Super chef apa supermi ?

Sekarang di Transtv sedang ditayangkan acara kuliner yang bertajuk “Super chef”. Acara ini tayang setiap hari Selasa sore jam 18.00. Pembawa acaranya Ferry Salim. Inti acaranya adalah kompetisi memasak yang boleh diikuti oleh peserta umum sekalipun tidak punya latar belakang kuliner. Yang menarik dari acara ini adalah peserta yang terbaik akan diadu dengan seorang chef profesional dengan iming-iming hadiah uang tunai sebesar 15 juta rupiah.

Peserta pada awalnya terdiri dari 5 orang. Kemudian akan dipilih 3 yang terbaik. Dari 3 peserta tersisa dipilih seorang yang terbaik untuk diadu dengan chef profesional

Secara logika mestinya duel akan lebih banyak dimenangkan oleh sang chef profesional daripada sang peserta. Pada kenyataannya memang dari banyak episode yang sudah ditayangkan, duel memang lebih banyak dimenangkan oleh sang chef profesional. Baru ada 2 episode yang sudah tayang dimana hidangan peserta berhasil menjadi favorit juri dan mengungguli hidangan sang chef profesional.

Juri terdiri dari 5 orang, chef Edwin Lau dan 4 orang lain  yang bisa jadi orang awam. Pada episode-episode  awal chef Edwin menilai hidangan peserta dan chef profesional secara blind testing artinya menilai hidangan tanpa mengetahui siapa yang memasaknya. Tapi di beberapa episode akhir chef Edwin juga ikut melihat peserta dan chef profesional memasak. Bahkan di tengah-tengah  waktu memasak, chef Edwin memberi satu bahan tambahan misteri kepada chef profesional. Mungkin dengan tujuan untuk memberi tambahan tantangan atau kesulitan kepada chef profesional. Sedangkan 4 juri lain tetap tidak mengetahui hidangan yang dinilainya dimasak oleh siapa.

Pesertanya pun berkembang. Kalau pada episode-episode awalnya hanya masyarakat umum, maka pada episode-episode yang baru ada beberapa selebriti yang juga ikut menjadi peserta. Ini bisa jadi membuat para peserta yang masyarakat umum semakin grogi. Pertama, grogi karena saingan-saingannya selebriti walaupun mungkin selebriti-selebriti itu juga sama-sama kurang pandai memasak. Kedua, bila berhasil sampai ke final harus menghadapi chef profesional yang keahlian memasaknya mestinya jauh di atas sang peserta.

Salah satu episode dimana sang peserta berhasil memenangkan duel melawan chef profesional adalah episode yang ditayangkan tanggal 19 Mei 2015. Pesertanya terdiri dari 2 masyarakat awam dan 3 selebriti yaitu Jeremy Teti, Sinyorita serta Rafael Tan. Tak disangka Jeremy Teti yang lebay bisa mengalahkan chef profesional Dea yang cantik dan lulusan Le Gordon Bleu.

Strateginya sebenarnya sangat sederhana dan masuk akal. Waktu itu tantangannya adalah memasak steak. Jeremy tahu kalau orang Indonesia lebih suka steak yang matang dari pada yang masih setengah matang, maka Jeremy memasak steak dengan kematangan yang sempurna ( medium well ). Sementara chef Dea memasak steak dengan tingkat kematangan medium rare atau kira-kira masih setengah mentah. Para juri yang semuanya orang Indonesia tentu saja lebih menyukai hidangan steak yang matang dari Jeremy. Maka Jeremy pun berhasil memenangkan duel. Jadilah dia Super Jeremy Teti atau SUPERMI.

PPG : Parodi Politik Ger-geran ?

Dunia sudah semakin tua dan semakin gila. Bumi pun semakin panas. Begitu juga dengan suhu politik di Indonesia. Ramalan Jayabaya semakin mendekati kenyataan. Jamané jaman edan, ora ngedan ora keduman.

Setelah beberapa partai yang mengadakan munas mengalami keretakan dan ditambah 1 partai yang setelah mengadakan munas berakhir adem ayem, tapi malah dicurigai. Kemudian perang antara cecak lawan buaya jilid 2 yang masih berlanjut walaupun sudah dihimbau oleh orang nomor 1 di negeri ini untuk saling rujuk. Terakhir perang antara pemerintah melawan wakil rakyat di skope lokal masih berlanjut dengan penyelidikan oleh pihak polisi. Maka bahan untuk parodi politik pun semakin banyak tersedia.

Dan seperti ramalan jayabaya yang mengatakan jaman edan ora edan ora kumanan, maka seorang pejabat pemerintah berani mengatakan jadi pejabat itu perlu pil bermerk PPG. Pura-Pura Gila ! Tapi ada alternatif lain yang juga memerlukan pil PPG yaitu Pura-Pura G… ( disensor ). Walaupun semua ucapan itu hanya diucapkan dipanggung stand up comedy, tapi bagaimanapun juga tetap pantas  diacungi jempol untuk keberaniannya memparodikan diri sendiri sebagai pejabat yang pura-pura gila. Sekalipun juga kemungkinan kurang objektif dan mungkin bisa jadi malah subjektif dalam menilai lawan yang berseberangan.

Seperti ketika ia mengeluarkan USB flash disk yang notabene berharga relatif murah yang oleh seseorang pernah disalah artikan sebagai UPS yang notabene berharga relatif mahal dan lebih mahal dari USB. Orang yang menyalah artikan USB sebagai UPS itu oleh sang pejabat yang berpura-pura gila tersebut dikatakan sebagai pura-pura g… ( disensor ). Melihat dan mendengarkan lawakan yang banyak disensor jadi sedikit terganggu juga.

Mungkin saja orang yang menyalah artikan USB sebagai UPS itu bukan berpura-pura g…, tapi mengalami dislexia. Suatu kelainan dalam membaca seperti terbalik-balik. Susunan huruf ups terbalik menjadi usp dan huruf p nya kelihatan seperti  terbalik menjadi huruf b, sehingga ups dibaca menjadi usb. Padahal masih ada satu lagi perangkat komputer yang namanya juga mirip-mirip dengan itu yaitu cpu dan huruf c nya pun dibaca sebagai s. Bisa-bisa pusing pala Barbie :) Tapi tahukah anda jika seseorang mengidap dislexia bisa jadi orang itu jenius ? Dan bagaimanapun juga tetap PPG. Pintar Plus Genius. Atau mungkin sang pejabat yang keliru sebut itu waktu itu dalam keadaan linglung, karena banyak memikirkan kepentingan rakyat yang diwakilinya ? Wallahu a’lam bishawab.

Warna warni hidupku

Dulu sebelum teknologi semaju sekarang semuanya serba hitam putih. Foto hitam putih, televisi juga hitam putih. Mau lihat foto yang berwana dan juga televisi berwarna, susahnya bukan main.

Sekarang ketika  teknologi sudah maju pesat, foto dan televisi pun sudah berwarna. Kalau lihat foto atau televisi hitam putih rasanya seperti kuno dan ketinggalan jaman.

Kita pun membanding-bandingkan antara yang hitam putih dengan yang berwarna. Sudah pasti  kita lebih menyukai yang berwarna, walaupun dalam beberapa hal yang hitam puith itu juga bisa berkesan klasik.

Hidup seseorang pun bila berwarna akan lebih semarak dan bervariasi serta tidak membosankan  jika dibandingkan dengan hidup yang  seperti warna hitam putih, monotone dan membosankan.

Pelangi, suatu fenomena alam yang biasa terjadi sesudah hujan juga sangat indah untuk dipandang. Perpaduan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu sungguh sangat menarik mata. Dan pelangi sendiri adalah merupakan ciptaan Tuhan. Demikian juga taman bunga yang warna-warni tentu lebih menarik daripada tembok yang putih atau aspal yang hitam

Tapi jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang berwarna itu lebih indah daripada yang hitam putih. Terlebih apabila dikaitkan dengan gender, maka yang ada hanya dua. Seperti hitam dan putih, hanya ada laki dan perempuan. Atau pria dan wanita. 2 agama besar di dunia ini pun  dari awalnya juga hanya mengakui kedua jenis kelamin itu.

Kalau dipikir jadi seperti kaku, karena hanya ada 2 pilihan. Jika dibandingkan dengan warna jadi seperti antara hitam dan putih. Tapi memang itulah kenyataannya.

Gender seseorang bila tidak  hitam atau putih, pria atau wanita memang bisa jadi menarik, paling tidak untuk dijadikan bahan ejekan dan tertawaan. Sungguh ironis. Atau kalaupun tidak dijadikan bahan ejekan bisa jadi mengundang pro dan kontra serta pandangan minor terutama di masyarakat yang masih konservatif.

Hidup mereka apakah  bisa dibilang  mudah ? Mungkin lebih mudah untuk hidup secara hitam putih walaupun tidak menarik. Hidup mereka bisa jadi seperti taman bunga yang indah warna-warni, walaupun tidak semanis dan seindah seperti kelihatannya. Dan sebagian besar dari mereka harus berjuang keras di dalam hidupnya untuk menggapai cita-cita di langit yang indeh berpelangi.