Hadiah

Ini adalah lanjutan dari kisah Domina dan Sumi. Setelah Domina selesai menjadi model tata rias tradisional dan dikerjai habis-habisan oleh Mini, beberapa hari kemudian Domina semakin bernafsu untuk membalaskan dendamnya kepada Sumi. Tapi tidak ada kesempatan, kebetulan Sumi beberapa hari terakhir tidak memakai kain kebaya lagi. Maka dicarinya akal supaya Sumi memakai kain kebaya.

Sumi mau dibujuk dan dipaksanya memakai kain batik serta kebaya ibunya, Domina jadi tidak enak sama ibunya. Lalu didapatnya ide ia akan membelikan adiknya kain kebaya baru dan waktu menyerahkan kepada adiknya, ia akan menyuruh adiknya untuk segera memakainya.

Keesokan harinya Domina pun membeli selembar kain batik dan kebaya baru. Adiknya tidak diajaknya ikut serta, karena kuatir kalau adiknya nanti malah merongrongya. Kain batiknya berwarna sogan dengan motif parang. Kebayanya brokat merah dengan pinggiran renda putih. Ia tersenyum sendiri dan puas setelah melaksanakan idenya.

Sesampainya dirumah, segera diberikannya apa yang dibelinya kepada adiknya. Adiknya senang bukan main dan mengucapkan terimakasih sambil bersimpuh dihadapannya. Domina pun berkata, “Gimana, dik ? Senang kan kakak belikan kamu kain batik sama kebaya baru ?”. Adiknya mengangguk-angguk, memeluk dan menciumnya. Domina berkata lagi, “Kalau gitu langsung dipakai dong, dik. Kakak mau lihat”. Tapi adiknya menjawab, “Yah, kak. Tapi kain batiknya kan harus diwiru dulu. Habis itu didiamkan semalaman biar wirunya membekas kuat dan tidak cepat hilang atau rusak”. Domina menjawab “Ya sudah. Kakak tunggu besok ya, kamu dandan yang cantik”.  Dan Domina pun harus menunggu sampai besok.

Esok harinya Domina menagih janji adiknya, “Dik, ayo sekarang dik. Kamu dandan yang cantik pakai kain kebaya yang kakak belikan kemarin”. Adiknya segera berdandan. Pertama bermakeup, memakai sanggul dan terakhir memakai kain kebaya.

Setelah selesai ia pun pergi ke kamar kakaknya untuk memperlihatkan dirinya di depan kakaknya. Kakaknya memandangnya dari atas sampai ke bawah dan makin menggebulah nafsunya untuk mengerjai adiknya. Ia memotretnya beberapa kali supaya adiknya semakin senang. Tapi sebentar kemudian, adiknya sudah merengek meminta ijin kepada kakaknya, karena ada acara pergi ke luar rumah. Kakaknya jadi sewot. Pikirnya rencananya belum sampai selesai dan baru saja dimulai, adiknya sudah bertingkah. Domina pun berkata, “Kamu ini gimana sih, dik. Kakak belikan kain kebaya. Baru sebentar dipakai sudah mau dilepas. Sudah mau pergi. Batalkan saja acaramu itu, sekarang kamu di rumah saja sama kakak. Kita bersenang-senang”. Tapi adiknya masih terus merengek, bahkan Sumi sudah mulai melepas kancing kebayanya. Kakaknya segera menahannya., “Dik, kamu itu kok bandel amat sih. Tahu nggak gara-gara kamu, kemarin kakak sampai jadi korban dikerjain sama Mini. Kakak sampai capai”. Kemudian ia keluar dari kamar itu mengambil tali dan segera kembali lagi. Ternyata Sumi sudah melepas kebayanya dan sedang mulai membuka long torsonya, tapi stagen dan kain wironnya masih menempel di tubuhnya. Kakaknya segera menghardiknya, “Sumi, apa-apaan kamu ! Kebaya yang kakak belikan kamu buang begitu saja. Dasar tidak tahu berterimakasih, ayo pakai kembali !”.

Sumi jadi mengkeret melihat kakaknya marah. Ia segera membatalkan membuka long torsonya dan memakai kembali kebayanya. Kakaknya kemudian menurunkan temperamennya dan mencium adiknya sambil berkata, “Nah gitu dong, adikku yang manis. Yang nurut sama kakak. Tapi kakak masih kuatir kalau kamu nanti membuka lagi pakaianmu. Ayo, naik ke ranjang”, Sumi menuruti kakaknya dan Domina kemudian mengikat kakinya. Kemudian Sumi disuruhnya bersimpuh dan diikatnya tangan Sumi ke belakang punggung. Setelah itu Domina masih mengikatkan tali dari ikatan kaki ke ikatan tangan Sumi. Sumi tidak mengetahui hal ini, karena ia dalam posisi membelakangi kakaknya. Sumi hanya mengira kalau tangan dan kakinya diikat, tapi tidak tahu kalau kaki dan tangannya terhubung satu ke yang lain dengan seutas tali. Tapi karena Sumi pernah tidak tahan di hogtied dalam keadaan terlalu kencang hingga tangan dan kaki hampir bersentuhan, maka kakaknya mengalah dan mengikat Sumi dalam keadaan hogtied tapi tidak terlalu kencang dan tangan serta kakinya dihubungkan dengan tali yang cukup panjang.

Setelah selesai mengikat adiknya, Domina mencium adiknya di keningnya dan berkata dengan lembut, “Nah, beginilah dik waktu kakak dihukum papa dulu. Bersimpuh di lantai dan tangan kakak diikat kebelakang. Sekarang kamu bisa merasakan sendiri”. Kemudian ia mengelus-elus rambut dan kepala Sumi dan berkata, “Makanya jadi adik yang nurut sama kakak. Jangan bandel kayak tadi” Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Domina berkata, “Sekarang kakak mau keluar sebentar. Kamu diam saja yang manis disitu ya”. Diciumnya kening Sumi dan ia keluar kamar dengan meninggalkan Sumi dalam keadaan bersimpuh. Setelah mengetahui bahwa yang datang Mini, maka ia kembali ke kamar dan memberitahu Sumi bahwa yang datang adalah Mini.

Ternyata Mini datang untuk mengembalikan pakaian Domina, tapi Domina masih mengikat adiknya dan didalam hati Domina masih ada perasaan tidak rela membagi adiknya dengan Mini, karena ia habis dikerjai Mini setelah ia sebelumnya mengerjai Mini. Mulut Sumi juga tidak di lakban. Tapi Domina memberitahu kalau yang datang adalah Mini dan bila Sumi menjerit atau berteriak, maka Mini malah mengetahui kalau Sumi dalam keadaan terikat.

Sebentar kemudian terdengar suara ayahnya. Ternyata ayahnya juga mendadak pulang. Domina pun kembali ke kamar dan ia mengancam Sumi, “Awas, kamu dik kalau sampai manggil papa !”. Dijewernya telinga Sumi, hingga Sumi meringis kesakitan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Domina pun keluar kamar

Ditinggal sendirian dikamar, Sumi berusaha melepaskan diri dari ikatannya. Pertama ia berusaha untuk beranjak dari keadaan bersimpuh, karena ia tidak mengetahui kalau tangan dan kakinya yang terikat terhubung satu sama lain dengan tali. Ketika paha dan badannya sudah tegak berdiri, barulah ia tahu kalau ia diikat dalam keadaan hogtied. Maka ia tidak jadi bangun dari ranjang, tapi ia merebahkan diri di ranjang dan tetap berusaha melepaskan diri dari ikatan. Mulai dari posisi berbaring miring sampai berbaring tengkurap ia coba. Tapi tetap saja ia tidak bisa membuka ikatannya.

Tiba-tiba  terdengar suara ayahnya memanggil Sumi. Sumi pun jadi bingung, mau menjawab ayahnya  atau tidak. Karena jika ia menjawab ayahnya, maka perbuatan kakaknya akan ketahuan ayahnya dan ia tidak tega melihat kakaknya dihukum ayahnya serta takut terhadap ancaman kakaknya. Tapi bila tidak, maka ia harus berusaha sendiri untuk melepaskan diri dari ikatannya. Ketika Sumi masih bingung, Domina mendahuluinya dengan menjawab  kalau adiknya sedang pergi.

Sumi jadi termangu diam tapi bingung di ranjang dengan ikatan yang tidak bisa dibukanya. Pikirannya kacau, sebentar ingin berteriak memanggil ayahnya. Sebentar ia membatalkan niatnya untuk memanggil ayahnya, karena bisa berakibat kakaknya dihukum ayahnya. Tak lama kemudian terdengar suara mobil ayahnya menniggalkan rumah. Pada saat yang bersamaan Sumi merasa kecewa, karena ia tidak jadi memanggil ayahnya dan sekarang ayahnya sudah pergi. Musnahlah sudah harapan untuk segera lepas dari ikatan tangan dan kakinya.

Tak lama kemudian Mini juga pulang. Domina segera kembali ke kamar menengok adiknya. Didapatinya adiknya terbaring di ranjang dan ranjangnya sekarang menjadi acak-acakan, karena Sumi yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Maka marahlah Domina, “Adik tidak tahu di untung, sudah dibelikan kain kebaya baru malah ranjang kakak kamu  acak-acak”. Sekali lagi dijewetnya telinga Sumi. Dan plak ! plak ! plak ! Tangan Domina melayang ke pantat Sumi. Sumi berteriak, “Ampun, kak ! Ampun !”. Domina segera menghentikan tamparannya, karena kuatir adiknya menangis.

Domina jadi ada alasan untuk kembali menghukum adiknya, karena ranjangnya yang diacak-acak adiknya. Dibukanya tali yang menghubungkan kaki dan tangan Sumi, juga ikatan kakinya. Tapi ikatan tangannya tidak dibukanya. Disuruhnya Sumi turun dari ranjang. Domina memerintah, “Dik, sekarang kamu rapikan ranjang kakak yang kamu acak-acak”. Sumi diam saja, karena tangannya masih terikat di belakang. Kakaknya berkata, “Ayo, tunggu apa lagi. Rapikan sekarang !”.  Sumi menjawab, “Kak, tangan Sumi kan masih terikat”. Domina menjawab, “Ah, kamu itu. Kerja sambil menoleh kebelakang kan bisa. Lagian ikatan tangan kamu kan sekarang sudah agak kendor”. Sumi akhirnya menuruti perintah kakaknya. Ia merapikan ranjang kakaknya dengan tangan terikat ke belakang dan sambil terus menoleh ke belakang untuk memeriksa apakah sudah rapi atau belum. Kakaknya terus memandanginya dan mengambil foto berulang-ulang. Dalam hatinya ia puas.

Setelah selesai merapikan ranjang kakaknya, Sumi dipeluk dan diciumnya. Domina berkata, “Itulah hukumannya kalau bandel. Lihat sekarang sanggul sama kain kebaya kamu jadi awut-awutan “. Kemudian dirapikannya sanggul dan kain kebaya Sumi serta dikencangkannya ikatan tangan Sumi. Keduanya kemudian keluar kamar.

Tapi Domina masih bermaksud untuk melanjutkan pembalasannya kepada adiknya. Maka ia suruh adiknya ikut naik loteng. Sumi diam termenung, karena ia belum pernah naik tangga waktu memakai kain kebaya. Kakaknya jadi sewot dan berkata, “Ayo, naik !”. Sumi menjawab, “Kak, Sumi nggak bisa. Sumi belum pernah naik tangga sambil  memakai kain kebaya”. Domina menjawab, “Dik, tapi kan kamu sendiri yang ngajari kakak naik tangga waktu kakak pakai kain kebaya. Sekarang kamu kerjakan sendiri”, Sumi balik menjawab, “Tapi tangan Sumi kan terikat di belakang”. Domina jadi kegi dan menjawab, “Alasan, Tapi kaki kamu kan tidak kakak ikat. Jadi harus bisa. Jalannya miring, pelan-pelan. Matanya melihat anak tangga”. Sumi tetap diam saja. Domina jadi makin gregetan, katanya, “Enggak mau ? Apa kamu perlu kakak jewer ?”. Dijewernya telinga Sumi sementara Domina sudah ada di muka Sumi dan sudah mendahului beberapa langkah menaiki anak tangga. Sumi jadi terpaksa melangkah naik, karena Domina tidak melepaskan jewerannya. Baru setelah Sumi mulai melangkah naik, Domina melepaskan telinga Sumi.

Sumidijewernaiktangga

Di loteng itu terdapat treadmill dan Domina bermaksud membalaskan apa yang dialaminya kepada adiknya. Maka disuruhnya Sumi naik ke treadmill dan Domina melakukan persis apa yang dia alami ketika dikerjai Mini. Tapi karena ia tidak tega kalau sampai adiknya jatuh terpeleset, maka ia tidak sampai menyetel kecepatan treadmill ke tingkat yang tinggi. Meskipun demikian Sumi cukup dibuatnya terengah-engah berlari-lari sambil kesrimpet-srimpet kain jariknya. Puaslah Domina menyiksa adiknya.

Sumi jadi keringatan dan nafasnya tersengal-sengal, maka  dibiarkannya ia beristirahat.Tapi  Domina jadi dapat alasan untuk mengerjai adiknya dengan memandikannya. Maka dibawanya Sumi ke kamar mandi. Mengerti kalau ia akan diguyur air, maka Sumi meronta-ronta dan tidak mau berjalan mengikuti kakaknya.

Domina lalu mengalihkan perhatian adiknya. Didudukkannya adiknya, dielus-elus, dikeringkannya keringat Sumi  dan diberinya minum serta dipeluk dan diciuminya adiknya. Tapi kemudian setelah Sumi tenang,  kakinya diikatnya kencang-kencang. Lalu diseretnya adiknya yang meronta-ronta ke kamar mandi. Disemprotnya  dengan air seluruh tubuh adiknya mulai dari kepala sampai kaki. Sumi jadi berteriak-teriak. Tapi Domina tetap menyemprotnya dengan air hingga adiknya jatuh terduduk di lantai. Tak lama kemudian Domina berhenti menyemprotkan  air kepada adiknya. Adiknya menangis sesenggrukan. Domina malah berkata, “Inilah hadiah buat adik kalau nakal kayak kamu. Camkan ! Jangan sekali-kali berani ngerjai kakakmu”. Lalu ditinggalnya Sumi sendirian tergeletak di lantai kamar mandi.

Sumidisemprot

Sebentar kemudian barulah dibukanya ikatan tangan dan kaki adiknya serta dibiarkannya Sumi membuka pakaiannya dan mengeringkan badan.

One thought on “Hadiah

  1. Pingback: Trio | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s