Kiko Sujaryanto 3

Ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya dimana Kiko tiba dirumah dan Sri berhasil menangkap basah suaminya mencuri pakaian-pakaiannya serta berakhir dengan pengusiran Kiko dari rumah oleh isterinya. Kiko pun pergi dengan gontai ke sebuah penginapan.

Esok harinya Kiko  berulang kali berusaha menelpon isterinya dari penginapan itu. Setelah berulang kali sebelum sempat bicara, Sri selalu menutup telpon, akhirnya Sri mau mendengarkan ia meminta maaf dan memohon supaya isterinya memperbolehkan pulang. Tapi Sri tidak menjawab dan menutup telpon suaminya. Hal itu diulangi Kiko  keesokan harinya dan Sri masih tetap menutup telpon tanpa menjawab.

Hari ketiga Kiko mengulangi lagi menelpon isterinya. Waktu itu Sri masih momong bayinya ketika menerima telpon suaminya. Hatinya jadi melunak, hingga akhirnya ia memperbolehkan suaminya pulang ke rumah. Legalah hati Kiko.

Ternyata sesudah pulang ke rumah, hubungan mereka tetap renggang dan dingin. Sri masih memandang rendah Kiko. Apalagi usaha dan penghasilan Sri sekarang makin maju dan berkembang, sementara usaha Kiko mengalami kemunduran dan penghasilan Kiko kalah dibandingkan dengan penghasilan Sri. Tapi Kiko sekarang jadi agak cuek. Kiko pun masih secara sembunyi-sembunyi melihat bahkan mengkoleksi foto-foto wanita berkain kebaya.

Satu hal yang tidak disadari Sri dan tidak ditegaskannya sewaktu memperbolehkan suaminya pulang adalah ia tidak dengan tegas melarang suaminya memakai pakaian kain kebaya lagi.  Dan itulah yang terjadi kemudian.

Waktu itu Sri berencana melakukan perjalanan keluar kota, karena terpaksa mengurusi pekerjaannya. Dan itulah yang ditunggu-tunggu oleh Kiko. Pucuk dicinta ulam tiba. Kiko pun kembali ingin melampiaskan nafsunya, tapi di sisi yang lain dalam hati Kiko masih ada trauma kepergok oleh isterinya. Timbullah gejolak dalam  pikirannya. Hati nuraninya berkata bahwa ia harus melupakan hal itu, karena faktor kemungkinan kepergok oleh isterinya, tapi nafsunya berkata lain dan mendesaknya untuk kembali melakukan hal itu mumpung isterinya keluar kota.  Apalagi perjalanan yang ditempuh cukup jauh sehingga harus menginap. Begitulah timbul pertengkaran batin didalam diri Kiko.

Hingga hari H nya tiba, pikiran Kiko pun masih bergejolak. Setelah Sri pergi pun , Kiko masih harus berusaha menahan hawa nafsunya beberepa lama demi untuk memastikan Sri telah pergi jauh sampai ke luar kota. Hingga malamnya Kiko bermaksud untuk melaksanakan hajatnya. Tapi sekali lagi, Kiko mengurungkan niatnya dan menundanya sampai besok pagi untuk memastikan isterinya tidak pulang dan menginap.

Baru pada keesokan harinya, Kiko tidak dapat menahan nafsunya lagi. Ia dengan panas dingin dan gemetaran menelanjangi dirinya sendiri hingga tinggal memakai celana dalam. Kemudian ia membuka lemari tempat kebaya dan kain batik isterinya disimpan. Syukurlah ternyata pintu lemarinya tidak dikunci dan kebaya serta kain batiknya juga masih ditempatnya yang dulu.  Ia mulai mengambil selembar kain batik dan dililitkannya di kakinya. Setelah itu ia mengambil stagen dan memakainya. Kemudian ia memilih-milih kebaya yang akan dipakainya. Terakhir ia menyampirkan selendang dipundaknya dan mulai bercermin sambil berputar-putar dan berlenggang lenggok.

Tidak puas dengan itu, ia memutar lagu langgam Jawa dengan maksud supaya ia bisa semakin menghayati dalam berpakaian kain kebaya. Kiko pun puas dan senang dalam hatinya. Ia ikut bersenandung dengan lirih mengikuti langgam Jawa itu.  Tidak itu saja ia juga menari Jawa menirukan penari wanita.

Ketika sedang ditengah-tengah puncak kenikmatannya itulah suatu hal yang hampir mustahil di dalam pikiran Kiko terjadi. Isterinya mendadak pulang ke rumah dan ia tidak mendengar suara mobil ataupun pintu dibuka, karena alunan langgam Jawa yang diputar. Pintu memang dikunci, tapi Sri juga membawa kunci cadangan. Malapetaka besar kembali menimpa Kiko.

Isterinya berkacak pinggang begitu masuk ke kamar dimana Kiko berada. Dimatikannya langgam Jawa itu. Sri kemudian bertepuk tangan dan berkata, “Bagus ! bagus ! narinya”. Kemudian Sri membuka dompet dan mengambil uang serta menyisipkannya ke balik kebaya Kiko. Kiko jadi gelagapan, tapi tak lama kemudian Kiko bisa menguasai diri dan mulai melepaskan pakaiannya. Sri pun berkata, “Dasar tidak tahu malu,  bencong ! bencong ! Sekali bencong tetap bencong !”.

Kiko sudah melepaskan semua pakaian isterinya hingga tinggal memakai celana dalam dan bermaksud memakai kembali pakaian Kiko sendiri. Ketika Sri mencegahnya dan merebut celana pendek serta kaos Kiko dari tangan Kiko. Sri berkata, “Éh ! Jangan pakai ini . Kok tanggung banget sih kamu”. Kiko diam dan mengurungkan niatnya memakai pakaiannya sendiri. Sri kemudian membuka lemari dan apa yang dilihat Kiko membuatnya kaget.

Sri mengambil selembar kain batik yang sudah diwiru dan berkata kepada Kiko, “Sini kamu ! Kalau mau pakai kain kebaya yang bener dong ! Ayo, kakinya merapat !”, Dalam keadaan kaget dan bingung, tapi terbersit sedikit kesenangan ia mematuhi perkataan isterinya. Sri pun kemudian mulai melilitkan kain batik itu dengan rapat dan kuat ke kaki Kiko. Habis itu, Sri mengambil seutas tali dan mengikatkannya dengan kencang ke pinggang Kiko. Kiko mengaduh dalam hati karena kekencangan, tapi hatinya semakin senang dan senjatanya mulai menegang hingga kelihatan menyembul dari balik kain batiknya. Sesudah itu Sri memakaikan stagen dengan kencang juga. Berikutnya adalah hal yang tidak terpikirkan  oleh Kiko, Sri memakaikan BHnya ke dada Kiko. Kiko pun semakin senang dan terangsang. Tapi Kiko berusaha mati-matian untuk tidak memperlihatkan hal itu.  Kemudian Sri mengambil kembali kebaya yang tadi dipakai oleh Kiko dan memberikannya kepada Kiko sambil berkata, “Nih, pakai !”. Kiko jadi kikuk, ia diam saja dan tidak mengulurkan tangannya. Sri jadi membentak, “Ayo, tunggu apa lagi ! Cepat pakai !”. Kiko dengan gugup mengambil kebaya itu dari tangan Sri. Tapi sesudah itu Kiko masih berdiri mematung dengan kedua tangannya memegang kebaya. Sri kembali membentak, “Hé !, kamu tuli ya ? Apa berlagak bodoh. Ayo cepat pakai !”. Tangan Kiko bergerak dengan lambat memakai kebaya kebadannya. Sri jadi tidak sabar, ia kemudian ikut memakaikan kebaya itu ke badan Kiko dan mengancingkannya serta merapikannya.

Kemudian dipandanginya Kiko dari atas sampai bawah. Ternyata kaki Kiko masih telanjang, maka ia mengambil sandal jinjit dengan hak yang cukup tinggi dan memakaikannya  ke kaki Kiko. Habis itu selendang yang tadi dipakai Kiko disampirkannya ke pundak Kiko dan sebelah ujungnya di selempitkannya ke lengan Kiko. Lalu ia memandangi wajah Kiko, ternyata masih polos tanpa makeup. Maka ia menggeret suaminya duduk di kursi di depan meja rias. Kiko pun dag dig dug. Hatinya semakin gembira, tapi ia tetap berusaha menyembunyikannya. Sri mulai membersihkan muka Kiko dan meriasnya dengan menor.

Setelah itu dipandanginya wajah Kiko didalam cermin, ternyata belum ada sanggulnya. Sri berpikir sejenak. Lalu ia menarik-narik ujung rambut Kiko. Ternyata cukup panjang juga hingga dapat diikat. Maka ia dapat ide, dikuncirnya rambut Kiko dan kemudian hal yang tidak terpikirkan oleh Kiko terjadilah, Sri memasang konde ke rambut Kiko.  Konde itu dijepitnya dengan jepitan rambut yang cukup banyak ke rambut Kiko hingga Kiko kesakitan dan sedikit meringis-rngis. Sri yang melihat suaminya meringis berkata, “Kalau mau tampil sempurna memang butuh banyak pengorbanan !”,

Sehabis mendandani suaminya habis-habisan, Sri menyuruh Kiko berdiri dan Sri berkata, “Ayo, sekarang kamu jalan ! Dari sana sampai sini !” .Sri menunjuk ujung ruang yang memang cukup panjang. Kiko mematuhinya. Ia mencoba berjalan. Tetapi karena tidak terbiasa memakai sandal hak tinggi belum lagi kain wiron yang dipakainya sempit dibagian bawahnya, maka beberapa kali ia oleng dan hampir jatuh. Sri malah  tertawa dan mengejek, “Rasakan sekarang sulitnya memakai kain wiron sama sandal jinjit ! Awas kalau sampai jatuh, kamu nanti akan ku hukum !  Kamu pikir gampang mau jadi seorang wanita aristokrat Jawa ?”. Sri tidak mengetahui kalau perkataannya ini tidak saja menyinggung perasaan suaminya dan membuat Kiko takut atau marah, tapi disamping itu Kiko juga jadi semakin excited, senang dan tertantang. Didalam kesukarannya berjalan, Kiko merasakan beginilah rasamya memakai kain wiron yang singset dengan sandal hak tinggi. Nikmat ! Dan ia pun semakin terangsang.

Tibalah Kiko di ujung ruangan. Kiko melihat ke ujung kakinya, kuatir kalau ia kesrimpet kain batik dengan wirunya yang cukup banyak. Belum lagi ujung kain itu cukup rendah sehingga sampai ke telapak kakinya. Dipegangnya dan dirapikannya kain wironnya. Tidak sengaja tangannya menyentuh senjatanya dan greng ! Rangsangannya terasa sampai ke ujung kepala. Seperti paradoks, Kiko merasa sangat bahagia walaupun sebenarnya ia dalam keadaan tertekan dan diperintah serta dikuasai oleh isterinya. Isterinya berkata, “Sekarang kamu jalan dari situ ke sini !”. Sri  mengambil handycam dan mulai merekam. Kiko mematuhi, ia berjalan dengan kesulitan, kesrimpet-srimpet. Tapi ia berjalan beberapa langkah dengan kaku tanpa gaya. Maka Sri kesal dan berkata, “Hai ! Bencong ! Jalannya yang genit dong ! Yang persis perempuan ! Sekarang kamu ulangi lagi dari pojok sana !”. Kiko berbalik lagi dan mulai melangkah dari ujung ruangan dengan genit. Pinggulnya digoyang-goyangkannya. Meledaklah tawa isterinya. Sri lalu berkata, “Dasar bencong ! Nah,  kayak gitu dong jalannya. Persis bencong taman lawang ! Besok kamu aku kirim ke taman lawang buat praktek ! Mulai sekarang namamu bukan lagi Kiko Sujaryanto tapi Kiki Sujaryanti !”.

Sesudah itu Sri menyuruhnya menari. Diputarmya kembali langgam Jawa yang tadi ia matikan. Kiko pun menari walaupun pada awalnya kikuk. Sehabis satu lagu selesai, Sri mematikan langgam Jawa itu. Kiko pun duduk dan mau melepaskan kebayanya. Tapi Sri berkata, “Héh, siapa yang nyuruh kamu melepas pakaian kamu ? Énak kan pakai kain kebaya seharian ? Sekarang kamu cuci-cuci piring sama gelas yang numpuk di dapur sana !”.  Kiko pun bekata dalam hati, “Matilah aku ! Kalau disuruh nyuci piring pakai pakaian kayak gini”. Maka ia memohon kepada Sri untuk memperbolehkannya melepas pakaian kain kebayanya. Kiko juga berjanji untuk tidak mengulang perbuatannya memakai kain kebaya Sri. Tapi Sri menjawab dengan ketus, “Alaah paling kamu cuma janji-janji melulu. Sekarang kamu boleh pilih. Mau pakai pakaian itu apa kamu aku usir dari rumah ini ?”. Kiko tidak bisa menjawab. Ia akhirnya mencuci piring dangan kain kebaya dan bersanggul. Sanggulnya sekarang jadi kendor, karena rambutnya yang panjangnya pas-pasan. Sri pun berkata, “Awas, kamu ! Kalau sampai sanggulnya jatuh !”. Semakin tersiksalah Kiko, tapi aneh di dalam diri Kiko selain rasa tersiksa dan tertekan  ia juga merasakan rasa pasrah, senang dan bahagia.

Sehabis mencuci piring. Disuruhnya Kiko menyapu dan mengepel lantai runah. Kiko tidak bisa membantah. Selesai itu kegilaan Sri semakin menjadi-jadi. Baru sebentar Kiko duduk beristirahat, Sri berkata, “Rasakan sekarang beratnya penderitaan seorang ibu rumah tangga ! Itu belum ditambah dengan kekerasan fisik seperti yang kamu lakukan kepadaku”.  Lalu disuruhnya Kiko momong bayi mereka dengan menggendongnya. Kiko membantah. Katanya, “Sri, kamu jangan gila ! Ini bayi kita. Bagaimana kalau ia mengetahui hal ini nanti ?”. Sri menjawab, “Éh, membantah ? Apa mau aku ceritakan ke setiap orang kelainanmu ini ?”. Kiko tidak berkutik, diterimanya bayi yang disodorkan Sri dan Sri membantu Kiko mengikatkan selendang gendong ke bahunya. Sehabis itu Sri kembali mengambil video suaminya.

Malam harinya menjelang tidur, Sri berkata, “Sekarang taruh di  belakang punggungmu kedua tangan kamu biar aku ikat supaya kamu tidak bisa melepaskan pakaian kamu”,  Haaah ??!! Kiko kaget, pikirannya bingung dan  berkecamuk. Ia akan diikat oleh isterinya. Apa yang akan ia perbuat ? Ia diam saja tanpa meletakkan tangannya ke belakang punggungnya. Sri membentak, “Ayo, Cepat ! Ke belakangkan tangan kamu. Dengar tidak ?”. Barulah .Kiko menuruti Sri. Ia pasrah tangannya diikat kuat-kuat oleh Sri. Belum puas hanya dengan mengikat kedua tangan Kiko, maka Sri juga mengikat kedua kaki Kiko. Setelah itu Sri masih mengikat leher Kiko dengan tali dan ujung tali yang lain dipegangnya. Kemudian Sri berkata, “Nah, begini kan cara  kamu ngikat aku dulu”. Lalu diambilnya sebilah kayu yang dulu dipakai Kiko untuk memukul Sri. Sri kemudian memukul Kiko dengan kayu itu. Tidak kuasa menahan rasa sakit, Kiko pun mengaduh kesakitan.  Sri malah semakin memperkeras pukulannya sambil berkata, “Lelaki kok cengeng ! Dasar banci !”. Setelah itu Sri pun pergi tidur meninggalkan Kiko terikat tangan dan kakinya.

Kiko diajar Sri

One thought on “Kiko Sujaryanto 3

  1. Pingback: Kiko Sujaryanto 4 | priajelita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s