsi dengan tingkat ketegangan yang sangat tinggi dan para kontestan harus menghadapi tekanan yang sangat luar biasa beratnya. Mungkin itulah kesan umum dari acara ini. Tapi hal ini dibantah oleh Juna dengan mengatakan ini bukan acara ( kompetisi ) memasak, tapi perang !. Sebuah hiperbola yang sangat ekstrim. Cuma siapa yang perang ? Atau perang antar siapa ? Perang antara para kontestan ? Perang antara tim merah dengan tim biru ? Tentu saja kedua-duanya ada, tapi kurang terasa, karena yang paling menonjol adalah lakon kita, Juna. Mungkin  perang antara Juna melawan para kontestan ? Tapi hal itu juga tidak mungkin, karena Juna berperan sebagai juri. Jadi yang ada adalah  seperti yang dikatakan Juna sendiri yaitu perang melawan diri sendiri, perang melawan hawa nafsu kita sendiri dan bertindak dengan penuh pengendalian diri. Seperti halnya Juna yang harus bisa mengendalikan dirinya sendiri, karena bersikap tegas tidak harus ditunjukkan dengan sikap kasar dan arogan apalagi sampai melempar-lempar perangkat dapur. Karena hal itu seperti yang dikatakan Juna sendiri,  bisa membahayakan orang lain ataupun diri sendiri. Suatu sikap atau perbuatan yang dikritik oleh Juna sendiri. Apalagi melihat atau mendengar kemarahan bukankah bisa mengurangi selera makan seseorang ? Bagaimana jika hal ini mempengaruhi para pengunjung restoran Hell’s Kitchen ? Kecuali jika mereka memang penggemar chef Juna dan senang melihatnya marah-marah.

Dalam keadaan seperti itulah head chef kita pernah mengeluh dengan berkata, ” … ya Tuhan … “. Mungkin sudah tidak kuat dengan keadaan yang dihadapi. Memang wajar dan lumrah kalau seseorang sudah tidak kuat, maka akan mengeluh dan berkata seperti itu. Tapi dengan ini ia seperti menjilat ludah sendiri, karena ia pernah berkata “disini tidak diperlukan Tuhan” dalam suatu acara kompetisi memasak yang lain beberapa tahun silam.